TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 407


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Beberapa hari belakangan ini ada saja hal aneh yang Rania alami, ia pun tidak tau kenapa sejak ia bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak dapat melihat membuat hidupnya tidak lagi nyaman


"Mamah Ran mau kaya orang-orang, Ran gak mau dibilang aneh, Ran mau hidup damai kaya dulu mah" ucap Rania sambi menangis dalam pelukan Nayla.


"Sabar sayang, nanti juga kalau kamu udah biasa kamu gak akan takut lagi nak"


"Mama juga sama seperti kamu, dulu mama begitu tersiksa apalagi mama dulu kerja di pabrik, hampir setiap hari mama dikerjain sama yang begituan" ucap Nayla sambil mengelus lembut kepala putrinya.


"Tapi Ran gak kuat mah, kenapa juga mereka selalu kasih liat Ran kalo mereka ada" ucap Rania disela-sela tangisannya.


Ardina dan Radit tidak bisa berbuat apa-apa, Radit pun sebenarnya bisa melihat hal yang sama dengan Rania namun ia tidak mau ambil pusing dengan tingkah para hantu itu, lebih tepatnya Radit sama seperti papanya.


"Ada apa kok pada kumpul disini?" tanya Adit saat melihat semuanya ada dikamar Rania.


"Lah anak papa yang tomboi kenapa kok nangi" tanya Adit saat melihat mata Rania memerah dan ada bekas air mata di pipinya yang sedikit cubby.


"Nanti kita bicara Dit" ucap Nayla


"Papa Ran gak mau bisa liat hantu lagi, Ran mau jadi orang biasa Pah" ucap Rania sambil melihat papanya.


Adit pun diam sesaat, ia pun jadi ingat dengan Nayla dahulu sama seperti Rania begitu tertekan karena kelebihan yang ia miliki.


"Sabar sayang, kamu tau gak Ran tidak semua orang punya kelebihan seperti kamu, bahkan ada orang yang tidak bisa melihat hal ghoib mereka sampai ikutan tantangan" ucap Adit sambil duduk disebelah Rania.


"Itu sih oon aja yang mau liat" jawab Rania


Radit dan Ardinapun ikut tersenyum saat mendengar ucapan Rania.


"Ran juga takut sama Rahmat, dia serem kalau Ran liat"


Ardina pun terkejut dengan penuturan Rania


"Kenapa Ran?"tanya Ardina heran.


"Dia bukan Rahmat, dia jahat Ar" ucap Rania.


"Dari mana bisa kamu bilang kalau dia jahat?"tanya Ardina sedikit kesal


"Gw gak bisa jelasin, tapi kalo loe gak percaya juga gak apa-apa" ucap Rania yang tau jika Ardina begitu menyukai Rahmat.


Entahlah Rania merasa jika yang bersama Ardina bukanlah Rahmat.


Ardina yang kesal akhirnya pergi meninggalkan Rania.


Didalam kamarnya ia terus saja memikirkan apa yang Rania katakan, betulkah yang itu bukan Rahmat,kalau itu bukan dia terus siapa? kira-kira itulah yang kini sedang Ardina pikirkan.


Esoknya Ardina sudah berangkat pagi-pagi sekali, ia berniat menyelidiki sendiri apa yang Rania katakan.


Awalnya dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rania,namun setelah ia berpikir lagi memang ada beberapa hal yang sedikit beda dengan Rahmat.


Rahmat yang ia kenal dulu tidak kidal, namun sudah beberapa kali Ardina lihat Rahmat yang sekarang lebih sering menggunakan tangan kirinya dari pada tangan kanan.


Pagi sekali Ardina sudah ada didepan rumah Rahmat, ia ingin tau apa saja yang pria itu lakukan seharian.


Dengan pakaian yang sedikit menyamar agar tidak ketahuan Ardina pun menunggu hingga Rahmat Keluar dan akan mengikutinya, tak apalah hari ini ia bolos kuliah demi mengobati rasa penasarannha.


Begitu mobil Rahmat keluar rumah ia pun langsung mengikutinya.


Sementara itu Rania merasa tidak enak karena sudah berbicara hal yang tidak baik tentang Rahmat kepada saudaranya.


Ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia berkata begitu.


"Mah, Ardina marah pasti sama Ran ya, no aja dia udah gak ada dirumah" ucap Rania merasa begitu menyesal.


