TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 200


__ADS_3

**Selamat Membaca


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wahh gak terasa ya udah masuk bab 200 Author mau ngucapin terima kasih banyak buat semua yang udah dukung karyaku yang abal-abal ini tanpa dukungan dari kalian aku bukan apa-apa love you all 😘😘😘


Back to story


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nayla nampak takut saat mobil Anto telah berhenti didepan salon Damra, Ia menggenggam tangan Damra erat sedangkan Rian nampak duduk santai disofa sambil memperhatikan 3 orang pria yang baru saja masuk.


" Mas ...Nayla nya mana?" tanya Anto pada Rian.


" Anda siapa?" Rian balik bertanya


" Saya Anto, tunggu bukankah kamu cowo yang tadi sama Nayla?" tanya Anto yang mulai kesal


" Iya betul itu aku, kamu ada perlu apa sam Nay?" tanya Rian tanpa rasa takut


" Aku gak mau bikin ribut disini mas, tolong Naylanya suruh keluar" titah Anto yang kini mengeluarkan aura menyeramkan.


"Nayla aku tau kamu didalam, cepat keluar dan semua akan baik-baik saja, aku hitung sampai tiga jika kamu masih didalam aku gak jamin Lilis masih bisa liat matahari besok Nay" teriak Anto kencang


Satu...anto mulai menghitung


Nayla nampak takut,tubuhnya bergetar.


Damra yang berusaha menenangkan Nayla ikutan merasa takut saat Anto mulai berjalan menuju belakang salon tempat mereka bersembunyi.


" Baiklahh kamu yang minta ya Nay aku berbuat begini" Nayla mengintip dari balik hordeng yang menjadi penyekat antara ruang tengah dan dapur.


Anto mengeluarkan ponselnya dan nampak menghubungi seseorang.


" Hallo...bawa dia ketempat yang tadi aku bilang" terdenger jelas oleh Nayla Anto memerintahkan orangnya entah kemana membawa Lilis.


" Anto..jangan, aku mohon bebasin adik aku" Nayla langsung keluar dari persembunyiannya karena ia takut terjadi sesuatu dengan Lilis.


" Akhirnya kamu keluar juga Nay, apa aku harus selalu berbuat kasar dulu baru kamu nurut " Anto mendekati Nayla lalu meraih dagunya dengan kasar.


Sejenak matanya tertuju pada bibir Nayla yang terluka, ia pun mengelus bibir Nayla lembut dengan ibu jarinya


" Ada apa dengan bibirmu, kenapa bisa seperti ini ha.." terdengar nada tidak suka


"aku jatoh kemarin" jawab Nayla lalu melepaskan tangan Anto kasar dari dagunya.


" Ya udah ayo kita berangkat sekarang" Anto menarik tangan Nayla


"Tunggu..aku ambil tad dulu trus panitan sama temanku"


" Ya udah cepat, aku tunggu depan"

__ADS_1


Antopun berjalan menuju sofa dimana Rian duduk.


Nampak mereka saling melempar tatapan tajam tanpa mengeluarkan suara.


Nayla yang sudah mengambil tas dan juga ponselnya di kamar atas langsung berpamitan pada Damra.


Mereka saling berpelukan nampak mata Damra berkaca-kaca ia merasa khawatir dengan Nayla bagaimana pria begis itu akan memperlakukannya.


Nayla pun pamitan pada Rian namun saat ia hendak berjabat tangan dengan Rian, Anto langsung menarik tangannya dan membawanya keluar.


"Masuk Nay.." titah Anto yang sudah membuka pintu mobil bagian tengahnya


Dengan enggan Naylapun masuk dan duduk sambil memalingkan wajahnya tak mau menatap Anto.


Akhirnya mobil pun melaju menjauh dari salon Damra lalu keluar dari gerbang perumahan menuju pintu tol.


Nayla memejankan matanya, sesekali Anto mengajaknya berbicara namun tidak ia tanggapi.


"Kamu masih kesal karena aku menjemputmu Nay?" tanya Anto sambil menarik dagu Nayla memaksanya agar menatap wajahnya.


Ato yang kesal langsung ingin mencium paksa Nayla namun tangan Nayla langsung menutup bibirnya yang masih luka


" Maaf, apa itu masih sakit?" tanya Anto penuh sesal


Naylapun mengangguk lalu ia kembali memejamkan matanya sambil bersandar pada kaca mobil.


Saat Nayla memejamkan matanya ia melihat sosok hitam besar yang selalu mengikuti Anto, entahlah itu peliharaan Anto atau apa namun yang pasti sosok itu terlihat begitu menyeramkan saat Anto marah.


Nayla yang sudah malas untuk berdebat akhirnya hanya bisa pasrah ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Anto.


Tiba-tiba Nayla merasa ada sesuatu yang melingkar dipinggangny.


