TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 425


__ADS_3

Haiii para reader semuanya, sebelumnya othor minta maaf ya karena beberapa hari kemarin belum bisa up karena kondisi kesehatan othor yang tidak memungkinkan,mohon maaf juga jika bab ini tidak terlalu panjang.


SELAMAT MEMBACA


Malam itu mereka pun bermalam di Garut, setelah makan malam mereka berkumpul bersama kedua orang tua mereka asik ngobrol bersama nenek dan juga aki, sedangkan ketiganya asik bermain uno, sebuah permainan kartu yang biasa dimainkan oleh anak-anak kecil disekitar kediaman Nayla.


Radit dan Ardina yang memang tidak terlalu begitu faham dengan permainan itu dengan mudahnya di bohongi oleh Rania.


Mereka bermain dengan taruhan siapa yang kalah harus mau disuruh oleh si pemenang, sudah pasti Rania yang selalu menang begitu puas mengerjai keduanya.


Saat Rania meminta Radit untuk membuatkannya segelas susu coklat hangat niat usilnya pun kembali muncul.


Setelah Radit kedapur dengan segera ia masuk kedalam kamar dan memakai mukenanya dan sedikit menebalkan bedaknya dengan menggunakan bedak milik Ardina lalu segera keluar dari kamar menuju Radit berniat untuk menakut-nakuti Kakanya.


Raditpun selesai membuatkan susu untuk Rania namun sebelum ia memberikannya pada Rania ia pun meminumnya sedikit.


Tiba-tiba saja ada yang membisikkan jika ada yang berniat menjahilinya, Raditpun memegang gayung kecil dan baru saja ia berbalik sebuah wajah dengan bedak tabal sudah berdiri dibelakangnya karena terkejut Raditpun secara tidak sengaja langsung memukulkan gayung yang ia pegang tepat ke kepala sosok yang berdiri dibelakangnya


"Aaaduhhhhhh sakit tau aa"Rania meringis menahan sakit dikepalanya yang berdenyut.


"Astaghfirullah Rania loe ngapain sih pake berdiri dibelakang gw jadinya kena gw pentungkan" ucap Radit sambil mengelus kepala Rania.


Mendengar suara gaduh dibelakang Nayla dan yang lainnya langsung menghampiri.


"Ada apa sih kok rame banget berdua aja?"tanya Nayla dari depan pintu dapur.


"Aa nih mah masa kepala Ran dipukul pake gayung sih, sakit tau,benjol lagi" keluh Rania sambil mengelus kepala yang sedikit benjol.


"Salah Ran juga sih mah,kenapa pake mau usilin aa, jadi kan aa tadi kaget gak sengaja" ucap Radit sambil tertawa.


"wkwkwk senjata makan tuan itu Ran, mau jailin si aa malah kamu yang kena juga" timpal Ardina sambil tertawa


"ih kalian berdua emang gak sayang ya sama Ran" ucap Rania pura-pura merajuk.


Adit hanya tertawa melihat ulah putrinya yang memang sedikit beda dari yang lain.


"udah jangan berantem, mending pada tidur gih udah malem, besok pagi kita harus kerumah saudara yang lain, terus kita mau panen ikan juga,jadi mending kalian istirahat aja" ucap Adit sambil memeluk Rania yang sedang merajuk.


"cieee anak papa" ejek Radit sambil meminum susu yang tadi ia buat.


"aa itu kan susu buat Ran, kok malah diminum sih" teriak Rania kesal.

__ADS_1


"Lupa Ran, loe bikin sendiri aja ya,aa mau bobo" ucap Radit sambil tertawa meninggalkan Rania yang merasa kesal.


Dengan langkah yang dihentak-hentakan ke lantai Rania pun berjalan menuju kamar yang sudah disediakan untuknya dan Ardina.


Tidak butuh waktu lama ia pun tertidur begitu juga dengan Ardina.


Suasana di kampung saat malam hari terasa begitu dingin membuat Rania selalu terbangun untuk buang air kecil.


Entah untuk keberapa kalinya ia ingin pipis, dengan langkah gontai ia pun turun dari kasur dan menuju kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah.


Saat ia didalam kamar mandi ia mendengar seperti ada yang menimpuk atap kamar mandi.


Tiba-tiba saja ia merasa begitu merinding, dengan tergesa-gesa ia pun segera menuntaskan kegiatannya didalam kamar mandi dan segera keluar, namun entah kenapa tiba-tiba saja seperti ada yang memaksanya untuk membuka pintu belakang.


