TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 380


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Keesokan harinya jenazah Damrapun dikebumikan di tempat yang sama dengan Ryan dan juga Mamanya Nayla namun hanya berbeda blok saja.


Saat pemakaman telah selesai dan hampir semua orang kembali kerumah masing-masing hanya Nayla yang masih tetap berada disana dengan ditemani Adit dan juga Mang Ujang.


Kedua putri mereka dan juga Radit sudah lebih dulu kembali kerumah.


"Ra... semoga kamu tenang ya disana,aku juga minta ijin untuk meneruskan salon kamu"


"Kamu selalu ada saat aku susah dan senang Ra, kamu sudah aku anggap Kaka buat aku"


"Dulu kamu pernah bilang akan selalu menjaga aku, tapi mana Ra,l, sekarang kamu sudah pergi..."


Nayla berusaha sekuatnya menahan agar ai4 matanya tidak keluar.


Namun sekuat apapun ia menahan akhirnya air mata itu turun juga tanpa bisa ditahan lagi.


Adit hanya bisa mengelus punggung Nayla, ia tau seberapa dekat hubungan mereka, Damra juga secara tidak langsung ikut andil hingga mereka bisa seperti sekarang.


"Sayang kasihan Damra kalau kamu nagis terus, kita sekarang hanya bisa kirim doa buat dia semoga Damra bisa tenang di alam sana" ucap Adit pelan.


"Lebih baik sekarang kita pulang buat persiapan pengajian nanti malam"


Naylapun mengusap kasar air matanya.


Ia berusaha untuk berdiri,namun karena lemas ia pun hampir saja terjatuh, beruntung Adit dengan sigap menahan tubuh istrinya .


Begitu sampai dirumah Naylapun diminta untuk beristirahat.


Karena tidak ingin terjadi apa-apa kedua putrinya diminta untuk menemani Nayla di kamar.


Rania asik memainkan ponselnya, sedangkan Ardina sibuk membaca majalah yang ia bawa dari salon untuk ia pelajari.


"Mama lapar gak, biar Ar ambilin cemilan ya" Ardina menatap mamanya yang terlihat melamun.


Nayla hanya menggelengkan kepalanya lemas.


"Mama mau Ar pijitin" ucap Ardina lagi.


Lagi-lagi Nayla hanya menggelengkan kepalanya.


"Mah jangan diem aja dong, Ar sedih kalau liat mama kaya gini" ucap Ardina yang memang mempunyai sifat yang lebih kalem dibanding dengan Rania.


Sementara itu Rania menatap sekilas sang Mama sebelum akhirnya ia berkata " Lah itu tante Damra ada disebelah mama, gak usah sedih Mah"


Ucapan Rania berhasil membuat Ardina langsung turun dan duduk didekat Rania.


"Ish loe apaan sih kok ngomong begitu" Ardina memukul lengan Rania

__ADS_1


Rania hanya tertawa mendengar ucapan Ardina


"Bilang aja kor takut"


"Dih gak, mana ada gw takut* sangkal Ardina.


"Iya..."


"Gak lah.." jawab Ardina kesal.


Kegaduhan yang dibuat keduanya terdengar oleh Adit saat melintasi depan kamar mereka.


Ia pun membuka pintu dan melihat kedua putrinya yang sedang berdebat lalu ia melihat istrinya yang hanya diam saja tanpa merasa terusik oleh kegaduhan yang dibuat kedua putrinya.


"Ish kalian ya disuruh temenin mamanya malah berisik sendiri" tegur Adit dari depan pintu.


"ini loh Pah kata Rania ada tante Damra disampingnya mama" adu Ardina pada sang papa.


"Dih emang ada, itu duduk disampingnya mama" ucap Rania lagi.


"Tuh kan Papa denger sendiri" Ardina langsung berdiri dan bersembunyi di belakang Adit.


"Ada yang takut tuh..." ejek Rania


Adit hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya.


Aditpun langsung menyuruh mereka kembali ke kamarnya.iiA ii


"Sayang kamu istirahat aja dulu ya, biar aku yang nemenin"


Tanpa menjawab Naylapun langsung merebahkan dirinya dan tidur membelakangi Adit.


