
🌹🌹🌹Selamat Membaca🌹🌹🌹
Adit memegang lambungnya yang tertusuk, cairan merah mengalir deras.
Nayla langsung menghambur kerah Adit menahan tubuh suaminya agar tidak jatuh.
Dengan perlahan ia pun merebahkan tubuh Adit dan menaruh kepala Adit di pahanya.
"Aditt..aku mohon bertahan.."
"Adit....hu...hu...aku mohon...."
Suara tangisan Nayla pecah begitu saja melihat suaminya yang sudah bersimbah darah.
Tak lama kemudian polisi serta Ayah Adit dan Ayah Anto pun sampai.
Ayah Adit langsung berlari menghampiri Nayla yang sedang menangis histeris sambil terus mendekap kepala Adit.
"Nay..aku gak apa-apa sayang ini cuma luka kecil" suara Adit mulai melemah karena darah yang ia keluarkan lumayan banyak.
Tanpa menunggu lama Ayah Adit dan beberapa polisi segera membawa Adit mencari rumah sakit terdekat untuk menghentikan pendarahannya.
Sementara Anto sudah dibawa oleh beberapa polisi didampingi oleh Pak Abas ayahnya.
Nayla yang terus menangis sambil memeluk erat kepala suaminya.
Mata Aditpun mulai terpejam, wajahnya mulai memucat.
"Adit....bangun Dit..."
"Jangan tinggalin aku...hu...hu.."
"Aku gak mau jadi janda kembang Dit...."
"Bangun...ishh..aku mohon...."
Ayah Adit hanya diam sambil berdoa untuk keselamatan putranya.
"Nay...istigfar Nay..."
"Mendingan kita berdoa agar Adit selamat" Ucap Ayah Adit lembut sambil mengelus bahu Nayla berusahan menenangkan menantunya.
Karena tak membawa Ambulan dan ke ada'an Urgent Adit dibawa dengan menggunakan mobil polisi.
Suara raungan sirine yang menggema disetiap jalan yang mereka lalui menambah pilu hati Nayla.
Entah kenapa ingatannya kembali berputar saat bersama Mamanya.
Saat Ambulan membawa jenazah Mamanya kepemakaman terus saja berputar dalam memorinya.
" Adit jangan tinggalin aku Dit...aku mohon bangun...."
"Mama udah ninggalin aku"
"Papa juga lebih meilih istrinya.."
__ADS_1
"Masa kamu juga mau ninggalin aku sih Dit.."
"Aku mohonn Dit bangun...."
"Huk...huk..bangun ..."
Nayla terus menangis mungkin karena kesal melihat mata Adit yang terus terpejam ia pun membuka mata Adit lebar-lebar dengan jari-jarinya.
Ayah Adit yang melihat ulah Nayla hanya menggelengkan kepala sambil menarik tangan Nayla lembut agar menghentikan tindakannya.
"Pak..polisi..kenapa lama amat sihh Pak" ujar Nayla pada polisi yang membawa mobil.
Keada'an jalan yang kadang naik dan turun dengan tikungan yang tajam membuat laju mobil tidak terlalu cepat biar bagai mana pun herus mengutamakan keselamatan bersama.
Akhirnya mobilpun berhenti disebuah klinik.
Seorang polisipun turun entah apa yang ia lakukan didalam.
Sesaat kemudian ia keluar lagi dan meminta pada rekannya dan Ayah Adit agar membantu membawa kedalam.
"Teh..ini hanya pertolongan pertama saja ya, nanti kalau sudah sampai di Padaherang tetap harus dirawat soalnya luka yang dialami sama korban lumayan dalam" ujar polisi yang menemani Nayla.
Dengan perasaan cemas Nayla menunggu didepan pintu.
Sebetulnya ia ingin masuk namun tak di ijinkan oleh Ayah mertuanya.
"Teh..mending sekalian aja di obatin lukanya" ujar polisi yang bernama Roni sambil menunjuk wajah Nayla yang sedikit bengkak dan luka di sudut bibirnya.
"Nanti aja Pak saya mau tau kondisi suami saya" jawab Nayla tanpa Menoleh kearah polisi yang mengajaknya berbicara.
"Saya bini nya pak, emang kenapa?" Selidik Nayla
" Muka kamu kaya masih barudak masa udah nikah aja sihh" ujar pak polisi dengan sedikit gurauan.
