
SELAMAT MEMBACA
Malam pun tiba, Nayla terduduk lemas diatas tempat tidurnya,matanya sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis,suaranya pun serak.
Tatapan mata kosong menatap kearah foto Ryan yang berseragam lengkap yang masih terpajang didalam kamarnya.
"Mas...kenapa kamu tega tinggalin aku dan anak-anak"
"Kamu jahat Mas..." Nayla terus saja meracau hingga akhirnya ia pun kembali memejamkan matanya.
Damra dan juga Lilis ikut meras sedih melihat Nayla.
Sementara anak-anak mereka diasuh oleh Mama Ryan dan juga Empok.
Aa Iwan pun malam itu berada di rumah Nayla,ia pun merasa khawatir Jika harus meninggalkan Nayla saat ini.
"Nayla..mama tau gimana perasaan kamu saat ini,Mama juga sama Nay sedih tapi kamu ingat kamu masih harus menjalani hidup, kasihan anak-anak kalau kamu sedih terus" tutur Mama Ryan sambil mengelus lembut kepala Nayla.
Nayla tak menjawab,ia hanya menatap sekilas wajah ibu mertuanya,lalu ia kembali menangis.
"Kenapa harus jadi begini Mah,Nay gak tau apa Nay bisa jalanin hidup sendiri" ucap Nayla tanpa menatap wajah ibu mertuanya.
"Mama yakin kamu kuat Nay,masih ada Mama, Empok,Damra yang bisa bantu kamu"
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, insyaallah semua akan baik-baik saja Nay" tutur Mama Ryan.
Tanpa banyak berkata-kata Naylapun langsung merebahkan tubuhnya.
Malam semakin larut, semua orang sudah tertidur lelap.
Karena merasa haus Naylapun terbangun, ia duduk diatas kasur dan menatap sekelilingnya.
Tak ingin membangunkan yang lain, dengan perlahan Nayla turun dari tempat tidur dan menuju dapur.
Setelah meneguk habis satu gelas susu coklat dingin Naylapun berniat kembali ke kamarnya,namun saat melintasi ruang tamu sekelebatan ia melihat sosok yang menyerupai Ryan berjalan menuju samping rumah.
Naylapun mengikuti bayangan itu,namun sayang saat berada disamping tepatnya dikandang kelinci bayangan itu hilang.
Nayla terus mengitari rumahnya dengan harapan bertemu lagi dengan bayangan yang menurutnya adalah Ryan.
Tanpa sengaja matanya melihat motor yang biasa Ryan pakai,ia pun mengelus pelan motor itu.
"Mas...kenapa secepat ini kamu ninggalin aku"
"Aku masih mau sama kamu,membesarkan anak-anak kita" air mata Nayla kembali mengalir saat kenangannya bersama Ryan kembali melintas dalam ingatannya.
Tanpa sadar Nayla memeluk jaket kulit yang biasa Ryan pakai saat berkendara.
Ia menghirup aroma parfum yang biasa Ryan pakai yang tertinggi dijaket itu.
"Aku kangen kamu mas" ucap Nayla lirih.
Tiba-tiba saja ada angin yang berhembus tepat diwajah Nayla.
"Mas...itu kamu?"
__ADS_1
"Mas Ryan..." panggil Nayla sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat ia rindukan saat ini.
Nayla terus mencari sosok itu yang menurutnya adalah Ryan,namun ia harus kecewa saat sosok yang Ia cari tidak ia jumpai.
Nayla memejamkan mata nya,ia berusaha menenangkan dirinya.
Namun tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh bahunya.
Terasa dingin, Nayla menarik nafas dalam-dalam, jantung nya berdegup kencang.
Ia berharap dalam hati jika yang memegang bahunya saat ini adalah Ryan.
Nayla berusaha mengumpulkan keberaniannya, perlahan-lahan ia memutar badannya dan alangkah terkejutnya Nayla ternyata yang menyentuh bahunya adalah AA Iwan.
"Lagi apa disini?" tanya Aa sambil tersenyum.
"Astaghfirullah al azim,Aa bikin kaget aja,Nay kira...."
