
SELAMAT MEMBACA
Nayla begitu sedih melihat wajah cantik putrinya banyak luka lebam akibat berkelahi dengan pencuri tadi malam.
"Mah, Ran gak apa-apa, ini cuma perih sedikit aja kok" ucap Rania sambil berusaha tersenyum walau pun terasa sakit dibagian bibirnya.
"Mama gak perduli tuh maling ngambil apa aja yang penting kalian gak diapa-apain"
"Papa udah lapor polisi tadi, mungkin sebentar lagi mereka tiba,kamu benar gak apa-apa sayang, kita kerumah sakit aja gimana?" ucap Adit.
"Gak usah pah,Ran cuma lecet doang, diperiksa dokter juga malu masa lecet di bawa ke RS"ucap Rania sambil bercanda.
Aditpun tersenyum mendengar perkataan Rania, walaupun ia tau pasti putrinya itu menahan rasa sakit.
Tidak lama kemudian beberapa orang polisi datang untuk melihat keadaan rumah Adit dan juga mencari beberapa barang bukti.
Adit pun disarankan untuk memasang cctv dibeberapa sudut rumahnya.
Setelah polisi itu pergi Rania pun bisa beristirahat di kamar mamanya.
Malam ini mereka tidur bersama dikamar mamanya, sedangkan Radit dan Papanya tidur diruang tamu.
Sementara itu di kediaman Rahmat ia berdecak kesal saat melihat beberapa luka lebam diwajahnya dan juga merasa begitu nyeri di bagian perut karena beberapa kali kena pukulan dan juga tendangan dari Rania.
"Tuh cewe bikin gw makin penasaran aja sih,biar gw tau dia punya peliharaan hantu tapi gw gak takut"
Rahmat pun memulai ritualnya,selama beberapa tahun ini ia memang pergi jauh namun bukan untuk mengindar namun untuk mencari guru spiritual agar dapat menaklukkan orang yang melindungi Rania yaitu Aa Iwan.
Setelah melakukan ritual rutinya Rahmat pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil terus membayangkan wajah Rania tadi.
Keesokan harinya begitu bangun tidur Rania demam tinggi, badannya mengigil.
Nayla yang kebetulan sudah bangun begitu panik saat melihat Rania seperti kejang-kejang.
Ia pun langsung memanggil Adit yang memang sudah bangun dari tadi dan kini sedang menatap layar ponselnya sambil meneguk satu gelas kopi yang ia buat sendiri.
"Dit, Rania badannya panas, kejang-kejang lagi"
"Kok bisa, bukanya tadi malem udah minum obat?
"Iya, gak tau, ayo cepat liat dulu"Nayla menarik tangan Adit untuk melihat kondisi Rania.
Adit pun langsung menyentuh dahi Rania.
"Kita bawa ke rumah sakit aja mah, aku takut dia luka dalam" Adit pun langsung membopong tubuh Rania.
Ardina yang masih tidur pulas langsung membuka matanya saat merasakan ada suara sedikit berisik.
"Mah, Rania kenapa?"tanya Ardina sambil mengucek matanya.
"Mama kerumah sakit dulu ya sayang,kamu dirumah aja sama Aa"
Ardina pun hanya mengangguk saja sambil mengikuti mama nya keluar kamar.
"Radit yang baru bangun ikut terkejut saat melihat papanya menggendong Rania.
"Rann kenapa Pah?" tanya Radit sambil mengikuti papanya hingga ke mobil.
"Buka pintu mobilnya aa"
Raditpun membuka pintu mobil, lalu Adit pun meletakkan Rania di jok belakang dan tidak lama kemudian Naylapun langsung naik dan meletakan kepala Rania dipangkuannya.
Sementara itu dirumahnya Ardina tiba-tiba saja merasa begitu takut.
Beberapa kali ia melihat seperti ada yang lewat.
"Aa, Ar gak mau sendirian, Ar takut aa"
"Iya Ar, aa gak kemana-mana, cuma mau ke kamar mandi,masa iya kamu mau ikut juga" ucap Radit lalu menuju kamar mandi yang ada dibelakang ruang tamu.
