
\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=
Hampir 5 hari Nayla dirawat di Puskesmas tempat bibi nya bekerja.
Nayla yang susah makan ditambah beban pikiran membuatnya sedikit lebih lama untuk pulih,apa lagi saat ini setiap makanan yang masuk kedalam perutnya tak pernah bisa bertahan lama disana tidak sampai 10 menit akan langsung keluar lagi.
Siang itu saat Nayla terbangun saat mendengar suara berisik,ia pun membuka matanya sedikit ingin melihat ada apa .
Hatinya begitu senang saat melihat Papanya datang bersama Adit.
Nayla langsung kembali memejamkan matanya pura-pura masih tidur,Adit yang tau Nayla hanya pura-pura tertidur langsung menghampiri ranjang Nayla dan duduk disampingnya.
Ia mengelus lembut kepala Nayla,lalu ia sedikit mendekatkan wajahnya ketelinga Nayla
"Aku tau kamu pura-pura tidur yang"bisik Adit ditelinga Nayla lalu
cup
Sebuah kecupan mendarat dipipi Nayla.
Gadis itu langsung membuka matanya lebar-lebar dan melotot kearah Adit
"Apa?gak terima sini balikin he..he"
"Aku tuh kangen banget ama kamu yang,kamu tuh kaburnya kejauhan" celoteh Adit
Sementar itu Papa Nayla sedang mendapat omelan dari Bi Wiwin.
Nayla dan Adit hanya melihat dari kejauhan tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tak berapa lama Papa berjalan kearah tempat tidur Nayla.
"maafin Papa ya Nak,semua salah Papa,andai saja Papa gak nurutin kemauan mereka pasti kamu gak akan seperti ini Nak"ucap Papa sambil mengelus kepala Nayla dan mencium keningnya,Nayla yang pura-pura tertidur nampak terharu sejujurnya ia pun sangat merindukan Papanya seperti dulu namun sayang ke egoisan lebih mendominan pikirannya.
Adit hanya diam,ia menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Nayla yang masih terpejam.
"Aa punten,Neng Nay nya suruh makan dulu abis itu diminum obatnya" ucap Bibi entahlah pada siapa,pada Adit atau pada Papaku.
Adit mengambil mangkok yang berisi bubur
"Ayo yang makan dulu biar cepet sehat trus kita pulang"ucap Adit sambil menyupi Nayla
Awalnya Nayla makan seperti biasa,namun pada suapan ke lima tiba-tiba saja perutnya langsung berasa mual ia pun kembali mengeluarkan semua makanan yang tadi sudah masuk.
Setelah itu Nayla tak mau lagi makan,ia hanya terbaring lemah karena tak ada makanan yang masuk hanya cairan infus saja.
Papa Nay nampak mengeluarkan air matanya ,ia begitu sedih melihat kondisi Nayla yang semakin kurus,ia merasa menyesal karena telah menyakiti hati putrinya.
"Sudahlah Pah,jangan sedih semuanya udah terjadi,yang penting sekarang Papa harus lebih merhatiin Nayla,kasian dia Pah"ucap Adit sambil terus menggengam tangan Nayla.
"Iya Dit,Papa juga mohon tolong jaga Nayla"
"Iya pah,Adit pasti bakal jagain Nay,biarpun kadang keras kepala sama sedikit ngeyel anaknya" tutur Adit sambil tersenyum memandang wajah Nayla dan mengelus lembut pipinya
"iya Dit,kalau inget kemaren masa semua perabot dapur diumpetin gara-gara cobek mamanya pecah" tutur Papa sambil tertawa mengingat tingkah konyol anaknya
"iya Pah,lah ini kaburnya jauh amat sampe sini"timpal Adit lalu mereka berdua tertawa mengingat tingkah konyol Nayla.
"sial pada ngomongin gw" batin Nayla yang sebetulnya sudah bangun dari tadi tapi karena mendengar Papanya dan Adit sedang ngomongin dirinya makanya Nayla memilih tetap berpura-pura tidur.
__ADS_1
Sore harinya Papa pamit pulang karena besok masih harus kerja.
"Pah..jangan pulang,temenin Nay disini"rengek Nayla
Namun entah apa yang membuat Papanya bersikeras ingin tetap pulang.
Akhirnya dengan perasaan kesal Naylapun membiarkan Papanya pulang.
Sementara Adit masih tinggal untuk menemani Nayla.
"Kamu liat sendirikan Dit,dia lebih milih bininya dibanding aku anaknya"ucap Nayla sedih
"Ya udah lah Nay,kan ada aku yang nemenin kamu"ucap Adit
"Jangan ngambek terus yang tar gak sembuh-sembuh"
Adit mencoba menenangkan Nayla yang masih merasa kesal dengan Papanya.
Padahal baru saja Nayla berniat baikan dengan Papanya namun lagi-lagi Papanya membuatnya kecewa.
