
Selamat Membaca
Malam itu Nayla dan Adit sedang menikmati indahnya malam.
Mereka duduk di depan danau sambil menikmati jajanan kesukaan Nayla.
"Nay...kamu emang gak mau punya anak lagi" tanya Adit disela-sela kesibukan Nayla yang asik menikmati keripik pisang coklat kesukaannya.
Sesaat Nayla menghentikan kunyahannya dan menatap Adit
"Ya mau lah Dit, kamu setuju kalo aku adopsi anak?" tanya Nayla dengan mata berbinar senang.
"Ihh masa adopsi sih, ya kita bikin sendiri lah Nay" Adit mengedipkan sebelah matanya.
"Gak mau ah, aku mau yang udah berbentuk aja boleh ya, aku mau anak yang di panti waktu itu Dit" pinta Nayla
"Emm boleh buat pancingan Nay, tapi kita tetep bikin ya malem ini, kan besok aku udah pergi Yang" ucap Adit dengan terang-terangan.
"Ihh kamu gak malu sih ngomong gitu di tempat umum" Nayla tersipu malu mendengar perkataan Adit.
Nayla memalingkan wajahnya yang merona malu, tiba-tiba matanya terpokus pada sosok seorang wanita yang sedang berdiri di tepi danau.
Ia memicingkan matanya seakan ingin memperjelas sesuatu.
"Adit...Adit.." panggilnya tanpa menoleh pada Adit.
"Apa sih sayang, kalo manggil tuh liat orangnya dong" sahutt Adit.
" Ehh...itu cewe mau ngapain sih" tanya Nayla masih dengan tak memalingkan penglihatannya.
Adit yang tadinya acuh kini ikut melihat kearah yang ditunjuk Nayla.
"Mana sayang, aku gak liat apa-apa"
Adit mendekatkan wajahnya pada pipi Nayla dan ...
cup.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Nayla.
"Adit....ihh ini di tempat umum tau" Nayla mulai tampak kesal.
"Gak apa-apa sayang, mana sih cewe yang kamu bilang tadi" Adit berusaha mengalihkan pembicaraan agar Nayla tidak melanjutkan marahnya.
"Itu loh Dit, kaya orang mau bunuh diri aja"
"Ehh dia liat kearah aku Dit, kok mukanya pucet gitu sihh"
Adit hanya diam, dalam hati nya ia yakin jika yang di dihat oleh Nayla adalah bukan manusia.
"Adittt denger gak sihh aku ngomong" Akhirnya Nayla makin kesal karena Adit tidak menanggapi ucapannya.
"Iya sayang aku denger"
"Itu bukan orang sayang"
Ucap Adit mencoba menjelaskan pada Nayla
Akhirnya karena tak ingin sesuatu terjadi Adit pun memaksa Nayla untuk pulang.
Dengan wajah sedikit di tekuk Nayla masuk kedalam kamar lalu langsung merebahkan diri diatas kasur.
Adit yang mengerti jika Nayla sedang ngambek hanya diam.
"Sayang ganti baju dulu baru tidur" ucap Adit pelan.
Tanpa menjawab Nayla langsung turun dari tempat tidur lalu mengambil baju di lemari dan menggantinya di kamar mandi.
Setelah selesai mengganti baju tanpa banyak berbicara ia langsung menarik selimut dan memejamkan mata.
Adit hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk.
Tanpa kehilangan ide Aditpun menaikan suhu AC menjadi 27 dengan maksud agar Nayla membuka selimutnya.
Satu jam pun berlalu Nayla masih tak dapat tertidur dengan lelap.
Entah Kenapa perasaannya menjadi tak karuan sejak Adit meminta ijin untuk kembali bekerja di lepas pantai.
__ADS_1
Adit yang juga ikut pura-pura tidur tahu benar jika Nayla masih terjaga.
Tiba-tiba suasana menjadi tak enak, Nayla merasakan ada sesuatu namun ia tak yakin.
