TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 392


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Setelah hari itu hubungan Rania dan Fahri semakin dekat begitu juga dengan Rahmat dan Ardina.


Sementara itu Karina masih terus berusaha mendekati Radit namun hubungan mereka hanya sebatas teman dekat karena Adit dan juga Nayla belum mengijinkan mereka untuk berpacaran jika usia mereka belum genap 17 tahun


Tanpa terasa kedua gadis itu pun kini sudah SMA dan Radit pun susah kuliah namun ia masih belum mau memiliki pacar karena menurut Radit ia belum bisa apa-apa setelah ia berhasil nanti dan mempunyai usaha sendiri baru ia akan memikirkan pasangan hidup.


Namun tidak dengan Ardina, setelah usianya 17 tahun nanti ia memiliki seorang kekasih ada Rahmat yang masih menunggunya, walaupun terkadang Rahmat masih bimbang antara Rania atau Adina.


Menjelang liburan nanti kelas mereka akan mengadakan liburan bersama di sebuah Villa milik salah satu teman mereka.


Awalnya Nayla tidak mengijinkan kedua gadis itu untuk ikut karena dia khawatir dengan Rania yang terkandang suka berbuat aneh dan melihat sesuatu, namun Adit membela keduanya dan mengijinkan kedunya untuk ikut liburan dengan alasan agar bisa lebih mandiri.


Karena perbedaan pendapat dengan Adit, Naylapun kesal beberapa hari ia mendiamkan suami nya, namun walaupun begitu ia tetap memenuhi segala kebutuhan Adit.


"Pah, mama Nay masih ngabek ya" tanya Rania sambil tiduran disebelah Papanya.


Hmmm


"Biarin aja nanti juga kalo kalian udah pada liburan dia bakal baikin papa kok" ucap Adit dengan sangat PD nya.


Nayla yang mendengar ucapan suami nya langsung menoleh "gak akan aku mau baikin kamu Dit, aku berani kok sendirian" ucapnya lagi.


Adit dan anak-anaknya hanya tersenyum mendengar ucapan Nayla.


"Kita lihat saja nanti yank" jawab Adit sambil tersenyum.


Tersirat sebuah ide jahil untuk Nayla saat anak-anaknya nanti pergi.


"kamu tunggu aja sayang sampai mereka pergi dan hanya ada kita berdua" batin Adit.


Hari itu pun tiba, semua sudah mereka persiapkan dari tadi malam dan saat Fahri menjemput mereka semua tinggal masuk kedalam bagasi mobil.


Setelah pamit kepada kedua orangtuanya mereka pun segera menuju sekolah karena mereka akan berangkat dengan menggunakan bus yang telah mereka sewa.


Setelah semua naik, bus pun mulai melaju menuju lokasi.


Rania yang duduk bersama Ardina sedangkan Rahmat duduk bersama beberapa siswa pria lainnya dibangku paling belakang begitu juga dengan Fahri.


Selama dalam perjalanan Rania sibuk dengan cemilannya sambil mendengarkan lagu di ponselnya.


Setelah lebih dari empat jam perjalanan mereka pun tiba di Villa sekitar daerah Ciwidey.


Saat mereka tiba kabut turun lumayan tebal menambah hawa semakin dingin.


Beruntung mereka membawa jaket yang lumayan tebal sehingga dapat mengurangi sedikit rasa dingin.


Setelah membagi beberapa kamar mereka pun beristirahat sejenak.


Karena udara yang begitu dingin hari itu mereka hanya diam di Villa sambil membuat acara.


Setelah makan malam mereka pun berkumpul di ruang tengah yang cukup luas.


"Udaranya dingin banget ya, gw jadi mau pipis terus, anterin yuk Ar"


Rania langsung menarik tangan saudaranya itu menuju kamar mandi yang ada diruang tengah, namun saat tiba disana ternyata ada orangnya.


Karena sudah tidak tahan Rania pun menarik tangan Ardina menuju kamar mandi yang ada di belakang dekat dapur.


Memang kamar mandi itu lebih sepi karena letaknya yang memang berada di belakang.


