
SELAMAT MEMBACA
Sudah beberapa hari ini Rania mendiamkan Fahri,ia masih kesal dengan Fahri yang sudah dengan teganya meninggalkannya ditempat yang sepi,sungguh Fahri tidak punya perasaan menurut Rania.
Sejak kejadian itu juga Rania tidak mau lagi satu mobil dengan Fahri, ia memilih naik ojol dari pada nanti diturunkan di tengah jalan lagi.
Hari ini Rania terpaksa pulang sendiri karena Ardina akan langsung ke salon diantar oleh Rahmat.
Diparkiran Rania melihat Fahri sedang duduk diatas motornya.
Ia pun bersembunyi dan menunggu Fahri pergi.
Setelah menunggu hingga 30 menit namun Fahri masih tetep setia duduk diatas motornya.
Akhirnya ia pun terpaksa menghampiri Fahri.
"Maaf ya ini motor saya, dan saya mau pulang" ucap Rania dengan logat formal.
"Ran, gw mau ngomong sama loe, dan soal kemarin gw bener-benar minta maaf, gw terlalu kesal lagian salah loe juga nanyain itu terus" ucap Fahri.
"Loe udah ngomongnya,kalau udah minggir gw mau pulang" ucap Rania dingin.
"Ran plis jangan kaya gini sama gw, gw bener-benar nyesel" ucap Fahri sambil menahan stang motor Rania.
"Apa loe mikir seandainya waktu itu ada orang jahat terus gw dibunuh, apa loe akan nyesel juga" tanya Rania yang jadi ikutan kesal.
"Kalau itu sampai terjadi, mungkin gw bakal ikut loe ke alam sana" ucap Fahri dan Rania pun hanya tersenyum sinis.
"Cuma orang oon yang mikir kaya gitu RI" ucap Rania sambil menepis tangan Fahri dari stang motornya.
"Gw gak bercanda Ran" teriak Fahri
Rania pun langsung tancap gas tidak mau ambil pusing dengan ocehan Fahri.
Begitu tiba di rumah Rania langsung masuk kamar dan beristirahat.
Sementara itu Radit yang yang baru saja tiba merasa heran karena Fahri ada didepan rumahya.
"Loe ngapain diluar RI, masuk yuk"ajak Radit.
"Gak kk biar aku disini aja sampai Rania mau maafin aku" ucap Fahri.
"Haduhh belum kelar juga masalah yang kemarin ternyata" ucap Radit dan langsung masuk kedalam rumah.
Radit langsung menghampiri Rania di kamarnya.
"Ran...ada Fahri tuh di luar,suruh masuk gih" ucap Radit sambil menepuk bahu adiknya.
"Gak ah, aa aja yang suruh dia masuk, Ran masih kesel sama dia" tolak Rania
"Astaghfirullah Ran, gak boleh loh dendam kaya gitu, sana temui dia dan suruh masuk" titah Adit.
"Gak ah, aa aja " tolak Rania masih kekeh tidak mau menemui Fahri.
Raditpun akhirnya keluar kamar Rania.
Ia pun kembali keluar dan menemui Fahri lalu memintanya untuk masuk, namun lagi-lagi Fahri menolak ia malah pamit pulang.
Sementara itu Rania mengintip dari jendela kamarnya.
Setelah Fahri pergi ia pun kembali duduk diatas kasurnya.
Sebuah pesan masuk di ponselnya
"Maaf" hanya kata itu yang Fahri kirim untuk Rania.
Malamnya saat Rania tidur ia kembali bermimpi.
Mimpi yang sama seperti beberapa hari yang lalu.
Ia pun tidak mau ambil pusing dan berusaha untuk tidak perduli.
Saat disekolah ia tidak melihat Fahri, awalnya ia mengira Fahri hanya kesiangan saja, namun hingga jam pelajaran usai Fahri tidak juga datang.
"Ciee ada yang gelisah ni pacar nya gak masuk" ejek Rahmat saat jam Istirahat.
"Bisa gak sih loe gak usah komen" ucap Rania kesal.
