
🌻🌻🌻 Selamat Membaca 🌻🌻🌻
Siang itu Adit sedang mempersiapkan semua yang akan ia bawa besok.
Nayla memperhatikan suaminya sambil tersenyum.
" Dit besok kan kamu ke Jakarta ya masa aku gak diajak sih"
" Kamu masih sakit yang, mending kamu istirahat aja biar cepet sehat trus kita..." Adit tersenyum dengan tatapan jahilnya.
"Kita apa?" tanya Nayla yang penasaran
" Ya..kita bikin dede lah Nay jadi nanti pas aku balik ke sini perut kamu udah..." Adit memperagakan perut ibu hamil didepan Nayla.
Nayla menelan ludahnya kasar, ia mengerti apa yang di maksud oleh suaminya itu.
" Emmm aku kayanya sakitnya sampe minggu depan aja deh Dit"
" Ha...ha mana ada sakit di rencanain kaya gitu sih Yang " Adit tertawa sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa
" Gak lucu tau..." ucap Nayla tanpa ekpresi sambil terus menggigiti kukunya.
" Oh..iya yang kamu emang sakitnya sampe pas aku berangkat loh kan malemnya kita bikin dede ya trus pastilah paginya kamu sakit yang..."
" Ha...kok gitu sih? emang bikinnya gimana kok sakit trus kenapa mesti malem" tanya Nayla dengan polosnya
" Udah ahh gak usah bahas itu sama kamu mah mending langsung aja prakteknya" Adit langsung mendekat dan memeluk istrinya yang membuatnya geregetan.
" ih..jangan maen peluk aja napa Dit malu tau ada aa sama Haris juga" protes Nayla sambil mendorong tubuh Adit agar menjauh.
" Assalammualaikum" terdengar suara seseorang yang memberi salam.
Lilispun langsung keluar untuk melihat siapa yang datang.
" A..itu didepan ada Ayahnya Ina" dengan ragu Lilis memberitahukan ke datangan Pak Aam ayah Ina.
Adit melihat kearah a' Iwan.
" Udah temuin aja" jawab a'Iwan seakan tau apa yang di pikirkan Adit.
Aditpun menuju kedepan sedangkan Nayla memegang tangan a' Iwan erat ia merasa takut.
" Kalemm wee atuh Nay, gak akan ada apa-apa" a' Iwan mengelus tangan Nayla yang melingkar di lengannya berusaha menenangkan Nayla yang sedikit bersembunyi di belakang badan si aa.
Tak lama kemudian Adit masuk di ikuti Pak Aam di belakangnya.
Nayla makin menyembunyikan tubuhnya di balik badan aa
Adit yang melihat sang istri ketakutan langsung duduk disebelah Nayla
" Gak apa-apa yang, Pak Aam kesini cuma mau minta maaf soal yang kemarin, dan dia juga mau minta maaf sama kamu yang" Adit berusaha menjelaskan kedatangan Ayah Ina dan membujuk Nayla agar mau memaafkan mereka.
Pak Aam nampak begitu merasa bersalah ketika melihat wajah polos Nayla.
" Neng maafin bapak ya, bapak terlalu egois, bapak hanya ingin anak bapak bahagia tanpa mikirin perasaan nak Adit sama Neng, sampe bapak khilaf " Ucap Pak Aam dengan penuh penyesalan
Lilis yang datang sambil membawa beberapa gelas kopi dan cemilan kemudian ikut bergabung begitupun dengan kedua orang tua Adit.
Mereka berbicara dalam bahasa sunda.
Disitu hanya Nayla yang gak ngerti dengan apa yang mereka bicarakan.
" Dit ada transletnya gak" bisik Nayla ditelinga suaminya
" Tar aku terjemahin ya tapi dikamar aja nerjemahinnya" Adit tersenyum sambil mengecup pipi Nayla sekilas
" Ihh gak tau malu amat sih" protes Nayla karena Adit mencium pipinya didepan banyak orang.
__ADS_1
" Jadi Ina sekarang masih koma Pak" tanya" Adit yang kini mulai memasang wajah serius.
" Iya nak Adit,maka dari itu Bapak kesini atas nama Ina mau minta maaf pada keluarga di sini dan khususnya Neng Nay" ucap Pak Aam dengan raut wajah sedih
" Ina kenapa Dit?" tanya Nayla yang baru nyambung dengan apa yang mereka bicarakan
" Ina kecelakaan Yang dan sekarang dia masih koma" jawab Adit
" Kok bisa sih" tanya Nayla lagi
" Udah takdir Nay, mending sekarang kita doain aja yang terbaik buat Ina" ucap a' Iwan lalu merekapun membaca doa meminta diberikan yang terbaik buat Ina.
" Dit kita besuk Ina yuk.." ajak Nayla
Adit manatap Nayla
" Kamu kan masih sakit Nay, emang kuat rumah sakitnya jauh" lanjut Adit dan Nayla pun tersenyum " aku kuat kok Dit"
" Ya udah nanti sore kita kesana bareng-bareng ya" ujar Adit sambil mengelus lembut rambut Nayla.
Pak Aam yang melihat sikap lembut Adit baru menyadari kalau Adit betul-betul sangat menyayangi gadis didepannya ini.
Pak Aam pun pamit pulang dengan nafas lega karena keluarga Adit dan Nayla sudah memaafkannya dan ia pun dapat langsung bertatap muka dengan orang yang telah mengalahkannya kemarin malam.
Sore harinya mereka sudah rapi hendak ke rumah sakit.
Nayla yang sudah menunggu di depan mobil nampak begitu cantik dengan hanya memakai celana jeans panjang dan kaos tangan pendek.