"Gak apa-apa sayang, jika itu benar berarti itu untuk kebaikan dia juga" ucap Nayla.


"Oh iya sayang hati sabtu nanti aa Iwan kesini, aa mau nyoba nutup Indara keenam kamu kalau bisa" ucap Nayla


"Iya mah, terimakasih ya udah mau dengerin keluhan Ran" ucap Rania lalu mencium pipi Nayla.


Batu saja Rania hendak mengeluarkan motornya tiba-tiba saja Fahri datang dan ingin mengantarnya ke kampus.


Rania pun langsung menyetujui ia langsung masuk kedalam mobil Fahri.


Begitu tiba di kampus ia pun langsung turun tidak mengucapkan terima kasih kepada Fahri.


Walaupun mendapatkan perlakuan seperti itu Fahri tetap saja mencintai Rania.


Ia yang memang sudah hafal dengan sifat Rania hanya tersenyum saat melihat gadis itu turun dari mobilnya tanya mengucapkan terima kasih.


Setelah Rania tidak terlihat lagi Fahri pun langsung meninggalkan kampus tempat Rania belajar dan menuju kampusnya.


Begitu tiba di kampus tempat pertama yang Rania tuju adalah kantin.


Ia pun duduk disalah satu bangku sambil membuka ponselnya.


Sementara itu Ardina yang mengikuti Rahmat kehilangan jejak saat tanpa sengaja ban motornya bocor gara-gara kena ranjau paku.


"Ish sial amat sih pake bocor lagi" ucap Ardina saat ia tidak melihat lagi mobil Rahmat.


Beruntung tidak jauh dari sana ada tukang tambal ban motornya.


Lumayan lama ia menunggu ban motornya selesai ditambal.


Setelah membayar jasa tambal ban akhirnya Ardina pun pergi kesalon saja, sebab jika ia pergi ke kampus pun ia sudah telat.


Sementara itu Rania nampak terburu-buru menuju toilet.


Begitu masuk terasa begitu sepi padahal biasanya toilet ini selalu ramai kerena memang letaknya yang dekat dengan kantin.

__ADS_1


Karena sudah tidak tahan lagi ia pun tidak perduli yang penting saat ini ia segera buang air kecil.


Begitu ia selesai dan ingin keluar tiba-tiba saja pintunya tidak mau terbuka.


"Sial siapa yang ngerjain gw ya" batin Rania sambil terus memutar knop pintu agar terbuka.


"Woiii ada orang gak diluar, kalo ada tolong bukain dong" teriak Rania sambil menggedor-gedor pintu dengan harapan ada Yeng menolongnya.


Ia pun tidak mau putus asa, ia terus memukul pintu toilet namun setelah sekian menit tidak ada yang menolongnya.


Cklekkkk


Tiba-tiba saja pintu kamar kecil yang paling ujung terbuka.


Seingat Rania ia hanya sendirian didalam dan tidak mendengar suara orang masuk.


"Ah bodo amat mau siapa kek yang penting sekarang giman caranya biar pintu ini kebuka" ucap Rania


"Kalo gw dobrak tar gw di denda gak ya?" batin Rania.


"Percuma loe tendang juga, pintu itu gak akan kebuka" ucap seorang yang entah dari mana datangnya tiba-tiba susah berada di ujung ruangan kamar mandi


"Astaghfirullah,kok loe bisa ad disini, loe masuk dari mana?tanya Rania


Pria itu hanya tersenyum, lalu perlahan ia berjalan mendekati Rania.


"Loe mau apa?berenti disitu gak" ucap Rania yang mulai mengambil ancang-ancang untuk menendang pria itu jika ia berani macam-macam.


"Kan gw udah bilang tadi malem, gw kangen loe Ran" ucap pria itu lagi.


Rania begitu terkejut saat pria itu mengucapkan hal yang sama dengan yang Rahmat ucapkan tadi malam.


"Loe siapa sebenernya?"


"Apa mau loe?" tanya Rania sambil mundur karena pria itu terus saja maju


"Gw mau loe"


Rania pun mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan perkataan pria didepannya.


"Aneh loe, loe kak udah punya saudara gw"


"Ha....ha gw deketin dia biar ada alesan buat liat loe Ran" ucap Rahmat kini tepat berada didepan Rania.


