
Haiii para reader terima kasih sudah mampir kekaryaku jangan lupa tinggalkan jejek buat penyemangat author
Happy Reading All
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai rujakan mereka pun tiduran dibawah pohon mangga yang lumayan rindang beralaskan tikar merekapun merebahkan diri sambil menikmati hembusan angin yang terasa sejuk.
Nayla pun memejamkan matanya menikmati suasana yang begitu sejuk.
Namun sialnya ia kembali melihat wanita yang diair terjun tadi masih berdiri dibawah pohon alpuket tak jauh dari tempatnya kini.
"ishh siapa sih tuh cewe"gerutu Nayla pelan
"Nay...Nayla" panggil wanita itu lembut hingga membuat bulu kuduk Nayla merinding
"OMG siang-siang gini hantu keluar juga,bukannya tidur aja buat tar malem"gerutu Nayla tak jelas
"ehhh loe kenapa kok ngomong ama pohon"tegur Erni yang merasa kebiasaan aneh Nayla keluar lagi.
"ehhh gak ada apa-apa mbak"jawab Nayla sambil menggaruk kepalanya.
"kalau deket ama loe Nay kaya lagi uji nyali tau" ucap Dian menimpali
"ide bagus tuh bu Dian,gimana kalo tar malem kita uji nyali mau gak" ajakku pada teman-temanku
Memang kadang mereka ada yang menyangka aku aneh suka ngomong sendiri padahal mereka belum tau aja kalau aku sedang berbicara dengan sosok yang tak mereka lihat.
Dari delapan orang yang ada mereka semua kebanyakan setuju hanya ada dua orang yang tak berani namun karena mereka kalah vote akhirnya mau tak mau mereka setuju juga.
"kadang-kadang ide loe gila juga ya Nay" ucap madam Ripha lalu duduk disampingku
"biar seru aja madam,masa gw terus yang kudu liat hantu,semoga aja tar malem hantunya mau kerja sama nampakin diri juga ama semuanya" ucapku sambil meneguk kopi yang tadi aku buat.
Malam pun tiba jam 9 kami semua berkumpul digudang belakang tempat yang pas dan sudah disepakati buat tempat uji nyali kami berdelapan.
Kami masuk berpasangan lalu akan dikunci digudang yang gelap itu dalam dua jam hanya ada cahaya lampu gantung.
Berhubung semua maunya masuk pertama akhirnya kami kembali mengundi dengan cara "hom pimpa halaium gamreng" ternyata madam Ripha dan pasangannya yang duluan masuk sampai jam 12 pas,disusul dengan Dian dan iis,lalu aku dan Irma dibagian ketiga dan terakhir erni dan pasangannya.
"wah curang mbak Erni enak banget udah pagi itu sih setannya juga udah pada pulang" protes yang lain tak terima
"heiii jangan protes ini tuh rezeki anak soleh tau"jawabnya sambil tersenyum
"heiii jangan pada protes dulu belom tentu pada nyampe dua jam didalem,kalo cuma setengah jam udah nyerah kan waktunya juga maju" ucapku mencoba menjelaskan dan akhirnya merekapun mengerti.
madam Ripha dan Uswatun masuk kedalam gudang itu dan tak lama kemudian pintu ditutup dan dikunci dari luar.
Setengah jam sudah kami menunggu diluar tak terdengar suara apa pun
"wah keren ya pok Ripha berani banget"celoteh Dian dan Iis
"iya ...kan dia pengen banget ngeliat hantu makanya dia nekad"jelasku
tak lama kemudian terdengar suara gedoran dipintu gudang dan suara madam Ripha dan Uswatun berteriak minta dibukakan pintu.
Dengan segera Dian pun membuka pintu gudang dan nampaklah wajah madam Ripha dan Uswatun yang memucat karena takut dan juga keringat yang mengucur membasahi wajah dan baju yang mereka pakai.
Saat madam Ripha hendak bercerita aku menahannya agar jangan bercerita dulu biar Dian dan Iis masuk dulu.
