TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 382


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Radit yang merasa risih karena Karina terus saja mengikutinya bahkan saat ia sudah mencoba menghindar dari Karin namun gadis itu selalu saja ada cara untuk mendekatinya.


Sore ini Karin datang kerumah Radit dengan alasan ingin belajar membuat kue dari Mama Nayla.


"Ngapain loe kesini?" tanya Radit dengan nada tidak suka.


"Kan gw udah bilang kalau gw mau belajar buat kue sama calon mertua" jawab Karin dengan PDnya.


"Kalau mau belajar buat kue itu siang, kalo sore begini Mama gw udah cape, mending loe pulang aja" usir Radit.


"Dih kok ngusir sih, tante Radit ngusir aku tuh" ucap Karin mengadu pada Nayla


"Radit kamu gak boleh seperti itu, kalau ada tamu ya harus di suruh masuk dulu" ucap Nayla sambil tersenyum.


"Ayo sini Karin masuk dulu yuk" Nayla pun menarik tangan Karin dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.


"Wahh ada calon Kaka ipar, bawa coklat gak Kk Karin" Rania yang melihat Mama Nayla menggandeng Karin langsung menodong Karin dengan coklat.


"Maaf Ran, kk lupa, besok ya Kaka bawain cokelatnya" Karin tersenyum sambil duduk disebelah Rania.


"Ok janji ya, janji itu hutang" ucap Rania sambil tersenyum.


"Iya, ingetin aja kalau kk lupa"


"Sipppp" ucap Rania sambil mengacungkan jempolnya.


Mereka pun asik ngobrol sehingga Karin lupa dengan niat awalnya ia datang kerumah Radit.


Hampir jam 21.00 supir pribadi Karin datang untuk menjemputnya.


Sebenarnya Karin masih betah berlama-lama dirumah Radit.


Ia merasa begitu hangat disana, kedua orang tua Radit selalu mencurahkan begitu banyak kasih sayang dan perhatian untuk anak-anaknya.


Berbsi dengan keluarganya, Ayah dan Ibunya sibuk dengan urusan masing-masing hingga mereka tidak punya waktu untuk bersamanya.


Bertemu pun hanya lagi hari saja itu pun hanya sebentar sebelum akhirnya mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Sementara itu dirumah Karin hanya dengan bibi saja, bahkan ia sering merasa kesepian.


Setelah Karin pulang mereka pun langsung masuk kedalam kamar masing-masing.


Kini Kamar Rania dan Ardina sudah dipisah.


Mereka mempunyai kamar masing-masing, Nayla sengaja memisahkan mereka agar beberapa kejadian tidak terulang lagi.


Pagi hari saat disekolah Karin langsung menghampiri Radit yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Bareng ya Dit masuk ke kelasnya"


"Terserah kaki juga kaki loe mau bareng apa gak bukan urusan gw" jawab Radit dengan acuhnya.


"Kok loe galak banget sih Dit, gak kaya Rania sama Ardina" ucap Karin sambil pura-pura merajuk.


"Gw cowo, mereka cewe jelas aja beda" jawab Radit sinis


"Astaga loe ya makin gw kenal loe semakin jelas gw liat kalo loe itu galak" ucap Karin dan langsung mempercepat langkah kakinya hingga kini ia jauh berada didepan meninggalkan Radit.


"Katanya mau barengan, tapi malah dia yang jalan duluan" decak Radit.


Sementara itu di kelas Rania dan Ardina ada siswa baru pindahan dari kota kembang.


Fahri nama siswa baru itu, ia duduk disebelah Rania.


Berapa siswa wanita nampak terpesona oleh ketampanan Fahri.


"Ran ...Rania tukeran tempat duduk yuk" ajak teman Rania yang ingin duduk dekat dengan Fahri.


"Ogah.." jawab Rania


Ardina hanya tersenyum mendengar jawaban saudaranya itu.


Jam Istirahat pun tiba, Rahmat langsung menghampiri Rania dan Ardina dan mengajaknya untuk kekantin.


