
SELAMAT MEMBACA
Semakin hari Rania merasa jika pria itu selalu mengincarnya,ada saja yang membuat mereka bersitegang.
Sampai saat ini ia masih belum tau sosok pria misterius itu, bahkan ia juga belum tau pria itu kuliah ditempat yang sama dengannya atau tidak, namun satu yang pasti jika pria itu selalu saja hadir disaat ia sedang sendirian atau ditempat yang sepi.
Rania pun tidak tau pria itu sebenarnya hantu atau manusia karena ia selalu saja tau jika Rania sedang sendirian.
Bruakkk
"Aduhhhh" teriak Rania yang terjatuh bersama motornya saat sebuah mobil menabrak belakang mobilnya.
Mobil itu pun berhenti dan pengemudinya keluar untuk melihat orang yang ia tabrak.
"Mbak....maaf ya kamu gak apa-apa kan" tanya pengemudi mobil itu yang ternyata seorang pria.
"Gak apa-apa gimana, loe punya mata gak sih, emang gak liat gw nyungsep gini" maki Rania.
Bukanya membantu namun pria itu hanya tertawa.
"Dih gak ada akhlak beneran loe, udah nabrak gw mau bantuin lagi" maki Rania semakin kesal.
"Astaghfirullah Rania, loe dari dulu gak berubah ya, tetap galak" ucap pria itu yang ternyata tau namanya.
"Gak usah sok kenal loe" ucap Rania kesal.
"Kalau emang ternyata gw kenal sama loe gimana" tanya pria itu lagi sambil membantu membangunkan motor Rania yang terjatuh.
"Bodo" ucap rania
"Rania gw kangen sama loe" batin pria itu
Setelah berhasil berdiri Rania pun kembali naik keatas motornya dan menjalankan motornya kembali.
"Sial amat sih gw, pake ditabrak lagi,ia kenapa gw tadi gak minta ganti rugi ya kan motor gw rusak" batin Rania
Begitu tiba dirumah mama Nay begitu terkejut melihat motor Rania yang rusak namun masih bisa berjalan.
"Kamu kenapa Ran?"
"Ditabrak orang tadi mah" jawab Rania masih kesal.
"Siapa yang nabrak kamu sayang, terus kamu ada yang luka gak" mama Nayla langsung memeriksa tubuh putrinya.
"Mah yang ada Ran malah pusing ini di puter-puter begini"protes Rania.
Setelah memarkirkan motornya Naylapun langsung membawa Rania masuk kedalam dan mengobati luka-luka nya.
"Mah gak lucu masa calon dokter malah di obatin sama mamanya" ucap Rania bercanda.
"Mama gak bisa bayangin ya Ran dokter galak kaya kamu apa pasiennya nanti bisa sembuh ya" ucap Nayla sambil tertawa.
"Dih mama kok begitu sih" jawab Rania sambil mengerucutkan bibirnya.
Setelah di obatin oleh mamanya, Rania pun langsung istirahat sementara Radit diminta Mamanya untuk membawa motor Rania kebengkel.
Ardina yang baru saja pulang dari salon begitu heran saat melihat Nayla membawa makanan masuk kedalam kamar Rania.
"Emanng Ran kenapa mah kok makannya dikamar sih?"
"Tadi Ran motornya ditabrak orang,Ran sih cuma lecet-lecet aja, motornya sih parah sekarang lagi dibawa ke bengkel sama si aa" ucap Nayla menjelaskan.
Ardina pun ikut masuk kedalam kamar Rania untuk melihat kondisi saudaranya itu.
"Kok bisa Ran loe ditabrak, terus orangnya kabur ya"tanya Ardina penasaran.
Rania pun menceritakan semuanya.
"Lah kok orang itu kenal sama loe Ran, itu cowo yang bisa ganggu loe bukan yang nabrak?"tanya Ardina penasaran
"Bukan Ar, mukanya beda" ucap Rania lagi.
Mereka pun segera keluar dari kamar Rania dan membiarkan Rania untuk istirahat.