Setelah Dian masuk aku pun mendekati madam Ripha dan bertanya apa yang dia lihat didalam.
Ternyata madam Ripha melihat sosok bayangan hitam besar berdiri dihadapannya dan juga mendengar banyak suara benda-benda berjatuhan.
"kok loe gak takut sih Nay sering liat begituan?"tanya Madam penasaran
"awalnya juga gw takut madam tapi lama-lama ya biasa aja tapi kalo lagi diliatin yang bentuknya jelek ya takut juga lah"jawabku
"wah keren ya Dian didalem udah mau sejam"ucap Madam Ripha sambil menatap kearah pintu gudang
kami pun masih menunggu,satu jam lebih sudah berlalu akhirnya suara teriakan Dian terdengar juga "heiii yang diluar bukain pintu gw takut" terdengar suara iis dan Dian sambil mengedor-gedor pintu meminta untuk dibuka.
Dengan nafas yang tersengal-sengal akhirnya Dian keluar dengan wajah pucat dan keringat yang mengucur deras tak jauh berbeda dengan kondisi madam Ripha tadi.
Entah kenapa dadaku berdebar kencang sekali saat ini giliran aku dan Irma ketika ku lihat jam dipergelangan tanganku jam baru saja menunjukan pukul 12.30 menit.
"ayo masuk kenapa bengong"perintah Dian dan madam sambil mendorong tubuhku dan Irma yang ragu untuk masuk.
akhirnya aku pun masuk kedalam gudang bersama Irma.
"Ma ...kita gak usah kemana-mana duduk aja disini"ajakku pada Irma lalu kami langsung duduk tanpa alas.
Setengah jam pertama aku hanya mendengar suara-suara saja,namun aku berusaha menulikan pendengaranku.
__ADS_1
Irma yang mulai ketakutan meremas tanganku dengan sangat kuat hingga aku sedikit meringis.
"maaf mbak aku takut mbak,mau pipis nih"ucap Irma
"jangan ngompol disini Ma"
"ihh mbak Nay aku dah gak kuat mau pipis"wajah Irma meringis menahan kebelet ingin pipisnya
"ya udah ayo kita ketuk pintunya,kita nyerah aja"ucapku sambil berdiri hendak melangkah kearah pintu.Namun Irma menahan tanganku
"jangan nyerah mbak,aku pipis disitu aja" pinta Irma sambil menunjuk kesudut ruangan
"jangan sembarangan Ma" aku mengingatkan Irma namun ia tetap pada niatnya akhirnya ia pun berjongkok disalah satu sudut ruangan.
"ahh leganya" ucapnya sambil mengelus perutnya
"ihh jorok banget sih gak cebok"
"entar aja sekalian mandi mbak"jawabnya
akhirnya kami pun duduk kembali ditempat semula,namun aku merasa ada yang sedang menatap kerah kami,aku pun mengedarkan pandanganku mencoba melihat apakah memang ada yang sedang menatap kearah kami atau hanya perasaanku saja.
Semakin lama suasana semakin menyeramkan,bukan hanya suara-suara lagi yang kudengar,aku pun sempat melihat sekelebatan bayangan hitam besar melintas didepanku,bulu kudukku berdiri begitu pun dengan Irma wajahnya mulai menegang
"loe udah pucet Ma,kita keluar yuk"ajakku pada Irma
"gak usah mbak,aku masih berani kok"lagi-lagi ia menolak ajakan ku untuk menyerah
gubrakkkk
terdengar suara benda berjatuhan,aku dan Irma pun saling berpegangan tangan karena takut dan kaget
hiiii hiiiiii
lalu terdengar suara wanita tertawa melengking.
Dengkulku terasa lemas aku mengajak Irma untuk keluar namun lagi-lagi ia menolak.
Aku jadi bingung ada apa dengan Irma segitu penasarannya ia dengan mahluk-mahluk astral hingga ia pun memberanikan diri.
