TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 307


__ADS_3

Selamat Membaca


Hari berganti hari tanpa terasa hubungan Nayla dan Ryan semakin dekat.


Begitu pun dengan kehamilan Nayla yang sudah masuk pada Minggu ke 34.


Ryan semakin gemas melihat Nayla yang buncit bahkan setiap hari ia selalu meluangkan waktunya untuk mengelus perut Nayla.


Sore itu pulang kerja Ryan mampir kerumah Nayla dengan membawa berbagai makanan untuk Nayla.


"Ryan kalo kaya gini terus aku bisa gendut "ucap Nayla saat melihat Ryan membawa banyak makanan dan buah-buahan.


"Orang hamil harus banyak makan makanan yang bergizi Nay, aku gak mau anak aku nantinya kurus kaya kurang gizi" tutur Ryan sambil membawa makanan yang ia bawa kedalam rumah Nayla.


"Anak kamu Yan?" tanya Nayla menyakinkan pendengarannya.


"Iya, kenapa?"


"Toh kalau kita nikah anak ini akan jadi anak aku juga Nay" ucap Ryan sambil mengelus perut Nayla lalu membungkukkan badannya .


"Anak ayah cepet keluar ya,Ayah gak sabar ketemu kamu" ucap Ryan pada calon bayi dalam perut Nayla.


Nayla tersenyum lega saat tau jika Ryan dapat menerima kehadiran anaknya nanti.


Sore itu rencananya Nayla dan Ryan serta Damra akan membeli perlengkapan bayi yang masih belum lengkap.


Nayla sudah rapi saat Ryan menjenputnya bersama Damra.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan perasaan iri.


Adit hanya bisa melihat Nayla dari jauh,ingin rasanya ia berada disamping Nayla dan menemani Nayla kemanapun wanita itu pergi.


Namun apa daya sekarang Adit hanya bisa menyesali kebodohannya.


"Nay maafin aku, aku ingin bersama kalian lagi" ucap Adit sedih saat melihat dari kejauhan Ryan menuntun Nayla masuk kedalam mobil dan tak lama kemudian mobil pun melaju.


Adit hanya memandang sedih mobil yang mereka naiki.


Awalnya ia ingin mengikuti Nayla namun ia urungkan.


Ia tiba-tiba merasa begitu sedih apalagi melihat perut Nayla yang sudah sangat besar dan sepertinya akan segera melahirkan.


Disebuah mall Mereka bertiga memasuki sebuah toko perlengkapan bayi.


Nayla hanya disuruh duduk sedangkan Ryan dan Damra asik memilih aneka baju dan peralatan lainnya.


Nayla begitu bahagia melihat Ryan yang begitu perhatian kepadanya dan juga calon anaknya.


"Yan aku laper" tiba-tiba saja Nayla merasa sangat lapar.


"Sabar ya sayang"ucap Ryan sambil mengelus perut Nayla.


"Yang laper aku Yan bukan anaknya" dengus Nayla sambil tersenyum


"Sama aja sayang" Ryan mengelus lembut kepala Nayla.

__ADS_1


"Gw jadi nyamuk Mulu" Damra yang berdiri tak jauh dari sana langsung menyindir sambil membawa beberapa pakaian bayi dan meletakkannya di meja kasir.


Ryan langsung mengeluarkan dompetnya untuk membayar barang yang meraka beli.


"Yan pakai kartu aku aja" Nayla menyerahkan ATM nya pada Ryan namun dengan tegas ditolak oleh Ryan.


Setelah meraka makan Nayla meminta singgah sebentar di gerai ATM untuk mengambil uang.


Didepan ATM Nayla mematung saat melihat saldo ATM nya.


Ryan yang tadinya hanya diam dan berada sedikit jauh akhirnya mendekat.


"Ada apa sayang"tanya Ryan


"ini loh kok uang aku banyak banget ya,padahal kemarin gak segini Yan" ucap Nayla yang terlihat bingung.


"Coba ingat-ingat lagi sayang"


"Bener Yan,uang aku kemarin cuma seratus jutaan kok ini jadi dua ratus juta lebih ya" tanya Nayla


"Ya udah besok kamu print aja sayang kan kelihatan tuh ada yang transfer apa gak" ucap Ryan yang langsung diangguki oleh Nayla.


Begitu mereka keluar dari ATM Damra terlihat cemberut.


"Kalo pacaran jangan di ATM dong" celetuk Damra.


"Biarin aja sayang, dia cuma iri aja tuh jadi jones" ucap Ryan sambil tertawa lepas mengejek Damra.


"Teruss aja ngejekk" balas Damra sedikit kesal.