Lagi-lagi Ardina seperti melihat ada sekelebat bayangan, ia pun langsung menuju kamar mandi dimana tadi Radit berada.
Tok...tok.
"Aa, buruan dong"terik Ardina dari depan pintu.
Ckkkk
Raditpun langsung keluar sambil berdecak sebal.
"Ya ampun Ar,aa lagi pipis aja,kamu kenapa kaya ketakutan begitu" tanya Radit.
"Ar kaya liat ada bayangan gitu aa, Ar takut aa" ucap Ardina sambil memegang lengan Radit.
"Jangan takut Ar,ada Aa"ucap Radit sambil menarik tangan Ardina untuk duduk disebelahnya.
"Kamu mau sarapan apa,biar aa buatin"
"Gak usah,aa disini aja"
"Ya udah kamu ikut aa aja kedapur"Radit pun menuju dapur diikuti oleh Ardina.
Radit pun langsung membuatkan sarapan untuk adiknya.
Radit begitu merasa bersalah karena ia terlalu lama di rumah Karin hingga kedua adiknya harus seperti sekarang Rania sakit dan penuh luka sedangkan Ardina nampak begitu trauma hingga tidak berani ditinggal sendirian.
Setelah sarapan mereka pun duduk diuar sambil menunggu kedatangan Papanya.
Sementara itu dirumah sakit Rania langsung mendapat penanganan ia harus melalui beberapa pemeriksaan.
Setelah memastikan tidak ada luka dalam akhirnya Rania pun di ijinkan pulang namun ia harus istirahat total.
Setelah setengah jam mereka pun tiba.
__ADS_1
Radit langsung membuka pintu mobil dan membopong tubuh Rania yang terlihat begitu lemas.
"Awas jatuh aa, emangnya kamu kuat?" tanya Nayla
"Kuat lah mah"jawab Radit sambil membawa tubuh Rania ke kamar orang tuanya.
Rania pun kembali terlelap.
Raditpun menceritakan kepada Papanya jika Ardina jadi begitu penakut dan tidak mau ditinggal sejak kejadian kemarin.
Aditpun menelpon aa Iwan dan menceritakan semuanya.
Aa Iwan yang kebetulan sedang berada di kampung halamannya hanya bisa membantu dari jauh.
Ia hanya berpesan agar Adit menjaga Rania,yang aa Iwan lihat setelah menerawang orang yang masuk kedalam kediaman Adit, tidak berniat untuk mencuri tapi hanya ingin menaruh sesuatu dikamar Rania.
Adit pun semakin penasaran apa maksud dari orang itu mencelakai Rania.
Beberapa hari kemudian Rania pun mulai pulih,hanya masih ada bercak keunguan diwajahnya.
Kejadian di rumah Nayla membuat beberapa tetangga mereka ikut khawatir dan mereka pun memasang beberapa buah cctv dirumahnya.
Rania semakin kesal pada dirinya sendiri, ternyata ia masih belum begitu mahir dalam mempraktekkan ilmu beladiri.
"Pah, Ran mau banyak latihan biar gak ada lagi tuh kejadian kaya kemarin"
"Mau kaya gimana lagi sayang,emang aja mungkin tuh maling lebih kuat dari kamu"ucap Adit
"Iya sih Pah,Ran mau makan banyak aja biar kuat"ucapnya lagi.
"Sekarang aja kamu udah banyak sayang makannya, tapi emang dasar kamu gak bisa gede"jawab Adit
"Ish papa kok bisa banget sih jawab semua ucapan Ran" ucap Rania.
Adit hanya tertawa melihat Rania yang kesal.
Kebetulan rumah Adit kini dalam tahap renovasi, ia sengaja meninggikan tembok depan rumahnya agar tidak ada lagi yang berusaha masuk kedalam rumahnya.
Rania yang melihat beberapa batu bata langsung mengambil 2 buah dan dibawanya kehadapan Adit.
"Pah coba liat deh, Ran bisa loh matahin batu bata ini"ucap Rania sambil bersiap untuk mempraktekkan apa yang pernah ia pelajari.
