
SELAMAT MEMBACA
Semakin hari Rahmat semakin menyebalkan di mata Rania.
Rania bingung haruskan ia berkata jujur pada Ardina tentang Rahmat yang selalu mengancamnya.
Saat ini Rania duduk sendirian disebuah taman, ia mencoba menenangkan hati dan juga pikirannya, ia bingung harus cerita kepada siapa.
"Ah bodolah gw harus bilang sama Ar tentang semuanya, gw juga ada buktinya ini" pikir Rania sambil menatap beberapa orang yang hilir mudik didepannya.
Ia pun berniat untuk pulang,saat ia hendak berdiri tiba-tiba saja Rahmat sudah berdiri didepannya.
",Duduk" titahnya dingin
"Gw mau pulang, udah sore juga" tolak Rania.
Rahmat menatapnya tajam ada kilatan cahaya merah dibola matanya dan berhasil membuat Rania merasa takut.
Ia pun menuruti perkataan Rahmat
"Ni gw udah duduk, loe mau ngapain?" tanya Rania bingung.
"Gw lagi mau berdua aja sama loe"ucap Rahmat lalu duduk disisi Rania.
Pria misterius itu pun mengambil tangan Rania.
"Gak megang-megang bisa kan?" ucap Rania kesal.
"Ran, semakin loe nolak gw semakin penasaran" bisik Rahmat.
Rania pun memalingkan wajahnya kesal.
"Udah sore gw mau pulang" Rania pun berdiri dan hendak pergi namun Rahmat menarik tangannya.
"Apa?"tanya Rania kesal.
Pria itu tidak menjawab, ia menatap Rania tajam.
"Ran...Rania" panggil seseorang
Rania pun menoleh dan ternyata Fahri sedang berlari menghampirinya.
Rania pun tersenyum senang, dengan kedatangan Fajri berati ia punya alasan untuk bebas dari Rahmat.
Namun lagi-lagi saat ia melihat kearah Rahmat tadi duduk pria aneh itu sudah tidak ada.
Hanya tanda merah dipergelangan tangan Rania yang tersisa karena tadi Rahmat memegangnya cukup keras.
"Lagi apa sendirian disini?" tanya Fajri dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Lagi mau sendiri aja, kok loe tau sih gw disini"
"Iya, tadi kebetulan aja gw lewat terus liat loe, ya udah gw berenti aja" tutur Fahri.
"Tadi ada Rahmat juga loh disini" ucap Rania
"Kapan?" Fahri tampak bingung
"Barusan masa iya gak liat sih" ucap Rania sedikit bingung
"Gak ada Ran, dari tadi itu gw liat loe sendiri" ucap Fahri menegaskan.
Rania pun sedikit bingung jelas-jelas tadi Rahmat ada disebelahnya tapi kenapa Fahri tidak melihatnya, apa benar yang ada dalam pikirannya jika Rahmat itu arwah penasaran, kira-kira begitu lah yang ada dalam pikirannya Rania saat ini.
Fahri yang melihat Rania seperti sedang banyak pikiran mencoba bertanya ada masalah apa hingga ia terlihat seperti sedang bingung.
Rania pun menatap Fahri
"Apa gw harus cerita sama Fahri ya, terus minta pendapatnya" batin Rania.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya ia pun menceritakan semuanya pada Fahri.
Fahri yang awalnya tidak percaya dengan cerita Rania membuat Rania sedikit kesal, ia pun memperlihatkan pergelangan tangannya yang sedikit membiru akibat tad di pegang Rahmat.
Fahri diam sesaat masalahnya ia tadi jelas-jelas tidak melihat keberadaan Rahmat disamping Rania.
"Udahlah ayang mungkin kamu terlalu cape jadi berhalusinasi,kita jajan aja yuk" Rania sudah menduga pasti Fahri akan tidak percaya dengan apa yang ia bicarakan.
Karena kesal ia pun diam saja, ia juga yakin Ardina atau yang lainnya akan berkata sama dengan Fahri jika ia cerita.
