
SELAMAT MEMBACA
Hari berganti hari seakan waktu begitu cepat berlalu.
Pernikahan Nayla pun tinggal 2 hari lagi.
Rencananya hari ini Nayla akan ke makam almarhum suaminya untuk berziarah.
Adit tidak dapat mengantar Nayla berziarah karena sejak satu Minggu yang lalu ia dilarang bertemu dengan Nayla atau sedang di pingit istilahnya.
Dengan di temani Empok dan juga anak-anaknya ia pun segera berangkat menuju TPU yang berada tidak begitu jauh dari rumahnya.
"Assalamualaikum sayang"
"Aku datang bersama anak-anak kita,aku juga minta ijin untuk menikah lagi dengan Adit" ucap Nayla sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Ryan suaminya.
Dari kejauhan Mang Ujang nampak memperhatikan Nayla.
Setelah selesai mengirim doa untuk Ryan tiba-tiba saja Radit tersenyum sambil melihat ke arah Nayla.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Nayla
"Bunda itu ada ayah, kata ayah Bunda gak boleh nangis lagi" celetuk Radit
Tanpa terasa tiba-tiba saja air mata Nayla meluncur.
"Mas kamu ada disini,aku kangen mau liat kamu" batin Nayla
"Bunda jangan nangis kata ayah, itu ayah ikutan sedih liat air mata Bunda" Radit berdiri lalu menghapus air mata Bundanya dengan tangan mungilnya.
"Bunda gak sedih sayang,Bunda cuma rindu ayah Ryan" ucap Nayla lalu memeluk Radit.
Sementara Rania yang di gendong Empok ikut menangis.
"Istighfar Nay,kasian Ryan di sana udah tenang"
"Iya Pok, Nay gak sedih cuma kangen aja" ucap Nayla pelan.
"Assalamualaikum neng Nay" sapa mang Ujang yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan Nayla.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawab mereka hampir bersamaan.
Mereka pun ngobrol, sejenak Nayla lupa akan kesedihannya dan disela-sela obrolan itu mang Ujang juga memberikan beberapa nasehat untuk Nayla.
Sinar matahari semakin terasa begitu terik,Rania yang mulai merasa kepanasan menjadi sedikit rewel.
Akhirnya mereka pun pamit pulang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Nayla hanya diam entah apa yang kini sedang ia pikirkan.
Lima belas menit kemudian mereka pun tiba dirumah.
Mata Nayla sedikit berbinar saat melihat ada seorang pria berdiri didepan pagar rumahnya.
"Assalamualaikum Aa kapan sampe, kenapa gak bilang-bilang mau kesini" Nayla langsung menghampiri Aa Iwan lalu mencium punggung tangannya.
"Aa nyampe tadi pagi Nay,masa iya adik Aa mau nikah Aa gak hadir" ucap Aa sambil tersenyum.
Mereka pun ngobrol panjang lebar sambil sesekali Aa memberi wejangan kepada Nayla.
Sejak beberapa bulan lalu Nayla menuruti semua omongan Aa termasuk mensyukuri kelebihannya dan mengasahnya agar bisa bermanfaat buat orang lain.
Tak jarang ada orang yang datang meminta bantuannya untuk melihat sesuatu yang orang lain tidak dapat melihatnya.
Naylapun menceritakan apa yang tadi Radit ucapkan saat di makam.
"Radit itu sama kaya kamu Nay, lagi juga anak kecil itu masih suci masih bisa liat yang orang lain gak liat" Aa mengambil kopi hitam yang sudah hampir dingin karena terlupakan keberadaannya saking keasikan ngobrol.
"Oh iya tadi aa bawa pepes ikan mas, si teteh yang buat khusus buat kamu Nay" ucap Aa yang langsung berdiri dan berjalan keluar menuju motornya.
Tak lama kemudian Aa masuk sambil membawa kantong plastik hitam yang berisi pepes ikan.