Rania pun memukul Rahmat sekuat mungkin, namun ia seperti memukul angin.


"Kok gak kena ya, padahal dia gak gerak" pikir Rania.


Ia pun mencoba memukulnya lagi namun lagi-lagi tidak mengenai sasaran.


Rahmat pun tersenyum sambil tangannya hendak menyentuh wajah Rania.


Tiba-tiba saja Rania merasa begitu takut.


"Gw mau loe jadi pacar diam-diam gw,kalo loe gak mau gw bakal nyakitin Ardina" ucap Rahmat tepat ditelinga Rania.


Rania pun berusaha mendorong Rahmat namun lagi-lagi ia seperti menyentuh angin.


Pria itu pun tersenyum mengejek kearah Rania.


"Gw gak bisa megang dia, apa dia ini ruhnya ya" batin Rania


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka lalu masuk beberapa orang.


"Alhamdulillah"Rania pun bernafas lega namun lagi-lagi ia dibuat heran karena pria itu ternyata sudah tidak ada.


Rania masih bingung dengan apa yang baru saja ia alami.


Karena takut Rania pun segera keluar dari dalam toilet lalu menuju ke jalan utama sambil memesan ojol.


Ia memutuskan untuk pulang saja dan tidak masuk kelas.


Karena tidak fokus pada jalan Rania pun tersandung dan hampir saja tersungkur, beruntung saat dia hampir jatuh ada seseorang yang menahannya.


"Alhamdulillah gak jadi jatuh" ucap Rania sambil melihat wajah orang yang menolongnya.


Begitu ia melihat ternyata Fahri yang menolongnya ia langsung memeluk pria itu.


"Dih tumben banget main peluk, biasanya juga marah kalo dipegang" ucap Fahri yang bahagia karena Rania memeluknya.


"Astaghfirullah, maaf Ri, gw seneng aja gak jadi pesen ojol kan lumayan buat jajan" ucap Rania berbohong.


Fahri pun tersenyum mendengar ucapan Rania.


"Emang mau jajan apa sih, ayo gw beliin"


"Gak lah,gw bercanda kok"jawab Rania malu.


Mereka pun langsung masuk kedalam mobil Fahri.


Sementara itu Rahmat menatap tajam kearah mereka berdua.


Setelah melihat Rania pergi bersama Fahri, ia pun bergegas menuju salon untuk menemui Ardina.


Disalon Ardina lebih banyak melamun apa betul yang dikatakan Rania tentang Rahmat, memang Rahmat pernah berbuat salah pada Rania tapi bisa saja sekarang ia sudah berubah banyak.


Pikiran Ardina begitu kacau, ia masih bingung mana yang harus ia percayai


Baru saja ia hendak pulang tiba-tiba saja pintu salin terbuka lalu munculah seorang pria yang dari tadi ada dalam pikirannya.


"Hai...gnggu gak?" ucap Rahmat sok manis.

__ADS_1


"Gak kok"jawab Ardina terlihat begitu bahagia.


Rahmat pun masuk dan duduk disebelah Ardina.


Ia yang tadinya hendak pulang langsung membatalkan niatnya, mereka pun ngobrol hingga sore menjelang malam.


Berhubung Ardina membawa motor sendiri ia pun meminta Radit yang membawa pulang sedangkan ia pulang bersama Rahmat.


Seperti biasa sebelum sampai rumah mereka makan dulu, kali ini Rahmat pun membeli martabak untuk dibawa pulang.


Didalam perjalanan Rahmat mengirimkan sebuah pesan kepada Rania agar menunggunya dirinya.


Rania yang mendapatkan pesan langsung membalas "ogah, gw gak mau"


"Kalau loe gak mau lihat saudara loe gw sakitin lebih baik loe turutin apa yang gw bilang Rania" balas Rahmat mengancam


Rania pun tidak ambil dengan ancaman Rahmat.


Begitu terdengar suara mobil berhenti didepan rumahnya, Rania hanya mengintip dari balik jendela kamarnya.


"Bener dia, males banget gw harus nurutin omongan dia" ucap Rania kesal karena beberapa kali Rahmat menelfonnya.


Ia pun langsung mematikan ponselnya.


"Ran ..Rania, turun yuk, gw bawa martabak tuh" ucap Ardina dari balik pintu.


