TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 251


__ADS_3

๐Ÿ๐Ÿ๐ŸSelamat Membaca๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Setelah menepuh perjalanan 6 jam lebih akhirnya sore hari Nayla tiba di kota "B".


Nayla merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara kota B yang sangat ia rindukan.


"Akhirnya aku kembali ke sini" gumannya lalu berjalan keluar terminal menunggu angkot yang akan mengantarnya kembali kerumah.


Namun saat melintas di sebuah supermarket ia pun singgah sebentar untuk membeli roti dan minuman karena cacing dalam perutnya sudah meronta minta di isi.


Nayla duduk dipinggiran supermarket sambil menikmati roti yang ia beli barusan.


Air matanya mengalir begitu saja saat ia ingat dulu sering melewati jalan yang ada didepannya dan seperti dejavu ia dulu juga sering makan roti sambil duduk ditempat ini bersama Adit.


Nayla menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.


"Semoga keputusanku gak salah, aku harap ini yg terbaik" batin Nayla


Akhirnya Naylapun menghentikan angkot yang melintas didepannya.


Saat melewati perlintasan kereta ia pun ingat dulu sering bersenda gurau dengan Adit saat menunggu palang pintu kereta terbuka.


Air matanya kembali mengalir, supir angkot sekilas melirik kearah Nayla.


"Ngapa neng kok nangis" ucap supir angkot sambil memperhatikan wajah Nayla.


"Gak apa-apa bang kena debu tadi" jawab Nayla berbohong.


"Neng nama loe Nayla bukan?" tanya si abang supir.


"Iya, kok tau bang?" tanya Nayla


"Lah..masa lupa lu ama abang, dulu waktu smp kan abang supir jemputan loe neng"


Nayla mencoba mengingat-ingat wajah sang supir.


"Oh..iya aku inget bang Otek ya supir jemputan aku" Nayla tersenyum lalu merekapun hanyut mengenang masa lalu saat Nayla masih smp.


Hingga tak terasa Naylapun sudah sampai.


"Makasih ya bang"ucap Nayla saat ia turun dari angkot.


Setelah berjalan sebentar Naylapun sampai dirumahnya.


Rumah yang penuh kenangan saat bersama Mamanya.


"Woiii masih inget lu ama rumah loe" suara nyaring yang tak asing buat Nayla.


"Kenapa gw disambut ama si Nensi sih" gerutu Nayla saat melihat Susi mendekat


"Ehh Gonay..pura-pura budek loe" Susi langsung mengikuti Nayla masuk kedalam rumah.


"Lah??? ngapain loe ikut masuk" tanya Nayla pada sobat kecilnya yang sedikit gak punya perasaan.


"Ya gw kangen lah ama loe, pengen denger cerita loe tinggal dikampung enak apa gak" Susi terus saja nyerocos.


"Mending loe bawain gw makanan Si, Ma Neneng masak apa,gw minta dong" Nayla yang merasakan perutnya tak nyaman mengira hanya lepar karena ia tadi padi hanya minun susu dan makan roti saja.


Empok yang baru pulang dari pengajian langsung memeluk erat Nayla.


"Ngapa gak bilang-bilang sih Neng kalo mau balik kesini biar Empok masakin" ujar Empok yang begitu senang melihat Nayla.


"Lakilu mana kaga ngikut dia" tanya Empok yang tak melihat keberadaan Adit.


"Oh..itu Pok Adit lagi ngurusin empangnya" jawab Nayla kikuk.


"Pokk laperr" rengek Nayla


"Iya Neng bentar ya, Empok gorengin dulu ayamnya" Empok langsung menuju dapur sedangkan Nayla istirahat dikamar.


Ia merasakan perutnya sakit, Nayla memiringkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman.


"Aaawww sakittt" rintih Nayla saat merasakan perutnya seperti ditusuk-tusuk.


Empok yang baru masuk langsung terkejut melihat Nayla yang meringkuk sambil merintih.

__ADS_1


"Nay...kamu kenapa, apanya yang sakit Neng" nampak kekawatiran di wajah Empok.


"Maaf Nay, ini pasti gara-gara kelama'an ya empok masak nya" sesal si Empok


"Gak pok kemarin Nay abis keguguran, ini pasti efek samping dari kuret kemarin" tutur Nayla pelan.


Empok yang panik langsung kerumah Susi untuk meminta bantuan pada Mama Neneng.


MamaNeneng pun membawa Nayla periksa di klinik dekat rumah.


Setelah diperiksa dan hasilnya Nayla yg belum pulih benar dianjurkan untuk beristirahat total.


Sementara itu di kota Tasik Jawa Barat Adit yang baru saja pulang dari rumah orang tua Ina nampak bingung mencari keberadaan Nayla.


Ayah dan Ibu Adit sudah kembali ke kota untuk bekerja, sedangkan Lilis tadi meminta ijin untuk menginap di rumah temennya.


"Nay..."


"Nayla..."


Adit membuka satu persatu pintu ruangan dirumahnya namun ia tak juga menemukan keberadaan Nayla.


Adit pun menghubungi ponsel Nayla namun tak di angkat.


"Kemana sih kamu Nay.." Adit mulai kesal ia mundar-mandir diteras depan rumahnya.


Nayla yang tau jika Adit menghubunginya berkali-kali berusaha acuh, ia hanya melirik layar ponselnya.


