TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 297


__ADS_3

Selamat Membaca


Hari berganti hari Naylapun bertanya pada dirinya sendiri apa ada yang salah dengan yang ia makan hingga setiap hari jika bagun tidur badannya serasa sakit semua.


Adit yang memang tak ingin kehilangan Nayla hampir setiap malam menaruh obat tidur di gelas minum Nayla hingga hampir setiap malam juga ia meniduri istrinya tanpa sepengetahuan Nayla dan berharap agar Nayla segera hamil agar ia mempunyai alasan untuk tidak bercerai.


Nayla duduk termenung sambil berpikir apa yang menyebabkan badannya selalu sakit.


"Kan kita gak makan yang aneh-aneh Nay kok bisa sih loe pada sakit gitu" ujar Damra yang duduk disamping Nayla.


"Ih..aku juga gak tau Ra, apa karena sekarang aku gemuk ya makanya pada nyeri" ucap Nayla sambil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan seperti orang yang berolahraga.


Ryan yang baru saja masuk langsung tersenyum melihat tingkah Nayla.


"Kamu ngapain Nay..." tanya Ryan yang baru saja masuk.


"Lah kamu liatnya apa Yan, aku lagi olahraga biar kurusan dikit"jawab Nayla


"Apanya lagi yang mau dikecilkan Nay?" tanya Ryan sambil duduk di hadapan Nayla.


"Gak tau Yan" jawab Nayla sambil mendesah kasar.


"Samping tempa fitnes Nay ngapain bingung sih" celetuk Damra sedikit menggodanya Nayla.


"Ogah aku mah fitnes disana"jawab Nayla cepat.


Tanpa aba-aba Damra dan Ryan tertawa bersamaan.


"Bukan soal itu kayanya Nay badan loe sakit"


"Gw yakin pasti ada yang guna-guna loe Nay" ucap Damra dengan gaya sok yakin ya.


"Jangan bilang gitu namanya su'uzon Ra" balas Nayla.


Damra hanya tersenyum mendengar ucapan Nayla.


Sementara itu Adit nampak semakin dekat dengan Dina.


Kemanapun Dina pergi selalu minta antar oleh Adit.


Hari Minggu Nayla dan teman-teman nya berencana untuk reunian dirumah Dian di daerah Jakarta.


Pagi itu Nayla sudah rapi, ia sengaja memakai baju kaos tanpa lengan dengan. celana jeans yang press body.


Begitu turun dari tangga Nayla langsung mencari Empok.


Empok yang sedang mencuci tak mendengar panggilan Nayla.


Adit yang kebetulan sedang membaca koran sambil sebentar-sebentar melihat ponselnya sedikit terheran melihat penampilan Nayla.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Adit.


"Anterin yuk Dit ke rumah temen" pinta Nayla berpura-pura.


Sebenarnya Nayla sudah tau jawaban Adit namun karena penasaran ia pun berpura-pura mengajak Adit.


"Jauh gak yang rumah temen kamu?" tanya Adit sambil melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Namanya juga reunian pasti lama lah Dit"


"Ya udah kalo gak bisa, aku minta anterin sama Ryan aja" jawab Nayla sambil berjalan kedapur untuk membuat segelas susu dingin.


Tanpa Nayla sadari Adit mengikutinya dari belakang.


Adit yang kesal karena Nayla menyebut nama Ryan langsung menarik tangan Nayla sedikit kasar.


Aaauuwww


teriak Nayla yang terkejut.


Adit sedikit mendorong tubuh Nayla hingga terbentur tembok dan menghimpitnya


"Adit ngapain sih,jangan macem-macem ya" ancam Nayla.


"Aku peringakan ya Nay, jangan pernah sebut nama Ryan disini" sentak Adit sambil sedikit menekan dagu Nayla dengan tangannya.


"Adit sakit ihh"


Nayla berusaha mendorong tubuh Adit namun tak bisa.

