TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 341


__ADS_3

Selamat Membaca


Sepanjang perjalanan Nayla terus saja melamun sambil menatap kosong kearah jalanan yang ia lalui.


Adit yang merasa iba pada Nayla berusaha secepat mungkin untuk sampai ditempat tujuan.


Ia terus melaju, mereka berhenti hanya pada saat waktu makan dan sholat selebihnya, rasa lelah sudah tak ia rasakan, yang ada dalam pikirannya saat ini segera sampai agar Nayla bisa sedikit tenang.


Saat melintasi hutan Adit terus berusaha konsentrasi walaupun ada beberapa mahluk tak kasat mata yang mengganggunya.


Nayla yang tadinya tak terlalu memperhatikan Adit langsung Membaca doa saat melihat ada mahluk halus yang berada tepat dibelakang Adit dan sedang meniupnya agar Adit mengantuk.


"Adit kamu ngantuk y" Naylapun mengajak Adit berbicara agar Adit tidak merasa ngantuk.


Adit yang tahu maksud Nayla hanya tersenyum.


"Kamu tenang aja Nay, kita pasti sampai dengan selamat"tutur Adit santai.


"Tapi...itu.." Nayla tak dapat melanjutkan kata-katanya saat makhluk itu menatapnya dengan mata yang merah menyala.


"Aku tau Nay,kamu gak usah takut" ucapa Adit


"Tapi dia serem banget Dit" ucap Nayla yang mulai ketakutan.


"Kamu baca doa aja Nay, Insyaallah dia gak bisa ganggu kamu" tutur Adit


Naylapun langsung memejamkan matanya sambil membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an yang ia hafal.


Naylapun melihat kearah Damra yang sedang tertidur dengan sangat lahapnya.


Karena lelah Naylapun ikut tertidur sementara itu Adit masih konsentrasi menatap jalan gelap yang hanya diterangi cahaya lampu mobilnya.


Hujan turun dengan derasnya, hingga mau tak mau Aditpun memelankan laju kendaraannya apa lagi jalanan yang kini yang dilaluinya banyak kelokan dan juga tanjakan terjal.


Saat tiba di SPBU Adit pun berhenti sejenak, setelah mengisi penuh bahan bakar mobilnya ia pun merebahkan sebentar tubuhnya yang terasa pegal.


Dari dalam mobil Nayla melihat kearah Adit yang sedang berbaring di samping mushola tanpa alas apapun.


Setelah dirasa ia cukup beristirahat Aditpun kembali mamacu mobilnya.


"Harusnya aku lebih sabar ya Dit nunggu pagi, mungkin kalau aku dengerin ucapan kamu untuk naik pesawat pertama kemarin pasti kita udah sampe" ucap Nayla penuh dengan rasa penyesalan.


"Gak apa-apa Nay, sebentar lagi juga kita sampe kok" ucap Adit sambil tersenyum.


Setelah melalui perjalanan darat selama 2 hari akhirnya mereka pun tiba dirumah sakit yang dituju.


Naylapun langsung bertanya pada salah seorang suster yang kebetulan lewat di mana letak ruangan ICU.

__ADS_1


Jantung Nayla seakan berhenti berdetak saat ia tiba didepan ruangan ICU.


"Kamu yang kuat Nay, kita berdoa saja agar Ryan dapat melewati masa kritisnya" ucap Adit yang terlihat sudah sangat lelah.


Karena bukan jam besuk hanya Nayla yang diijinkan masuk itupun tak boleh lama.


Setelah memakai pakaian khusus Nayla pun melihat kondisi Ryan.


Air matanya kembali mengalir tanpa permisi begitu melihat kondisi Ryan yang penuh luka dan ada begitu banyak selang sebagai penunjang kehidupannya.


Seakan tak mempunyai tenaga Naylapun terduduk lemas disamping tempat tidur Ryan.


"Mas kenapa jadi kaya gini, andai aku tau aku gak akan kasih ijin kamu berangkat naik mobil" ucap Nayla sambil terisak disamping Ryan.


Setelah waktu yang ditentukan habis akhirnya Naylapun keluar dengan wajah sembab.


Ia langsung memeluk Damra sambil terus menangis.