Akhirnya ponselnya pun berhenti berdering.


ting...


bunyi notifikasi bertanda ada pesan masuk


Adit "


"Kamu di mana Nay, kenapa belum pulang ini udah malem"


Nayla :


Adit :


"Angkat telp aku Nay, aku mau bicara"


Nayla :


"Maaf aku cape"


"Met malem"


Nayla langsung mematikan ponselnya, ia tak mau Adit terus mengganggunya.


Akhirnya Naylapun tertidur, lagi-lagi ia bermimpi bertemu Ina dengan kondisi yang sama.


Matanya nampak mengeluarkan darah serta lidahnya banyak luka.


"Mau kamu apa sih Na, aku udah ninggalin dia buat kamu, tapi kenapa kamu masih saja gangguin aku" ucap Nayla yang kesal pasa sosok yang menyerupai Ina.


Seminggu sudah berlalu sejak kedatangan Nayla kambali di kota "B".


Jangankan untuk menyusulnya, menelpon pun tidak Adit lakukan.


Sakit rasanya hati Nayla, ia pun sudah siap dengan segala kenungkinan terburuknya yaitu bercerai.


Hari ini Nayla bertekad akan kembali ke salon Damra untuk menyibukan diri agar sejenak ia lupa dengan permasalahannya.


Setelah memarkirkan motornya Nayla langsung masuk kedalam salon.


Krincingg


suara krincingan yang tergantung di pintu masuk.


"Assalammualaikum"


Damra yang sedang duduk disofa langsung berdiri lalu memeluk Nayla.

__ADS_1


"Kok loe gak ada kabar sih Nay, gw kangenn" ucap Damra sedikit lebay


"Sama Ra gw juga kangen ama loe" Nayla membalas pelukan Damra dan tanpa terasa air matanya kembali bergulirr.


"Nay..kok loe nangiss sih" Damra langsung melepaskan dekapannya dan menatap wajah Nayla yang sudah basah dengan air mata.


Naylapun menceritakan apa yang ia alami selama disana.


Tanggan Damra mengepal menahan kesal saat Nayla bilang ia keguguran gara-gara Adit sedikit mendorongnya.


Karena kakinya yang belum pulih benar makanya ia tak dapat menahan saat Adit sedikit mendorongnya hingga ia pun terjatuh.


"Trus sampe sekarang dia gak hubungin loe" tanya Damra sedikit emosi


Nayla hanya menganggukan kepalanya.


"Tuh tempat fitness loe aja Nay yang ngelola" saran Damra


"Gak lah Ra, itu kan punya Adit gw gak ada hak buat ambil alih" tolak Nayla.


"Tapikan loe istrinya Nay"


"Aku gak kekurangan uang Ra, aku hanya butuh kesibukan aja biar gak selalu inget dia" ujar Nayla berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Damra langsung memeluk erat Nayla seakan ia ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.


"Nay..dah lama kita gak beli sofell, ayo kita jajan level 10 ya, yang kalah yang bayar" tantang Damra.


Awalnya Nayla nampak ragu ia ingat ia baru saja keguguran.


Namun saat Nayla melihat sofell dengan level 10 yang super pedas akhirnya Naylapun tergiur juga ia pun menerima tantangan Damra.


Ia berharap rasa pedas dari sosis bakar yang ia makan akan sedikit meringankan beban pikirannya.


Hari itu Nayla pulang cukup larut.


Setelah membersihkan diri ia pun merebahkan diri dan tak lama kemudian ia terlelap.


Tengah malam Nayla terbangun saat ia mendengar suara orang yang menangiss.


Alangkah terkejutnya Nayla saar melihat soaok Ina sedang menangis.


"kenapa kamu ikutin aku teruss sihh" ucap Nayla kesal sambil memberanikan diri berbicara pada sosok Ina yang terus menghantuinya.


"Nayy tooolloongg akku" ucap sosok itu dengan suara yang membuat bulu kuduk Nayla berdiri.


"Gak mauuu" tolak Nayla sambil membuang muka tak mau menatap kearah sosok itu


"Tolong aku Nay...aku menderitaaa" suara sosok itu begitu terdengar menyayat hingga semua bulu-bulu halus ditangan dan tubuh Nayla meremang.


"Akku gakk mauu dengarrr" Nayla menutup kedua telinganya


"Nayyylaaa...aku akan terus menghantuii kamu sampai kamu mau menolong aku" ancam sosok itu


Sejenak Nayla nampak berpikir " Ya udah aku mau bantuiin tapi abis ini jangan ganggu aku lagi"


"Kamu mau minta tolong apa?"tanya Nayla masih memberanikan diri


"Tolong lepasin susuk di mata sama bibir aku" pintanya


Nayla yang mendengarnya tanpa sadar langsung memandang kearah sosok yang sedang menangis itu.


"Ya udah aku bantuin, sekarang kamu pergi aku mau tidur" usir Nayla dengan sok beraninya.


"Terima kasihh Nay" lalu tak lama kemudian sosok itu pun menghilang .


Naylapun menarik nafas lega dan kembali merebahkan diri.


**Sampai sini dulu ya guys laanjut besokk


jangan lupa vote, like dan komennya


Salam Maniss


Ameellajj/authorr**

__ADS_1


__ADS_2