TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 383


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Salon Damra sudah selesai di perbaiki sedikit demi sedikit.


Nayla yang berniat menjadikan salon Damra terkenal perlahan memanggil beberapa orang yang pernah kursus disana dan ia percaya untuk bergabung bersamanya mengurus salon peninggalan Damra.


Setiap hari setelah dari toko kue ia langsung singgah ke salon untuk melihat perkembangan salonnya.


Ia pun mempromosikan salon Damra di medsos miliknya.


Ardina yang memang sejak awal tertarik untuk bergabung disalon sedikit demi sedikit mulai belajar.


Memang untuk ukuran usia ia masih muda namun ia begitu bersemangat belajar cara menggunting rambut, cara crimbat.


Nayla sangat senang melihat Ardina yang begitu antusias setiap pulang sekolah mereka datang kesalan namun Rania tidak pernah mau belajar tentang kecantikan justru ia lebih tertarik dengan alat-alat fitness milik Papanya.


Malam itu mereka pun pulang bersama.


seperti biasa setelah makan malam mereka berkumpul diruang santai sambil membahas sesuatu jika memang sedang ada masalah atau hanya sekedar bersenda gurau.


"Mama bingung sama Rania dan Radit masa Rania yang perempuan malah suka sama alat-alat olah raga milik Papa, sedangkan Radit malah suka berjibaku dengan aneka peralatan dapur punya mama"


"Iya mah, Papa juga baru nyadar ini apa raga kalian ketukar ya, masa yang cowo suka buat kue malah yang cewe suka sama alat-alat olah raga" timpal Adit sambil memperhatikan kedua anaknya.


"Masa iya bisa ketukar Pah, emang gak boleh ya kalau Rania mau jadi cewe perkasa, punya otot gitu" ujar Rania sambil melihat Nayla sama Adit.


"Boleh aja sih Sayang, tapi apa kamu gak malu kalo punya cowo nanti malah kamu yang ngelindungin cowok kamu" ucap Adit lagi.


"Ya gak buat itu juga Pah, Rania itu mau belajar karate, angkat besi itu buat diri sendiri sama keluarga Rania lah bukan buat yang lain" jawab Rania


Hemmmmm


"Kamu Radit kenapa kamu lebih suka buat kue dibanding angkat barbel atau yang lainnya?" pertanyaan Adit kini beralih pada Radit sang putra satu-satunya.


"kalo angkat beban itu berat Pah, mwndii meracik adonan aja enak kalo laper bisa langsung dimakan" jawab Radit.


Nayla dan Adit hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban kedua anaknya.


"ayeeee yang normal berarti Ardina aja dong ya Mah, Pah" sorak Ardina sambil mengejek kedua saudaranya.


"Dih sembarangan loe kira gw gak normal apa" Rania langsung melemparkan bantal kursi yang sedang ia lempar.


Karena Ardina bersembunyi dibelakang Papa Adit akhirnya bantal itu pun mendarat tepat di wajah sang Papa yang langsung menatap ke arahnya.


"He..he maaf Papah" Rania pun memasang wajah sok imutnya agar Papa Adit tidak memarahinya.


Nayla dan Radit hanya diam melihat ketiganya saling melempar bantal hingga akhirnya mereka berhenti sendiri.

__ADS_1


"Tap dulu Pah, Rania cape" Rania mengangkat jempolnya ke atas tanda minta jeda sejenak.


Malam itu setelah salimg bersendak gurau mereka pun tertidur dengan sangat lelapnya hingga tidak terasa azan subuh telah berkumandang.


Setelah selesai sholat mereka pun segera membantu Mama Nayla untuk menyiapkan sarapan.


Setelah semuanya beres mereka segera mandi dan bersiap-siap kesekolah.


Hari itu wajah Ardina sedikit pucat, Rania yang tau jika saudaranya sedang tidak enak badan segera meminta ijin kepada guru matematika untuk mengantar Ardina ke ruangan UKS.


"Ran kepala gw pusing banget, mintain ijin buat pulang dong" pinta Ardina.


Rania pun langsung meminta ijin untuk pulang cepat.


Sambil menunggu Mama Nay jemput mereka pun menunggu di ruang kesehatan.


Hampir setengah jam akhirnya Naylapun tiba dan langsung menuju keruang kesehatan.