Ia pun langsung membuka matanya " Kamu mau apa To, lepasin gakk" Nayla terus berusaha melepaskan tangan Anto yang melingkar dipinggangnya.


" Diamlah Nay, aku tau kamu kedinginan,biar aku kasih kamu sedikit kehangatan ok" bisiknya yang membuat Nayla semakin jijik.


" Gak mau mending gw kedinginan daripada loe peluk"


Anto yang kesal mendengar ucapan Nayla langsung mendekap erat Nayla lalu berusaha kembali menciumnya.


" Lepasinn...Anto...ishh gw gak bisa nafas" Nayla mendorong tubuh Anto sekuat tenaga, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Anto apa pagi sekarang Anto berusaha menciunnya.


"Diam lah Nay, kalau aku mau aku bisa melakukan apa saja terhadapmu" ancam Anto setengah berbisik ditelinga Nayla lalu mencium leher Nayla dan sedikit menggigitnya.


" Anto gila lepasin gw.." teriak Nayla


" Aku gila gara-gara kamu Nay, selama ini gak ada cewe yang bikin aku sampai senekad ini kecuali kamu dan dia dulu" ucap Anto yang tiba-tiba melemah namun masih mendekap Nayla


" itu kamu punya pacar, trus ngapain ngejar-ngejar aku To"


" Itu dulu Nayla sayang, namun setelah dia pergi tidak ada satu pun yang bisa menarik perhatianku, sampai akhirnya aku melihat kamu dan langsung jatuh cinta Nay, dari situ aku bertekad gak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, apa sekarang kamu mengerti sayang" tutur Anto sambil mengelus pipi Nayla dengan jari nya.

__ADS_1


Ingin rasanya Nayla menangis ia merasa dirinya kotor karena Anto sudah beberapa kali menjamahnya bahkan telah berani menciumnya.


Saat ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Anto ia kembali melihat sosok hitam besar yang selalu mengikuti Anto kemanapun ia pergi, saat ini sosok itu sedang menatap tajam kearah Nayla dengan mata yang memerah seakan marah.


Entahlah Nayla sering melihat sosok itu biasa saja saat keadaan Anto juga biasa saja, namun jika Anto sedang emosi atau marah maka Nayla melihat sosok itu juga begitu menyeramkan.


Karena takut melihat penampakan didepannya akhirnya Nayla menutup wajahnya dengan tangannya.


"To usir mahluk itu, aku takut" terdengar suara Nayla yang sedikit bergetar karena takut.


" Kamu bisa melihatnya Nay?" tanya Anto seakan tak percaya Nayla bisa melihat sosok yang selalu menemaninya itu.


" Dia tak akan berbuat jahat padamu Nay kalau kamu baik padaku" ucap Anto.


Setelah keluar tol Cileunyi Anto menyuruh anak buahnya berhenti di rumah makan yang masih buka.


setelah sekian lama akhirnya merekapun berhenti di tempat peristirahatan bus di daerah Limbangan untuk mengisi perut dan beristirahat sejenak.


Karena tak ada makanan yang membuat Nayla berselera akhirnya Antopun hanya memesan Popmie dan beberapa lontong


" Nih makanlah" Anto meyodorkan satu cup mie namun Nayla menolaknya


" Aku gak mau" tolak Nayla lalu membuang pandangannya menatap bus yang sedang berhenti


"Lalu kamu mau makan apa sayang" Anto berusaha sesabar mungkin menghadapi sikap Nayla yang selalu saja menolak apa pun yang ia berikan.


" Aku mau es campur sama makan baso yang pedes To" ucap Nayla yang tau hal itu tidak mungkin karena hari sudah larut malam dan daerah situ tidak ada yang menjual es campur.


" Nayla..jangan bikin aku kehabisan kesabaran,ini udah malem mungkin kalau besok kita bisa mencarinya ok" bujuk Anto disertai sedikit ancaman.


" Atau kamu ingin aku menciummu lalu sedikit memberi cumbuan agar kamu mau makan" bisik Anto yang dibuat seksi mungkin lalu memberi sedikit jilatan ditelinga Nayla.


Nayla langsung menyambar mie yang Anto pegang lalu memakannya dengan sangat kasar karena kesal.


Anto tersenyum melihat Nayla yang makan sambil menggerutu.


" Udah abiss Puaaa loe" Nayla langsung membuka pintu mobil berniat membuang sampah di tong yang tak jauh dari tempatnya berada namun Anto langsung mencekal tangannya dan mengambil sampah yang ditangan Nayla lalu menyuruh anak buahnya untuk membuangnya.


Setelah dirasa cukup akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan.


Entah karena kekenyangan atau memang waktunya untuk tidur tak menunggu lama akhirnya Naylapun terlelap.


**Hallo hari ini aku doubel up


Semoga gak bosen ya...


Jangan lupa kasih dukungan terus buat authorr biar makin semangat.


Salam Maniss


Amellajj/authorr**

__ADS_1


__ADS_2