"Kita udah bawa bekel sendiri Mamat, loe aja sendiri kalo mau kekantin pake ngajak-ngajak,mending kalo dibayarin" ucap Rania


Namun baru saja beberapa langkah tangan Ardina yang satunya sudah ditahan oleh Rania.


"Kalian apa-apaan sih, sakit tau" ucap Ardina sambil meringis kesakitan.


"Lepasin gak Mamat, kasihan Ardina samape kesakitan tuh" Rania pun sedikit marah saat melihat Ardina yang kesakitan.


"Ih kalian apa-apaan sih berdua, Mat maaf ya kita mau makan bekal yang mama bawain aja, lebih baik kamu kekantin sekarang aja nanti keburu bel" ucap Ardina lembut.


"Iya sayang , ya udah maaf ya" Rahmat pun langsung melepaskan tangan Ardina.


"Kalo jadi cewe tuh yang lembut kaya Ardina, gak bar-bar kaya loe" ucap Rahmat sambil berlari keluar.


Tepat saat Rahmat hendak keluar pintu ia menabrak seseorang hingga keduanya pun terjatuh.


"Aaaawwww kenap sih di kelas aja pake lari-larian, bahaya kan kalo sampe kejadian begini" ucap cowo yang ditabrak oleh Rahmat yang ternyata adalah Fahri


"Sorry gw gak sengaja, abis gw dikejar-kejar sama cewe bar-bar tuh"Rahmat menunjuk ke arah Rania.


"Woiiii loe yang nabrak gw yang disalahin, ketauan banget loe itu cowo gak bertanggung jawab" sahut Rania tidak terima jika ia disalahkan.


Ardina pun tersenyum saja mendengar perdebatan antara Rania dan Rahmat.

__ADS_1


"Loe berdua kayanya cocok banget deh" ucapnya sambil tersenyum.


"Dih cocok dari mana?" Rania menatap Ardina .


"Ya itu kalo ketemu rame" jawab nya santai


"Dih dibelain malah jadi ngatain" sahut Rania kesal


Ia pun meninggalkan saudaranya sambil membawa bekalnya.


Ia pun keluar dari kelas dan duduk di bangku yang berada tidak jauh dari kelasnya.


Ia pun memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Nayla.


Ia sedikit heran kenapa makanan yang ia bawa cepat sekali habisnya, padahal ia makan pelan-pelan.


Seingatnya tadi masih ada beberapa potong kentang namun saat ia melihat kembali ketempat makan nya hanya tinggal satu.


"Kayanya tadi masih banyak, kok udah abis aja ya" batin Rania sambil melihat sekitarnya.


Ardina yang baru saja tiba ikut melihat seperti yang Rania lakukan.


"Loe lagi apa sih, nyariin siapa?" tanya nya heran.


"Gak nyari siapa-siapa cuma heran aja tadi kan ini kentang masih ada banyak pas gw liat lagi tau-tau tinggal satu" jawab Rania.


"Lah kok bisa?"


"Dih malah nanya, gw aja heran" jawab Rania.


"Loe masih laper? kita makan barenganan aja bekal gw" Ardina pun membuka bekal makan siangnya.


Mereka pun makan dengan sangat lahapnya.


Setelah selesai makan mereka pun kembali kekelas.


Rania merasa seperti ada yang mengikutinya, sebentar-sebentar ia melihat kebelakang namun tidak ada siapa-siapa.


Beberapa kali ia melakukan hal yang sama hingga akhirnya Ardina pun bertanya.


"Loe kenapa Ran?"


"Gw ngerasa kaya ada yang ikutin Ar, tapi pas gw liat kebelakang gak ada siapa-siapa" jawab Rania


"Cuma perasaan loe aja kali Ran" ucap Ardina berbohong, padahal ia pun merasakan hal sama, namun bedanya ia tidak mau membuat Rania khawatir.


"Bisa jadi sih, tapi kaya beneran Ar" ucap Rania.


"Udah gak usah di pikirin, kalaupun ada yang ikutin ya gak apa-apa asalkan gak ganggu aja" ucap Ardina santai.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam kelas dan tidak beberapa lama kami bel masuk pun berbunyi.


__ADS_2