Begitu tiba dirumah Rania langsung masuk kedalam kamarnya, sementara Fahri langsung pamit pulang.
Ting
Sebuah pesan masuk di ponselnya
Rania pun langsung membuka ponselnya dan ada sebuah pesan dari Rahmat
Antara enggan dan penasaran Rania pun membuka pesan itu
"Ha...ha bagaimana sayang, apa mereka percaya dengan yang kamu bicarakan?" Pesan itu seakan tau jika tadi ia habis bercerita tentang dirinya kepada Fahri.
Rania pun mengabaikan pesan itu, ia pun langsung membersihkan diri lalu istirahat.
Sementara itu Ardina yang tadi sempat melihat Rania sendiri merasa heran karena ia melihat Rania sedang berbicara dengan seseorang.
"Tadi itu si Ran lagi ngomong sama hantu apa ya, kok dia kaya lagi marah-marah gitu sih" pikir Ardina
Malam itu Rania bermimpi buruk, entah karena ia sedang kesal atau memang Rahmat bisa masuk kedalam mimpinya yang jelas dalam mimpi itu ia seperti sedang berada di suatu ruangan namun ruangan itu tidak berpintu dan juga tidak ada jendela.
Ia hanya mendengar suara seseorang yang tertawa sambil berkata bahwa ia adalah miliknya.
"Sial banget sih gw, sampe tidur aja mimpinya dia, bisa gila gw kalo lama-lama begini" ucap Rania kesal.
Karena tidak dapat tidur pulas paginya pun Rania terlihat sedikit pucat dan lesu.
"Kamu kenapa sayang, pasti kamu gak tidur gara-gara main game sampe pagi ya" tebak Nayla sambil melihat wajah sang putri.
Ardina pun ikut memperhatikan wajah saudaranya itu dan tanpa sengaja ia melihat pergelangan tangan Rania yang membiru.
"Astaghfirullah Ran, tangan loe kenapa kok bisa sampe memar begitu sih" ucap Ardina yang langsung memperlihatkan pergelangan tangan Rania pada mamanya.
__ADS_1
"Ya Alla Ran, itu kenapa kok bisa sampe kaya begitu" Nayla pun ikut melihat pengelangan tangan Rania yang memar.
"Ini tuh ulahnya si Rahmat"
Upsss
Rania langsung menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan berbicara.
Berbeda dengan Radit yang seperti tahu sesuatu.
Ia menatap Rania seakan minta penjelasan.
"Kok si Rahmat sih dibawa-bawa" ucap Ardina seakan tidak terima.
"Dih bukan Rahmatnya loe Ar, tapi Rahmatnya temen gw di kampus " ucap Rania berkelit.
Ia tau Ardina pasti tidak akan terima jika kekasihnya dibawa-bawa.
"Udah siang mah,Ran berangkat dulu ya" Rania pun langsung berdiri hendak keluar.
"Bereng gw aja Ran, kebetulan gw lewat kampus loe" Radit langsung menarik tangan Rania agar mengikutinya.
Di dalam perjalanan Radit seperti sedang menunggu sesuatu.
"Kalau loe mau cerita sekarang aja Ran, gw tau ada sesuatu yang loe sembunyiin" ucap Radit dengan mata masih fokus kejalan didepannya.
"Kok Aa tau sih kalau Ran lagi mau ngomong sesuatu, tapi Ran takut kalau aa sama kaya Fahri gak percaya ama apa yang Ran ceritain" ucap Rania yang belum bercerita namun sudah takut jika Abangnya itu tidak percaya.
"Bekum juga loe ngomong udah bilang begitu aja sih Ran" ucap Radit sambil mengelus kepala Rania.
"Cerita aja aa pasti dengerin kok, aa juga liat seperti ada yang tidak beres" ucap Radit.
Baru saja Rania hendak bercerita ia baru menyadari jika ia sudah sampai di kampus.
"Gimana mau cerita aa, udah nyampe" ucap Rania sambil cemberut.