Rania pun langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Tungguin ya Ar, awas ya jangan ditinggal" ucap Rania sebelum masuk.


Hanya butuh beberapa menit akhirnya Rania pun membuka pintu dan melihat Ardina masih menunggunya didepan pintu.


"Loe mau pipis gak, biar sekalian" tanya Rania


Ardina hanya menggelengkan kepalanya.


"Loe kenapa sih, kaya lagi sariawan aja ditanya cuma manggut kalo gak geleng doang" ucap Rania


Ardina hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.


Mereka pun kembali keruang tengah, ketika tiba disana Rania mengerut kan dahinya saat melihat Ardina sedang ngobrol bersama dengan beberapa temannya.


"Dih loe kok udah disini aja, lewat mana tadi?"tanya Rania heran.


Ardina dan beberapa teman mereka pun sama seperti Rania.


"Dari tadi gw disini Ran, kenapa emangnya?" tanya Ardina.


Karena tidak ingin membuat teman-teman takut Rania pun langsung meralat ucapannya.


"Gw salah liat kayanya tadi" ucap Rania sambil tersenyum.


"Gw kekamar duluan ya" pamit Rania tanpa menunggu jawaban dari Ardina ia pun langsung menuju kamar yang ia tempati bersama sepuluh temannya.


Didalam kamar ia terus memikirkan kejadian yang baru saja ia alami, seingatnya itu memang saudaranya Ardina tapi kok bisa ketika ia tiba disana saudaranya itu sedang bersama temannya.


"Apa itu...." batin Rania tidak berani melanjutkan karena ia ingat dengan yang dikatay oleh Kakanya "jika ia memikirkannya hal ghoib itu sama saja memanggilnya"


Rania pun berusaha untuk memejamkan matanya dan membuang pikiran tentang mahluk tidak kasat mata.


Ardina yang tau jika ada yang tidak beres dengan saudaranya langsung menyusul Rania kedalam kamar.


Baru saja Rania hendak memejamkan matanya tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Ardina pun langsung masuk menghampiri Rania.


"Loe gak apa-apa Ran?" tanya Ardina.

__ADS_1


"Ini orang apa bukan" tanya Rania takut jika hal sebelumnya terulang lagi


"Ish apaan sih loe,. ini gw Ardina"


"Berarti loe orang Kan bukan itu ..." tanya Rania masih tidak percaya.


"Apaan sih loe Ran, ya gw orang lah loe kira apa hantu?" jawab Ardina sedikit kesal.


"Bukan begitu Ar masalahnya tadi gw..."


"Apa?" tanya Ardina mulai penasaran.


Rania pun menceritakan kejadian yang baru saja ia alami saat ke kamar mandi barusan.


"Dih dari tadi itu gw lagi ngobrol sama anak-anak soal rencana besok yang mau main ke kawah putih" jawab Ardina.


"Pantesan aja loe gw tawarin mau pipis gak cuma diem aja"


"Iya lah itu bukan gw"jawab Rania.


"Ish baru juga nyampe udah disambut sama yang begitu sih" ucap Rania kesal.


"Tidur ajalah males juga jadinya" Rania pun langsung mengambil selimut dan menutup tubuhnya dengan satu lembar selimut.


"Loe gak mau ikut gabung ngobrol sama yang lain dulu" tanya Ardina.


"Gak lah, gw disini aja" jawab Rania


"Yaki" tanya Ardina sambil melangkah keluar.


"Kalo disini berarti gw sendirian dong, terus nanti ada...."


Rania pun langsung melemparkan selimut yang ia pakai dan berlari menyusul Ardina.


Sementara itu dirumah Nyala masih saja diam ia hanya akan menjawab jika Adit tanya.


Seperti saat ini, saat makan hanya berdua saja.


Kedua anak gadisnya ada acara sedangkan Radit sibuk bersama teman-temannya juga.


Hanya ada mereka berdua di rumah.


"Nay..." panggil Adit


hmmm


"Masih ngambek" tanya Adit lagi


"jawab aja sendiri" ucap Nayla masih dengan nada ketus.


Ha. ha...


