TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 402


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Saat Rania sakit Fahri begitu perhatian terhadap Rania, ia dengan setia mendorong kursi roda yang Rania naiki kemanapun Rania mau.


Jam istirahat karena Rania membawa bekal mereka pun memakannya di tempat biasa.


"Ran... waktu gw koma loe takut ya kalo gw mati?" tanya Fahri


"Gak juga sih"


"yakin? tapi kok gw perhatiin loe kaya takut kehilangan gw gitu" ucap Fahri sambil tersenyum.


"Gw ada alesannya sendiri Ri"


"Apa?"


"Loe koma aja ngikutin gw terus, gimana kalo loe jadi arwah penasaran yang ada gw seumur hidup di ikutin loe, mending loe idup aja kaya sekarang gw ajak ngobrol juga kelihatan bentuknya, kalo kaya kemarin gw malah disangka stres karena ngomong sendiri" tutur Rania menjelaskan


Wkwkkwk


Fahri tertawa lepas mendengar ucapan Rania yang ada benarnya juga.


"Seneng banget sih loe"


"Iya gw seneng Ran, baru kali ini juga gw bisa ketawa puas"


"Oh iya bokap gw setuju loh kalo kita jadian" lanjut Fahri.


"Dih kita tuh masuk kecil jangan mikirin pacaran dulu" ucap Rania


" Aku bukan mikirin pacaran Ran"


"Lah tadi itu apa dong?" tanya Rania bingung


"Aku gak mikirin pacaran Ran, tapi langsung nikah aja kalo kamu mau dan di ijinin" ucap Fahri dan langsung mendapatkan sebuah jitakan yang membuat Fahri meringis.


"Loe mah gak ada romantisnya Ran, untung aja gw suka" ucap Fahri lagi.


Dari kejauhan Rahmat semakin kesal melihat Rania yang semakin dekat dengan Fahri.


Sejak beberapa hari ini Rahmat pun semakin jauh dari Ardina.


Saat pulang sekolah Rahmat langsung menuju rumah temannya bermaksud untuk bercerita.


Mereka duduk di teras samping rumah Dedy teman Rahmat yang mengerti sedikit tentang mistis.


Ia pun mencurahkan semua unek-uneknya dan Dedypun menyarankan Rahmat untuk ikut bersamanya malam Jumat ini.


Sementara itu disalon Ardina nampak serius mempelajari semua yang di jelaskan oleh salah satu karyawan salon mamanya.


Aduhhhh


Teriak Ardina saat tanpa sengaja jarinya terkena gunting yang biasa di gunakan untuk potong rambut.


Seorang karyawan mamanya langsung mengambilkan kotak p3k saat melihat darah yang keluar dari jari Ardina terus mengucur.


"Aduh sakit mbak, dikit-dikit aja" teriak Ardina saat karyawan itu meneteskan cairan obat cina keluka Ardina.


"Makanya kalo lagi gunting rambut itu jangan sambil ngelamun Ar, ini resikonya" ucap karyawan salon yang bernama Tita.


"Iya mbak maaf, Ar lagi banyak ulangan jadi gak bisa konsen" ucap Ardina sedikit berbohong.


"Ya udah sekarang kamu istirahat aja dulu ya, mbak masih ada beberapa customer lagi" Tita pun langsung pergi kedepan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Karena bosan Ardina pun ketempat Fitness papanya.


"Kamu sudah makan belum sayang" tanya Adit saat melihat putrinya datang.


"Belum Pah, nanti aja Ar lagi mau makan nasi uduk" jawab Ardina


Adit nampak memperhatikan jari Ardina yang terbungkus perban.


"Ar, tangan kamu kenapa?" tanya Adit serius.


"Gak apa-apa Pah, ini cuma kena gunting rambut aja tadi" jawab Ardina


"Sini papa obatin" Adit langsung menarik tangan Ardina untuk duduk.


"Ini udah dikasih obat kok Pah, tadi sama mbak Tita di kasih obat cina" ucap Ardina menjelaskan.