"Iya nanti Ar, gw lagi bikin tugas dulu" balas Rania berbohong padahal yang sebenarnya ia sedang berbaring .


Rahmat yang kesal karena Rania tidak kunjung datang berniat untuk mengunakan ilmu yang ia pelajari,namun entah kenapa saat didalam rumah Rania ilmu itu tidak dapat ia pakai.


Wajahnya pun terlihat begitu kesal.


Ardina yang melihat wajah Rahmat begitu tidak mengenakan merasa ada yang aneh.


"Loe sakit Mat, kok muka loe kayanya gimana gitu" tanya Ardina hati-hati tidak mau menyinggung perasaan Rahmat.


"Tiba-tiba gw gak enak badan Ar, gw pamit pulang ya" Rahmat pun langsung berdiri dan pamit pada Nayla yang kebetulan sedang lewat disana.


"Tante Nay, Rahmat pamit pulang dulu ya" Rahmat pun mencium tangan Nayla lalu keluar rumah.


Ardina pun mengantarnya hingga pria itu masuk kedalam mobilnya.


Rania langsung mengintip kembali dari jendela kamarnya.


Saat ia melihat Rahmat, kebetulan juga pria itu sedang menatap kearahnya dengan tatapan nyalang seakan marah.


Rania pun menjulurkan lidahnya seakan mengejek,lalu setelah itu ia menutup kembali hordeng kamarnya.


Setelah mendengar suara mobil menjauh,Rania pun turun hendak kedapur mengambil minum.


"Ran...udah selesai tugasnya?" tanya Ardina


"Udah Ar"


"Oh iya, ni martabaknya dimakan yuk sayangkan kalo udah dingin"ajak Ardina.


Rania pun langsung duduk dan memakan satu potong martabak coklat.


"Ran kayanya kata-kata loe bener deh, Rahmat itu sedikit aneh tau" ucap Ardina memulai pembicaraan.


"Aneh gimana?" tanya Rania pura-pura tidak tau.


Ardina pun menceritakan semuanya dan Rania hanya menyimak saja.


Sebenarnya ia ingin menceritakan apa yang ia alami kepada Ardina namun ia masih ragu,ia takut jika Ardina tidak mempercayai nya.


Keesokan harinya Rania pergi ke kampus bersama Ardina.


Setelah mengantar Ardina ia pun langsung menuju kampusnya.


Setelah memarkirkan motornya ia pun duduk santai dahulu disebuah bangku yang ada ditaman sambil membuka ponselnya.


Saat ia sedang asik membuka salah satu akun medsos miliknya tiba-tiba saja seorang pria duduk disebelahnya.


Rania pun terkejut dan langsung menoleh kesebelahnya.


Ia begitu terkejut saat melihat Rahmat,ia pun bergegas ingin pergi namun Rahmat langsung menarik tangannya.


"Aduhhhh lepasin Mat, sebentar lagi gw mau masuk kelas" Rania berusaha melepaskan cengkraman Rahmat dari tangannya.


"Kenapa semalam loe gak nemuin gw" ucap Rahmat pelan namun dengan suara yang ditekan.


"Gw lagi bikin tugas Mat,lepasin sih sakit tau"


"Kenapa sih loe gak pernah mau nurutin gw Ran,gw sebenernya gak mau nyakitin loe, tapi loe sendiri yang maksa" ucapnya lagi.


"Kenapa gw harus ngikutin kemauan loe"


"Kita itu gak ada hubungan apa-apa Mat,loe itu pacar Ardina" jawab Ran kesal.


"Gw udah pernah bilang kan sama loe"ucap Rahmat kali ini dengan mencengkram tangan Rania lebih kencang hingga membuat Rania meringis.


"Mamat, lepasin, sakit tau" ucap Rania yang merasa marah.


Entah keberanian dari mana tiba-tiba saja Rania berani melawan Rahmat


Secara kebetulan juga seorang temannya datang dan tiba-tiba saja Rahmat sudah tidak ada disebelahnya.


Rania pun bersyukur dengan kehadiran temannya itu Rahmat pun pergi,namun yang ia tidak habis pikir bagaimana bisa sosok Rahmat itu bisa datang dan pergi begitu saja seperti hantu.


"Apa mungkin dia hantu ya" pikir Rania yang malah jadi bingung sendiri.

__ADS_1


__ADS_2