
\=\=\=\= Selamat Membaca \=\=\=
Maaf jika masih banyak typo
Masa cuti Adit sudah habis dengan terpaksa ia harus kembali ke kota "C" .
Adit sudah rapi,ia pun duduk disamping Nayla,berat rasanya ia meninggalkan Nayla sendirian namun disatu sisi ia pun harus bekerja.
Wajah Nayla nampak sedih,sebetulnya ia sangat ingin Adit menemaninya namun ia tahu bagaimana peraturan kerja di PT,ia pun tak ingin egois dengan berat hati ia pun rela Adit kembali ke kota "C" duluan.
"Minggu depan aku kesini lagi yang dan aku ingin kamu sudah sembuh jadi kita bisa pulang bareng"ucap Adit sambil mengelus pipi Nayla yang nampak tambah tirus.
"iya" hanya itu kata yang keluar dari mulut Nayla.
"Kamu mau menunda pernikahan kita? ok aku setuju tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya?"Wajah Nayla nampak sedikit berseri begitu Adit bilang akan menunda pernikahan mereka.
"Semangat amat sih aku bilang mau ditunda?"sindir Adit
"Iya udah bilang apa syaratnya?"desak Nayla tak sabaran
"Aku mau kamu cepat sembuh Nay,aku gak tega liat kamu kaya gini,paling sekarang berat badan kamu cuma tinggal 40 kilo" ucap Adit sambil memegang pergelangan tangan Nayla yang begitu kecil
"jangan ngomongin berat badan deh Dit" Nayla cemberut karena memang berat badannya turun drastis.
"Syaratnya cuma itu Yang,aku mau kamu sembuh sebelum aku kesini lagi minggu depan trus aku juga mau berat badan kamu naik minimal 45 kilo"
"Ha...cuma itu syaratnya?"tanya Nayla seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Iya..cuma itu,gampang kan?"
"Aku pulang dulu ya yang,ingat apa yang aku bilang barusan ok" Ucap Adit lalu ia pun berdiri dan kemudian
Cupp
Adit mengecup sekilas bibir Nayla
"ihh kamu mah Dit suka banget sih maen cium aja"gerutu Nayla sambil memegang bibirnya
Adit hanya tersenyum mendengar umpatan dari Nayla.
"Udah siang aku pulang dulu ya Yang,inget kata-kata aku tadi"
Adit pun meraih tas kecilnya yang di simpan di bawah meja.
Nayla langsung menutup bibirnya dengan tangan saat wajah Adit mulai mendekat ke wajahnya.
Aditpun tersenyum melihat Nayla yang sudah siaga takut jika ia akan menciumnya lagi.
Adit menciun kening Nayla lumayan lama sebelum akhirnya ia pamit pulang.
Beruntungnya Puskesmas tempat Nayla dirawat terletak dipinggir jalan utama sehingga Adit hanya tinggal menyebrang jalan saja untuk menunggu bus yang akan membawanya ke kota "C".
Beberapa hari kemudian kesehatan Naylapun mulai membaik sampai akhirnya ia pun boleh pulang,ia masih tinggal dirumah Bibinya.
Entah kenapa hari itu Nayla memaksa untuk kembali padahal ia baru tiga hari keluar dari Puskesmas.
"Bi...boleh ya Nay pulang,nanti di bus juga Nay kan tidur sama aja kan"paksa Nayla pada Bibinya
"Tapi kan kamu gak ada temennya Nay,Bibi mah khawatir kalo kamu pingsan di bus kumaha"
"Ihh Bibi mah Nay udah sembuh,udah sehat"Nayla masih terus memaksa agar Bibinya mengijinkannya pulang.
Setelah drama antara Nayla dan Bibi akhirnya sang Bibi pun mengalah.
Setelah Nyala memasukan semua barangnya kedalam tas akhirnya ia pun pamit pada Mamangnya dan Ali,sedangkan untuk Haris ia hanya pamit lewan pesan WA.
Tak butuh waktu lama bus tujuan kota "B" pun melintas,Nayla pun naik karena bangku no 2 dibelakang supir sudah terisi terpaksa Nayla duduk dibangku paling depan.