"Lah Bapak, saya udah 28 tau, enak aja anak-anak" Sungut Nayla
Pak polisi itu pun tertawa senang karena bsrhasil menggoda Nayla.
Tak lama kemudian merekapun keluar namun kondisi Adit masih belum siuman.
Nayla sedikit terkejut melihat alat bantu pernafasan menempel di wajah Adit dengan tabung oxsigen kecil.
Nayla pun menatap wajah Adit yang masih terpejam.
"Sayang bangun dong...itu kan udah di jait"
"Ihh katanya kamu sayang sama aku...ayo bagun Dit...hu...hu..Adit...."
Tangis Nayla kembali pecah saat seorang yang memakai jas putih berbicara ditlp dengan rumah sakit tujuan agar segera menyediakan darah golongan O untuk segera di lakukan transfusi darah.
Mobil yang Dadang dan Dedi naiki pun sudah menepi setelah menyetel jok tengah agar nyamam buat Adit merekapun segera mengangkat tubuh Adit dan membaringkannya di jok tengah.
Dedi yang duduk di jok belakang dan Ayah Adit di bangku depan.
Sedangkan Nayla berada di tengah bersama suaminya yang kini terpejam dan entah kapan akan membuka matanya.
__ADS_1
Nayla menyandarkan kepalanya di samping kepala Adit.
Dengan mobil patroli polisi berada didepan mereka berharap cepat sampai di rumah sakit yang dituju.
Begitu sampai dirumah sakit yang di maksud dua orang perawat sudah menunggu dengan blankar,dengan sigap merekapun menggotong tubuh Adit dan memindahkannya keatas blankar dan segera mendorongnya ke UGD.
Nayla ditemani oleh Dedi berjalan di paling belakang.
Tubuhnya lemas seakan tak bertenaga, begitu hendak sampai tiba-tiba saja penglihatan Nayla menjadi buram dan setelah itu ia tak sadarkan diri, beruntung Dedi berada disampingnya hingga Dedi dapat menahan tubuh Nayla yang tiba-tiba jatuh.
Entah berapa lama ia pingsan yang pasti begitu ia membuka mata ia kembali melihat selang infus berada di tangan kanannya.
Ia pun menengok kearah Kiri seketika itu juga ia melihat wajah Adit yang masih terpejam.
Ingin rasanya ia mengelus wajah suaminya namun apa daya badannya terasa sangat lemas bahkan untuk duduk saja ia tak kuat.
Saat Nayla sedang menatap wajah suaminya tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan terdengar juga suara orang berjalan.
Ingin rasanya ia melihat siapa yang datang namun ingatannya kembali pada saat Anto menculiknya.
Dengan posisi miring Nayla memejamkan matanya, tubuhnya bergetar ketakutan, tangannya tanpa sadar mencengkram erat bantal yang sedang ia pakai.
"Nay...Nayla kamu gak apa-apa"
Nayla semakin ketakutan saat telinganya mendengar suara pria asing.
" Pergi...pergi...jangan ganggu aku hi..hi..."
"Pergiiiii... tolloooongggg "
Entah kenapa tiba-tiba Nayla berteriak kencang sambil menangiss
"Toolloong jangan sakitinn aku...."
" Aku mohonnn hu..hu ...Adit tolong aku...huk...huk..aku takut...." Nayla terus menangiss hingga suaranya benar-benar habis tak terdengar.
Dokter yang hendak memeriksa Naylapun awalnya kaget namun setelah suster menceritakan jika Nayla adalah korban penculikan dan kekerasan akhirnya dengan sangat terpaksa dokter itupun menyuntikan obat penenang kedalam cairan infus Nayla.
Tak butuh waktu lama suara tangisan Naylapun mereda seiring dengan matanya yang kembali terpejam.
dokter itu pun memeriksa kondisi Nayla.
Ia merasa begitu iba saat melihat luka di pipi dan juga sudut bibirnya lalu pergelangan tangan dan kaki Nayla yang telah berwarna ungu.
Sementara itu Adit yang masih berada dialam bawah sadarnya langsung berusaha membuka matanya saat mendengar suara istrinya yang meminta tolong.
Dengan sangat berat ia pun perlahan membuka matanya dan dari sudut matanya ia dapat melihat samar-samar wajah istrinya yang kini terlelap akibat efek dari obat penenang.
**Haii aku udah up Nih
maaf ya bab ini upnya dikit.
Maaf juga jika masih ada typo
Salam Maniss
__ADS_1
Amellajj/authorr**