Sementara itu Radit yang sedang sibuk dengan persiapan untuk mendakinya nampak begitu serius mengeceknya satu persatu.


"Aa emang mau daki kemana" tanya Rania


"Ke gunung Slamet Ran" jawab Radit tanpa melihat ke arah adiknya.


"Kalo Ran udah sembuh boleh ikut gak?"


"Gak lah, kamu kan cewe Ran mending ke Mall aja" jawab Radit.


"Ran gak suka main ke mall aa, mending main ke tempat fitnes papa aja biar badan Ran berbentuk" ucap Rania dan membuat Radit tertawa.


"Cewe tuh maunya biar keliatan ayu, gemulai, lah kok maunya keliatan berotot sih Ran" celetuk Radit masih sambil tertawa.

__ADS_1


"Gak boleh ya kalo Ran jadi cewe kekar"tanya Rania


"Boleh, tapi kan jarang loh cewe yang berotot kecuali atlit angkat besi" ucap Radit lagi.


Rania tersenyum senang saat melihat mobil papanya masuk garasi.


"Wah papa tumben udah pulang, bawa apa itu" tanya Rania saat melihat plastik besar yang Adit bawa.


"Coba tebak apa?"


"Makanan ya?" Jawab Rania dengan mata berbinar karena memang sejak tadi cacing dalam perutnya sudah meminta di kasih makan.


"Kamu ya Ran makanan aja yang ada di pikirannya"


"Abis Ran dari tadi udah laper aa, aa sih sibuk sama tas begituan bukanya bikinin Ran dulu telur ceplok" jawab Rania sambil manyun.


"Lah kamu gak bilang sih kalo laper" Jawab Radit tidak mau kalah.


"Ish kenapa jadi ribut sih, ini itu emang makanan tapi ada sesuatu juga" ucap Adit menjelaskan.


Adit mengeluarkan satu kotak makanan yang berisi roti bakar dan diberikan kepada Rania.


Rania pun makan lumayan lahap karena memang ia sudah terlalu lapar.


"Selamat ulang tahun sayangnya Papa" ucap Adit sambil mengeluarkan satu buah boneka mini mouse berukuran besar.


"Wahhh aku aja lupa Pah kalo hari ini aku ulang tahun" ucap Rania malu-malu menerima boneka pemberian Papanya.


Mereka pun langsung masuk kedalam rumah.


Nayla yang memang sudah membuatkan kue spesial di tokonya untuk Rania langsung membawanya pulang.


Rania begitu bahagia saat beberapa kado ia terima.


Seperti anak kecil ia pun langsung membukanya dengan senyum yang bahagia.


Malam Jumat pun tiba, Rahmat dan Dedy langsung berangkat ke tempat biasa Dedy berguru.


Disana ia mengutarakan niatnya, orang yang Dady panggil gurupun mengerti maksud Rahmat.


Ia pun masuk kedalam sebuah ruangan khusus entah apa yang ia lakukan didalam sana yang pasti hampir 2 jam Rahmat dan Dady menunggu.


Begitu orang yang dipanggil guru oleh Dady keluar ia memberikan satu buah benda yang dibungkus kain berwarna merah dan meminta Rahmat untuk menyimpannya di dalam dompet serta tidak boleh dibawa masuk kedalam toilet.


Pria itu juga meminta Foto Rania, lalu Rahmat pun menunjukkan foto yang ada di galeri ponselnya.


"Ingat apa yang saya katakan barusan ya Mat,kamu harus baca surat-surat yang saya tulis itu"ucap Pria itu saat Rahmat dan juga temannya hendak pamit.


Dengan perasaan gembira Rahmat pun pulang, dan begitu tiba dirumah ia pun melihat foto Rania sambil tersenyum.


Sementara itu sosok anak kecil itu nampak begitu marah, ia membuang apa saja yang ada di kamar Rahmat.


