
๐น๐น๐น Selamat Membaca ๐น๐น๐น
Nayla yang kesal akhirnya tertidur sepanjang perjalanan.
Begitu mereka tiba Nayla masih terlihat sangat lelap hingga Adit tak tega untuk membangunkannya.
Akhirnya Adit menggendong Nayla dari mobil hingga masuk kekamar mereka dan menaruh Nayla dengan sangat hati-hati agar gadis itu tak terbangun.
Setelah menaruh Nayla di tempat tidur Adit kembali keluar untuk menutup pagar dan mengunci mobil lalu membersihkan diri.
Setelah selesai Aditpun masuk kekamarnya, ia pun menelan salivanya kasar saat melihat pemandangan di depannya.
Nayla yang tertidur pulas sambil mendekap guling dan gaunnya yang tersibak hingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
" Mana bisa tahan kalau begini Nay"
Aditpun langsung menyelimuti Nayla agar pikirannya tidak berkelana kemana-mana.
Namun baru saja ia menyelimuti istrinya lagi-lagi Nayla meyibak selimutnya hingga akhirnya ia pun tak tahan lagi.
Aditpun membaringkan tubuhnya di samping Nayla ia mulai menciumi seluruh wajah istrinya dari mata, kening, ujung hidung,pipi dan berakhir di bibir Nayla yang terlihat menantang.
Adit pun mengemut lembut bibir bawah Nayla hingga akhirnya gadis itu merasa terusik.
Dengan mata yang masih berat Nayla memaksa membuka matanya.
"Aaahhhh..."
" Kamu mau apa Dit? " Nayla yang terkejut mendapati wajah suaminya begitu dekat dengan wajahnya.
" Aku mau minta hak aku Nay" bisik Adit dengan suara yang sudah berat
Nayla langsung menarik selimut dan mendekapnya erat.
" Jangan takut sayang aku tau kamu masih takut tapi aku mau sebelum aku berangkat aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai suami" bujuk Adit
Nayla masih diam dia sedikit memundurkan dirinya hingga mentok disudut tempat tidur.
" Sayang jangan takut begitu.."
Adit berusaha mendekat pada Nayla, ia memegang tangan Nayla yang nampak bergetar karena takut.
" Sayang lawan rasa takut kamu"
" Aku suami kamu "
Nayla masih gemetar dia terdiam dengan wajah bingungnya
" Sayang ini aku suami kamu, kamu jangan takut Nay..." Adit berhasil mendekati Nayla dan menarik gadis itu masuk dalam dekapannya.
" Maafin aku Dit" ucap Nayla lirih.
" Gak apa-apa Sayang kita bisa coba pelan-pelan yang" bisik Adit lalu mencium telinga Nayla lembut
" Lawan rasa takut kamu Yang,kamu gak kasian apa sama aku" Adit terus mencium leher Nayla lembut berharap gadis itu bisa melawan traumanya.
Nayla memejamkan matanya mencoba menenangkan hatinya.
Mencoba melawan rasa takutnya dan membuang bayang-bayang wajah Fikar yang dengan kasar menyentuhnya.
Dada Nayla nampak naik turun begitu cepat nampak sekali ia sedang mengendalikan emosinya.
Saat Adit mulai mencumbunya tiba-tiba Nayla menarik tangannya dan memeluk dirinya sendiri
" Jangan...hu..hu jangan mendekat " tiba-tiba Nayla menangis dan nampak sekali rasa takut di wajahnya.
__ADS_1
" Sayang..ini aku " Adit terus mendekap Nayla yang wajahnya sudah penuh dengan air mata.
Setelah Nayla agak tenangan Adit menangkup wajah Nayla dengan kedua tangannya.
Nayla mengerjapkan matanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri sendiri.
" Maaf" ucap Nayla pelan
" Maaf untuk apa sayang" tanya Adit lembut lalu mengahapus air mata yang tersisa di wajah Nayla dengan jarinya.
" Maaf karena aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu" jawab Nayla sambil menunduk.
" Gak apa-apa sayang, kita bisa nyoba lagi nanti, aku masih bisa sabar kok" jawab Adit sambil tersenyum kecut.
Akhirnya Naylapun kembali terlelap dalam dekapan Adit.
Suara Azan subuh sudah terdengar Nayla mengerjapkan matanya perlahan, ia tersentak saat melihat dada Adit yang bidang terpampang di depan matanya.
Tanpa ia sadari tangannya mulai menyentuh dada suaminya itu dan sedikit mengelus-elusnya.
Nayla kemudian menengadahkan wajahnya sedikit keatas menatap wajah suaminya yang kini masih terlelap.
" Maafin aku sayang" ucap Nayla pelan lalu mengecup sekilas bibir suaminya
Namun saat ia hendak menarik wajahnya menjauh tiba-tiba saja tangan Adit menahan tengkuknya lalu Adit kembali mencium bibir Nayla, setelah puas ia pun menyudahinya.
" Beraninya kalau aku lagi tidur ya, coba kalau aku lagi melek begini berani gak nyium aku" tantang Adit sambil tersenyum.
" Gak berani lah" jawab Nayla malu-malu karena tertangkap basah oleh Adit.
Nayla berusaha lepas dari dekapan Adit, ia terus mengeliat ร gar dapat lolos namun sialnya tubuh Adit begitu besar hingga akhirnya ia pun pasrah.