Rahmat dan Ardina hanya tersenyum mendengar perkataan Rania.
"Kerumahnya yuk nanti sore,siapa tau dia sakit" ajak Ardina.
"Ogah, loe aja gw males" jawab Rania cepat.
"Yakin gak mau ikut, jangan nyesel ya" ucap Rahmat.
"Kenapa harus nyesel" jawab Rania cuek.
"Ya gak tau, kayanya perasaan gw gak enak" jawab Ardina.
"Jangan nakut-nakutin gitu sih Ar" ucap Rania sambil manyun.
"Serius gw Ran" ucap Ardina dengan wajah serius.
Hampir satu minggu lamanya Fahri tidak masuk sekolah .
Entah kenapa Rania tiba-tiba saja mereka khawatir terjadi sesuatu pada Fahri.
Ia pun mengajak Ardina untuk kerumah Fahri nanti sore.
Sore pun tiba, kedua gadis itu pun menuju kediaman Fahri.
Namun mereka terkejut saat penjaga rumah itu mengatakan jika Fahri sedang berada dirumah sakit dan dalam kondisi koma karena kecelakaan beberapa hari lalu.
Mereka pun meminta alamat rumah sakit tempat dimana Fahri dirawat.
__ADS_1
Setelah pulang kedua gadis itu pun menceritakan keadaan Fahri kepada kedua orang tua mereka dan Radit.
Mereka pun segera menuju rumah sakit tempat dimana Fahri dirawat.
Rania langsung menagis saat melihat kondisi Fahri.
Ia ingat dengan kata-kata Fahri beberapa hari lalu.
Ardina berusaha menenangkan Rania namun gadis itu tetap saja tidak dapat menahan air matanya.
Dan saat itu juga ada seorang pria paruh baya yang datang menghampiri mereka.
"Maaf kalian siapa?" tanya pria itu ramah.
"Kami teman sekelasnya Fahri om, maaf kalau boleh tau om ini siapa nya Fahri ya?" tanya Ardina.
"Kenalkan saya papanya Fahri" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Kalau boleh tau siapa diantara kalian yang bernama Rania?" tanya pria itu
"Saya om" jawab Rania sambil menghapus air matanya.
Pria itu menyerahkan satu buah buku kecil.
"Kamu bacanya dirumah saja ya, om minta maaf kalau selama ini putra saya sering menyusahkan kalian" pria itu terlihat begitu sedih.
Rania ingat dengan cerita Fahri beberapa saat lalu mengenai papanya, namun saat ini Rania dapat melihat sendiri ternyata pria itu begitu menyayanginya Fahri, terbukti saat ini ia setia menunggu di rumah sakit dan entah berapa hari ia tidak mandi terlihat dari penampilannya yang sedikit kucal.
Melalui kaca kecil yang terdapat di pintu Rania menatap Fahri yang terpasang begitu banyak selang.
"Ri, gw dateng, gw udah maafin loe, cepet bangun gw kangen pengen berantem sama loe lagi" ucap Rania pelan.
Radit yang berdiri disamping Rania mengelus punggung Rania lalu memeluknya.
"Jangan nangis terus dek,kita doain aja semoga Fahri cepat melewati masa kritisnya dan cepat sadar" ucap Radit.
Tanpa sengaja Rania melihat sosok mamanya Fahri sedang berdiri didekat Fahri dengan wajah sedihnya.
"Maaf"
Ucap Rania pelan sambil melihat kearah wanita itu.
Radit langsung ikut melihat ke arah sosok itu yang kini menatap Rania.
"Kita pulang dulu sudah malam, besok kan kalian sekolah" ajak Adit yang lalu pamit pada papanya Fahri.
Begitu tiba dirumah, Rania langsung masuk kedalam kamarnya dan bergegas membaca buku kecil yang diberikan oleh Papanya Fahri.
Air mata Rania langsung mengalir saat ia tahu jika Fahri begitu menyayanginya.
Rania yang begitu merasa bersalah kepada Fahri hanya menatap satu buah chat terakhir yang Fahri kirim.
