TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 378


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Hampir setengah jam Radit berputar-putar mencari keberadaan kedua adiknya tidak ada titik terang akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang.


Entah kenapa seperti ada yang menuntunnya untuk melalui jalan yang jarang ia lalui.


Jalan itu biasanya hanya ramai dilalui kendaraan jika siang hari, namun jika setelah lepas magrib akan jarang orang melalui jalan itu selain jalan yang minim penerangan jalan itu juga terkenal sedikit angker.


"Ish kenapa gw lewat sini sih" gumam Radit saat ia sadar jalan yang ia lalui begitu sepi.


"Udah terlanjur juga, kalo gw balik lagi kejauhan, Bismillahirrahmanirrahim semoga gak ada apa-apa" ucap Radit bermonolog sendiri.


Karena merasa tidak enak ia pun melajukan motornya sedit kencang.


Sementara itu Rania dan Ardina yang kelelahan mendorong motornya yang terasa begitu berat


Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menghapus keringat.


"Kenapa gak nyampe-nyampe sih" gerutu Ardina.


"iya, gw udah cape banget nih, belum lagi kena Omelan mama nanti" sambung Rania.


Dari kejauhan Radit melihat ada dua gadis sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang cukup besar.


Yang Radit lihat saat ini diatas mereka ada sosok wanita yang sedang duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya.


Bulu kuduk Radit langsung meremang saat melihat wajah wanita itu.


Saat motornya mendekat barulah ia sadar jika kedua gadis itu adalah adiknya.


Citttttt


Ia pun mengerem motornya saat ia yakin itu adalah kedua adiknya yang sedang ia cari.


"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga" ucap Radit saat melihat wajah kedu adiknya.


"Aa .. Alhamdulillah ada Aa" sorak Rania kegirangan saat melihat wajah aa nya.


"Astaghfirullah kalian ya, itu motor kenapa kok didorong" tanya Radit yang langsung turun dari motornya.


"Gak tau Aa tiba-tiba mati motornya, padahal bensin penuh" jawab Rania .


"Aa tau apa sebabnya, kenapa kalian berhenti disini, emang kalian gak tau apa kalau ada itu..." Radit tidak meneruskan kata-katanya.


Ardina yang mengerti maksud Radit langsung melihat ke atas pohon.


Aaawww


Teriak Ardina yang langsung memeluk sang Kaka.


"Ih gak jelas banget sih loe Ar" ucap Rania yang masih belum tau.


"Ayo cepet Aa bantuin" ucap Radit yang langsung memeriksa motor Rania.


"Ish ini sih kerjaan mbak Kun " batin Radit


Hi...hi..


Radit yang memang sudah terbiasa mendengar suara tertawa seperti itu hanya biasa saja.


Rania langsung memeluk sang Kaka saat samar ia mendengar suara seseorang tertawa.


"Aa denger gak?" tanya Rania pelan.


"Apa?"

__ADS_1


"Ishh itu loh" decak Rania


"Hmmmm"


"Pulang aja yuk Aa" ajak Rania yang terus berpegangan pada Radit.


"Sekarang aja takut, tadi pas kabur dari rumah gak takut" sindir Radit.


"Astaga aku lebih takut sama Mama aa ketimbang sama hantu" jawab Rania ngasal.


"Ishh kamu tuh Ran" ucap Radit sambil mencubit kecil sang adik.


Raditpun menelpon Papa Adit, dan tidak lama kemudian Aditpun tiba.


Entah kenapa begitu Adit sampai tiba-tiba saja motor Rania bisa dinyalakan.


"Astaghfirullah kalian berdua ya bikin kerjaan papa malem-malem" ujar Adit pada kedua anak gadisnya.


"Maaf Pah" ucap kedua gadis itu secara bersamaan.


Akhirnya mereka pun pulang kerumah.


Nayla yang sudah berdiri didepan pintu nampak begitu khawatir dengan keadaan putrinya.


Begitu mobil Adit tiba ia pun berlari menghampiri.


"Gimana Pah udah ketemu belum?" tanya Nayla.


"Tenang mah, udah ketemu kok" jawab Adit sambil menutup pintu mobil.


"Mana Pah, kok gak ada?" tanya Nayla lagi saat ia melihat kedalam namun ia tidak melihat kedua anak gadisnya.