Nayla tak melanjutkan kata-katanya,ia sedikit kecewa ternyata bukan sosok Ryan yang menyentuhnya melainkan Aa Iwan.
"Kira apa?"
"Ngapain disini malem-malem?" tanya Aa.
"Itu Aa, tadi Nay liat ada Mas Ryan" ucap Nayla pelan sambil memeluk erat jaket Ryan.
"Ish kamu mah,udah yuk kita kedapan aja,jangan ditempat gelap gini" Aa langsung menarik tangan Nayla dan membawanya ke ruang tamu.
Aris yang kebetulan belum lama tiba langsung duduk begitu melihat Aa dan Nayla.
"Abis liat kelinci"jawab Aa sambil tertawa.
"Aa...jangan ngeledek ih" Nayla langsung memukul bahu Aa Iwan yang sedang tertawa.
"Kenapa gak tidur,ini dah malem?"tanya Aris
"Baru bangun Ris,tadi aus"jawab Nayla males
"Kalo gitu kita main gaple aja yuk"ajak Aris sambil bercanda.
Nayla langsung melebarkan matanya sambil melihat ke arah Aris.
Ha....ha..
Aris tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Nayla.
"Dasar ponakan gak ada akhlak,orang lagi berduka malah diajak yang aneh-aneh" gerutu Nayla sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Didalam kamar, Nayla termenung,dadanya terasa begitu sesak hingga tanpa ia sadari air matanya kembali mengalir.
Mendengar ada suara orang menangis,Damra langsung membuka matanya.
"Nay...kamu gak tidur" ujar Damra dengan suara berat.
"Aku..tadi bangun Ra" jawab Nayla sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Damrapun langsung bangun dan menghampiri Nayla.
"Nay..loe yang kuat ya,gw yakin loe pasti bisa ngelewatin semuanya"
Naylapun langsung memeluk Damra sambil terus terisak.
"Kenapa nasib aku kaya gini ya Ra, pertama mama ninggalin aku,terus papa,lalu anak aku dan sekarang suamiku"
"Sebenernya apa salah aku sampai Tuhan menghukum aku kaya gini Ra" suara tangis Nayla semakin terdengar begitu menusuk dihati Damra.
"Jangan bilang gitu Nay,loe tau kan Allah itu ngasih ujian gak melebihi batas kemampuan umatnya, karena loe mampu makanya Allah nguji Elo Nay" layaknya ustazah Damra menasehati Nayla.
Dari balik pintu Aa dan Aris nampak menguping pembicaraan keduanya sambil tersenyum.
"Tumben tuh anak lurus ngomongnya" celetuk Aa diikutin dengan senyuman yang mengembang dibibir Aris.
Malam itu Aa dan Aris tidak tidur hingga pagi pun tiba.
Setelah melihat kondisi Nayla baik-baik saja mereka baru beristirahat di kamar Empok.
Semalaman Nayla berpikir agar terlihat baik-baik saja didepan semua orang.
Ia juga bertekad untuk ikhlas dan kuat demi buah hati mereka yang baru berumur beberapa bulan.
Tak ingin berlarut dalam kesedihannya Naylapun menyibukkan dirinya.
Ia membuat begitu banyak cemilan dan juga kue.
Namun saat ia membuat risoles tiba-tiba ia kembali teringat pada Ryan.
Terbayang dalam ingatannya saat dulu Ryan pertama kali mencicipi makanan kesukaannya.
Sambil membuat kulit risoles air mata Nayla mengalir begitu saja.
Mama Ryan yang kebetulan sedang melintas didapur berhenti sejenak saat melihat Nayla berada didepan kompor sambil menangis.
"mama tau kamu pasti kuat Nay" ucap Mama Ryan dalam hati.
Tanpa terasa air mata nya ikut mengalir begitu saja.
Hallo semua maaf baru bisa up lagi
soalnya lagi ada kesibukan di RL
Jangan lupa ya tetap kasih dukungan buat author.
- Like
- Vote
- komentar nya author tunggu.
Salam Maniss
Amellajj/Author
__ADS_1