"Udah sih jangan berisik aku mau tidur" tiba-tiba Nayla menyela perdebatan mereka.


Semenjak kandungan Nayla besar ia tak mau lagi duduk didepan,ia memilih duduk dibangku tengah bersama Damra.


Tak butuh waktu lama ia pun tertidur, jalanan yang macet membuat mereka sedikit lebih lama sampai dirumah.


Jam 10 malam mereka pun sampai dengan sangat hati-hati Ryan membopong tubuh Nayla yang masih tertidur lelap.


Malam itu perasaan Damra sangat tidak enak makanya ia memutuskan untuk menginap di rumah Nayla.


Sementara Ryan langsung pamit pulang.


Dikamar Nayla Damra langsung menganti pakaiannya dengan baju yang ia simpan di lemari Nayla.


Damra sedikit heran saat membuka lemari disana ada sebuah bungkusan kecil dengan sebuah kotak warna merah.


Karena tidak terlalu ingin tahu Damra pun mengabaikan kotak itu lalu menutup lemari.


Setelah membersihkan dirinya ia pun ikut berbaring disamping Nayla.


Karena lelah mereka pun tertidur dengan sangat lelapnya hingga pagi pun tiba.


Sementara itu dirumah Adit dan Dina mereka nampak seperti musuh tidak saling sapa.


Adit merasa kecewa karena Dina yang di vonis mandul oleh dokter.

__ADS_1


"Adit ini bukan salah aku, semua perempuan juga pastinya gak mau mandul" ucap Dina mencoba mengajak Adit berbicara.


"Iya aku tau, mungkin ini karma buat aku"jawab Adit tanpa melihat kearah Dina.


"Dulu aku juga pernah gak sengaja membunuh anak aku sendiri, aku memang bodoh gak bisa bedain mana yang bener-bener mutiara" lanjut Adit.


"Maksud kamu apa?" tanya Dina yang merasa jika ucapan Adit menyindir dirinya.


"Gak maksud apa-apa,harusnya aku dulu terus terang sama kamu"


"Harusnya aku sadar dan bisa ngendali'in diri bukan malah jadi lupa segalanya" sesal Adit.


"Percuma juga sekarang aku menyesal,aku cuma bisa lihat dia dari jauh Din" ucap Adit sedih.


Entah Adit sadar apa tidak, secara tidak sengaja ia telah melukai perasaan Dina yang kini telah menjadi istrinya.


Dina yang tau jika saat ini suasana hati Adit sedang tidak baik hanya diam menahan rasa sakit di hatinya apa lagi setelah ia divonis tidak bisa mempunyai anak.


Sementara itu Nayla yang sedang main kesalon hanya melihat semua aktivitas Damra.


Sebenernya ia ingin membantu Damra namun karena kandungan nya yang dufah sangat besar membuatnya tak bisa berbuat banyak.


"maaf ya Ra aku gak bisa bantuin, padahal pengen bantu-bantu biarpun cuma keramasin" ucap Nayla sambil memakan buah apel yang tadi ia kupas.


"Gak apa-apa Nay loe duduk aja disana ge gak mau ponakan gue kenapa-napa" jawab Damra sambil merapihkan salonnya.


Nayla tiba-tiba merasa pakaian bawahnya basah, ia pun merabanya.


Nayla mengerutkan keningnya heran, Damra yang melihat mimik muka Nayla langsung bertanya "Kenapa Nay?"


"Celana aku kok basah ya, masa iya aku ngompol" Nayla nampak bingung


"Jangan-jangan air ketuban loe pecah Nay"


"Ih jangan nakutin gitu dong Ra, lagi juga masih lama" sangkal Nayla.


"Ya kan bisa jadi Nay, orang lahirankan bisa maju bisa juga mundur" ucap Damra


"Iya sih Ra, tapi...." Nayla tak melanjutkan perkataannya, mendadak wajahnya nampak sedih.


"Loe kenapa Nay.." tanya Damra


"Gak apa-apa" sahut Nayla dengan senyum yang dipaksakan.


Siang itu Damra membelikan beberapa pakaian dalam buat Nayla karena CD Nayla yang sebentar-sebentar basah dan harus ganti.


Akhirnya sore pun tiba Damra yang memberitahu Ryan tentang Nayla tanpa sepengetahuan Nayla langsung mendaftarkan Nayla untuk periksa.


**Hallo semua Maaf aku baru up lagi.


semoga para Reader gak bosen ya nunggu up nya.


Maaf bab ini cuma sedikit.


Jangan lupa tetap beri dukungan buat Author ya Like, Rate Favorit dan komen nya author tunggu.

__ADS_1


Salam Manis


Amellajj/Author**


__ADS_2