
Selamat Membaca
Setelah selesai melakukan niat awal mereka ke Garut,Nayla pun langsung pamit pulang dengan harapan begitu mereka tiba dirumah sakit Rania sudah membuka matanya.
Sepanjang perjalanan Nayla terus membaca wirid apa saja untuk kesembuhan putrinya.
tiba-tiba ia ingat jika Rania pernah merengek kepadanya agar dicarikan orang yang bisa menutup mata batinnya agar ia tidak dapat lagi melihat hal-hal yang tidak kasat mata.
"Aa, memangnya mata batin Rania gak bisa ditutup ya?"tanya Nayla
"Kalau keturunan itu susah Nay,sama kaya kamu dulu, berulang kali ditutup tapi pasti kebuka lagi"jawab aa Iwan.
"Kadang Nay kasian aa liat Rania,waktu kecil aja dia dijauhi sama teman-temannya karena disangka stres suka marah-marah sendiri" tutur Nayla sambil mengingat saat-saat Rania kecil.
"Sebenernya di nikmati aja Nay, insyaallah kelebihan itu akan jadi bermanfaat jika kita bisa menggunakannya" ucap aa.
"Iya aa,tapi sepertinya Rania itu sama kaya Nay dulu,belum siap untuk melihat hal-hal yang seperti itu"
"Nantilah aa coba bantu siapa tau bisa sedikit membantu Rania"ucap aa Iwan sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil mencari posisi yang nyaman.
Tanpa istirahat, 4 jam lamanya mereka diperjalanan akhirnya mereka pun tiba dirumah sakit.
"Assalamualaikum" ucap Adit sambil mendorong pintu ruang perawatan Rania.
Mereka langsung diam saat melihat Ardina yang tertidur disamping Rania, sedangkan Radit tertidur dilantai dengan beralaskan jaketnya.
Perlahan Adit pun mendekat lalu membangunkan Radit.
__ADS_1
"Papa kapan nyampenya?"tanya Radit sambil mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat.
"Papa baru sampe,kalo mau tidur dibangku sana"
Dengan malas Raditpun berdiri,lalu duduk di bangku.
"Gimana Rania hari ini,ada perubahan gak?"tanya aa Iwan.
"Alhamdulillah aa tadi sih dia bergerak tapi ya gitu matanya belum mau kebuka"jawab Radit sambil memakan kue yang Nayla bawa.
Saat mereka sedang asik ngobrol tanpa mereka sadari Rania mulai membuka matanya.
Ia berkali-kali mengerjakan matanya yang terasa begitu silau terkena cahaya lampu.
"Mah,mamah ini dimana"
Ia langsung berdiri dan menghampiri Rania yang terlihat masih seperti orang bingung.
"Alhamdulillah sayang kamu udah bangun" Nayla langsung sujud sukur karena Allah telah mendapatkan doa-doanya.
"ini dimana mah, kok ramai sekali sih" ucap Rania
"ini dirumah sakit sayang" jawab Nayla dan langsung memencet bel dan tidak lama kemudian masuk seorang perawat.
Setelah melihat Rania yang sudah sadar perawat itupun langsung memanggil dokter jaga.
Setelah memeriksa kondisi Rania dan dinyatakan baik-baik saja akhirnya selang untuk masuknya makanan pun dilepas.
__ADS_1
Radit dan Ardina begitu bahagia melihat Rania yang sudah sadar, mereka bercerita banyak sambil sesekali terdengar suara tawa dari ketiganya.
Dua hari kemudian kondisi Rania susah membaik ia pun sudah diperbolehkan pulang.
Fahri yang kebetulan sudah pulang dari perjalanan dinas langsung menuju rumah Rania.
Ia begitu rindu dengan ulah Rania yang kadang usil, walaupun terkadang ia sebel jika gadis itu sedang mengerjainya disaat yang tidak tepat.
"Sayang kebetulan aku kemarin abis pulang dari Padang, ini aku bawain cemilan kesukaan kamu" ucap Fahri sambil meletakkan bungkusan besar disamping tempat tidur Rania.
"wahhh kripik balado, terimakasih ya RI masih inget aja kalo gw doyan kripik" ucap Rania sambil mengambil satu bungkus kripik.
Namun baru saja ia hendak membuka bungkusan kripik itu tanganya langsung dipukul oleh Ardina.
"ih sakit tau Ar"
"loe itu belum boleh makan pedes tau" ucap Ardina sambil mengambil kripik yang Rania pegang dan membawanya keluar dari kamar.
"ishh galak banget sih sekarang" ucap Rania
Fahri hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.
"Ardina itu galak karena sayang sama kamu Ran, waktu kamu sakit dia sedih banget"
"masa sih?" tanya Rania seakan tidak percaya.
Melihat Rania yang perlahan mulai pulih Nayla dan Adit pun begitu bahagia, mereka selalu berdoa semoga saja setelah kejadian ini Rania bisa lebih hati-hati lagi.
__ADS_1