Entah memang Rahmat yang sudah kebal atau memang ia tidak takut ia acuh saja saat tas sekolah yang ia gantung jatuh dan berpindah tempat.


Sementara itu Rania yang sedang berulang tahun begitu bahagia saat memeluk boneka besar yang diberikan oleh papanya.


Sedangkan Mama Nayla memberikannya satu set perhiasan emas dengan harapan ia bisa sedikit lebih feminim.


Malam itu lagi-lagi Rania bermimpi sosok mamanya Fahri memperingatinya jika saat ini ada seseorang yang berniat jahat kepadanya.


Awalnya ia tidak mau ambil pusing, namun lagi-lagi mimpi itu berulang.


Rania pun menceritakan soal mimpinya kepada Mamanya.


Nayla yang menanggapi serius mimpi Rania nampak sedang menerka kira-kira siapa yang berniat jahat kepada putrinya.


Saat disekolah Rahmat pun memulai aksinya.


Ia menatap ke arah Rania sambil membaca apa yang di perintahkan oleh gurunya.


Rania yang seperti mendapatkan bisikan langsung melihat kearah Rahmat.


"Loe kenapa Mati komat kamit kaya dukun aja" ucap Rania mengejek.


Rahmat tidak menjawab ia hanya menyinggungkan senyum tipis.


"Gak apa-apa Ran sekarang loe terus ngeledekin gw, kita liat aja beberapa hari lagi" ucap Rahmat dalam hati.


Setiap hari Rahmat terus saja melafalkan mantra-mantra yang diberikan oleh gurunya.


Sementara itu di kediamannya Aa Iwan diam-diam melindungi Rania.


Ia tau sesuatu akan terjadi karena sosok anak kecil yang selalu mengikuti Rania memberitahunya.


Beberapa hari berlalu, Rahmat yang heran karena jampi-jampinya tidak mempan terhadap Rania nampak begitu kesal.


Pulang sekolah ia pun kembali ke rumah Dady untuk menanyakannya.


"Loh kok bisa gak mempan sih, gw aja bisa tuh cewe yang gw incer sekarang deketin gw terus" ucap Dady.


"Lah gw juga gak tau, makanya gw mau nanya sama guru" ucap Rahmat.


Mereka pun segera menuju kediaman sang guru untuk menanyakan kenapa sampai saat ini ia belum juga dapat menaklukkan Rania.

__ADS_1


Orang yang dipanggil guru itu pun menarik nafas dalam.


"Ternyata gadis itu ada yang jaga Mat, dan yang jaga itu lumayan kuat" ucap pria itu.


"Terus gimana guru?" tanya Rahmat putus asa.


"Kamu jangan putus asa dulu Mat, gak selamanya dia bisa jagain terus pasti ada saatnya yang jagain Rania itu lengah" ucap sang guru lagi.


"Terus gimana saya tau kalau orang itu lagi lengah guru" tanya Rahmat lagi.


"Kamu tetep saja baca yang saya suruh,saat dia lengah saat itu juga matra itu bekerja" ucap orang yang di panggil guru itu menjelaskan.


Mereka pun langsung pulang, Rahmat pun kembali mengikuti apa yang dianjurkan oleh gurunya itu.


Fahri yang hari itu tidak masuk sekolah karena diare mencoba menghubungi Rania beberapa kali namun tidak di angkat.


Entah kenapa Rania tiba-tiba saja merasa malas jika Fahri menghubungi, ia sengaja mengabaikan ponselnya yang terus berdering dengan layar tertulis nama Fahri.


"loe kenapa Ran, kok gw perhatiin beberapa hari ini loe kaya jaga jarak sama Fahri, loe lagi berantem ya" tanya Ardina saat mereka sedang Jajan di pinggir jalan.


"Gw juga gak tau Ar, kayanya gw sebel banget sama dia,gw juga gak tau apa sebabnya"


"Apa dia udah nyingung perasaan loe?" tanya Ardina lagi.


