TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 299


__ADS_3

Selamat Membaca


Begitu tiba di Villa Nayla langsung masuk kedalam kamar dan segera membersihkan dirinya lalu berganti pakaian dengan yang baru ia beli tadi.


Karena lelah ia pun duduk di atas kasur sambil memijat-mijat kakinya yang terasa nyeri karena berjalan jauh.


Sementara itu Adit masih sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dibicarakan Nayla tak tahu dan ia pun tak mau ambil pusing.


Nayla terus saja mengelus-elus betisnya, Adit yang baru saja mengakhiri telponnya langsung menghampiri Nayla dan ia sedikit tertegun saat melihat kaki Nayla yang terlihat sangat bersih dan mulus pas dengan pakaian tidur yang ia kenakan daster warna pink tanpa lengan dengan panjang selutut.


"Sini aku pijitin sayang" Adit langsung duduk didekat kaki Nayla.


Tanpa Adit duga Nayla langsung menarik kakinya dan memasukannya kedalam selimut.


"Gak usah, udah gak pegel, lagi juga aku dah ngantuk mau tidur". Nayla langsung merebahkan badannya dan membelakangi Adit.


"Nay..kita ngobrol dulu yuk, dah lama kita ngobrol lama yang" Adit sedikit mengguncang bahu Nayla.


Nayla yang memang belum tidur hanya diam saja tak menjawab.


"Nay aku tau kamu belum tidur, aku cium ya kalo gak bangun" ancam Adit.


Sekali ... Nayla masih tak menggubris ancaman Adit.


Dua kali, Nayla pun masih pura-pura tak mendengar.


Aditpun langsung menarik selimut yang Nayla pakai dan membuangnya kelantai.


"Adit...ihh" sentak Nayla yang kesal karena bajunya sedikit tersingkap dan memperlihatkan pahanya yang mulus.


"Lagi suruh siapa aku dicuekin" Adit langsung duduk disamping Nayla.


Nayla pun langsung memasang ancang-ancang dan menjauh dari Adit.


"Kamu takut sama aku Nay?" tanya Adit yang melihat Nayla menjauh dari nya.


Nayla pun mengangguk bertanda " iya".


"Kenapa kaya gini sih Nay, buat apa kamu takut sama aku, aku suami kamu Nay" ucap Adit sedikit kesal.


"Kan cuma status aja, tapi dihati kamu udah gak ada tempat buat aku kan" jawab Nayla yang langsung terasa sakit dihati Adit.


"Kenapa diem, benerkan apa yang aku bilang" tanya Nayla yang ikut menjadi kesal.


"Gak gitu Nay, aku masih sayang banget ama kamu, mana mungkin aku bisa lupa sama kamu sayang" Adit mencoba mendekati Nayla


"Gak usah basa-basi Dit, pernikahan kita itu udah mau selesai" ucap Nayla yang langsung menunduk sedih.


"Kamu tau dulu itu aku gak mau nikah sama kamu, tapi kamu selalu maksa aku"


"Sampai segala macam cara kamu lakukan, tapi sekarang ap cuma karena orang dari masa lalu kamu, kamu tega sama aku Dit" ucap Nayla yang tak lagi bisa membendung air matanya.


"Nay..bukan begitu.." Adit mencoba menggapai Nayla yang malah semakin menjauh.


"Jangan deket-deket Dit, perpisahan kita cuma tinggal menghitung hari, cukup aku aja yang kamu sakitin, jangan ada yang lain" ucap Nayla


"Nay, kamu itu masih istri aku jadi aku masih berhak meminta hak aku sebagai suami kamu, lagi juga sampai kapan pun aku gak mau cerai dari kamu" Adit yang sudah habis kesabaran langsung menarik tangan Nayla.


"Aditt lepasinn..."


Nayla terus meronta namun apa daya tenaga yang ia miliki tak sekuat tenaga Adit.


Setelah puas memaksa Nayla Aditpun tertidur dengan sangat pulas.