Bus pun mulai melaju meninggalkan kota yang penuh kenangan untuk Nayla.
__ADS_1
Ia pun memejamkan matanya.
Entah kenapa perasaannya tidak enak,ia pun merasa gelisah.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak tidur ia mengeluarkan cemilan dari dalam tasnya.
Nayla asik memakan chiki sambil memainkan ponselnya saat sang kondektur/kernet meminta ongkos.
"ka mana Neng?"tanya sang kernet sambil menulis harga di karcis
Setelah membayar ia pun kembali asik dengan kegiatannya makan chiki dan mendengatkan musik lewat ponselnya.
Setelah bus meliuk-liuk serta melalui tanjakan dan turunan yang terkadang curam perut Nayla terasa seperti diaduk-aduk, ia pun menahan sekuat tenanga agar ia tak memuntahkan isi perutnya.
Setelah bus melewati Nagrek akhirnya perut Naylapun bisa diajak berdamai.
Namun lagi-lagi bus itu bermasalah,tiba-tiba bus berhenti pas diperlintasa kereta satu jalur.
Nayla mulai sedikit panik masalahnya bangku yang ia duduki posisinya pas di atas rel.
"Mang ini kenapa?"tanya Nayla pada sang supir
"Ada sedikit masalah Neng,tapi tenang aja gak apa-apa kok"ucap sang supir sambil melihat Nayla dari spion.
"Majuan dikit bisa gak mang,jangan pas direl"pinta Nayla pada sang supir.
Supir itu hanya tersenyum mendengar ucapan Nayla.
"Ihhh si Mamang mah bukannya jawab malah nyengir"ucap Nayla ketus
"Tenang aja Neng gak apa-apa kok cuma bannya aja sedikit kempes,itu lagi di cek dulu sama kerneknya"balas sisupir
Tak lama kemudian bus pun kembali melaju,namun tak lama kemudian berhenti kembali disebuah tambal ban.
Saat bus sedang mengisi angin Nayla dan beberapa penumpang turun sejenak untuk menghirup udara segar.
Setelah siap dan semua penumpang sudah naik bus pun kembali melaju,akhirnya Nayla pun bisa bernafas lega.
Saat bus sudah mendekat tiba-tiba saja orang itu berlari hingga sang supir menginjak rem mendadak lalu membanting stirnya kekiri namun naasnya disebelah kiri ada bus jemputan yang sedang terparkir.
Kreeeess
Itulah yang Nayla rasakan saat ban roda depan melindas sesuatu dan tak lama kemudian bus itu menabrak bus yang berhenti tadi sebelum akhirnya bus yang Nayla naiki pun berhenti.
Brughhhh
Aaahhhhhhh
Terdengar suara dentuman yang lumayan keras dan teriakan dari para penumpang tak terkecuali Nayla.
Ia memegang ujung jidatnya yang terasa basah ia pun mengusapnya dan ternyata cairan itu darah dari dahinya yang beradu dengan besi pembatas antara supir dan penumpang.
Ia pun mengedarkan pandangannya,ia melihat sang kernet yang tak sadarkan diri dan sang supir yang terjepit dibelakang kemudinya.
Nayla mengingat tadi sepertinya bus itu melindas sesuatu,ia pun melihat keluar jendela matanya membelalak lebar saat melihat ada tubuh yang tergeletak ditengah jalan.
"berarti yang tadi gw rasain itu bus ini saat ngelindes orang itu " batin Nayla ia pun ngeri sendiri.
Ia berusaha turun dari bus melalui pintu belakang,sebebarnya ia ingin menolong sang supir namun apa daya ia tak bisa.
Dengan darah yang masih mengucur dari dahinya ia pun berhasil turun dan duduk bersama para penumpang lainnya ditepi jalan.
Sementara itu orang-orang mulai berkerumun untuk menolong yang terluka dan yang tadi tertabrak entah dibawa kemana.