Wajah Nayla yang sedikit pucat membuat Adit khawatir, ia pun menelpon Aa Iwan dan meminta nya untuk datang kerumah melihat kondisi Nayla.


Tidak butuh waktu lama buat aa Iwan untuk sampai kerumahnya Nayla.


Ia pun langsung masuk dan menemui Adit di kamarnya.


Saat melihat kondisi Nayla aa Iwan jadi ingat beberapa tahun yang lalu saat Nayla kehilangan Mamanya.


Tidak ingin hal itu terjadi lagi akhirnya Aa pun mengajak Nayla ngobrol.


Awalnya memang Nayla tidak merespon apapun setelah Aa memberikan air putih yang telah didoakan akhirnya sedikit demi sedikit ia pun bereaksi.


"Sepertinya dia begitu terpukul kehilangan Damra, lebih baik sering diajak ngobrol biar dia gak terlalu sedih" saran Aa Iwan sebelum ia pamit pulang.


Sebenarnya Aa Iwan ingin lebih lama tinggal disana namun ada yang lebih penting dan tidak bisa ia tinggalkan dengan terpaksa ia pun harus pamit dahulu.


Aditpun meminta kedua putrinya untuk menjaga Nayla karena ia harus mempersiapkan untuk tahlilan nanti malam.

__ADS_1


Seperti biasa kedua gadis itu kalau tidak berdebat tidak seru menurut mereka.


Nayla yang sudah membaik akhirnya memarahi mereka karena terlalu berisik.


"Ar kalau mama sudah marah-marah berarti mama udah sembuh" bisik Rania


"Iya bener Ran" jawab Ardina


mereka berdua pun tertawa sambil melihat kearah Nayla.


"Kalian pasti ngomongin mama kan?" ucap Nayla sambil menatap keduanya.


"Iya emang kita lagi ngomongin Mama, mau tau gak mah apa yang tadi Rania bisikin ke Ardina" tanya Rania


"Emang kamu bilang apa?" akhirnya Naylapun penasaran.


"Tadi Rania cuma bilang kalo mama cantik tapi sayang galak" ucap Rania sambil tertawa.


"Mana ada mama galak, kalo kalian berdua gak bini mama marah juga mama gak akan galak" ucap Nayla tidak terima dibilang galak oleh putrinya.


Suasana dalam kamar itu jadi sedikit lebih gaduh karena ulah kedua putri Nayla yang terus saja mangganggu Mamanya.


Lagi-lagi Adit melintas di depan kamarnya ia mendengar suara Nayla yang sedang memarahi kedua putrinya.


Ia pun membuka pintu kamar sedikit untuk melihat apa yang dilakukan kedua putrinya hingga membuat Nayla jadi seperti semula.


"Mulai besok kalian tidak boleh kesalon lagi kalo kalian mau potong rambut biar mama saja yang motongin" ucap Nayla


"Gak mau, yang ada nanti miring-miring" jawab Ardian cepat


"Iya bener" Rania ikut menimpali.


"Ih mama juga dulu kursus salon, kalo kalian gak percaya tanya saja sama papa kalian" ucap Nayla tidak mau kalah.


"Ya pasti papa bakalan bela mama lah, kan Papa takut sama mama" ucap keduanya sambil tertawa.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka lebar


"Tadi kalian berdua bilang apa?" tanya Adit pura-pura marah


"Kita gak bilang apa-apa kok,kan udah ada Papa tuh, kita berdua keluar dulu ya Mah" ucap keduanya sambil berlari keluar kamar .


Adit dan Nayla hanya tertawa melihat tingkah keduanya.


Walau kadang membuat kesal namun jika mereka tidak ada pasti suasana rumah akan terasa sepi.


"Kamu sudah baikan sayang?" tanya Adit sambil duduk disebelah Nayla.


"Alhamdulillah sudah, terimakasih ya sudah selalu perhatian sama aku" jawab Nayla sambil menunduk.

__ADS_1


"Itu kan tugas aku sayang buat selalu merhatiin kalian semua" jawab Adit sambil mengelus lembut kepala Nayla.


__ADS_2