Ia jadi ingat saat mereka masih pacaran, semakin Nayla ngambek semakin Adit merasa gemas seperti saat ini.


"Sayang kita nostalgia yuk, mumpung gak ada anak-anak" ucap Adit


"Gak mau, kamu aja nostalgia sendiri"


"Dih mana bisa nostalgia sendirian yank" ucap Adit.


"Ayo dong sayang, kita naik motor yang dulu sering kita pakai" bujuk Adit


"Gak mau ish gak usah maksa sih" ucap Nayla kesal.


"Ya sudah kalau gitu kita di kamar aja " ajak Adit yang langsung menarik tangan Nayla untuk masuk kedalam kamar mereka.


"Adit apaan sih, aku mau cuci piring dulu, terus beres-beres" tolak Nayla kesal.


Adit tidak menghiraukan Nayla yang terus berusaha menghindar darinya.


Sementara itu di Villa tampat kedua anak gadis mereka menginap Rania nampak sedang memperhatikan sesuatu.


Sementara Ardina sedang sibuk membahas untuk acara mereka besok.


Bukan Rania namanya jika ia tidak penasaran dengan hal yang baru ia lihat dan menurutnya aneh.


Seperti saat ini ia memperhatikan sebuah benda yang baru saja ia lihat.


Sebuah pedang yang sarungnya berukiran seekor ular naga.


Ia merasa seperti ada yang menariknya untuk mendekat.


Fahri yang dari tadi ternyata memperlihatkan Rania langsung mendekati nya saat merasa gadis itu mulai terlihat aneh.


Rania merasa ingin menyentuh pedang itu, ia pun berniat untuk mengambilnya.


Namun saat tangannya ingin menyentuh pedang itu tiba-tiba saja Fahri datang.


"Ran jangan di pegang" ucap Fahri melarang Rania.


"Gw juga gak tau RI kaya ada yang narik gw buat ambil pedang itu" jawab Rania.


"Daripada disini ayo mendingan kita keluar aja " karena merasa ada yang tidak beres dengan benda itu Fahri pun mengajak Rania untuk menjauh.


Ia mengajak Rania keluar dari ruangan itu, mereka keluar dan ikut bergabung bersama yang lain yang sedang asik membakar jagung dan beberapa makanan yang mereka bawa.


Fahri pun mengambil beberapa buah sosis dan otak-otak yang sudah matang lalu memberikannya kepada Rania.


Mereka asik ngobrol hingga larut malam.


Karena udara terasa semakin dingin Rania pun akhirnya minta ijin untuk tidur duluan.

__ADS_1


Saat ia masuk kedalam kamarnya ada beberapa temannya yang sudah tidur lebih dahulu.


Karena tidak tahan dengan udara yang begitu dingin Rania pun langsung menarik selimutnya dan merebahkan dirinya di sebelah temannya.


Karena begitu mengantuk Rania pun langsung terlelap.


Dalam mimpinya saat ini Rania sedang berada disebuah hutan dengan kabut yang sangat tebal hingga ia tidak dapat melihat terlalu jauh.


"Ar...Ardina loe dimana sih" teriak Rania yang kesusahan untuk melihat jalan hingga beberapa kali ia tersandung.


"Fahri....Mamat , Kalian dimana sih kok pada ilang semua" teriak Rania lagi sambil berharap salah satu dari mereka dapat mendengar suaranya.


Semakin jauh ia berjalan semakin tebal kabut yang turun hingga ia merasa begitu dingin hingga menusuk kedalam tulangnya.


"Ish kalian kok tega sih ninggalin aku" ucap Rania lagi dengan suara bergetar karena dingin.


Ia merasa begitu dingin hingga kakinya tidak dapat bia gerakan lagi.


Semakin lama pandangannya semakin memudar hingga akhirnya ia pun terjatuh.


Saat itu lah Rania membuka mata dengan nafas yang hampir saja habis.


"Alhamdulillah cuma mimpi" ucap Rania yang merasa kakinya begitu dingin Rania pun bermaksud menarik selimutnya, namun saat ia ingin manarik selimutnya ia merasa seperti ada yang menahannya.