"Wahhh gede banget Aa ikannya,jadi laper mau langsung makan ah" Naylapun langsung membawa pepes ikan itu kemeja makan dan menyiapkan lauk pauk lain dan piring lalu menyusun nya diatas meja
"Aa ayo makan bareng, Pok juga ayo" ajak Nayla begitu bersemangat.
Entahlah Aa meresa ada yang sedikit aneh makanya ia berniat untuk menjaga Nayla.
Setelah Aa pulang Naylapun langsung masuk kamar untuk beristirahat sedangkan kedua anaknya sudah tertidur lelap di kamar anak-anak di temani Empok.
Sambil mendengarkan musik melalui sebuah apk yang di ponselnya Nayla mencoba memejamkan matanya dan berharap bisa tertidur.
Saat ku sendiri kulihat foto dan Vidio
bersamamu yang telah lama kusimpan
Hancur hati ini melihat semu gambar diri
Ku ingin saat ini engkau ada disini
Tertawa bersama ku seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar tolong kabulkan lah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
__ADS_1
Hati ini hanya rindu
Entah karena terlalu menghayati lirik lagunya atau memang Nayla terlalu rindu pada Ryan ia pun kembali menangis saat ingatannya kembali saat bersama Ryan.
Tingkah Ryan yang sedikit konyol saat mendekati dirinya.
"Mas aku kangen, pengen banget liat kamu"
ia pun menangis tapi tidak bersuara, ia takut jika Mpok khawatir.
Ia pun tertidur dengan dengan air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
Memang rindu itu begitu terasa berat jika yang kita rindui orang yang sudah tiada, karena seberapa pun besar rasa rindu itu datang, kita sudah tidak mungkin untuk kembali bertemu, satu-satu yang bisa dilakukan hanyalah mengirim doa.
Malam pun tiba sebelum azan magrib Aa Iwan sudah berada di rumah Nayla.
Mereka pun sholat Magrib berjamaah tak ketinggalan si kecil Radit dan Rania.
Kedua anak kecil itu terlihat begitu khusus saat mereka mendoakan mendiang ayahnya.
"Bunda itu ada om" teriak Rania sambil menunjuk ke salah satu sudut ruangan.
"Iya biarin aja sayang" jawab Nayla lembut lalu memangku Rania.
"Gak apa-apa sayang asalkan dia gak ganggu, Rania gak takut kan?"
Rania hanya menggelengkan kepalanya bertada ia mengerti apa yang Bundanya bicarakan.
"Cieeee yang udah mau jadi manten mukanya bersih banget sih, glowing kalo kata anak jaman. sekarang mah" Empok yang baru saja datang tiba-tiba saja menggoda Nayla
"Ih Empok biasa aja Pok, lagi juga kan Nay baru besok mau luluran nya" jawab Nayla malu-malu.
Aa Iwan hanya tersenyum mendengar jawaban Nayla.
Sementara itu di kediaman Adit nampak beberapa orang mulai sibuk mempersiapkan semua barang untuk seserahan.
"Kamu lagi apa ya Nay, kangen banget ih, wa boleh gak ya" Adit bermonolog sendiri sambil memainkan ponselnya.
Ia pun mengtik pesan untuk Nayla, namun ia ragu untuk mengirimnya lalu ia menghapusnya kembali.
"Sabar Dit cuma tinggal nunggu beberapa hari lagi" ucap Adit sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
"Kenapa waktu terasa lama banget sih" keluh Adit sambil sebentar - sebentar melihat kearah jam dinding.
"Haduhhh yang mau nikah sampe gak sabaran banget sih liatin jam terus" ucap Lilis menggoda Kakanya yang nampak begitu gelisah.
"Bisanya ngeledekin Aa ya, makanya kamu tuh cepetan nikah biar ngerasain kaya Aa" ucap Adit
__ADS_1
"Rasain apa?" tanya Lilis pura-pura tidak mengerti.
"Susah Lis jelasin sama kamu mah" Adit yang merasa kesal akhirnya meninggalkan Lilis yang sedang asik bermain bersama Ardina.