Ia sangat khawatir saat melihat wajah Ardina yang sangat pucat.


Dengan memesan taksi online mereka pun membawa Ardina kerumah sakit.


Adit yang mendapatkan kabar jika putrinya sakit langsung menyusul kerumah sakit.


Setelah menjalani beberapa tes Adina pun dinyatakan sakit typus dan harus dirawat.


Sebelum tiba di rumah mereka pun mampir ke tenda pecel ayam untuk makan malam.


Saat mereka sedang asik menikmati pecel Lele Rania yang mendengar salah satu pengunjung yang berkata seakan-akan menyindir dirinya dan Radit.


"Anak sekolah jam segini masih keluyuran, ngapain aja di jalanan" bisik-bisik orang yang duduk disebelah Rania.


Rania yang memang mudah tersulut emosi ingin langsung menegur orang itu namun Radit mencegahnya.


Setelah selesai makan, saat Radit membayar makanan yang sudah mereka makan Rania menghampiri kedua orang itu.


"Kalau gak tau apa-apa gak usah menilai orang ya kk, kita baru pulang jam segini karena baru pulang dari rumah sakit abis jagain adik yang lagi sakit" ucap Rania geram.


Alangkah terkejutnya Rania saat melihat orang yang telah menyindirnya.


"Oh..loe ternyata" ucap Rania sinis.


"Siapa Dek, udah ayo kita pulang" Radit langsung menarik tangan Rania agar segera keluar dari tenda pecel ayam.


"Siapa tadi Ran?" tanya Radit sat mereka sudah di motor.


"Itu Aa anak baru yang sombongnya gak ketulungan, sok ganteng, sok kaya, pokoknya nyebelin" ucap Rania dengan nada kesal.

__ADS_1


"Jangan terlalu ditanggapi orang kaya gitu Ran, nanti malah Naksir lagi" Radit sedikit menasehati adiknya yang sedikit bar-bar.


Malam itu Mereka hanya tinggal berdua di rumah yang lumayan besar.


Tengah malam Rania terbangun karena haus, namun saat ia melihat botol minumnya kosong mau tidak mau ia pun harus kedapur untuk mengambil minum.


Dengan rasa enggan namun ia haus terpaksa ke dapur.


Saat melintasi kamar Ardina ia sempat mematung sebentar, ia melihat ada sekelebat bayangan.


Kalau itu Ardina tidak mungkin soalnya ia harus dirawat beberapa hari disana.


Jika itu Mama Nay tidak mungkin juga soalnya mama Nay harus menjaga Ardina.


"Itu siapa ya?" batin Rania yang penasaran.


Ia pun ingin mengintip kedalam. kamar namun ia urungkan karena rasa hausnya sudah tidak dapat ia tahan.


Dengan bergegas ia pun langsung ke dapur dan mengambil minum.


Setelah puas membasahi kerongkonganns ia pun membawa satu botol lagi untuk nanti.


Ia pun kembali ke kamarnya namun lagi-lagi saat melintasi kamar Ardina yang pintunya sedikit terbuka ia melihat seperti ada seseorang yang masuk kesana.


Rasa penasarannya pun sudah tidak dapat ia tahan lagi, ia pun langsung membuka pintu kamar Ardina lebar untuk melihat siapa yang telah masuk kedalam kamar saudaranya.


Namun saat pintu sudah terbuka lebar Rania tidak melihat seseorang pun disana.


Untuk beberapa saat ia mematung didepan pintu kamar.


Jelas-jelas ia tadi melihat ada yang masuk namun saat dibuka kenapa tidak ada.


"Ran ngapain loe disana" tiba-tiba saja Radit sudah berada disampingnya.


"Astaghfirullah aa bikin kaget aja sih" ujar Rania.


"Kenapa kamu gak tidur?" tanya Radit


"Aku cuma kangen sama Ar" jawab Rania sambil menundukkan wajahnya sedih.


"Sudah jangan nangis, kita doain aja biar Ardina cepet sembuh ya, sekarang kamu tidur ya besok kan harus sekolah" ucap Radit sambil memeluk adiknya.


Rania pun hanya mengangguk.


"Aa Radit, Ran tidur sama aa ya" pinta Rania.


Raditpun hanya mengangguk lalu mereka pun tidur di kamar Rania.

__ADS_1


__ADS_2