"Dua minggu lebih dia ninggalin aku sendirian dirumah,dia gak khawatir tuh, masa baru aja ninggalin bininya sehari udah kaya takut keilangan "gerutu Nayla masih dengan nada kecewa
Adit hanya tersenyum mendengarkan ocehan Nayla.
"ya ampun beib jangan ngomel terus dong,mending kita ngomongin soal hubungan kita gimana"usul Adit
"Maksudnya"Nayla mengerutkan keningnya nampak bingung.
"iya..kita masih banyak yang harus dikerjain yang,bikin undangan,beli sovenir,cari catring sama IO"ucap Adit sambil tersenyum begitu melihat wajah Nayla cemberut
"kenapa muka kamu kaya gitu sayang??"tanya Adit sambil menyentil ujung hidung Nayla
"Abis muka kamu tuh lucu yang kalo aku mau bahas soal persiapan pernikahan kita,langsung cemberut gitu sih"ucap Adit sambil tertawa
"Aku gak mau bahas itu dulu Dit,boleh ya.."pinta Nayla
"Pernikahan kita gak nyampe 2 bulan lagi loh yang"Adiy berusaha mengingatkan Nayla
"Ha...kok cepet amat sih Dit"
"Bisa gak diundur 6 bulan lagi"pinta Nayla pelan
"Beri aku alasan yang Pas kenapa harus di undur selama itu"Kini mimik wajah Adit berubah serius.
Sebenarnya bisa saja ia yang mengurus semua keperluan pernikahan mereka namun karena ia yakin Nayla belum siap makanya ia pun ingin dengar langsung alasan Nayla selalu minta diundur.
"emmmm...itu " Nayla nampak ragu untuk menjawab permintaan Adit
"itu ...karena aku masih takut Dit"jawab Nayla pelan
"Takut???" Ulang Adit sambil menyenderkan tubuhnya disandaran bangku yang ia duduki
"Takut kenapa?"tanya nya lagi
"ih.. takut semuanya lah"jawab Nayla kesal
"Maksud kamu takut saat Malam Pertama?" tanya Adit menggoda Nayla
"ihh ...bukan itu"
__ADS_1
Adit mengerutkan keningnya menunggu lanjutan perkataan Nayla
"Ya itu juga sih salah satunya,trus aku kan gak bisa masak, tar kalo aku gak bisa masak kamu selingkuh lagi"jawab Nayla
"Kenapa begitu?"tanya Adit tak mengerti dengan perkataan Nayla
"Ya kan kata orang-orang gitu Dit,kalo aku gak bisa masak tar suami aku jajan diluar"
"Ya kan kalo jajan emang diluar Nay,lagian juga kita kan sering jajan bareng"balas Adit
"ihh..bukan itu maksudnya kata orang dari perut itu turun ke hati Dit"
"eh salah ya, turun ke hati atau naik ke hati" Nayla bermonolog sendiri,ia saja bingung dengan apa yang ia ucapkan .
Adit tertawa melihat Nayla yang bingung.
"Udahlah gak usah dibahas lagi,mending kamu istirahat ya,aku mau beli makanan dulu"ucap Adit sambil mengacak-acak rambut Nayla.
Gadis itu pun menurut ia merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga dada.
"Martabak coklat kalo gak kacang ya"teriak Nayla saat Adit hendak membuka pintu
Ia pun membalikan badannya "emang boleh makan martabak?"tanya Adit
"ayolah Dit,siapa tau gak muntah kalo makan itu"Nayla beralasan.
Setelah Adit keluar Nayla memejamkan matanya.
Ia kembali teringat Papanya yang hanya sebentar menemaninya,entahlah hatinya terasa begitu sakit,ia merasa Papanya tak menyayanginya lagi.
Nayla pun tertidur,ia terbangun saat merasakan ada sesuatu yang menempel dibibirnya,ia pun membuka matanya perlahan dan alangkah terkejutnya Nayla saat melihat wajah Adit sangat dekat dengan wajahnya dengan posisi bibirnya yang menepel dibibir Nayla.
Naylapun langsung mendorong wajah Adit sedikit menjauh
"ishh kamu mah..main cium aja sih"gerutu Nayla kesal
"he...he anggap aja itu obat yang,siapa tau abis aku cium kamu sembuh"jawab Adit ngasal
Nayla memegang bibirnya yang tadi dicium Adit.
"kenapa dipegangin,mau lagi tinggal bilang aja kok aku iklas ngasihnya" ucap Adit sambil tersenyum dan berhasil membuat wajah Nayla memerah karena malu
"itu kan vitamin Nay"lanjutnya masih dengan senyum yang mengembang melihat Nayla yang salah tingkah.
Karena merasa malu Naylapun menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
Haii semua terima kasih sudah mampir diceritaku.
Jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara tap tombol "
- **Like
-Vote
-Rate dan juga
-Kritsarnya author tunggu
Salam Maniss
__ADS_1
Amellajj/author**