
SELAMAT MEMBACA
Rania yang terus menggerutu membuat Ardina menoleh kearahnya.
"Loe kenapa Ran?" tanya Ar
"Gak tau nih,ada orang wa gw bilang kangen,gw tanya ini siapa gak balas,gw blokir dia ganti nomor" ujar Rania
"Gak usah di tanggapi sayang,mungkin lagi iseng aja tuh orang"ucap Nayla yang ikut menimpali.
"Iya mah, makanya ini Ran blok,tapi dia malah ganti nomor"ucap Rania lagi.
"Gak usah dibalas Ran,biarin aja"papa Adit pun ikut berkomentar.
Hari sudah larut malam saat mereka tiba di rumah bibi Siti yang kebetulan berada jauh dari kota.
Hujan lebar disertai petir saat mereka tiba.
Bibi Siti yang menunggu didepan rumahnya langsung menghampiri mereka dengan menggunakan payung besar.
Bibi Siti pun bergantian memayungi mereka.
"Alhamdulillah sampe juga"ucap Adit
"Rumah bibi mah judulnya aja kota tapi masuk kedalamnya jauh hampir sama kaya dikampung" ucap Bi Siti sambil tersenyum.
Mereka pun masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan.
Kamar berukuran besar agar mereka bisa tidur bersama dengan mengunakan kasur busa yang digelar dilantai.
Setelah meminum teh hangat dan berganti pakaian mereka pun segera beristirahat.
Radit yang memang sudah lelah langsung terlelap, begitu juga dengan kedua gadis itu Rania dan Ardina.
Sedangkan Nayla dan Adit masih asik ngobrol bersama BI Siti di ruang tengah.
Saat sedang tidur Rania bermimpi seperti dikejar-kejar oleh seseorang yang memakai topeng.
Ia berlari sekencang-kencangnya hingga ia tidak sadar masuk kedalam hutan yang begitu lebat.
Suasana gelap dan suara hewan hutan membuat Rania baru menyadari jika saat ini sedang berada jauh dari rumahnya.
Suara hewan hutan dan rimbunnya pohon-pohon di hutan itu membuat suasana menjadi mencekam.
Rania terus berjalan mengikuti jalan kecil yang ada berharap ia dapat segera keluar dari hutan itu.
Namun semakin ia berjalan semakin jauh ia tersesat kedalam hutan.
"Aku ada dimana ini, kenapa semakin aku berjalan semakin gelap" ucap Rania kebingungan.
"Mamah,Papah, kalian dimana"teriak Rania
Tidak ada jawaban yang ia dengar hanya suara nya saja yang menggema.
Tiba-tiba saja daun-daun disekitar bergerak-gerak seperti ada yang lewat.
Karena takut ia pun berlari tidak tentu arah.
Hingga akhirnya Rania merasa lelah dan hampir kehabisan nafas.
Dari kejauhan ia melihat sebuah rumah gubuk.
Ia pun menghampiri rumah itu, perlahan ia membuka pintu yang sudah begitu berdebu karena mungkin sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya.
Karena merasa takut mengusik penghuni yang tidak kasat mata
Rania pun meminta ijin untuk beristirahat
"Numpang-numpang permisi maaf saya gak bermaksud menganggu,saya cuma menumpang istirahat" ucap Rania entah kenapa siapa.
Ia pun memilih untuk duduk di bagian depan gubuk itu.
Baru saja ia duduk tiba-tiba saja pintu yang tadi sempat ia buka sedikit kini terbuka lebar seakan mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Rania pun hanya menoleh saja tanpa ada niat untuk masuk.
Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya disertai petir yang mengelegar.
Angin yang cukup kencang membuat air hujan mengenai dirinya.
Karena tidak ingin basah dan udarapun berubah menjadi begitu dingin Rania pun tanpa pikir panjang langsung masuk kedalam rumah itu.
Layaknya rumah tidak berpenghuni, ada banyak sarang laba-laba disana dan juga debu yang lumayan tebal menandakan rumah itu sudah lama ditinggal pemiliknya.