Adit hanya tersenyum sambil bersedakep.
Rania pun mengakat kaki kanannya lalu ia pun ..."hiiattt" teriaknya kencang sambil membenturkan 2 buah batubata kepahanya.
Beberapa detik kemudian kedua batubata itu pun terbelah menjadi dua bagian.
"Kan Ran bisa Pah"ucapnya bangga.
Padahal ia juga menahan rasa sedikit sakit dipahanya akibat benturan batu bata tadi dipahanya.
Adit pura-pura tidak melihat saat Rania meringis sambil mengelus pahanya yang terasa sakit.
Aditpun mengajak Rania untuk masuk kedalam rumah karena hari sudah gelap.
Berbeda dengan Rania, Ardina yang biasanya berani,sejak kejadian itu ia menjadi begitu penakut.
Kini ia pun tidur bersama dengan Rania.
"Ar, harusnya loe gak usah takut, kan loe ada yang jagain tuh cewe cantik" ucap Rania sambil mendengarkan musik.
"Mana, kok gw gak liat sih"ucap Ardina.
"Iya,tapikan loe bisa ngerasain"
"Iya sih kadang kalo gw lagi sendiri kaya nyium wangi banget padahal gw gak make parfum"
"Gak apa-apa Ar,dia itu cuma jagung loe aja,tapi gw juga gak tau sih dia itu siapa"ucap Rania
"Bener kata loe Ran,gw sekarang lebih takut sama manusia dari pada sama hantu"
"Nah kan sekarang loe Setuju sama omongan gw"ucap Rania
"Iya,ayo lah kita tidur udah malem juga Ran,nanti keburu mama razia"ucap Ardina mengingatkan karena biasanya Nayla akan mengecek apakah keduanya sudah tidur atau belum.
Mereka pun langsung mengambil posisi masing-masing.
Beberapa saat kemudian Ardina sudah tertidur
Rannnn....
Raniaaaa
Merasa ada yang memanggilnya Rania pun melihat kearah Ardina.
"Lah si Ar udah tidur,terus yang manggil gw siapa ya" batin Rania
"Bodo lah, mendingan gw tidur aja"ucap Rania lalu menarik selimutnya hingga dada.
Baru saja ia hendak memejamkan matanya, suara itu kembali ia dengar bahkan kini terdengar dekat.
Ia pun kembali melihat kearah Ardina yang masih terlihat begitu lelap.
"Ish iseng banget sih loe manggil-manggil"gerutu Rania lalu menutup telinganya dengan bantal dengan harapan suara itu tidak ia dengar lagi.
Karena merasa risih dan penasaran ia pun turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya hendak mencari siapa yang terus memanggilnya.
Beru saja ia tiba di tangga paling bawah pintu kamar mamanya terbuka.
Sesaat kemudian ia melihat mamanya keluar dari dalam kamar.
"Ran,kok kamu belum tidur,ini udah malem, kamu mau kemana"tegur Nayla yang kebetulan melihat putrinya itu sudah di tangga bawah.
__ADS_1
He...he...
Ran mau kedapur mah,mau ambil minum"jawab Rania berbohong.
"Ya sudah habis itu kamu langsung tidur ya"ucap Nayla lalu ia pun kembali masuk kedalam kamarnya.
Karena sudah ketahuan Rania pun membatalkan niatnya untuk keluar dan mencari tahu siapa yang telah mengusilinya.
Ia pun kembali kedalam kamar lalu berusaha memejamkan matanya.
Menjelang subuh Rania baru bisa memejamkan matanya, kebetulan ia sedang tidak sholat subuh,Nayla yang tau jika Rania sedang berhalangan membiarkan saja Rania tidur hingga pagi.
Jam delapan Rania baru membuka matanya dan ternyata matahari sudah mulai tinggi.
Ia pun segera mencuci muka lalu turun untuk menemui mamanya.
"Pagi mah,kok tumben Ran gak dibangunin sih"ucap Rania sambil menarik salah satu bangku diruang makan.
"Gak apa-apa kan kamu lagi gak sholat" jawab Nayla
"Tadi malem mama tumben bangun tengah malam"ucap Rania lagi.