" Kita lanjutin yang semalem yuk" bisik Adit dengan suara yang dibuat sesensual mungkin lalu ia langsung memposisikan tubuhnya diatas Nayla.
" Kenapa sayang" bisik Adit
" Ka...kamu kan badannya gede tar kalo aku ketiban kamu terus gepeng gimana the end dong aku Dit" gerutu Nayla lalu memalingkan wajahnya agar tak bersitatap dengan mata Adit.
Adit tersenyum melihat wajah Nayla yang memerah karena malu.
Tangan Adit mulai menjelajah kedalam baju Nayla dan meremas salah satu gundukan kembar milik Nayla.
" A.. a..Adit ihhh jangan maen bejek aja dong " ucap Nayla sambil berusaha menjauhkan tangan Adit dari dadanya.
" Ini mah bukan gunung Nay tapi bukit soalnya kecil" bisik Adit lalu kembali mengecup bibir Nayla sekilas.
Mulut Nayla sedikit terbuka seakan tak percaya Adit bisa bicara sepulgar itu
" Ihh kamu mah.."
" Besok aku kasih balon biar keliatan gede trus pas kamu bejek biar bunyi Dor sekalian" ucap Nayla yang mulai kesal
" Ishh jangan marah gitu dong yang, kenapa gak sekalian nyanyi balonku aja" ejek Adit.
Naylapun mendorong tubuh Adit hingga berbaring disampingnya lalu ia pun segera duduk di samping tempat tidurnya.
"Haduhh gagal lagi dong Nay..." Aditpun ikut mendudukan tubuhnya lalu menyugar rambutnya kebelakang.
Siang itu Nayla ijin pada Adit untuk ikut renang bersama Lilis dan teman-temannya
Namun karena sikap protektif Adit akhirnya ia pun ikut menemani Nayla dan teman-teman Lilis untuk berenang.
Setibanya di kolam renang Aditpun melarang Nayla memakai baju renang yang ia baru saja di belinya karena belakangnya yang terbuka hingga memperlihatkan punggung mulus milik Nayla.
Tanpa mereka sadari Anto yang memang mengikuti mereka menatap Nayla dengan penuh minat apa lagi melihat paha Nayla yang begitu mulus.
__ADS_1
Adit yang tadinya hanya memperhatikan Nayla dari saung akhirnya menceburkan diri juga saat melihat ada beberapa orang pria yang berusaha mendekati istrinya.
" Lah katanya gak mau renang" ejek Nayla begitu Adit berada disampingnya.
" Jadi pengen basah-basahan kalau berdua kamu yang" ucap Adit lalu mencubit ujung hidung Nayla.
Melihat Nayla yang sudah kedinginan Aditpun menarik paksa Nayla agar segera membersihkan diri.
Sambil menunggu Lilis dan teman-temannya selesai Adiy memesan makanan dan minuman untuk mereka.
Saat Nay dan Adit sedang asik menikmati makanan didepan mereka tiba-tiba Anto datang menghampiri.
" Haii ketemu lagi disini" sapa Anto yang langsung duduk disamping Nayla.
Adit yang melihat itu langsung berpindah tempat duduk.
Anto tersenyum begitu melihat Adit yang takut jika Nayla dekat dengannya.
Akhirnya Lilis dan teman-temannya pun selesai.
" Eh ada aa Anto juga" sapa Ai yang memang menaruh hati pada Anto sejak lama.
" Hai...." jawab Anto dingin
Tanpa aba-aba Ai langsung duduk disamping Anto.
Nayla dan Adit langsung tertawa begitu melihat wajah masam Anto.
Saat mereka hendak pulang Nayla heran melihat Ai yang jalan dengan sangat tergesa-gesa.
" Lis..dia kenapa sih kok jalannya cepet banget" tanya Nayla heran
" Gak tau teh "
Akhirnya mereka pun sampai diparkiran.
Sambil menunggu Adit yang belum sampai karena tadi harus mampir dulu di kasir untuk membayar makanan yang tadi mereka pesan Nayla memperhatikab satu persatu teman Lilis dan saat melihat Ai ia merasa ada yang beda.
Naylapun memperhatikan Ai dari atas terus turun ke bawah dan kini ia tau kenapa Ai jalan begitu tergesa-gesa.
" Kanapa teh Nay kok liatin Ai kaya gitu" tanya Ai yang merasa diperhatikan oleh Nayla.
" Gak apa-apa Ai, cuma tadi kan kamu pake sendal jepit ya kok sekarang pake sendal bagus gitu" tanya Nayla sambil menunjuk kearah kaki Ai.
" Ssst...teh jangan kenceng-kenceng ngomongnya tar ketahuan" bisik Ai sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
" Ai...itu mah namanya nyolong tau.." jawab Nayla
Adit yang baru saja tiba langsung bertanya ada apa dan Naylapun menjelaskan pada Adit.
" Ai besok-besok jangan kaya gitu lagi ya, itu tetep namanya nyuri" ucap Adit menasehati teman Lilis yang bernama Ai.
" Maaf aa sareng teh Nay" Jawab Ai merasa malu.
**Haii semua aku up ni
Maaf ya kalau sedikit gak nyambung soalnya pikiran aku lagi gak konsen.
Maaf juga kalau masih banyak typo
Jangan lupa ya tetap kasih dukungan buat aku ya biar tetap semangat nulisnya.
Salam sayang
Amellajj/author**
__ADS_1