Adit yang mendapatkan laporan jika gadis tomboi nya mengalami kecelakaan langsung masuk kedalam kamar Rania begitu ia tiba dirumah.
"Sayang kamu gak apa-apa?" tanya Adit
"Emmm papah, bikin kaget aja, Ran gak apa-apa kok" jawab Rania dengan suara berat karena baru bangun tidur.
"Kamu ditabrak lari ya?" tanya Adit
"Gak Pah"
"Lah terus kenapa gak minta tanggung jawab?" tanya Adit
"Males ah Pah, tuh cowo nyebelin, tau lagi nama Ran, kayanya dia kenal sama Ran"
"Kamunya kenal gak sama dia?" tanya Adit penasaran.
"Gak" jawab Rania
"Astaga Ran, kadang ya kamu tuh sama persis sama mama kamu"ucap Adit mengusap kasar wajahnya.
"Papa tuh udah puluhan kali tau bilang kaya gitu" jawab Rania yang tidak tau jika saat ini Adit sedikit kesal karena ia sedikit oon dan polos seperti mamanya dulu.
Ke esokan harinya Rania pergi ke kampus dengan diantar oleh Radit.
Ada banyak pasang mata yang menatap kagum pada Radit.
"Cepet Ran turun ah, serem aa disini"
__ADS_1
"Kenapa aa?"tanya Rania heran.
"Mereka pada liatin aa, aa malah jadi takut" ucap Radit.
Rania tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kaka nya.
Radit pun langsung membungkam mulut adiknya.
"Aa ih"protes Rania saat tangan besar Radit membekap mulutnya.
"Udah lah Aa balik ya"ucap Radit sambil menstarter motornya.
Dari kejauhan sepasang mata nampak sedang memperhatikan Rania yang kini sedang berjalan menuju kelasnya.
Saat Rania berjalan di lorong yang menuju kelasnya entah kebetulan atau apa jalan itu begitu sepi.
Saat Rania hendak belok tiba-tiba saja sebuah tangan besar menariknya menuju tangga darurat yang terletak lumayan jauh dari jalan utama dan kebetulan begitu sepi.
Emmmmmm
Rania terus berontak, beruntung ia bisa karate dengan segera ia melakukan perlawanan dengan cara menendang pria yang menariknya.
Begitu ia berhasil terlepas dari pria itu Rania pun langsung melayangkan pukulannya tepat kearah wajah pria yang tadi menariknya .
Pria itu pun langsung pergi meninggalkan Rania dengan melewati tangga darurat.
"Sial, siapa sih tuh orang" batin Rania kesal sambil berjalan menuju kelasnya.
Entah kenapa sejak beberapa bulan ini ia merasa seperti diteror ada saja kesialan yang ia alami hampir setiap harinya.
Hari ini kebetulan Rania pulang sore dan ia pun harus naik ojol karena memang motornya masih di bengkel.
Saat Rania sedang menunggu ojol pesanannya, tiba-tiba saja datang sebuah mobil dan berhenti didepannya.
Kaca mobilpun diturunkan terlihat jelas Wajah sang sang pengemudi yang ternyata seorang pria.
Raniapun diam saja karena ia merasa tidak kenal dengan pria itu.
Karena kesal Rania tidak menghampirinya padahal ia sudah memanggil nya berkali-kali sang pengemudi pun turun dan menghampiri Rania.
"Ayo Ran gw anterin" ucap pria itu
Rania hanya diam saja karena merasa tidak kenal dengan pria didepannya.
"Loe benaran udah gak kenal gw Ran?" tanya pria itu.
"Gak"jawab Rania tegas.
"Coba loe inget wajah gw Ran" pinta pria itu lagi.
Rania pun menatap pria didepannya dan memang ia merasa pernah mengenal pria itu namun kapan dan dimana ia masih belum ingat
"Gw gak kenal" ucap Rania sambil berdiri dan hendak meninggalkan pria itu.