"Gak"


"Aneh juga sih, seinget gw loe tuh baik-baik aja sama Fahri, tapi kok lama-lama yang gw perhatiin loe rada jaga jarak sama dia" ucap Ardina lagi


"Gw juga heran Ar, beberapa hari ini kenapa gw bawaannya mau ketemu sama Rahmat ya, padahal kalau udah ketemu ya udah biasa aja" ucap Rania lagi.


"Dih kok bisa begitu, setahu gw loe itu sebel banget sama Rahmat"


"Gw juga gak ngerti" jawaban Rania.


Mereka berjalan sambil makan jajanan yang mereka beli.


Kebetulan mereka pun hampir tiba di rumah.


"Ran..kok punya gw udah abis sih, punya loe masih banyak?" tanya Ardina saat melihat baso tusuk yang ia pegang sudah habis sedangkan punya Rania masih banyak.


"Nih ambil aja punya gw kalo masih mau" Rania menyodorkan plastik bastus miliknya.


Rania tau jika itu ulah hantu kecil yang selalu mengikutinya.


Memang terkadang ia begitu usil, dan tidak jarang juga hantu itu membantu dan melindungi Rania.


Begitu mereka tiba di rumah jajanan mereka pun habis.


"Loh kok gak bawa apa-apa, katanya jajan?" tanya Nayla saat melihat kedua anak gadisnya datang tidak membawa apapun.


"Udah habis mah, tadi kita makan sambil jalan" jawab Rania.


Mereka pun segera masuk, namun tanpa mereka sadari dari jauh Rahmat mengikuti mereka, entah apa maksudnya.


Radit yang sedang sibuk menyiapkan barang bawaan untuk mendaki begitu terkejut saat mendapat suara sesuatu yang meledak diatas rumahnya.


Ia pun bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.


Namun saat ia keluar ia tidak melihat apapun.


Setelah menunggu beberapa menit dan ternyata memang tidak ada apa-apa akhirnya ia pun kembali masuk kedalam rumah.


"Dari mana kamu Dit?" tanya Adit yang merasa seperti memanggil diri sendiri.


Adit pun menceritakan apa yang ia dengar barusan kepada Papanya.


"Kamu tenang aja, kan rumah ini udah di pagar sama aa jadi kalau itu yang jahat dia tidak akan bisa masuk kesini" ucap Adit agar putranya itu tenang.


Raditpun masuk kembali kedalam kamarnya dan meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Sementara itu di dalam kamar Rania nampak sedang memperhatikan foto Rahmat yang sedang bersama Ardina.


"Gw gak tau kenapa gw pengen terus liat loe, gw yakin pasti ada sesuatu tapi apa itu gw gak tau" ucap Rania sambil terus menatap wajah Rahmat di ponselnya.


Karena merasa begitu ingin bertemu dengan Rahmat, Rania pun langsung menyambar jaketnya dan juga kunci motornya.


"Kamu mau kemana Ran, ini udah malem loh?" tanya Nayla saat berpapasan dengan Rania yang sudah rapi seperti ingin pergi.


"Ran keluar dulu ya Mah, sebentar aja"


"Iya tapi kamu mau kemana dulu Ran?" tanya Nayla sedikit heran.


"Ada apa sih, udah malem jangan ribut" ucap Adit saat melihat Rania yang merengek minta di ijinkan keluar.


Karena tingkat Rania yang semakin aneh Adit pun langsung meminta aa Iwan untuk melihat kondisi Rania.


Aa Iwan yang tau jika saat ini Rania sedang tidak baik-baik saja langsung datang saat Adit menceritakan kondisi Rania.


"Hai Ran, gimana kakinya udah sembuh?" tanya Aa Iwan berbasa-basi.


Rania yang sedang dalam pengaruh hal mistis pun nampak tidak suka saat melihat Aa Iwan.


"Ngapain kesini?" tanya Rania sinis

__ADS_1


"Mau keluarin kamu lah, ngapain juga disana" ucap Aa yang tau jika saat ini yang berbicara dengannya bukanlah Rania.


__ADS_2