Sementara Nayla menangis sesenggukan seakan tak rela dirinya disentuh Adit.


Nayla menatap Adit penuh rasa kesal, ditatapnya Adit yang tertidur pulas dengan penuh rasa benci.


Ingin rasanya ia membunuh Adit namun apa daya ia tak mempunyai keberanian.


Akhirnya Naylapun segera ke kamar Mandi membersihkan diri.


Setelah mandi Nayla menuju ruang tamu, ia duduk sendirian disana dengan lampu yang redup.

__ADS_1


Saat Nayla hampir tertidur ia melihat Adit keluar dari kamar.


Namun yang membuat Nayla heran Adit menuju pintu depan dan keluar.


Nayla yang penasaran akhirnya mengikuti Adit dari belakang.


Nayla terus mengikuti Adit menembus gelapnya malam diperkebunan teh, tanpa sadar Nayla semakin jauh dari villa yang ia tempati.


Aaaww


Buugghh


teriak Nayla yang yang jatuh karena tersandung batu.


Saat Nayla terjatuh Nayla pun tersadar jika saat ini ia jauh dari Villa dan sosok Adit yang ia ikuti tak lagi terlihat.


Nayla pun bangkit dan melihat sekitarnya hanya ada setitik cahaya di kejauhan.


"Apa itu cahaya lampu dari villa yang disewa Adit ya" pikir Nayla.


Nayla pun berjalan dengan fokus pada titik sinar yang sangat kecil.


Dalam gelapnya malam dan hanya ada sinar bulan saja Nayla terus berjalan hingga saat ia melewati sebuah pohon kecil seperti ada sesuatu mengenai pundaknya.


Ia merasa seperti ada yang menimpuknya.


Nayla berhenti sejenak matanya seperti mencari sesuatu.


Setelah yakin tidak ada apa-apa ia pun melanjutkan perjalanannya.


Lagi-lagi sebuah ranting kecil jatuh mengenai bahunya padahal disekitar sana tak ada pohon yang tinggi , hanya ada pohon teh yang sebatas pinggang Nayla.


Huaaaaa


Tooollooongggg


Akhir Nayla pun ketakutan, ia berlari sekencang mungkin tak ada arah tujuan.


Karena sangat gelap dan Nayla yang berlari sangat kencang dan tak pakai alas kaki akhirnya Naylapun tersandung batu.


Akhirnya Naylapun tak sadarkan diri.


Didalam Villa Adit nampak kebingungan mencari keberadaan Nayla.


Ia pun mengelilingi Vilaa dan memeriksa setiap ruangan namun hasilnya nihil.


Aditpun segera menghubungi yang jaga Vila untuk meminta bantuan mencari Nayla.


"Sayang sebegitu benci kah kamu sekarang sampai kamu nekad kabur Nay" ucap Adit sambil menatap kearah perkebunan teh yang sangat gelap.


Beberapa orang ikut membantu Adit mencari Nayla.


Setelah hampir satu jam Adit dan beberapa orang mencari Nayla belum juga ditemukan.


Sementara hari sudah hampir pagi.


Aditpun meminta bantuan teman-teman ghaib nya untuk menunjukan keberadaan Nayla.


Adit dan beberapa orang yang ikut membantu mencari Nayla nampak terkejut saat melihat Nayla yang sudah terkapar pingsan.


"Sayang...kamu kenapa?" Aditpun langsung memeluk tubuh Nayla yang sudah dingin.


Aditpun tambah terkejut saat melihat luka didahi Nayla dan darah yang sudah mengering.


"Ayo pak cepet bantu saya senterin jalannya" pinta Adit pada orang yang berada disampingnya.


Dengan sedikit tergesa-gesa Adit menggendong Nayla, ia tak mau Nayla bertambah kedinginan.


Begitu tiba di Villa Adit langsung meminta tolong pada seorang warga untuk mengantarkannya kerumah sakit terdekat.


