TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 430


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Entah kenapa sudah beberapa hari ini Rania selalu merasa begitu mengantuk


Nayla dan Adit pun merasa begitu heran melihat Rania yang sebentar-sebentar tidur hingga tidak jarang ia tidak makan dan sudah pasti ia pun tidak masuk kerja


Fahri yang tau kondisi Rania membiarkan gadis itu tidak masuk kerja,dan saat pulang kerja ia pun menyempatkan diri untuk mengunjungi Rania dan tidak lupa makanan kesukaan gadis itu.


Sore itu Fahri datang membawakan jajanan kesukaan Rania.


Ia heran saat tiba di rumah Rania karena suasana rumah itu terlihat begitu sepi tidak seperti biasanya.


Ia pun segera turun dari mobil dan membuka pagar rumah itu lalu mengetuk pintunya.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Alhamdulillah ada orang juga" ucap Fahri dalam hati.


"Eh Fahri, kebetulan kamu datang"ucap Nayla yang terlihat seperti sedang kebingungan.


"Emang ada apa tante, kayanya tante lagi bingung?"tanya Fahri


"Emm itu si Ran dari tadi siang gak mau bangun,tante bingung badan nya panas juga,bisa tolong antar tante ke RS" pinta Nayla.


"Bisa tante"ucap Fahri yang langsung mengikuti Nayla ke arah kamar Rania.


Begitu memegang dahi Rania yang demam tanpa menunggu lama lagi Fahri langsung membopong tubuh Rania dan memasukkan kedalam mobilnya dan disusul oleh Nayla yang terlihat panik.


"Tenang tante, insyaallah Rania gak apa-apa"ucap Fahri berusaha menenangkan calon ibu mertuanya


"Tante bingung RI,sejak pulang dari Garut Rania jadi kaya gini, tante jadi bingung"


"Tante Nay udah nanya sama mamang  Iwan?"tanya Fahri yang membuat Nayla langsung menghubungi aa Iwan.


Mereka pun tiba di IGD sebuah rumah sakit


Fahri langsung membopong Rania lalu masuk ke ruang IGD yang langsung disambut oleh dokter jaga serta beberapa suster yang kebetulan sedang bertugas malam itu.


Nayla pun menjelaskan apa yang dialami oleh Rania, sedangkan seorang suster sedang sibuk memasang selang infus ditangan Rania.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Aditpun tiba dengan wajah khawatir.


Setelah mendengar penjelasan dari Nayla Aditpun langsung terlihat khawatir ia terus mengutak-atik ponsel nya entah siapa yang yang sedang berusaha ia hubungi.


Saat Fahri sedang ngobrol dengan Adit tiba-tiba saja pintu ruang IGD terbuka lalu sebuah blankar keluar yang di ikuti oleh Nayla disebelahnya.


"Dit, ayo ini Rania udah mau masuk ruangan"ajak Nayla.


Adit dan Fahri pun mengikuti dari belakang.


Setelah Rania masuk ruangan Fahri pun langsung pamit pulang.


Begitu tiba dirumahnya Fahri langsung membersihkan diri lalu sholat isya dan istirahat.


Sementara itu dirumah sakit Radit meminta kedua orang tua nya untuk  pulang dan ia yang akan menjaga Rania.


Radit menatap wajah Rania yang tertidur lelap dengan selang yang terpasang dihidung agar makanan bisa masuk.


Tanpa terasa air matanya mengalir melihat kondisi Rania.


Ia pun menggenggam tangan Rania entah kenapa ia melihat bayangan Rania yang sedang bermain dengan ikan yang ia tangkap waktu di Garut kemarin.


Baru saja ia hendak memejamkan mata nya tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu kamar terbuka.


"Assalamualaikum" ucap seseorang yang suaranya begini familiar.


"Waalaikumsalam" jawab Radit sambil membuka matanya.


Ia pun tersenyum saat melihat papanya dan aa Iwan yang datang.


"Kamu makan dulu gih aa, tadi papa beli makanan" titah Adit sambil meletakkan bungkusan yang ia bawa.


"Radit gak bisa makan pah liat Rania kaya gitu"jawab Radit sedih.


"Kamu harus makan aa, jangan sampai ikutan sakit" ucap aa Iwan sambil mengelus kepala Rania.


Tanpa membantah lagi Radit pun langsung membuka bungkusan yang papanya bawa.


Sambil makan ia memperhatikan papanya yang sedang ngobrol dengan aa Iwan.

__ADS_1


Entah apa yang dilakukan oleh aa Iwan, yang ia lihat aa Iwan seperti sedang memanggil Rania untuk kembali kedalam tubuhnya.


Setelah hampir satu jam lamanya akhirnya aa Iwan pun selesai.


Keringat mengucur deras di wajahnya dan aa Iwan terlihat sangat lelah.


"Radit besok papa sama Mama gak bisa kesini dulu ya soalnya papa harus nemenin aa Iwan ke Garut"tutur Adit pada putranya.


Radit yang memang mengerti dengan maksud papanya hanya mengangguk dan tersenyum.


Malam itu Adit dan aa Iwan menginap di rumah sakit dan setelah sholat subuh mereka pun pamit pulang untuk istirahat sejenak sebelum nanti mereka kembali ke kota Garut.


Setelah beristirahat sejenak Adit,Nayla dan aa Iwan pun segera bersiap untuk segera berangkat ke kota Garut.


Ardina yang merasa begitu kesepuluh akhirnya memutuskan untuk kerumah sakit menemani Radit.


Tidak butuh waktu lama ia pun tiba dirumah sakit dan segera menuju ruang perawatan Rania.


"Assalamualaikum aa" ucap Ardina sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam, kok kamu kesini Ar, gak kesalon?" tanya Radit.


"Gak dulu aa, Ar kangen sama Rania" ucap Ardina yang terlihat sedih.


"Iya aa juga kangen sama tingkah nya yang kadang jail,jadi sepi" tutur Radit sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Ardina menatap wajah Rania yang terlihat begitu pucat, sementara itu Radit tertidur di lantai dengan beralaskan karpet yang papanya bawa.


Sementara itu setelah menempuh perjalanan empat jam lebih mereka pun tiba kembali di kediaman mamang Nayla tempat mereka bermalam beberapa hari yang lalu.


Setelah mengutarakan maksud mereka  tanpa menunggu lama  Mang Juju pun langsung mengeluarkan ember yang berisi ikan yang waktu itu Rania simpan, dan beruntung nya ikan itu dalam keadaan baik-baik saja dan tidak jadi dilepas oleh mang Juju beberapa hari lalu.


Aa Iwan pun memperhatikan ikan itu lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga dengan dilepaskannya kembali ikan ini Rania bisa segera pulih" ucap aa Iwan pelan sambil melepaskan ikan itu perlahan dan terlihat aa Iwan seperti sedang membaca sesuatu.


"Oh iya waktu itu bukan nya si Asep bilang kalau itu bukan ikan biasa" ucap mang Juju .


"Iya Nay juga denger mang, Nay lupa mau bilang sama Rania dia keburu ngambek" Jawab Nayla yang begitu menyesal karena ia lupa.

__ADS_1


"Udah sekarang mari kita sholat ashar berjamaah sekalian berdoa untuk kesembuhan Rania"ajak aa Iwan dan mereka pun langsung mengambil wudhu dan shalat berjamaah.


__ADS_2