__ADS_1


"Ok aku anterin kamu kerumah temen kamu, tapi maaf aku gak bisa nungguin sampai acarnya selesai" ucap Adit sambil menghempaskan dagu Nayla sedikit kasar.


"Kalo gitu lebih baik gak usah Adit, aku bisa pergi sendiri" ucap Nayla sedikit berteriak.


Adit yang memang belom tau jika Nayla sudah lancar mengemudi tersenyum sinis saat Nayla mengambil kunci mobil.


Adit bersandar pada pintu sambil memasukan tangannya kedalam saku celananya.


Nayla yang memang sudah lancar mengemudi langsung mengeluarkan mobil dari dalam garasi dan setelah ia merasa siap mobil pun melaju perlahan meninggalkan rumahnya dan menghilang diujung gang.


Adit yang baru menyadari jika Nayla sudah lancar mengemudi akhirnya segera mengambil kunci motor dan langsung mengejar Nayla kesalon Damra.


Benar saja begitu Adit tiba di sana mobil yang Nayla kendarai sudah terparkir dengan manis di depan salon.


Tanpa memberi salam Adit langsung masuk kedalam salon dan menghampiri Nayla.


"Sayang biar aku aja yang bawa mobilnya" pinta Adit sambil menggenggam tangan Nayla.


"Gak ah, aku juga bisa bawa sendiri" tolak Nayla sambil menyembunyikan kunci mobil dibalik badannya.


"Nay aku khawatir kalau kamu yang bawa" ucap Adit beralasan.


"Aku bisa minta Ryan yang bawa" jawab Nayla tak mau kalah.


"Ya udah kalau gitu kamu gak usah ikut reuni, ayo kita pulang" Adit yang sudah terlanjur emosi menarik tangan Nayla.


"Adit apa-apa'an sih" Nayla yang kesal terus saja meronta tak mau ikut dengan Adit"


Adit yang memang sudah terlanjur kesal langsung memanggul Nayla di bahunya seperti karung beras.


"Diam Nay kalau gak mau dilihatin orang". ucap Adit ditelinga Nayla.


Nayla yang juga ikut kesal terus saja memukul apa saja yang ia bisa.


Dengan rasa terpaksa Nayla pun akhirnya menuruti kemauan Asit.


Setelah berada didalam mobil Nayla sedikit heran karena jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju rumah Nayla.


"Kamu mau bawa aku kemana Adit?" tanya Nayla yang masih kesal dengan Adit.


"Gak usah banyak tanya, kamu diem aja" jawab Adit sedikit ketus.


Perlahan emosi Aditpun mereda.


"Sayang maafin aku ya, aku cemburu bayangin kamu sama dia dalam mobil berdua" ucap Adit membuka pembicaraan.


Nayla menatap Adit dengan tatap sinis.


"Apa kamu gak mikirin gimana perasaan aku saat bayangin kamu sama dia dalam mobil ini berdua" jawab Nayla mengulang perkataan Adit.


"Jangan mulai Nayla" ucap Adit memperingati Nayla.


Nayla pun terdiam menahan kesal.


Adit yang menyadari jika ponsel dan dompet Nayla tertinggal di salon mempunyai niat jahil.


Nayla semakin bingung ketika mobil yang mereka tumpangi masuk kedalam tol Cipularang dan keluar di Sadang.


"Ini mau kemana sih Dit jauh banget"tanya Nayla sedikit kesal.


"Aku lagi mau berdua'an sama kamu Nay, jadi jangan ngerusak suasana ya" ucap Adit lembut sambil tersenyum manis kearah Nayla.


Nayla yang kesal akhirnya meraba saku celananya.


"Kok gak ada ya, jatoh kali" gumam Nayla lalu menunduk mencari barang yang ia cari.


Adit yang tau barang apa yang Nayla cari hanya tersenyum.


Disalon, Damra merasa khawatir pada Nayla karena tas dan ponselnya tertinggal diatas meja.


Kebetulan Ryan mampir untuk memberikan cemilan untuk Nayla dan Damra.