Ia tidak menyangka jika kejadiannya akan berakhir seperti ini.
Ia pun tau pasti saat ini ada sesuatu yang tak kasat mata ada didekatnya namun ia tidak tahu siapa atau apa yang tadi hadir didekatnya.
Entah kenapa ia begitu merasa mengantuk dan akhirnya ia pun tertidur.
Baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba saja ia melihat Fahri sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
"Ri, ini beneran loe?" tanya Vika
Sosok Fahri hanya tersenyum sambil memandang Rania.
"Gak lucu Ri kaya gitu" ucap Rania kesal.
"Gw udah maafin loe, dan gw juga minta maaf karena terlalu egois" ucap Rania sedih.
Sosok Fahri itu hanya tersenyum hingga akhirnya menghilang.
Rania pun terbangun.
"Astaghfirullah cuma mimpi" ucap Rania pelan.
Untuk menghilangkan rasa khawatirnya dan membuat hatinya tenang Rania pun langsung mengambil wudhu lalu ia pun sholat tahajud dan mengaji.
Setelah merasa lebih tenang ia pun kembali tidur.
Namun baru saja ia memejamkan mata suara azan subuh sudah berkumandang.
Rania pun langsung sholat subuh dan setelah itu ia hanya rebah sambil menunggu jam berangkat sekolah.
Saat disekolah Rania menatap bangku kosong yang biasa Fahri duduki.
Ia membelalakan matanya saat ia melihat sosok Fahri duduk disana dan tersenyum manis.
"Astaghfirullah ini pasti cuma halusinasi" batin Rania sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Ardina yang merasa heran dengan tingkah Rania langsung bertanya dan Raniapun mengatakan hal yang ia lihat kepada Ardina.
"Serius loe Ran liat dia ada disana?" tanya Ardina seakan tidak percaya.
Raniapun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap tempat duduk Fahri.
"Dia masih ada sana,apa jangan-jangan itu memang Fahri" pikirnya lalu kembali melihat kearah tempat duduk Fahri.
"Gw salah liat, itu bukan dia, pasti karena gw merasa bersalah makanya yang gw liat itu dia" batin Rania
"Kayanya nanti sore kita kerumah sakit aja yuk, sekalian besuk" ajak Ardina.
Sore itu mereka pun kembali kerumah sakit dan melihat kondisi Fahri yang masih sama seperti kemarin.
"Ran...Rania" Rania merasa ada yang memangilnya ia pun mencari asal suara.
Rania terhentak mundur beberapa langkah saat melihat sosok Fahri itu kini ada didepannya.
__ADS_1
"Lah kok loe disini sih?" tanya Rania bingung.
"Iya ini gw, kok loe kaya takut begitu sih" tanyanya sambil nyengir.
"Emang loe udah ...." Rania tidak melanjutkan kata-katanya.
"Maksudnya gw udah mati gitu" ucap Fahri menegaskan.
Rania hanya mengangguk.
"Gak tau Ran,cuma gw gak bisa masuk kedalam badan gw" ucap sosok itu lagi.
"Lah gimana terusnya" tanya Rania bingung.
"Bantuin gw Ran" pintanya
"Bantu apa Ri,gw gak tau harus gimana" ucap Rania sambil berbisik.
"Bantuin gw biar bisa masuk lagi kedalam tubuh gw" pinta Fahri
Sudah tentu hanya Rania saja yang bisa mendengar apa yang Fahri ucapkan.
Roh Fahri yang masih belum bisa masuk kedalam raganya terus mengikuti Rania Kemana pun Rania pergi kecuali ke kamar mandi.
"Haii loe gak pernah ngintip gw kan, jangan mentang-mentang gw gak bisa mukul loe terus loe mau seenaknya aja ya" tutur Rania sambil memakan cemilan yang ada diatas tempat tidurnya.
"Loe cewe kok jorok amat sih Ran, masa makan sambil tengkurap begitu" ucap roh Fahri
"Loe gak usah protes, ganggu ke khususan gw aja, ini gw lagi baca buat bantuin loe" tutur Rania.