"Ada kok tadi mah" ucap Adit.


"Astaghfirullah kalian ya, ayo cepet turun" titah Adit


Kedua gadis itu pun segera turun dengan wajah yang ketakutan.


Nayla menatap kedua putrinya.


Ingin rasanya ia marah namun ia sadar ini bukan saat yang pas buat memarahi keduanya.


"Sana masuk lalu ganti baju terus tidur" ucap Nayla sambil masuk kedalam rumah.


Rania dan Ardina langsung menyusul Mamanya .


"Mama maafin kita" ucap keduanya bersamaan sambil memeluk Nayla.


Nayla hanya diam saja.


Ia pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Ya sudah sekarang sudah malam lebih baik kalian istirahat" ujar Nayla pelan.


Kedua gadis itupun langsung masuk kedalam kamar dan beristirahat.


Pagi pun tiba.


Rania dan Ardina sudah bangun lebih awal, mereka sudah beberes di dapur dan membuat sarapan.


Nayla yang memang bangun sedikit telat sedikit heran saat mendapati cucian piring sudah bersih dan sudah ada nasi goreng dan juga beberapa lembar roti yang sudah dibakar.


Naylapun mencicipi nasi goreng yang ia yakin buatan kedua anak gadisnya.


"Lumayan enak" batin Nayla sambil mengunyah nasi goreng.

__ADS_1


"Mah ..."


"Soal tadi malam Rania sama Ardina minta maaf" Nayla sedikit terkejut saat tiba-tiba saja kedua anak gadisnya sudah berada disampingnya.


"Kalian lewat mana kok tiba-tiba udah ada disebelah mama" tanya Nayla heran.


"emmmm itu....Mah..." jawab Rania sambil tersenyum.


"Tadi kita sembunyi di sana mah" ucap Ardina sambil menunjuk sela kecil disamping kulkas.


Naylapun menepuk jidatnya karena ulah kedua anak gadisnya.


"Enak gak mah nasgornya" tanya Rania malu-malu.


"Enak kok, itu kalian yang masak" tanya Nayla berpura-pura tidak percaya.


"Iya dong mah" jawab mereka cepat.


"Kalian belajar dari mana?" tanya Nayla sambil bersandar di meja.


"Liat mbah google mah" jawab kedua sambil tersenyum.


"Kalian kan bukan anak kembar tapi kok bisa ya kalo ngomong selalu barengan" tanya Nayla.


Mereka pun hanya tersenyum.


"Assalamualaikum pagi sayang" Adit yang sudah rapi langsung duduk di tempat biasanya.


"Wah nasi goreng" Nayla langsung mengambil piring dan menyendokan nasi goreng dan telur ceplok lalu memberikannya pada Adit.


"Aa Radit mana?" tanya Rania


"Sebentar Ar liat ya" Ardina langsung menuju kamar Radit.


tok...tok...


"Assalamualaikum Aa"


"Aa ayo sarapan" teriak Ardina


Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka.


"Kepala Aa pusing banget nih" ucap Radit yang masih terlihat berantakan.


"Aa sakit? pasti aa masuk angin gara-gara tadi malem nyari aku sama Rania ya" ucap Ardina merasa bersalah.


"Gak juga Ar, emang Aa aja keasikan main game jadi lupa waktu" ucap Radit berbohong.


Ia tau jika ia bilang yang sejujurnya pasti kedua adiknya akan merasa bersalah.


Dengan langkah gontai ia pun berjalan menuju meja.


Adit yang melihat putranya masih belum rapi akhirnya bertanya juga.


"Aa kamu gak sekolah?" tanya Radit sambil mengambil tissue.


"Pah hari ini Radit ijin ya gak sekolah, kepala Radit pusing banget"


Naylapun langsung menyentuh kening Radit dengan tangan nya


"Kamu demam Aa, mungkin kamu masuk angin, nanti biar mama kerokin ya" ucap Nayla.


"Gak ah mah, kan mama tau Radit gak suka di kerik" tolak Radit.


"Ya sudah kalo gitu nanti minum obat aja terus istirahat ya" ucap Adit sambil mengelus kepala putranya.

__ADS_1


__ADS_2