Pandangan matanya tertuju pada jendela kamarnya, ia merasa ada sesuatu yang sedang menatap ke arahnya.
Karena merasa takut ia pun membalikan badannya dan melihat kearah Adit yang ternyata sudah tertidur dengan sangat lelapnya.
"Adittt...."
"Dit...bangun..." Nayla mengguncang bahu Adit sedikit kencang dengan harapan Adit terbangun.
Beberapa menit berlalu Adit masih tertidur dengan sangat lelapnya.
Nayla yang merasa kesal akhirnya memberanikan diri untuk melihat kejendela kamarnya.
Hordeng jendela Nayla bergeser sedikit demi sedikit seperti ada yang menariknya pelan.
"Ah...paling itu kena angin dari AC" pikir Nayla tak mau berasumsi yang buruk.
Sekali ia biarkan dan berpikir itu hanya angin.
Kedua kalinya hordeng itu kembali bergeser namun kali ini sedikit lebih kencang.
"Astagfirullah al Azim apa itu ya" Nayla bermonolog sendiri saat melihat kearah jendela.
"Adittt bangunn dongg" akhirnya Nayla kembali membangunkan Adit kali ini dengan guncangan yang lebih kencang.
Namun usahanya sia-sia Adit masih tertidur dengan sangat pulasnya.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan ia pun perlahan turun dari kasur dan berjalan pelan-pelan menuju jendela kamarnya.
Jantung Nayla berdegup sangat kencang saat ia mulai dekat dengan jendela.
"Bismilahhirohmanirohim" Nayla memejamkan matanya menguatkan dirinya.
Dengan mata terpejam dan tangan bergetar ia berusaha menyibak hordeng.
Saat Nayla ingin menarik hordeng terasa sangat keras seperti ada yang menahan di ujung satunya.
"Husss...jangan ganggu aku dong plisss"
"Aku kan ganggu kamu ..." ucap Nayla dengan suara bergetar karena takut.
Entah dari mana tiba-tiba ada angin yang berhembus sedikit kencang hingga rambut Naylapun berterbangan.
"Asstagfurullah Al Azim"
Nayla terhentak beberapa langkah kebelakang saat tiba-tiba saja hordeng jendela kamarnya tersibak dengan sendirinya.
Naylapun semakin ketakutan saat sosok wanita berdiri didepan kaca dengan wajah pucat lalu tak lama kemudian Nayla mendengar suara wanita menangis.
Hu.....hu......hu
"Tolong.....aku Nay....." samar-samar terdengar suara sosok itu meminta tolong.
"kok kamu tau nama aku" Nayla mencoba memberanikan diri bertanya pada sosok itu.
Bukan jawaban yang Nayla dapat namun suara tangisan kembali terdengar bahkan berhasil membuat bulu-bulu halus di tubuh Nayla berdiri.
"Aduhh kamu jangan nangis dong tar aku bisa pipis di celana nih..." ucap Nayla tanpa sadar.
Sosok itu pun terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Wajahnya tertutup rambut yang tergerai menutupi wajahnya.
"Ishh kok susah banget sihh ni hordeng" Nayla berusaha menarik hordeng bermaksud menutupnya.
Sosok itu tiba-tiba menatap Nayla tajam seakan marah.
"Aaaaaaa....tooooloooongghhh" akhirnya Naylapun berteriak sekencang mungkin agar Adit terbangun.
Sosok wanita itu semakin marah wajahnya menjadi menakutkan.
Sebenaranya Nayla ingin berlari kembali Ke kasur namun entah kenapa kakinya seperti terpaku tak bisa di gerakan.
"Kamu mau apa...aku gak bisa bantu kamu"ucap Nayla memberanikan diri namun ia masih memejamkan matanya tak mau menatap sosok yang menakutkan didepannya.
__ADS_1
"Aku gak mau ...."
"Gak berani tau..." tolak Nayla saat sosok itu meminta bantuannya.