Tanpa ada cahaya Rania pun duduk bersandar pada salah satu dinding yang terbuat dari kayu sambil memeluk dirinya sendiri.
"Ya Allah tolonglah aku, lindungilah aku ya Allah,bantu aku untuk keluar dari sini" Rania berdoa didalam hati tanpa terasa air matanya jatuh.
"Mama,papa tolong Ran, Rania takut" ucap Rania sambil menangis.
"Mah..."
"Aa..."
Kalian dimana tolong Rania.
Nayla yang memang belum tidur langsung duduk dan melihat kearah Rania.
Ia melihat putrinya seperti sedang bermimpi buruk, dengan segera ia pun berusaha membangunkan Rania dengan menepuk-nepuk pipinya pelan.
Setelah berusaha membangunkan Rania berkali-kali namun Rania tetap tidak bangun juga akhirnya Naylapun membangunkan Adit.
"Ada apa mah" tanyaAdit dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Ini Pah, Rania seperti sedang mimpi buruk,mama udah coba bangunin tapi gak bisa" ucap Rania.
Adit pun langsung melihat kearah putrinya.
Keringat membasahi wajah Rania,ia pun ikut membantu membangunkan Rania namun Rania tetap saja terpejam sambil sesekali memangilnya meminta tolong.
Aditpun meminta Nayla untuk mengambilkan satu gelas air putih.
Ia pun langsung mengusap wajah Rania dengan air yang sudah ia bacakan doa.
Setelah beberapa saat akhirnya Rania pun terbangun.
Begitu ia membuka mata ia langsung memeluk mamanya.
Hujan yang turun dengan derasnya membuat suasana menjadi begitu dingin.
Karena takut bermimpi buruk lagi Rania pun tidak mau tidur lagi.
Nayla yang memang sudah merasa begitu mengantuk akhirnya tertidur juga begitu pun dengan Adit.
Untuk menghilangkan rasa jenuhnya Rania pun membuka aplikasi Alquran digital di ponsel.
Alhamdulillah setelah mengaji akhirnya ia pun tertidur dengan ponsel yang masih menyala.
Radit yang kebetulan terbangun dan melihat ponsel Rania masih menyala langsung mengambil ponsel adiknya dan saat melihat batrainya lemah ia pun langsung mencasnya.
Lagi-lagi Rania terbangun saat matahari sudah mulai naik.
Ia pun melihat sekitarnya sudah tidak ada orang.
Ia pun langsung merapikan kasur dan perlengkapannya setelah itu langsung membersihkan diri.
Setelah rapi ia pun langsung mencari keberadaan semua orang.
"Mama sama Ar jahat banget sih masa Ran gak dibangunin"protes Rania saat melihat mamanya dan juga Ardina sedang sibuk mempersiapkan makanan untuk nanti.
"Kamu kan baru tidur subuh sayang, mama gak tega buat bangunin"ucap Nayla
"Iya sih,tapi kan jadinya Ran gak diajak kepasar gara-gara bangun siang"
"Emangnya kamu mau ikut kepasar?becek loh kan tadi malem ujan" ucap Nayla.
"Kan ada sepatu boot nya bibi bisa Ran pinjem" jawab Rania sambil menunjuk sepatu boot disudut ruangan.
Mereka pun tertawa mendengar jawaban Rania.
"Bibi buat apaan itu?"tanya Rania saat melihat Bi Siti sedang memasukkan daun pisang muda kedalam bambu.
"Mau masak nasi liwet tapi pake bambu Ran, enak loh"jawab Bi Siti lagi.
Sementara itu Radit, papa Adit dan mang Jaja sedang pergi ke kebun untuk mengambil kacang tanah dan juga ubi.
"Enak ya mah disini nanem apa aja tumbuh,biarpun gak ada uang tapi masih bisa makan" celetuk Rania.
Ardina dan Naylapun langsung melihat kearah Rania.
"Ran...mama boleh tanya gak?"
"Nanya apa mah" jawab Rania sambil mengambil satu buah kue bolu.
"Tadi malem kamu mimpi apa sih,kok sampe sudah dibangunin" ucap Nayla.