Jantung Nayla masih berdetak sangat kencang mungkin karena shok dan takut dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Ia terduduk lemas dibawah sebuah pohon dengan darah yang masih bercucuran dari dahinya.
"Neng pake ini biar darahnya berenti"ucap seorang pria yang memberikan sapu tangannya untuk Nayla.
Ia pun menempelkan sapu tangan itu didahinya yang masih mengeluarkan darah.
__ADS_1
Saat ia bersandar dibatang pohon ponselnya berbunyi,entah kebetulan atau apa Adit menghubunginya melalui VC.
"Hallo Assalammyalaikum"sapa Nayla sambil sedikit memiringkan ponselnya ke kanan agar Adit tidak melihat keadaanya saat ini.
"Wa'alaikum salam,kamu lagi dimana beib,kok kayanya dipinggir jalan?"tanya Adit yang mulai curiga
"Em...aku..aku..."
Nayla tidak meneruskan ucapannya karena tiba-tiba ada ssorang petugas yang mengahampirinya untuk segera ikut kerumah sakit terdekat.
Nayla lupa mematikan ponselnya hingga Adit dapat mendengar semua percakapan antara Nayla dan orang yang menghampirinya.
Perasaan Adit langsung tak karuan,ia pun langsung menghubungi Papa Nayla untuk memberitahu apa yang sedang terjadi dengan putrinya saat ini.
Sementara itu kini Nayla berada disebuah rumah sakit yang berada tak jauh dari tempat kejadian.
Karena kondisinya yang lemah selain ia kehilangan banyak darah dan juga ia belum pulih akhirnya ia harus kembali menjalani rawat inap.
Kini ia sudah berada diruang perawatan,Adit kembali menghubungi Nayla.
Jam 10 malam Adit dan Papa Nayla sampai durumah sakit yang dimaksud,dengan langkah yang terburu-buru akhirnya mereka menemukan ruangan Nayla.
"Kamu gak apa-apa kan Nay"tanya Papa Nayla begitu ia melihat putrinya kembali diranjang rumah sakit namun kali ini ditambah dengan perban dikepalanya.
"Gak apa-apa gimana sih Pah,kepala Nay bocor tau"gerutu Nayla
Nayla baru menyadari ternyata Ibu tirinya ikut.
Sebenarnya Nayla ingin tertawa namun ia tahan,Adit yang melihat Nayla seperti menertawakan sesuatu akhirnya mendekat.
"Kamu kenapa Yang,ada yang aneh sampe kamu mau ketawa gitu"bisik Adit
Nayla hanya diam karena Papanya saat ini sedang duduk disampingnya sambil membelai lembut kepala Nayla.
Saat Papa dan ibu tiri Nayla sedikit menjauh Nayla langsung tertawa,Adit yang melihat Nayla langsung tertawa mengira Nayla kembali kerasukan.
"Nay..Nayla..ini kamu kan?"tanya Adit bingung
"Dih iyalah ini aku emangnya siapa"Nayla langsung menghentikan tawanya dan mimik wajahnya langsung berubah.
"Maaf yang,aku kira kamu...."jawab Adit merasa bersalah
"ya gak lah Dit,rese ih.."
"Trus tadi kamu ketawa kenapa?"tanya Adit penasaran
"Emmm...itu emang istri barunya Papa dari kampung banget apa?"tanya Nayla
"Lah mana aku tau Nay,kan kamu anaknya"jawab Adit bingung
"Emang kenapa sih,kok kamu ketawanya kaya gitu"tanya Adit makin penasaran
"Itu masa masuk rumah sakit sendalnya dilepas sih,kan disini kotor ubinnya"ucap Nayla sabil menunjuk kearah ibu tirinya yang sedang menenteng sendalnya.
Aditpun baru tau karena ia tadi berjalan didepan jadi ia tidak melihat sesaat kemudian ia pun ikut tertawa.
Haii semua terima kasih sudah mampir diceritaku.
Dukung terus author ya dengan cara
- Like
- Vote
- Rate dan juga
- Kritsarnya author tunggu
Salam maniss
Amellajj/author
__ADS_1