"Kenapa sih Ra kaya orang bingung gitu" tanya Ryan


"Ini tadi Nayla dipaksa ikut ama Asit" jawab Damra.


"Lah kenapa? kan Adit suami nya"


"Masalahnya dompet sama ponselnya ketinggalan disini Yan" ucap Damra sedikit kesal pada Ryan.

__ADS_1


"Adit itu kan sayang banget sama Nay jadi gak mungkin dia nyakitin Nay" ucap Ryan sambil duduk di bangku lalu meraih ponsel Nayla yang terletak di atas meja.


Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Ryan ia juga sangat khawatir pada Nayla.


Namun ia berusaha untuk tetap tenang agar Damra tidak ikutan panik.


Nayla yang menyadari jika barang-barang pentingnya tertinggal disalon hanya bisa pasrah.


"Sebenarnya kita mau kemana sih Dit" tanya Nayla yang sudah pasrah.


"Kita akan sesuatu tempat yang enak buat bulan madu Nay" ucap Adit sambil tersenyum menatap Nayla.


"Maksudnya apa Dit?" tanya Nayla bingung.


"Ya ampun Nay, aku mau hubungan kita kembali kaya dulu Nay, romantis"


"Kalau sekarang kita udah kaya orang gak kenal, satu rumah tapi jarang ngobrol" ucap Adit sedikit sedih.


Nayla malah memilih melihat pemandangan dari kaca mobil.


Sebenarnya ia juga sangat rindu dengan suasana saat mereka selalu bersama.


Namun sekarang ia harus bisa membuang rasa itu jauh-jauh agar jika saatnya tiba ia harus berpisah dengan Adit hatinya tidak terlalu sakit.


Suasana mendadak hening, tiba-tiba saja ponsel Adit berdering.


Aditpun langsung mencari tempat yang aman untuk menepikan kendaraannya.


Kebetulan tak jauh dari sana ada sebuah mini market, Aditpun langsung menepikan kendaraannya.


"Sebentar ya sayang aku, kamu beli cemilan dulu gih" ucap Adit sambil keluar dari mobil.


Lengkap sudah rasa kesal Nayla lagi asik tidak ada yang mengganggu tiba-tiba pelakor menelfon ditambah Adit seperti tidak punya dosa menyuruh Nayla belanja tapi tak memberikan uang sedangkan ia tau Nayla saat ini tak mempunyai uang sepeserpun.


Nayla menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu memejankan matanya untuk mengurangi rasa kesalnya.


Nayla yang memang tidak tidur mendengar suara pintu mobil dibuka.


"Kamu udah yang beli cemilannya" tanya Adit tanpa dosa.


Nayla malas untuk menjawab iapun pura-pura tertidur.


Adit yang memang susah hafal dengan tingkah laku Nayla menarik sedikit sudut bibirnya.


"Aku cium ya kalo kamu gak mau bagun" ancam Adit.


Nayla tetap tak menggubris ancaman Adit ia masih memejamkan matanya.


"Aku gak bohong ya Nay, kalo kamu gak buka mata aku bakal cium kamu beneran"


Nayla masih tak mau membuka matanya, hingga akhirnya Aditpun mulai menghitung.


Satu...


Dua...


Tiga...


Nayla yang memang tidak tidur merasakan hembusan nafas Adit sangat dekat dengan wajahnya hingga mau tak mau iapun membuka matanya dan ternyata wajah Adit sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Dengan gerakan refleks Nayla mendorong wajah Adit agar menjauh.


"Sekali aja Nay boleh ya" pinta Adit.


"Gak" dengan tegas Nayla menolak permintaan Adit yang ingin mencium nya.


Dengan sedikit kecewa akhirnya Adit pun kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang masih ia rahasiakan.


**Hallo semua aku up lagi ni.


Semoga kalian gak bosen ya sama Adit dan Nayla.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya biar Author lebih semangat lagi up nya.


Caranya tap tanda Like, Rate,komen dan Vote.


Salam Manis


Amelajj/author**

__ADS_1


__ADS_2