"Ya udah nanti sore aa tunggu dirumah aja ya" ucap Radit sambil tersenyum.
Rania pun segera turun dari mobil Radit,namun baru saja beberapa langkah dari kejauhan ia melihat sosok Rahmat sedang memperhatikannya dengan seringai jahat.
Rania pun segera mencari tempat yang ramai karena ia yakin jika ditempat yang ramai Rahmat jadia-jadian itu tidak akan berani.
Seingatnya Rahmat itu muncul saat ia sedang sendirian dan akan menghilang begitu saja saat ada orang disekitar Rania.
"Gw gak boleh sendirian biar tuh hantu gak ganggu gw" batin Rania pura-pura tidak melihat sosok Rahmat yang berdiri mengamatinya dari jauh.
Ia yang biasa langsung ke kantin kini ia harus duduk ditempat yang sedikit ramai dilalui orang.
Hari itu Rania berhasil bebas dari kejaran Rahmat, saat pulang pun ia minta dijemput oleh Fahri dan sebelum Fahri datang ia ikut bergabung bersama dengan teman-temannya.
Begitu tiba di rumah kebatulan mama Nay sudah tiba dirumah.
"Lah mama tumben banget sih ada dirumah" ucap Rania sambil senyum bahagia.
" Mama lagi pengen istirahat sayang, oh iya itu mama bawain risol mayo kesukaan kamu" ucap Nayla sambil memperhatikan putrinya.
"Kayanya kamu lagi bahagia ya"
"Hantu apa Ran?"
"Nanti lah Ran cerita ke mama, tapi Ran yakin sih pasti mama tanggapannya akan sama seperti Fahri kalau Ran ngomong" ucap Rania.
"Belum juga kamu ngomong Ran udah bilang kaya begitu aja"
Rania hanya tersenyum lalu ia pun memakan satu buah risol kesukaannya.
"Assalamualaikum mah" ucap Radit yang ikut -ikutan pulang cepat
"Ran kamu katanya nya mau cerita, nanti setelah aa sholat aa tunggu ya" ucap Radit sambil masuk kedalam kamarnya.
Nayla yang heran melihat keduanya langsung bertanya.
"Kamu mau cerita apa sih Ran, mama boleh ikutan dengerin gak" tanya Nayla yang jadi ikut penasaran.
"Boleh lah, biar sekalian aja Ran cerita, nanti urusan percaya apa gaknya itu terserah mama sama aa, Ran sih udah kuatin hati kalau dengar mama sama aa nantinya ikutan gak percaya" ucap Rania.
Setelah Radit selesai sholat ia pun meminta Rania dan mamanya untuk berbicara didalam kamarnya.
Rania nampak bingung harus dari mana ia memulai ceritanya.
"Lah katanya mau ngomong tapi kok malah diem sih" tegur Radit saat Rania tidak kunjung berbicara.
"Rann tuh bingung mau mulai dari mana ceritanya"
"Ya udah dari awal aja" jawab Radit.
Rania pun menarik nafas dalam-dalam
"Mamah sama aa percaya gak kalau Ran bilang Rahmat itu sekarang aneh" ucap Rania sambil menelan ludahnya kasar.
"Aneh gimana sih?" tanya Nayla bingung.
"Dia itu selalu ada saat Ran sendirian mah, dia juga sering ngamcem Ran kalau Ran gak mau jadi pacar gelapnya dia bakal bikin Ar sengsara" ucap Rania mulai menjelaskan.
Nayla masih belum mengerti dengan apa yang Rania jelaskan begitu juga dengan Radit.
"Terus..." ucap mereka berdua hampir bersamaan.
"Mama inget tangan Ran yang biru, itu ulah Rahmat dia pengang tangan Ran kasar saat Ran bilang sampai kapan juga Ran gak mau sama dia" tutur Rania dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ia pun menceritakan soal kejadian di kamar mandi dan beberapa tempat lainnya.