Ia menyandarkan tubuhnya di depan mobil sambil memainkan ponselnya.
Tanpa Nayla sadari dari kejauhan Anto sedang menatapnya kagum
" kamu cantik banget sih Nay, aku gak perduli kamu udah punya suami atau belum . Kamu harus jadi milik aku " Gumam Anto yang merasa kesal saat melihat Adit keluar dari rumah dan merangkul Nayla sebelum akhirnya mereka masuk kedalam mobil.
Anto yang mendapat laporan dari orang kepercayaannya tentang kepergian Adit untuk bekerja tersenyum bahagia akhirnya ia mempunyai kesempatan untuk mendekati Nayla saat Adit pergi nanti.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya merekapun sampai di rumah sakit.
Mereka hanya mengintip melalui kaca kecil yang terdapat di pintu masuk.
Adit tertegun melihat kondisi Ina, entahlah apa yang ada dalam pikiran Adit saat ini namun jelas terlihat kesedihan di wajahnya.
Nayla yang menyadari hal itu menepuk bahu Adit.
" Kamu masuk aja Dit, kan ini jam besuk biasanya boleh masuk tapi satu-satu"ucap Nayla lembut
" Sayang...aku..." Adit nampak tak dapat lagi menahan kesedihannya...
Nayla berusaha menahan air matanya agar tak menetes, ia tak ingin Adit tahu kalau hatinya sakit mendapati ternyata Adit masih menyimpan rasa pada mantannya.
" Udah masuk aja Dit, aku gak marah kok"
Akhirnya Aditpun masuk, Nayla menyandarkan tubuhnya di dinding sambil mengeluarkan ponselnya mencoba mengalihkan pikirannya.
A' Iwan yang melihat dan memahami gadis itu menghampirinya.
" Jangan cemburu Nay, da si Adit mah cuma kasian aja, belajar percaya sama suami" ucap A' Iwan seakan tau apa yang ada dalam pikiran gadis itu saat ini.
" siapa yang cemburu sih a,, Nay cuma kasian aja ama Ina" jawab Nayla namun tak berani menatap wajah aa
Saat Nayla menghindar dari tatapan aa tanpa sengaja ia melihat sosok anak kecil itu lagi namun kali ini wajahnya sedikit ceria.
Sosok itu tersenyum kearah Nayla
" A..aa...anak itu ada disini a" Nayla memukul-mukul lengan aa memberitahu sosok yang waktu itu mengganggunya.
" Gak apa-apa Nay dia cuma mau bilang terima kasih" jawab si aa santai
__ADS_1
" Terima kasih?" ulang Nayla
" Ihh otak na si teteh mah gak nyampe a dikasih tau juga malah bikin cape.." Haris yang dari tadi diam tiba-tiba ikut menimpali.
" Biarin wee " balas Nayla sambil menjulurkan lidahnya ke arah Haris.
Karena merasa lama akhirnya Nayla pun kembali melihat dari kaca apa yang sedang di lakukan oleh Adit di dalam.
Saat Nayla melihat kedalam hatinya sedikit berdesir sakit saat melihat Adit sedang mengelus dahi Ina.
" Gw yang nguruh masuk gw juga yang sakit hati, mending cari jajanan aja dah" Nayla bermonolog sendiri lalu pamit pada orang tua Adit hendak keluar mencari minum.
Mata Nayla berbinar saat melihat tukang batagor, ia melupakan sejenak rasa sakit di hatinya, ia pun segera menghampiri tukang batagor dan memesannya.
Naylapun duduk di sebuah bangku tak jauh dari pintu masuk sambil menikmati batagor.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata Damra yang menelponnya.
" Hallo Ra..Assalammualaikum"
......
" Iya gw masih di kampungnya Adit"
.....
" Apa ? nyariin gw? ngapain?"
......
" Biarin aja dah, gak tau gw kapan baliknya Ra.."
.....
" Tapi loe gak ngasih tau Rian kan kalo gw disini..."
Tiba- tiba ada yang merampas ponsel Nayla.
Naylapun langsung melihat kebelakang, ternyata Adiy sudah berdiri di belakangnya sambil memegang ponsel Nayla.
" Dit aku lagi ngobrol sama Damra" Nayla yang kesal berusaha mengambil ponselnya.
" Ayo pulang" Adit menarik kasar tangan Nayla menuju mobilnya.
" Pelan-pelan dong sakit tau" Nayla meringis menahan panas di pergelangan tangannya.
" Ihh..kamu tuh kesambet ya, keluar dari ruangan itu kok malah marah sih" gerutu Nayla sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Adit yang mulai terasa perih di pergelangan tangannya.
" Adit sakit .."
" Lepasin sih aku juga bisa jalan sendiri" maki Nayla sambil terus berusaha melepaskan cengkraman Adit.
Entahlah Adit langsung tersulut emosinya begitu Nayla menyebut nama Rian hingga tanpa ia sadari jika ia telah melukai gadis itu.
Adit melepaskan genggamannya saat sampai di mobil, tanpa menunggu lagi Nayla langsung masuk dan duduk di bangku paling belakang.
" Loh kok di belakang Nay, didepan aja" sapa Ayah Adit saat membuka pintu dan melihat menantunya sudaj duduk manis di bangku paling ujung
" Nay mau tidur Pak jadi mending disini duduknya" jawab Nayla sambil tersenyum manis.
" ya udah ditengah aja kalau gitu" timpal a' Iwan
Adit yang tau kalau Nayla sedang kesal hanya diam saja, ia merasa bersalah karena sudah marah tak jelas pada Istrinya.
**Udah dulu ya....
jangan lupa tetep dukung Author
__ADS_1
Salam Maniss
Amellajj/authorr**