"Gak kok,malah mama tidur pules banget, subuh aja dibangunin sama papa"jawab Nayla.
"Masa sih mah,lah terus yang tadi malem nyuruh Ran buat masuk lagi ke kamar siapa dong" tanya Rania bingung.
"Maksudnya gimana Ran"tanya Nayla bingung.
"Tadi malem itu Ran pas Ran turun mau keluar,baru aja sampai ditangga bawah udah disuruh masuk lagi sama mama" ucap Rania menjelaskan.
"Gak kok,tadi malem mama gak bangun"
"Lah terus itu siapa mah?" tanya Rania bingung.
"Mamah juga gak tau sayang"jawab Nayla
Rania duduk sambil mengetuk-ngetuk meja makan dengan jarinya,ia nampak sedang berpikir.
"Ran...loe tadi malem kok gak bisa diem banget sih,bolak balik"tanya Ardina yang muncul dari depan.
"Gw gak bisa tidur,kirain loe udah tidur tadi malem"ucap Rania sambil meneguk susu hangat miliknya.
Mereka berdua pun asik bercanda, sedangkan Nayla sibuk membuat cemilan untuk kedua putrinya.
"Mah,Ran mau roti pake selai mangga dong"pinta Rania
"Dih mana punya mama selai mangga,yang ada aja ya sayang"ucap Nayla.
"Iya mah,Ran cuma bercanda aja kok"ucap Rania sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja ponsel Rania berbunyi, setelah mematikan kompornya ia pun sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan telepon.
"Sayang,nanti sore kita pergi ke rumah bibi Siti ya,kalian mau ikut gak?"
"Kok tumben sih mah,ada acara apa?"
"Anaknya bibi ulang tahun sayang,nanti kita nginep disana"ucap Nayla.
Sebenarnya Rania enggan untuk ikut,namun jika ia tidak ikut pasti mamanya akan marah.
Mereka pun segera berkemas.
Setelah selesai berkemas mereka pun hanya tinggal menunggu Radit dan juga papanya.
Adit yang pulang cepat karena diminta oleh Nayla pun tiba.
"Sudah siap semuanya?"tanya Adit
"Masih nunggu Radit Pah,tadi sih bilangnya masih dijalan"jawab Nayla.
"Ya udah kalo begitu papa mandi dulu,tolong buatin papa kopi dong sayang" ucap Adit entah ditujukan kepada siapa.
"Biar Ran aja yang buatin" Rania pun langsung berdiri dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan secangkir kopi untuk papanya.
Baru saja Rania hendak menuang air panas tiba-tiba saja sosok anak kecil yang biasanya selalu menemani Rania tiba-tiba muncul dan hal itu membuat Rania terkejut dan hampir saja teko yang berisi air panas itu tumpah.
"Ish loe ngagetin aja sih,kalo mau muncul tuh kasih kode dong" ucap Rania kesal.
Sosok itu pun hanya tersenyum saja mendengar perkataan Rania.
"Loe kemana aja sih cil,bukannya bantuin gw kemaren" ucap Rania.
Lagi-lagi sosok itu hanya tersenyum.
"Nyengir terus sih cil"
Rania lalu meninggalkan sosok itu sambil membawa kopi untuk papanya.
Begitu Radit tiba,ia pun langsung mandi dan berganti pakaian, beruntung pakaian ganti untuk nya selama di rumah bibi Siti sudah dipersiapkan oleh Nayla.
Tanpa menunggu Radit istirahat mereka pun segera berangkat menuju kota Tangerang.
Radit yang memang belum istirahat tertidur lelap di jok belakang.
Sedangkan Rania dan Ardina sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Saat Rania sedang asik memainkan ponselnya, sebuah chat masuk
"Hallo sayang, gw kangen".
Rania pun mengacuhkan pesan dari nomer yang tidak ia kenal.
Lagi dan lagi pesan yang sama masuk di inbox pesan Rania.
__ADS_1
"Ini siapa sih iseng banget"gerutu Rania sambil menghapus pesan yang masuk lalu memblok nomor yang tidak ia kenal itu.