"Yang Ran heran itu saat Ran lagi ngomong sama dia gak ada satu orang pun yang lihat kalau itu Rahmat, malah mereka ngiranya Rab itu lagi ngomong sendiri, kan ngeselin banget" tutur Rania panjang lebar .
Kini Radit mulai mengerti karena ia pernah melihat Rania seperti itu.
Ia pun sempat berpikir jika Rania sedang berbicara dengan sosok tak kasat mata.
Nayla masih tidak begitu percaya dengan apa yang Rania ucapkan nampak seperti sedang berpikir sesuatu.
"tuh kan, mama pasti gak percaya kan sama yang Ran omongin"ucap Rania dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Maaf sayang bukan nama gak percaya, cuma gimana ya masa iya si Rahmat itu hantu sih, tapi kok kalo dia hantu dia bisa jalan-jalan sama Adina"tutur Nayla
"Itu juga yang Ran gak ngerti mah, kenapa kalau sama Ran dia itu gak ada yang bisa lihat, cuma Ran aja yang liat"
Mereka bertiga pun nampak sedang berpikir tentang apa yang Rania ucapkan.
Ia juga bilang hari ini ia bebas dari gangguan Rahmat karena ia selalu berada di tempat yang sedikit ramai.
Beberapa hari berlalu sejak Rania menceritakan masalahnya kepada Radit dan juga mamanya hatinya sedikit lega.
Ia pun tidak pernah bertemu dengan Rahmat karena ia berusaha berada ditempat yang ramai dan jika Rahmat datang ia pun tidak pernah ngintip lagi dari jendela.
Hanya beberapa pesan saja yang Rania terima dari Rahmat dan ia langsung memperlihatkannya kepada Radit.
Karena mamanya masih belum begitu yakin Rania pun lebih mempercayai Radit untuk bercerita.
Radit sebenarnya begitu kesal kepada Rahmat namun ia harus bersabar sampai ia mendapatkan bukti jika memang benar Rahmat selalu mengerjai Rania barulah samua akan ia ungkapkan.
Sore itu saat semua sedang ngobrol santai di teras depan tiba-tiba saja Ardina pulang sambil menangis.
Mereka pun heran, dan langsung mengikuti Ardina kedalam kamarnya.
Nayla yang khawatir terjadi sesuatu dengan Ardina langsung bertanya ada masalah apa.
Dengan tersedu-sedu Ardina pun menceritakan semuanya.
Radit nampak begitu kesal karena lagi-lagi adiknya menangis karena ulahnya.
Rania tidak banyak berbicara ia hanya mendengarkan apa yang Ardina ucapkan.
"Jadi ini maksudnya Rahmat mau nyakitin Ardina" batin Rania.
"Memangnya kamu yakin kalau itu Rahmat?"tanya Mama Nay masih belum percaya.
"Ar yakin mah itu dia, padahal ia bilang gak bisa jemput karena lagi ada keperluan tapi ternyata Ar gak sengaja liat dia lagi jalan sama cewe lain, pake megang pinggang lagi" tutur Ardina sambil menghapus air matanya.
"Sabar sayang, kalau kamu punya bukti kita bisa tanya baik-baik"
"Udah sih tinggalij aja cowo kaya gitu" ucap Radit yang tiba-tiba saja ikut berbicara.
"Dih aa kok ngomong begitu sih, Ar itu sayang banget ama dia, Ar gak mau dia ninggalin Ar lagi" ucap Ardina lagi.
"Ar loe cinta boleh tapi jangan jadi oon juga sih" ucap Radit sedikit kesal.
"Kalo emang dia punya yang lain ngapain loe masih ngarep dia"
"Tapi aa.." belum sempat Ardina melanjutkan kata-katanya Radit sudah memotong ucapan Ardina.
"Tenangin dulu diri loe biar bisa mikir, mandi terus sholat minta petunjuk sama Allah" ucap Radit lagi sambil meninggalkan kamar Ardina.
Rania pun ikut keluar dari dalam kamar Ardina, lalu masuk kedalam kamarnya.