Rania pun melihat kebawah kakinya tidak ada apa-apa namun saat ia hendak menarik lagi selimut nya ia merasa ada yang menahannya lagi.


Rania pun sedikit kesal akhirnya ia pun memilih menjatuhkan selimutnya dan hanya memakai jaket saja.


Namun saat ia kembali merebahkan dirinya disamping salah satu temannya ia begitu terkejut saat melihat wajah temannya yang begitu mirip dengannya.


"Dih ini siapa sih kok mirip sama gw ya" batinnya.


Rania yang awalnya memejamkan mata kini membukanya sedikit namun saat ia melihat wajah teman disebelahnya ia begitu terkejut karena temannya itu sedang menatapnya dengan bola mata yang putih semua.


Ingin rasanya Rania berteriak namun seperti ada yang mencekiknya hingga suaranya tidak bisa keluar.


Ia pun kembali memejamkan matanya dan entah kenapa badannya terasa kaku hingga tidak dapat ia gerakkan.


"Astaghfirullah al azim, itu siapa sih kok matanya serem" batin Rania.


Tiba-tiba saja ia merasa badannya sedikit hangat seperti ada yang memeluknya.


"Siapapun kamu tolong jangan ganggu aku, aku juga gak ganggu kamu" ucap Rania dalam hati.


Hi....hi...h.


Rania mendengar suara wanita tertawa, tiba-tiba saja tubuhnya terasa melayang, ingin rasanya ia membuka mata untuk memastikan apa kah benar yang ia rasa namun teray begitu sulit.


Ia pun membaca doa dalam hati meminta perlindungan kepada Allah.


Sementara itu Ardina yang kebingungan mencari keberadaan Rania langsung meminta pertolongan kepada Fahri dan Rahmat.


Mereka pun berpencar mencari Rania.


Ardina yang mencari Rania kedalam kamar tidak dapat melihat keberadaan Rania karena penglihatannya sedang ditutup oleh salah satu mahluk tidak kasat mata.


Rania yang melihat Ardina berdiri didepan pintu berusaha memanggil saudaranya itu namun entah kenapa saudaranya itu seakan tidak mendengar Rania yang memanggilnya.


Waktu terasa begitu lama, karena merasa tidak menemukan Rania akhirnya Ardina pun meminta bantuan beberapa temannya.


Fahri yang merasa jika saat ini Rania masih berada didalam Villa langsung kembali masuk dan menyelusuri satu demi satu ruangan untuk mencari Rania.


Seperti ada yang membimbingnya ia pun berjalan menuju kamar Rania dan Ardina.


Dan benar saja saat ia membuka pintu ia melihat Rania yang sedang meringkuk diatas kasur sambil menutup kedua matanya dengan tangan.


Ia pun menghampiri gadis itu lalu memegang bahunya.


"Ran..." panggilnya lembut


"Aaaaaaaa Jangan ganggu gw"


"Plisss pergiiiii gw gak ganggu kalian kok" teriak Rania ketakutan.


"Ran ..Rania ini gw Fahri" ucap Fahri berusaha meyakinkan Rania jika itu memang dirinya.


"Bukan...loe bukan manusia" teriak Rania lagi dengan posisi mata masih terpejam


"Astaghfirullah ini beneran gw Ran, Fahri temen loe" ucap Fahri lagi berusaha meyakinkan Rania.


"Ini betulan loe kan RI" tanya Rania masih belum yakin.


"Ishh loe kenapa sih Ran"


"jawab aja dulu" ucap Rania


"Iya ini gw manusia bukan hantu" ucap Fahri mulai kesal.


"Sini mana tangan loe" pinta Rania


"buat apa sih, aneh banget" ucap Fahri masih heran dengan ulah Rania.


"Sini aja dulu sih gak usah banyak ptaniiinntkalo loe hantu itu artinya loe hantu yang bawel" ucap Rania


Ha....ha...


"Mana ada hantu bawel, loe yang manusia aneh" ucap Fahri.


Rania pun membuka matanya perlahan.


"Ini beneran loe kan RI" tanya Rania lagi yang entah ini pertanyaan yang keberapa namun yang pasti membuat Fahri merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2