Rania terus berusaha untuk kabur namun sayang tenaga pria itu jauh lebih kuat dari tenaganya.
Pria itu pun segera menjalankan mobilnya.
"Loe siapa sih sebenernya, loe ngapain nyulik gw"tanya Rania kesal.
"Rugi gw kalo nyulik loe, makan loe aja banyak"
"Terus kenapa loe maksa gw buat naik mobil loe"
"Niat gw baik, cuma mau nganterin loe pulang aja" ucap pria itu lagi.
"Dih sok tau banget loe, emangnya loe tau rumah gw dimana" tanya Rania lagi
Pria itu hanya tersenyum, lalu ia pun menepikan mobilnya.
"Gw tau semua tentang loe Ran" jawab pria itu lagi.
Dari suaranya Rania seperti mengenal pria itu namun jika yang bersamanya saat ini adalah Fahri wajahnya begitu berbeda.
Pria itu pun kembali menyalahkan mesin mobilnya.
Mereka kini berada disebuah taman, mereka tidak turun dari mobil namun kaca mobil Rania buka selebar-lebarnya jika ada apa-apa ia bisa berteriak minta tolong, kira-kira begitu yang ada dalam pikiran Rania saat ini.
"Ran,gw minta maaf ya waktu itu gw pergi begitu aja gak pamit sama loe" ucap pria itu lagi.
Rania pun mengerutkan darinya, hanya ada satu pria yang pergi tanpa pamit yaitu Fahri.
Rania menatap pria didepannya,ia coba menelisik pria didepannya.
"Loe Fahri?"tanya Rania ragu.
Pria itu pun tersenyum.
"Alhamdulillah kalua loe masih inget gw Ran"
"Loe mau kan maafin gw"tanya nya.
Rania pun diam, ia ingat dulu begitu kesal pada pria itu karena sudah pergi tanpa pamit dan tidak ada satupun pesan yang Rania kirim dibalas.
Tiba-tiba saja rasa kesal itu hadir lagi, dengan segera Rania turun dari mobil Fahri dan mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat didepannya.
Fahri yang berusaha mengejar pun akhirnya menyerah karena taksi yang dinaiki Rania mulai menjauh.
Sepanjang perjalanan Rania hanya termenung.
Kenapa saat ia sudah melupakan Fahri tiba-tiba saja pria itu hadir lagi.
__ADS_1
Akhirnya ia pun tiba dirumahnya,Nayla sedikit heran melihat wajah Rania yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Nayla pun segera menyusul putrinya kedalam kamar Rania.
Sementara itu disalon Ardina kembali bertemu dengan pria itu.
Entah kenapa ia yakin jika pria itu adalah Rahmat.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Ardina pun berniat langsung pulang tanpa menunggu papanya.
Saat Ardina keluar dari salon ternyata pria itu masih berada didepan salonnya.
"Ar.." panggil pria itu.
Merasa ada yang memanggil namanya Ardina pun segera menoleh kepria itu.
"Ar ..masih inget gw gak?" tanya pria itu sambil duduk diatas motornya.
Ardina yang menggelangkan kepalanya bertanda ia tidak mengenal pria itu.
"Loe udah beneran lupa y sama g" tanyanya lagi
"Gw beneran gak ingat loe siapa, maaf ya" ucap Rania ramah.
"Ini gw Rahmat" ucap pria itu lagi.
"Gak mungkin loe Rahmat" ucap Ardina tidak percaya.
"Ini beneran gw Ar" ucap pria itu berusaha untuk meyakinkan Ardina.
Rahmat pun menceritakan saat-saat mereka waktu SMA dengan maksud untuk meyakinkan Ardina jika ia benar Rahmat teman SMA nya dulu.
Usaha Rahmat tidak sia-sia akhirnya Ardina pun percaya jika pria yang didepannya ini adalah betul Rahmat.
Mereka pun tidak langsung pulang tapi singgah dahulu ke sebuah kafe untuk bertukar cerita.