Setelah mendapatkan pertolongan Aditpun membawa Nayla kembali ke villa.


Begitu tiba Adit langsung menaruh Nayla diatas kasur dan menyelimuti nya.

__ADS_1


Aditpun meminta pada penjaga Villa untuk membelikan sarapan untuk mereka.


Nayla pun perlahan membuka mata, sepertinya ia tak asing dengan tempat yang sekarang ia tempati.


Kepalanya terasa sangat berat, ia pun bersandar pada headbed sambil meraba dahinya.


Aawwww


Ringisnya saat merasakan nyeri di dahinya.


Adit yang berpikir jika semalam Nayla pergi itu karena tak mau bersamanya, duduk di bangku sambil mengurut dahinya yang terasa pening.


"Kamu benar-benar gak mau sama aku Nay sampe nekad kabur tengah malam"


"Kenapa Nay"


"Aaaahhhhh Siall" maki Adit sambil melempar asbak diatas meja hingga pecah.


Nayla yang mendengar suara gaduh dari ruang depan ingin rasanya melihat ada apa, namun saat ia ingin berdiri kepalanya terasa berat, akhirnya ia pun kembali duduk diatas kasur.


Aditpun masuk kedalam kamar dan melihat Nayla yang sedang duduk.


"Gimana kepala kamu sayang, masih sakit ya" tanya Adit lembut.


"Iya"


"Kenapa semalem kamu kabur sih Nay, apa kamu bener udah gak tahan disamping aku lagi sampe kamu nekad kabur malem-malem" ucap Adit meluap kan kekesalannya yang sejak tadi ia pe dam.


"Bukan itu Dit"


"Aku tuh gak kabur" Ucap Nayla


"Trus gimana bisa kamu ada ditengah-tengah kebun gitu Nay" tanya Adit dengan suara sedikit meninggi.


"Aku tuh tadi ngikutin kamu Dit, aku liat kamu keluar terus aku ikutin" ucap Nayla berusaha menjelaskan.


" Gak usah pake alasan aku Nay, aku aja dari tadi itu tidur dan pas aku bangun kamu tuh udah gak ada" jawab Adit tak mau salah.


"Terserah kamu lah percaya apa gak ama aku" Nayla yang kesal akhirnya memilih Diam.


Pagi itu Pak Maman penjaga Villa mengantarkan sarapan ke villa tempat mereka menginap.


"Den ini sarapannya saya beli'in bubur ayam sama gorengan sama lontong juga" Pak Maman manata makanan di piring dan mangkuk.


"Iya pak Taru diatas meja aja" jawab Adit yang memang sedang duduk di bangku ruang tengah bersama Nayla.


"Den kirain si teteh yang sering kemari, ternyata bukan ya" ucap Pak Maman keceplosan.


Nayla mengerutkan keningnya bingung.


Adit hanya diam, ia malah mengambil satu mangkok bubur lalu menyuapi Nayla


Nayla yang tak ingin ribut didepan orang lain hanya dian, ia pun tau wanita itu pasti Dina.


Sakit rasanya hati Nayla, ternyata Adit sudah kemana-mana bersama Dina, dan bisa jadi orang-orang tau nya Dina adalah istri Adit bukan dirinya.


Setelah menyuapi Nayla Aditpun langsung ikut makan.


Saat Adit sedang asik makan ponselnya berdering.


Tanpa menunda ia pun langsung sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon yang Nayla yakin dari Dina.


Naylapun menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri, ia sadar saat ini hubungan mereka memang sudah tidak bisa lagi diperbaiki.


Sekarang Nayla hanya bisa pasrah dan perpisahan adalah satu-satunya jalan terbaik.


**Hallo semua aku up lagi.


Maaf ya kalau banyak typo


Jangan lupa tinggalkan jejak ya buat Author dengan cara \= Like, Rate, Vote dan komen.


Salam Manis

__ADS_1


Amel/Author**


__ADS_2