Udara yang begitu dingin dengan suara jangkrik yang saling bersautan dan juga gemericik air kolam membuat Rania ingin segera menutup kembali pintu namun belum juga pintu tertutup sempurna tiba-tiba saja ia melihat sesuatu diantara rimbunnya pepohonan pisang membuatnya kembali membuka pintu lebar-lebar.


"Ish ada pocong" desis Rania lalu kembali menutup pintu namun ketika pintu hampir tertutup rapat tiba-tiba saja sosok itu sudah berdiri didepannya, wajahnya yang begitu menyeramkan membuat Rania ketakutan dan menutup kasar pintu dapur sebelum ia berlari kedalam rumah.


Jantung nya berdegup begitu kencang dengan nafas yang tersengal-sengal ia pun langsung naik keatas kasur dan menutup seluruh tubuhnya.


Ardina yang merasa terganggu tidurnya langsung terbangun karena ulah Rania.


"Loe apa-apa sih Ran, udah malem tau masih aja lari-larian"ucap Ardina sambil duduk diatas kasur.


"oh cuma pocong aja, kirain apaan" ucap Ardina santai lalu kembali merebahkan tubuhnya disamping Rania.


"dih kaya loe berani aja" protes Rania seakan tidak terima.


"Ar..."


"Dih udah tidur aja sih.."gerutu Rania sambil berusaha memejamkan matanya kembali.


Tidak lama kemudian Rania pun kembali terlelap.


Rania terbangun saat mendengar suara sedikit berisik dari area dapur, dan saat ia membuka matanya ternyata matahari sudah mulai naik.


Dengan masih sedikit mengantuk ia pun menuju dapur.


"mama minta susu" pinta Rania layaknya anak kecil.


"udah gede bikin sendiri dong" ucap nenek sambil tersenyum kearah ku.

__ADS_1


Aku pun mendekat ke arah mama lalu merebahkan kepala ku di paha mama, karena masih mengantuk aku pun kembali memejamkan mataku


"Ran...Rania bangun aduh ni kaki mama kesemutan " ucap Nayla saat merasakan kakinya kesemutan.


"ish mama,Ran masih ngantuk tau"


"kalau masih ngantuk tidurnya di kamar dong Ran" ucap Nayla.


"oh iya tadi malem pasti ulah kamu ya pintu belakang gak di tutup" tiba-tiba saja Nayla ingat saat ia bangun tadi pagi melihat pintu belakang terbuka.


"Tadi malem ada pocong tau mah, jelek banget, Ran jadi lupa deh tutup pintu"


"Lagian kamu ngapain malem-malem buka pintu belakang?"tanya Nayla heran.


"Ran juga gak tau, kaya ada yang manggil aja" ucap Rania dengan polosnya.


Mereka pun segera menyelesaikan masak dan langsung sarapan.


Setelah sarapan mereka pun menyambangi satu persatu rumah saudara Nayla yang berada disana, termasuk rumah Aris.


Rania sedikit ragu saat akan memasuki rumah Aris.


"Ran ayo masuk,kenapa diem aja didepan pintu" ajak Radit pada adiknya yang terlihat sedikit takut.


Radit yang tau jika kediaman mamanya itu banyak dihuni oleh mahluk tak kasat mata peliharaan mamang Arisnya berusaha meyakinkan Rania tidak akan terjadi apa-apa disana.


Akhirnya dengan terpaksa Rania pun masuk.


Aris yang memang tau jika beberapa anak Nayla mempunyai kelebihan hanya tersenyum saat melihat Rania ketakutan.


"Gak apa-apa, itu cuma temen mamang gak akan ganggu Ran" ucap Aris dengan tenang.


"mamang kok temennya begituan sih, emang mamang gak takut?" tanya Rania yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh Aris.


"lah kamu sendiri,sama Radit juga begitu kan" ucap Aris


Nayla hanya tersenyum mendengar perdebatanan antara Rania dan Aris.


"Nay..si Rania mah duplikatnya kamu beneran ya" celetuk Aris.


"ha..ha iya bener Ris, tapi si Nay kalo dibilang begitu gak percaya" timpal Adit yang langsung teringat dengan beberapa kejadian beberapa tahun silam.

__ADS_1


Mereka pun bercerita sambil sedikit reunian sementara itu ketiga anak mereka hanya menyimak apa yang dibicarakan oleh ketiganya.


__ADS_2