Saat Nayla menolak sosok itu semakin marah dan menunjukan wajahnya yang menakutkan dan berhasil membuat Nayla ketakutan hingga gemetar.
Saat Nayla ketakutan tanpa sengaja tangannya menjatuhkan gelas yang ada diatas meja hingga pecah.
Entah karena mendengar suara gelas yang pecah atau suara teriakan Nayla Adit pun terbangun.
"Nay...kamu kenapa sayang" Adit terkejut saat melihat Nayla duduk di lantai dan tak jauh dari sana ada banyak pecahan beling.
"Nay..." Adit langsung menghampiri Nayla dan menuntunnya kembali ke tempat tidur.
Setelah membersihkan serpihan gelas dan memberi Nayla minum Aditpun mulai bertanya ada apa dan Naylapun menceritakan apa saja yang baru ia alami.
"Aku yakin Nay itu pasti yang tadi di danau, dia ngikutin kamu karena kamu bisa liat dia" ucap Adit sambil mengelus rambut Nayla lembut.
Setelah Nayla sedikit tenang Adit pun memaksa Nayla untuk tidur karena jam sudah menunjukan pukul 3.45 dini hari.
Akhirnya Naylapun bisa tidur dengan lelap sementara Adit harus terjaga karena ia tak ingin sesuatu kembali terjadi pada Nayla.
Setelah sholat subuh Adit pun segera bersiap-siap untuk kembali berangkat kerja.
Namun sebelum itu ia menelpon aa dan kembali meminta bantuam Aa Iwan mengenai mahluk yang semalam mengusik Nayla.
Aditpun bisa bernafas lega saat Aa menyanggupi membantu Nayla.
Suara alarm yang terdengar nyaring berhasil membangunkan Nayla.
Perlahan Nayla membuka matanya dan mencari sosok Adit.
"Ditt...kamu di mana" teriak Nayla yang langsung turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan suaminya.
Dengan tergesa-gesa Nayla menuruni tangga dan setelah melihat Adit yang sedang membawa susu dan secangkir kopi ia pun bernafas lega.
"Sayang kok kamu gak bangunin aku sih" protes Nayla sambil duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan.
"Aku gak mau ganggu kamu sayang, ni minum susunya dulu yang" Adit menyodor segelas susu coklat hangat.
"Gak mau susu yang, minta kopi kamu aja ya" pinta Nayla yang langsung menyeruput kopi Adit.
Adit menatap sekilas Nayla, ia merasa sedikit heran dengan dengan perubahan sikap Nayla pagi ini.
"Kamu gak apa-apa Nay?"tanya Adit
"Gak, emang kenapa?" tanya Nayla bingung
"Gak sihh, kok kamu manis banget ya pagi ini" ucap Adit sedikit bercanda.
"Biasa aja yang" jawab Nayla sambil tersenyum.
Tiba-tiba Nayla memeluk Adit "Sayang gak bisa di undur berangkatnya" ucap Nayla.
"Gak bisa sayang, kamu tumbem amat sih yang,maen peluk juga, biasanya kalo aku minta peluk aja gak mau" ucap Adit
"Ishh gak boleh apa aku meluk suami sendiri" Nayla memajukan bibirnya
"Nay..aku udah mau berangkat jangan mancing-mancing dong" Adit mengecup sekilas bibir Nayla.
Nayla yang masih enggan melepas kepergian Adit hanya diam saat taksi online yang akan membawa Adit tiba.
Aditpun menghampiri Nayla yang bersembunyi di balik pintu.
"Sayang aku mau berangkat" Aditpun menarik Nayla dan memeluknya.
Nayla hanya bisa menangis saat Adit mulai naik kedalam mobil.
Entah kenapa Ia merasa begitu berat saat melepas kepergian Adit kali ini.
Hallo semua maaf aku baru bisa up lagi sekarang.
Terima kasih buat yang masih setia menunggu kelanjutan kisah Adit dan Nayla.
Salam Maniss
Amell ajj/ author
__ADS_1