"Emang Ran Kenapa mah?"tanya Rania balik yang seakan tidak ingat dengan mimpi yang ia alami tadi malam.
"Masa kamu gak inget Ran mimpi apa sampe kamu gak mau tidur" ucap Nayla
"Bener mah,Ran gak inget,yang Ran inget itu Ran nyasar dihutan"ucap Rania
"Ya bisa jadi sih kamu mimpi begitu,tapi kok kayaknya serem banget sih" ucap Nayla seakan masih tidak percaya jika Rania hanya bermimpi itu.
Sementara itu Rahmat yang tidak tau jika rumah itu sudah dipasang CCTV masih saja nekat memanjat tembok pagar rumah Rania walaupun sudah di tinggikan.
Ia dengan santainya masuk kedalam rumah itu seakan mempunyai kunci duplikat ia masuk kedalam kamar Rania.
Seperti ada yang membisikkan Adit untuk melihat cctv rumahnya,ia pun langsung mengambil ponselnya dan melihat satu persatu ruangan yang telah ia pasang kamera pengawas itu.
Adit begitu terkejut saat melihat diruang tengah ada seseorang yang baru saja turun dari lantai dua.
"Apakah itu orang yang sama yang waktu itu berkelahi dengan Rania"Adit membatin sambil terus melihat ponselnya.
Ia teringat dengan kata-kata Aa Iwan jika ia harus lebih memperhatikan dan menjaga Rania.
"Apa orang itu abis dari kamar Rania ya?kok dia bisa tau kalau itu kamar Rania" batin Adit .
Adit pun sedang sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa ia sadari Nayla sudah berdiri dibelakangnya.
"Dit, kamu lagi apa?kok kayaknya serius banget sih?"tanya Nayla yang langsung ikut duduk disebelahnya.
"Sayang ternyata maling itu datang lagi, kayanya dia bukan mau mencuri tapi sepertinya mencari seseorang" ucap Adit
"Maksudnya gimana Pah?"tanya Nayla yang masih belum faham.
"Kemarin waktu aku cerita sama aa Iwan, dia bilang kalau itu gak ada niat buat nyuri,tapi dia lagi ngincar seseorang, dan aa juga bilang agar aku lebih menjaga Rania" ucap Adit menjelaskan.
"Berarti Rania dalam bahaya dong Pah"ucap Nayla mulai merasa khawatir.
"Makanya kita harus lebih waspada mah, jangan biarin Rania sendirian dirumah"ucap Adit.
Bi Siti nampak sudah menata semua hidangan diatas sebuah tikar besar.
Mereka rencananya akan makan bersama di bawah pohon besar yang tumbuh disamping rumah Bi Siti.
Pohon itu begitu rindang dan hembusan angin yang begitu sejuk membuat siapa saja yang berada dibawahnya ingin tertidur.
__ADS_1
"Wahhh enak banget kayaknya nih nasi bambu,boleh gak Ran minta satu bambu buat Ran makan sendirian"pinta Rania.
"Boleh aja sayang,tapi nanti,kita berdoa dulu"ucap Bi Siti sambil tersenyum manis.
Entah kenapa Rania ingin sekali makan nasi bambu itu saat ini juga.
Saat semua orang tidak melihat Rania pun langsung mengambil satu buah nasi bambu lalu membawanya kebalik pohon.
Ia makan dengan begitu lahapnya.
Nayla yang melihat Rania memakan nasi seperti tidak biasanya hanya diam, begitu juga dengan Ardina dan yang lain.
"Biarkan saja, itu Karuhun yang minta"ucap Bi Siti.
Nayla pun hanya mengangguk.
"Ahhhh enak banget nasinya" ucap Rania dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Itu yang masuk kedalam diri Ran siapa mah?" tanya Radit yang memang tau jika saat ini Rania sedang ketempalan.
"Gak apa-apa sayang,itu leluhur kita, mungkin ia pengen,nanti juga dia keluar sendiri"jawab Nayla.
Betul saja apa yang Nayla ucapkan, beberapa saat kemudian Rania pun tersadar.