Hanya dirumahnya sendiri ia bisa merasa nyaman saat sendirian.
Ting ..
Sebuah pesan masuk, Rania pun langsung membuka ponselnya dan melihat ada sebuah pesan dari Rahmat
"Peringatan pertama buat loe Sayang"
"Sayang-sayang enak aja loe manggil gw sayang" ucap Rania kesal sambil meletakkan ponselnya kembali diatas meja.
Ke esokan harinya Ardina yang penasaran dengan Rahmat kembali mengikuti pria itu
Pagi-pagi sekali ia sudah berada didepan kediaman Rahmat, ia pun langsung mengikuti Rahmat begitu mobil pria itu keluar rumah.
Ardina pun terus mengikuti mobil itu hingga berhenti di sebuah tempat yang sangat Adina kenal.
"Bukannya ini kampus Rania ya" batin Ardina sambil terus memperhatikan mobil Rahmat, namun pria itu tidak juga keluar dari dalam mobilnya..
Tidak lama kemudian Ardina pun melihat Rania yang baru saja tiba dengan diantar oleh Radit.
Rania yang tidak terlalu waspada dengan santainya melewati mobil Rahmat dan kami menuju kearah beberapa temen-temen yang sedang berkumpul.
Ia tidak menyadari jika saat ini Rahmat sedang mengintainya.
Rania pun bergegas menuju parkiran saat ia mendapat sebuah pesan dari Ardina.
Rania tidak tahu jika yang mengiriminya pesan adalah Rahmat yang memanfaatkan ponsel Ardina yang tertinggal di mobilnya beberapa hari yang lalu.
Saat Rania melewati mobil Rahmat tiba-tiba saja pintu mobil terbuka dan seseorang menarik dirinya sambil membekap mulut Rania.
Ardina yang kebetulan masih disana dan melihat hal itu langsung berlari hendak menolong Rania.
Rania yang terus berontak dan hendak keluar dari dalam mobil Rahmat nampak kesusahan karena tenaganya tidak sekuat tenaga Rahmat.
"Lepasin gw, dasar loe ..emmmm" teriak Rania sambil berusaha menendang apa saja yang ada didekatnya hingga Rahmat pun langsung mengikat kakinya.
Beruntung Rahmat tidak mengunci pintu mobilnya hingga dengan mudah Ardina membukanya dan melihat Rania yang yang terus berontak saat Rahmat hendak mengikat tangannya juga.
"Rahmat apa yang loe lakuin?" teriak Ardina.
Rahmat yang terkejut melihat Ardina sedikit lengah dan kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Rania, ia pun langsung menendang Rahmat sekenanya lalu berusaha keluar dari dalam mobil Rahmat.
Setelah berhasil keluar mereka pun berteriak minta tolong.
Rahmat yang tau ini tidak aman untuknya langsung tancap gas meninggalkan kampus tempat Rania belajar.
"Untung ada loe Ar, terima kasih ya" ucap Rania sambil memeluk saudaranya itu..
"Astaghfirullah Ran, dia tadi mukul loe?muka loe sedikit memar kaya begini" Ardina begitu terlihat kesal saat melihat wajah Rania yang memerah dan sedikit bengkak seperti habis ditampar dan sedikit luka disudut bibir Rania yang mengeluarkan darah.
"Ayo cepet Ar kita pulang aja" pinta Rania saat melihat beberapa orang memerhatikan mereka.
Ardinapun menuruti kemauan Rania, mereka langsung pulang.
Begitu tiba dirumah Adina pun langsung menelpon Radit dan memintanya untuk segera pulang.
Begitu Radit tiba ia pun langsung masuk kedalam kamar Rania dan begitu marah saat melihat wajah Rania yang luka dan membengkak.
Ardinapun tadi langsung menghubungi mamanya dan juga Papanya untuk memberitahu kondisi Rania.
__ADS_1
Nayla begitu marah saat mendengar cerita Ardina, ia begitu menyesal karena tidak mempercayai apa yang Rania ceritakan beberapa waktu lalu.