
SELAMAT MEMBACA
Siang itu udara terasa begitu panas, dinginnya AC pun masih tidak terasa.
"Kenapa panas banget sih" keluh Nayla.
"Panas banget Dit, lebih cepet dikit dong jalannya biar cepet sampai"
"Iya sayang, ini udah kenceng, sabar dong" jawab Adit sambil terus pokus mengemudi.
"Panas banget Dit, aku mau cepet sampe trus nyalain AC biar adem"
"Iya sayang, katanya mau beli perlengkapan buat besok" tutur Adit mengingatkan Nayla.
"Nanti sore aja ya, sekarang panas banget ni" tolak Nayla
Adit hanya mengangguk lalu kembali menatap aspal di depannya.
30 menit kemudian akhirnya mereka pun tiba di rumah Nayla, tak mau menunggu lama begitu mobil berhenti Nayla langsung turun dan bergegas masuk kedalam kamarnya yang kini sudah terasa dingin.
"Kamu kaya apa aja Nay sebegitu panasnya apa?" tanya Adit yang ikut masuk kedalam kamar sambil menggendong Rania.
"Ini udah adem Dit, tadi tuh panas banget kaya mau melepuh" tutur Nayla dan Adit hanya tersenyum mendengar perkataan Nayla.
"Iya sayang kamu ngadem aja aku mau main sama anak-anak" Adit langsung keluar dari kamar Nayla
Nayla tak menjawab ia hanya tersenyum melihat Adit begitu dekat dengan anak-anak nya.
Sepeninggalan Adit, Nayla merebahkan tubuhnya ia tersenyum sendiri saat ingatan nya kembali pada saat ia pertama kali bertemu dengan Adit.
Tanpa sengaja ia menabrak Adit di sebuah lampu merah dekat tempat nya berkerja dahulu.
bagaimana kedua mahluk teman tak kasat mata Adit yang selalu mengerjainya saat ia jalan dengan pria lain selain Adit.
"Kemana ya perginya tante Kun itu sama bocilnya" gumam Nayla
srekkkkk
tiba-tiba saja hordeng kamarnya bergeser sendiri.
"Aku udah gak takut" ucap Nayla sok berani.
lagi-lagi hordeng itu kembali bergerak seperti ada yang memainkannya.
"Haiii kalo sampe copot pasang lagi ya" ucap Nayla lagi masih dengan gaya sok berani padahal sebenarnya jari-jari tangannya mulai terasa dingin namun ia berusaha melawan rasa takutnya.
Ingin rasanya ia segera berlalu keluar kamar mamun entah kenapa semua badannya terasa sulit untuk di gerakkan.
Ia pun membaca doa dalam hati untuk mengusir rasa takutnya.
"Jangan jail kenapa" decak Nayla kesal.
__ADS_1
hik....hikkk
bulu-bulu halus di tengkuk nya seketika itu juga berdiri saat telinganya mendengar suara wanita menangis.
"Kamu siapa? aku gak takut jadi gak usah nakut-nakutin gitu" ucap Nayla masih mode sok berani.
"Kaaamuuu jahatttttt"
terdengar kembali suara wanita yang mengatai dirinya jahat.
"Mana mungkin siang-siang gini ada hantu" ucap Nayla
krekkkkkk
terdengar suara pintu di buka, Naylapun segera melihat kearah pintu namun sialnya pintu tetap tertutup.
"Kenapa jadi makin serem sih" gumam Nayla mulai merasa takut.
"Ditttttt" teriak Nayla
Namun sial ia seperti berada di ruangan kedap suara.
Sementara itu di ruang tengah Adit sedang asik bermain lego bersama kedua anaknya Rania dan Radit.
Sedangkan Empok sibuk di dapur menyiapkan cemilan.
"Astaghfirullah Al azim, ya Allah hilangkan lah rasa takut ku" doa Nayla dalam hati.
"Kamuuuu jahatttttttt"
"Aku jahat kenapa coba, aku gak tau siapa kamu" ucap Nayla lantang.
Cklekkkkk
suara pintu dibuka, namun kali ini pintu kamar Nayla benar-benar terbuka dan Empok berdiri diambang pintu.
"Kamu kenapa Nay?" tanya Empok yang heran melihat wajah Nayla yang sedikit pucat dan keringat bercucuran padahal ruangan itu ber AC.
"Alhamdulillah Empok" seketika itu juga badan Nayla dapat kembali di gerakan.
"Gak apa-apa Pok, tadi kaki aku kram" ucap Nayla berbohong.
"Oh...."
"Sini Mpok pijitin mana yang sakit" Empok pun mendekat bermaksud untuk memijat kaki Nayla.
"Gak usah Pok, udah sembuh kok" tolak Nayla
"Ya udah kalo gitu kita keruang depan yuk, tadi Mpok bikin bakwan udang tuh mumpung masih anget" ajak Mpok
Nayla pun berusaha berdiri walaupun sedikit lemas.
__ADS_1
Empok yang melihat Nayla kesusahan untuk berdiri langsung membantunya berjalan keluar kamar.
"Kamu kenapa sayang" tanya Adit yang langsung berdiri begitu melihat Nayla keluar kamar di bantu dengan Empok.
"Gak apa-apa tadi cuma kram aja" jawab Nayla dengan senyum yang dipaksakan.
"Aku tau kamu lagi bohong sayang" celetuk Adit sambil menatap Nayla seakan menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Nayla.
"Aku gak apa-apa, udah kamu ajak main anak-anak aja" Naylapun duduk sambil memandang kearah Adit dan anak-anaknya.
"Wahhh enak bngt ni Pok, tau aja dah lama kita gak bikin beginian" Nayla mengambil satu buah bakwan lalu memakannya.
"kesukaan kamu gak berubah ya yang,masih suka sama bakwan dan batagor" celetuk Adit
"Emang kenapa? kan bagus murah" jawab Nayla
Adit hanya tersenyum melihat tingkah Nayla yang begitu menikmati makanan kesukaannya.
Waktu sudah hampir larut begitu Adit pamit untuk pulang.
Seharian ini Mereka bersama dari mengambil Undangan lalu menulis nama-nama di undangan.
Tanpa terasa hari pernikahan mereka hanya tinggal beberapa Minggu saja.
Malem itu Nayla tidur dengan sangat lelap hingga tak terasa Subuh pun tiba.
Setelah selesai sholat subuh Nayla segera merapikan Undangan yang akan ia dan Adit antar hari ini.
"Pok...Empokk" teriak Nayla
Empok yang kebetulan sedang berada di ruang mencuci langsung menghampiri Nayla.
"Kenapa Nay" tanya Empok tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya.
"Ishh bikin kaget aja sih Pok"
Heeee
Empok hanya tersenyum sumringah mendengar ucapan Nayla.
"Nanti aku mau anter undangan anak-anak aku tinggal ya Pok"
"Soalnya nanti mau naik motor aja biar gak macet" lanjut Nayla.
"Ya udah gak apa-apa" jawab Empok
"Nanti Lilis sama Ardina juga kesini Pok"
"Oh iya Pok, aku mau sarapan lontong sayur dong, tolong beliin ya"
" Ok" jawab Pok singkat yang langsung pergi untuk membeli lontong sayur untuk mereka sarapan.
__ADS_1
Jam 7 lebih sedikit Aditpun sudah tiba di rumah Nayla bersama Ardina dan Lilis.
Setelah sarapan mereka pun segera pergi untuk mengatar undangan pernikahan mereka.