Memang Rania masih belum cerita kepada Mamanya soal Fahri yang belum bisa kembali ke badannya.
Namun setelah ia pikir-pikir ia harus secepatnya menceritakan hal ini kepada Mamanya agar dapat segera membantu Fahri.
"Ran sebenarnya kaya gini enak juga, cuma orang-orang tertentu yang bisa liat gw"
"Terusss?" tanya Rania tanpa melihat kearah Fahri.
"Bisa jahilin orang yang gw gak suka" ucap nya sambil duduk disebelah Rania.
"Gak inget dosa loe mau jailin orang aja" ucap Rania lagi
"Tapi untungnya loe gak bisa nyentuh ya, coba kalo loe bisa megang pasti loe bakal jahil" tutur Rania sambil mengutak-atik ponselnya.
"Iya, kalo gw bisa megang orang atau benda gw tuh mau jailin loe Ran" ucap nya
"Kenapa gw?" tanya Rania
Fahri hanya tersenyum entah apa yang ada dalam pikirannya.
Radit yang kebetulan lewat kamar Rania langsung membuka pintu kamar adiknya itu.
Alangkah terkejutnya Radit saat melihat roh Fahri ada didalam kamar Rania.
Ia pun langsung duduk disebelah Rania dan meminta penjelasan.
Rania pun menceritakan semuanya kepada Radit.
"Kenapa loe baru ngomong sekarang sih dek, kita harus ngomong sama mama sama papa juga jangan sampai kelamaan dia ada diluar badannya" ucap Radit.
"Iya aa, Ran kan gak ngerti" jawab Rania
Malam itu setelah makan malam saat mereka berkumpul bersama diruang tengah Rania pun menceritakan semuanya.
"Astaghfirullah kamu kok gak bilang dari kemarin Ran, sekarang dimana Fahrinya" tanya Nayla yang tidak bisa melihat sosok Fahri.
"Dia ada dikamar Ran mah" jawab Rania
Rania pun segera memanggil sosok Fahri.
Adit tidak percaya dengan yang Rania ucapkan namun karena Nayla dan Radit pun dapat melihat keberadaan Fahri akhirnya Aditpun bersedia membantu.
Ia pun segera menelpon Aa Iwan dan menceritakan semuanya
Entah apa yang aa Iwan ucapkan Adit hanya menganggukan kepalanya.
"Loe bisa tenang sekarang, jangan ikutin gw lagi ya" ucap Rania pada ruh Fahri.
"Loe boleh nebeng dikamar gw Ri,jangan bareng sama Ran kan dia cewe" ucap Radit
"Biarpun loe roh tetap aja kan loe bisa liat adek gw dan gw gak ikhlas" tutur Radit lagi
Sosok Fahri hanya tersenyum mendengar ucapan Radit.
Hari itu mereka kembali datang kerumah sakit dan bertemu dengan papanya Fahri.
Adit pun menceritakan semuanya kepada Papanya Fahri.
Awalnya ia tidak percaya namun saat Rania menyebutkan semua yang Fahri ucapkan akhirnya ia pun percaya.
"Ri, papa tau kamu bisa dengar apa yang papa ucapkan, papa yakin juga kamu pasti tau apapun yang papa lakukan, papa sayang kamu tapi papa tidak bisa seperti orang-orang, papa hanya berusaha memberikan yang terbaik buat kamu nak"
Pria paruh baya itupun menitikkan air matanya.
Tanpa diminta ia pun menceritakan semuanya.
Tanpa ia tau sosok mamanya Fahri pun ada disana.
Ia terlihat begitu sedih namun Rania tidak berani untuk bertanya.
Sekarang ia tau maksud dari ucapan sosok itu yang memintanya untuk menonton Fahri.
Sesuai dengan janjinya hari ini Aa Iwan dan Adit datang kerumah sakit untuk melihat kondisi Fahri.
Aa Iwan hanya tersenyum sambil melihat ke arah Rania.
__ADS_1