Sementara itu didalam kamarnya Rania berusaha memejamkan matanya,ia masih tidak percaya jika pria yang tadi menemuinya adalah benar Fahri.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya ia pun segera menuju tempat ia biasa jadi pelampiasannya saat ia merasa kesal.
Rania pun mulai memakai sarung tinjunya lalu memukul samsak sekuat tenaga dan sebanyak mungkin hingga ia merasa puas.
Ke esokan harinya mobil Fahri sudah terparkir tidak jauh dari rumah Rania.
Rania yang tidak melihat dengan acuhnya lewat begitu saja tepat disamping mobil Fahri.
Dari dalam mobil Fahri hanya tersenyum melihat gadis yang ia sukai tidak berubah sedikitpun.
Merasa ada yang mengikutinya Rania pun mempercepat laju motornya.
Karena merasa tidak aman Rania pun asal masuk kedalam parkiran rumah orang, ia pura-pura bertamu.
Kebetulan yang membuka pintu seorang pria masih muda mungkin sepantaran dirinya.
"Cari siapa ya mbak?" tanya pria itu
"Mas maaf sebelumnya,saya minta tolong dong ada yang ikutin saya" ucap Rania sambil melihat kearah belakang dan melihat mobil itu masih terparkir disana.
"Maksud gimana ya?"tanya pemuda itu seakan tidak mengerti.
"Itu loh mas, ada orang yang ikutin saya, tolongin dong mas" pinta Rania.
Akhirnya pria itu pun mengerti, ia mempersilahkan Rania untuk duduk,dari jauh Fahri merasa begitu cemburu karena melihat Rania sedang berbicara dengan seorang pria dan mereka terlihat seperti sangat akrab.
Setelah menunggu beberapa menit Rania masih terlihat asik ngobrol dengan pria itu akhirnya Fahri pun segera menjalankan mobilnya menjauh dari rumah pria yang ia yakin pacar baru Rania.
Sementara itu Rania bernafas lega saat orang yang mengikutinya mulai pergi.
Setelah yakin mobil itu pergi jauh, Rania pun berterima kasih pada pria yang belum ia kenal itu.
Ia pun segera menjalankan motornya menuju kampus.
Begitu tiba di kampus Rania yang sudah tertinggal pelajaran pertama akhirnya nongkrong di kantin sambil mengisi perutnya yang mulai terasa lapar.
Saat ia sedang asik makan tiba-tiba saja ia kembali melihat sosok wanita yang ia panggil mamanya Fahri.
Sejak Fahri menghilang beberapa tahun lalu, sosok itu pun sudah tidak pernah ia lihat lagi.
Hari ini tiba-tiba saja sosok itu kembali muncul.
Sosok itu menatap Rania dengan tatapan yang sulit Rania artikan.
Jarang sekali Rania merasa takut,namun kali ini ia merasa begitu takut melihat tatapan sosok wanita itu.
Rania pun segera menyelesaikan makannya, ia akhirnya memilih ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku.
Begitu tiba di perpustakaan ia langsung mencari buku yang ia butuhkan.
Ia pun membaca buku itu dengan serius, setelah menyelesaikan satu buku Rania pun mencari satu buku lagi.
Setelah mencari dibeberapa rak akhirnya ia pun menemukan buku yang ia cari.
Saat ia mengambil buku itu tiba-tiba saja ia melihat wajah seseorang dari lubang bekas buku yang ia ambil.
Jantungnya berdetak begitu kencang saat melihat sosok itu ada didepannya.
Rania pun segera mencoba tidak memperhatikan sosok wanita didepannya,ia pura-pura membaca buku yang ia ambil.
Suasana perpustakaan yang sepi membuat Rania segera menyelesaikan bacaannya.
Ia pun langsung keluar dari perpustakaan dan segera menuju toilet.
__ADS_1
Saat Rania masuk kedalam toilet tiba-tiba saja bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri, karena tidak ingin terjadi apa-apa ia pun segera keluar dari kamar mandi dan memilih untuk ketaman.