"Kenapa pada ngumpul disini, Ran malu ih diliatin"ucap Rania sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Mereka pun tertawa melihat kelakuan Rania.
Setelah sholat berjamaah mereka pun langsung makan bersama.
Rania makan begitu lahap.
"Ran, emang belum kenyang ya,kan tadi loe udah makan, banyak lagi" tanya Ardina.
"Dih kapan gw makan,ni aja gw baru makan sekarang Ar"jawab Rania sambil memakan satu potong paha ayam goreng.
"Berarti dia gak ingat ya" ucap Ardina lagi.
"Inget apa sih?" tanya Rania bingung.
"Bukanya apa-apa, udah lanjut lagi makannya sayang" ucap Nayla
Mereka pun makan begitu lahap, ditambah dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat siapapun merasa begitu ngantuk.
Saat semuanya tertidur Rania asik bermain ponsel walaupun sinyalnya terkadang ada terkadang hilang.
Tiba-tiba ada begitu banyak pesan masuk yang isinya sama namun dengan nomor yang berbeda.
Akhirnya karena kesal ia pun mematikan ponselnya.
Lalu ikut merebahkan diri diatas tikar bersama keluarganya.
Raniaaaaa
Rania yang tadinya hendak memejamkan mata, kembali membuka matanya saat ia mendengar suara wanita memanggilnya.
"Gak ada siapa-siapa" ucap Rania lalu kembali memejamkan matanya.
Lagi-lagi ia mendengar suara wanita memangilnya namun ia tidak tahu dimana.
Sifat kepo Rania pun meronta-ronta,ia pun langsung mencari sosok wanita yang memanggilnya.
Iya terus berjalan keluar pagar, suasana yang sepi dan jarak antar rumah pun lumayan jauh membuat Rania sedikit berpikir jika memang ada orang yang memanggilnya tadi pasti berada disekitarnya tidak mungkin dari arah rumah seberang sana yang jaraknya lumayan jauh.
Akhirnya ia pun kembali duduk diatas tikar sambil memperhatikan orang-orang yang sedang tertidur.
"Mereka bisa tidur pules,kenapa aku gak ya,sekalinya aku tidur mimpi aneh" ucap Rania sambil merebahkan tubuhnya disamping Mamanya.
Tiba-tiba saja Bi Siti keyluar dari dalam rumah sambil membawa satu mangkuk besar es buah.
Rania nampak bingung seingatnya tadi Bi Siti sedang tidur lalu kok tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil membawa es buah juga,lantas kapan ia buat es buahnya kok tiba-tiba saja udah jadi.
Plukkk
Saat Rania masih berpikir tiba-tiba saja ada yang menimpuknya dengan jambu biji yang masih kecil dan tepat mengenai kepalanya.
Ia pun mengedarkan pandangannya mencari apakah di sekitarnya ada pohon jambu biji.
Setelah beberapa saat mencari ia tidak melihat ada pohon jambu.
"Astaghfirullah apalagi sih ini" gerutu Rania.
Saat ia sedang kebingungan tiba-tiba saja Radit tertawa terbahak-bahak.
"Aa loe udah bangun?"
"Ya udah lah Ran,masa iya kalo belum gw bisa ketawa" ucap Radit sambil menahan tawanya.
"Terus loe ngetawain apa coba?"
"Loe nyariin apa Ran?"tanya Radit sambil menahan tawanya.
"Tadi tuh ada yang nimpuk Ran peke ****** jambu aa, tapi pas Ran liat sekitar sini gak ada pohon jambu kelutuk" ucap Rania.
Raditpun tertawa semangkin kencang.
"Dih aa,loe kesambet ya kok ketawa sih" ucap Rania kesal.
Radit pun berusaha menahan tawanya.
"Tadi itu aa yang nimpuk,abis kamu ngelamun terus sih"
"Dih aa jahat banget sih ngerjain Ran".ucap Rania sambil memukul lengan Radit kencang.
__ADS_1
"Iya deh aa minta maaf,lain kali jangan suka ngelamun Ran,gak bagus" ucap Radit.
"Iya aa" jawab Rania sambil memajukan bibirnya.