Padahal diwajahnya nampak ketakutan yang luar biasa namun ia tetap ingin menyelesaikan sampai dua jam.
"ahhhh..."teriakku kencang karena kaget ada yang memegang kakiku
"mbak ada yang megang tangan gw"ucapnya tanpa melihat kearah tangannya
"sama gw juga ada yang megang kaki gw Ma"ucapku setengah berbisik tak berani melihat kearah bawah
"udahan yuk ma" ajakku pada Irma dengan kaki bergetar karena takut
akhirnya tanpa aba-aba Irma berlari duluan menuju pintu sambil berteriak minta tolong.
Sedangkan aku masih ditempat semula,aku tak bisa menggerakkan kakiku seperti ada yang menahannya.
aku pun memberanikan diri untuk melihat kebawah dan "aaaaaaaa Irma tungguin gw"teriakku tanpa sadar karena aku melihat ada seorang wanita dengan wajah yang rusak dan berdarah-darah yang sedang menahan kaki ku sambil menyeringai seram kearahku.
Pintupun terbuka Irmanlangsung lari keluar namun saat Irma sudah diluar pintu itu tiba-tiba tertutup sendiri dengan aku yang masih berada didalam.
Tak lama kemudian aku mendengar suara wanita tertawa lagi namun kali ini terdengar begitu dekat seakan berada disebahku.
"heiii buka pintunya gw takuuut"teriakku sambil menggedor pintu sekencang mungkin
tiba-tiba lampu minyak yang tadi menyala kini padam entah kehabisan minyak atau ulah iseng para penunggu gudang yang ingin mengerjaiku.
"Dian....madammm buka pintunya plisss"teriakku lagi namun pintu itu tetap tertutup dan tak terdengar suara orang yang sedang membuka kuncinya
"ya Allah tolong aku,aku mau keluar dari sini"pinta ku pada Allah
Keringat semakin membasahi tubuhku hingga kaos yang kupakai basah seperti disiram.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah sambil menyender dibalik pintu dan berharap pintu itu dapat segera terbuka.
Karena takutnya tanpa sadar aku pun menangis apa lagi saat mataku melihat sesuatu yang berwarna putih yang terbang dan hinggap disalah satu lemari yang sudah tak terpakai gelapnya gudang ditambah sesuatu yang melayang tadi berwarna putih sudah pasti terlihat jelas kalau itu adalah sosok kunti dan tak lama kemudian terdengar suara tertawa yang berhasil membuatku semakin ketakutan.
Andai bisa memilih lebih baik saat ini juga aku pingsan dan baru sadar besok pagi namun itu hanya anganku saja nyatanya saat ini aku masih tersadar dan ketakutan setengah mati.
"Haii ...yang diluar plisss tolong buka pintunya"teriakku lagi dan berharap pintu itu terbuka.
Setelah menunggu beberapa menit pintu itu masih rapat tertutup,aku pun mulai lemas dan hanya bisa pasrah.
gubrakkkk
terdengar lagi suara benda-benda yang jatuh namun kali ini aku sudah tak perduli
__ADS_1
Sreeekkkk...
Sreeekkkkk...
kembali terdengar suara orang berjalan namun dengan kaki diseret semakin lama semakin mendekat kearahku
"ya Tuhan aku mau pingsan saja"pinta ku pada Allah
Namun lagi-lagi aku tak bisa pingsan sedangkan saat ini aku dapat melihat ada sosok wanita yang hanya badannya saja sebatas pinggang tanpa bawahannya sedang menatapku dengan tatapan yang menyeramkan.
Jantungku berdetak sangat cepat karena sebelumnya aku belum pernah melihat yang seperti ini.
Aku pun memejamkan mata tak ingin melihat sosok yang kini ada didepanku.