"Percuma kamu nangis Nay, gak akan merubah apapun, lebih baik kamu berdoa buat kesembuhan Ryan" ucap Damra sambil memeluk Nayla.


Adit yang kebetulan keluar untuk mencari penginapan terdekat akhirnya sampai lagi dirumah sakit sambil membawa beberapa bungkus makanan untuk mereka.


"Lebih baik sekarang kita kepenginapan dulu buat istirahat Nay, besok pagi kita kesini lagi" tutur Adit pelan agar tak membuat Nayla tersinggung.


Penginapan yang disewa Adit lokasinya tak jauh dari rumah sakit.


Begitu sampai disana mereka langsung Istirahat, namun tidak dengan Nayla.


Menjelang subuh Nayla baru bisa terlelap dengan masih mengenakan mukena ia tertidur.


Masih terlihat dengan jelas sisa air mata di sudut matanya.


Damra yang tadinya berniat untuk membangunkannya dan memintanya pindah ke tempat tidur langsung ia urungkan.


"Aku tau kamu kuat Nay" ucap Damra sambil menatap Nayla iba.


Damra pun keluar kamar dengan sangat pelan-pelan agar Nayla tidak terbangun.


Didepan kamar ia berpapasan dengan Adit yang baru saja membeli sarapan pagi untuk mereka.


"Gimana kondisi Nayla?"tanya Adit


"Ya gitu deh Dit,dia nangis terus"jawab Damra pelan.


"Aku sih maklum Ra,dia pasti terpukul banget,kamu harus bisa kasih dia semangat Ra" ucap Adit sambil bersandar pada tembok.


" Ya udah kamu sarapan dulu biar nanti kita ke rumah sakit lagi"

__ADS_1


"Aku juga mau istirahat lagi sebentar sambil minum kopi biar seger" ucap Adit sambil masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar mereka.


Damrapun kembali masuk kedalam kamarnya, ia lalu membuka bungkusan yang tadi Adit berikan.


"Wah..lontong sayur Padang asa daun pakisnta lagi" ucap Damra sambil menuangkannya kedalam mangkuk.


Tanpa Damra sadari dari tadi sebenarnya Nayla sudah terbangun, ia memperhatikan apa yang Damra lakukan.


"Apa itu Ra?" tanya Nayla yang berhasil membuat Damra terkejut.


"Ish bikin kaget aja sih Nay"


"ini Adit beli lontong sayur buat kita sarapan"lanjut Damra sambil menuangkan satu lagi untuk Nayla.


Sebenarnya Nayla enggan untuk makan, namun ia ingat Jika ia sakit ia tak dapat menemani Ryan.


Dengan terpaksa ia pun memakan makanannya hingga habis walaupun dengan waktu sedikit lama.


Setelah merasa lebih segar merekapun langsung ke rumah sakit


Dua hari sudah Nayla berada disana,ia pun beberapa kali bertemu dengan teman-teman Ryan yang datang melihat kondisi Ryan.


"Mas bangun,buka mata kamu, ini aku Nayla" bisik Nayla di telinga Ryan yang masih terbaring dengan mata terpejam rapat.


"Kamu harus sembuh mas, ingat masih ada aku sama anak-anak kita yang menunggu kamu" Nayla terus menangis sambil menggenggam tangan Ryan.


Tiba-tiba Nayla merasakan tangan Ryan bergerak ia pun langsung melihat wajah Ryan.


"Kamu udah sadar mas" Naylapun langsung memanggil suster yang berada tak jauh darinya.


Susterpun datang dan memeriksa kondisi Ryan.


Naylapun menunggu diluar dengan sedikit rasa cemas.


Damrapun menarik tangan Nayla mengajaknya untuk duduk sambil menunggu kabar dari dokter yang menangani Ryan.


Satu jam pun berlalu Nayla diminta menemui dokter yang menangani Ryan.


Sementara itu diluar ruangan Adit dan Damra sedikit cemas saat melihat beberapa suster sibuk masuk kedalam ruang ICU.


Hallo semua dah up lagi ni


jangan lupa terus kasih dukungan buat author.


Like,rate, Favorit dan komennya author tunggu.


Kalau ada yang mau kasih hadiah atau vote juga boleh kok.

__ADS_1


Salam Maniss


Amelajj/author


__ADS_2