"maaf mbak kalau kami mengganggu,kami gak bermaksud ganggu"ucapku memberanikan diri dengan mata yang masih terpejam dan tangan yang masih memegang gagang pintu
"kalian sudah mengori tempatku"ucap hantu setengah badan tadi dengan nada marah
tiba-tiba aku ingat akan Irma yang tadi buang air kecil di sudut ruangan
"ma---maafin se---kali lagi ta---di temanku sudah gak tahan"ucapku pada hantu yang sedang marah itu
"aa tolong Nay...Nay takuuut"ucapku dalam hati berharap si aa mendengarku
aku ingat biasanya kalau aku sedang susah saat seperti ini a'Iwan bisa ngerasain juga
"ya Allah tolong aku" aku pun berdoa dalam hati semoga pintu ini bisa terbuka
aku pun membaca ayat-ayat suci yang aku hafal dan alhamdulillah tak lama kemudian terdengar suara
Kleek
aku pun mencoba membuka pintu sambil berucap "bismillahirohmanirohim" dan pintu pun terbuka
begitu pintu terbuka nampaklah wajah Dian dan Erni yang sudah berdiri didepan pintu.
Saking lemasnya akhirnya akupun terjatuh tak kuat berdiri.
Dian,madam Ripha dan Erni memapahku hingga duduk disebuah dipan kayu yang berada tak jauh dari pintu gudang lalu menyodorkanku sebotol air mineral aku pun langsung meneguknya sampai habis kerena memang tenggorokanku terasa kering.
Tak lama kemudian mbak Erni dan Tatipun masuk,dengan sigap Dian langsung mengunci pintu gudang itu.
"loe tadi liat apa Nay kok sampe lemes gitu"tanya Madam Ripha mulai penasaran
Sebetulnya aku ingin menjawab namun entah kenapa mulutku susah sekali untuk dibuka.
Sesaat suasana terasa hening "loe mah pada jahat banget masa gw dikunciin sendirian sih pas Irma keluar"protesku dengan suara yang masih lemah
Dian dan madam Ripha saling pandang seakan bingung dengan ucapanku
"lah kita gak ngonciin gw kira loe yang nutup sendiri" jawab Dian
"dihhh kok bisa ya ketutup sendiri"gumamku pelan
"lah terus didalem loe liat apa aja"kini madam Ripha mulai mengintrogasiku.
Aku pun menceritakan semua kejadian yang aku alami selama didalam gudang tadi.
Saat aku bilang Irma buang air kecil didalam Dian dan Ripha tertawa "kenapa kaga loe biarin aja dia ngompol kan lebih seru"ucap madam Ripha sambil tertawa lepas.
Karena asik mendengarkan ceritaku mereka sampai lupa kalau mbak Erni masih didalam gudang.
Suara geduran keras dipintu gudang menyadarkan kami bahwa masih ada dua orang lagi yang kini sedang ketakutan didalam sana.
Setelah membuka pintu gudang nampak wajah mbak Erni begitu pucat dan tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.
Kami pun menggotong tubuh mbak Erni dan membaringkannya di dipan yang tadi aku pakai sambil mengoles minyak aromatrapy dihidung mbak Erni dengan harapan agar ia segera siuman.
Setelah mbak Erni sadar kami pun masuk kedalam rumah tapi kali ini kami tidur bersama diruang tamu dengan menggelar karpet bulu.
Kami pun segera mengambil posisi tidur semuanya ingin berada ditengah tak ada yang mau dipinggir.
"Nay loe kan berani loe yang dipinggir ya"pinta Dian akhirnya aku pun mengalah sedangkan dipinggir yang satunya lagi madam Ripha.
Tak menunggu lama kami pun segera terlelap karena hari memang sudah hampir subuh.
Namun sial lagi-lagi aku dijahili oleh mahluk tak kasat mata.
Kali ini ada yang mengelitik kakiku,aku pun menariknya dan memasukan kedalam selimut namun kali ini selimutku yang ditarik kebawah.
"Asstagfirullah al aziemmm" aku pun istigfar menahan kesal karena kajahilan mahluk-mahluk astral yang ada di villa ini.
"untung besok udah pulang"monologku sambil berusaha kembali memejamkan mataku dan berharap hari segera pagi
__ADS_1