
HAPPY READING
Beberapa bulan berlalu sejak Rahmat pindah entah kemana, Ardina kini mulai terbiasa.
Sebenarnya Rania selalu minta Ardina untuk ikut kemana pun ia dan Fahri pergi, namun kerena takut menggangu Ardinapun beralasan sibuk belajar hal baru disalon milik mamanya yang pada akhirnya nanti jika saatnya sudah tepat akan diberikan kepadanya.
"Ran, emang kamu gak ada minat gitu seperti Ardina kan dia minat banget tuh dibidang kecantikan, kalau Aa Radit kan suka tuh bereksperimen buat kue dengan rasa yang berbeda" tanya Fahri saat mereka sedang asik makan jajanan di pinggir jalan.
"Ada lah, tapi banyak yang gak ijinin" jawab Rania.
"Memangnya apa, kok bisa gak di ijinin sih?" tanya Fahri sambil melihat ke arah Rania.
"Aku tuh maunya dibidang olah raga Ri,tapi sama aa dan juga papa gak boleh"
"Emangnya olahraga apa?" tanya Fahri lagi.
"Aku sih maunya tinju, kalo gak karate gitu,atau angkat besi biar otot tangan aku tuh berbentuk"
Uhukkkk
Fahri langsung tersendak makanan yang sedang ia kunyah saat mendengar jawaban Rania.
"Ih makanya kalo makan pelan-pelan, keselekkan tuh" ucap Rania sambil menyodorkan air kemasan botol yang ada didekatnya.
Fahri pun langsung meminumnya.
Saat setelah ia minum Fahri baru menyadari jika botol yang Rania berikan tadi adalah miliknya, bukan botol milik Fahri
"Loh yang tadi gw minum botol loe ya Ran?" tanya Fahri pura-pura baru tau.
"Gak tau tadi gw asal ambil aj" jawab Rania
Saat mereka sedang asik makan, ponselnya Fahri berbunyi entah dari siapa yang pasti wajah Fahri berubah panik.
Setelah menutup telponnya ia pun langsung mengajak Rania untuk pulang.
Ada banyak pertanyaan dalam pikiran Rania namun ia belum berani bertanya kepada Fahri.
Setelah mengantar Rania pulang sampai rumah, Fahri pun langsung pamit pulang.
Keesokan harinya Fahripun tidak masuk sekolah dan pesan yang Rania kirim tidak dibalas.
"Ran, si Fahri kemana? Kok gak masuk ya" tanya Ardina
"Gw juga gak tau Ar, kemarin dia dapat telpon tapi gak tau dari siapa, abis itu dia kaya orang panik gitu terus langsung nganterin gw pulang"tutur Rania menjelaskan.
"Kayanya ada sesuatu deh tapi gak tau apa" ucap Ardina.
"Gw telpon juga gak bisa Ar, nanti sore kerumahnya yuk" ajak Rania
Karena tidak ingin membiarkan Rania sendirian akhirnya Ardina pun tidak pergi kesalon.
Sorepun tiba,kedua gadis itu pergi kerumah Fahri, rumah itu nampak begitu sepi.
Kebetulan salah seorang penjaga rumah itu melintas dan melihat mereka.
"Lah ada non Ran sama non Ar, pasti kesini mau cari tuan muda kan" ucap pria itu.
"He..he iya mang, Fahrinya ad" tanya Rania sambil tersenyum.
"Lah emang tuan muda gak bilang ya sama non"
"Bilang apa mang?"tanya Rania bingung
"Papanya tuan muda lagi sakit non, terus tadi malam tuan muda langsung berangkat ke Kalimantan" ucap penjaga rumah itu menjelaskan.
"Oh jadi dia pergi ya, kok wa aku juga gak dibales ya" pikir Rania bingung.
"Mungkin dia gak sempet Ran, kita tunggu aja siapa tau nanti malem atau besok dibls" ucap Ardina.
Mereka pun langsung pamit pulang,namun setelah mengetahui Fahri pergi jauh hari Rania begitu merasa kehilangan.
Saat tiba dirumah ia jadi pendiam hingga Adit dan juga Nayla kebingungan sendiri.
"Ran, jangan terlalu dipikirin, mungkin saja disana dia tidak ada sinyal, soalnya yang mama sering dengar disana tuh kalau mau nelpon ya harus manjat pohon dulu, atau cari tempat yang lebih tinggi" ucap Nayla menjelaskan agar putrinya itu tidak terlalu sedih.
"Emangnya mama tau?"
"Dulu juga papa kamu pernah kesana tapi mama gak tau dimana" jawab Nayla.
"Masa sih mama pernah gitu ditinggal lama sama papa" tanya Rania mulai penasaran.
"Iya sering malah mama ditinggal,tapi emang dasarnya jodoh kan bisa bersama lagi kaya sekarang" ucap Nayla sambil tersenyum.
Beberapa hari berlalu akhirnya Rania pun mendengar kabar jika Fahri pindah sekolah.
Tanpa memberitahunya, tanpa membalas pesannya tiba-tiba saja ia malah mendapat kabar jika Fahri pergi.
Ia tidak tau apa yang ia rasakan, semuanya menjadi satu, antara kesal, benci dan juga kangen.
Untuk menghilangkan rasa sedihnya Rania pun menyibukkan diri dengan berlatih beberapa alat kebugaran di tempat papanya.
__ADS_1
Adit dan Naylapun tidak melarangnya lagi mereka membiarkan saja selagi itu kegiatan yang positif.
Rania pun mulai berlatih karate dan juga panjat tebing.
"Nay, si Ran itu sifatnya bener-benar sembilan puluh sembilan persen mirip kamu ya" ucap Adit saat melihat Rania yang sedang sibuk berlatih.
"Ya gak juga lah Dit, aku kan dulu gak suka kekerasan kaya Ran"
"Iya sih, kan aku bilang sembilan puluh sembilan, berarti yang satunya itu sayang"jawab Adit sambil tersenyum.
"Dia mau jadi cewe kekar katanya" ucap Nayla sambil tersenyum saat ingat dengan apa yang Rania pernah katakan.
Beberapa tahun berlalu akhirnya mereka pun lulus SMA dan kini mereka kuliah di fakultas yang berbeda.
Rania yang awalnya hanya iseng mendaftar di fakultas kedokteran akhirnya lulus dan berhasil masuk universitas negeri.
Begitu pun dengan Ardina yang memilih manajemen bisnis.
Sedangkan Radit yang sudah berhasil lulus kini berkerja disebuah perusahaan yang lumayan besar.
Setelah sekian lama pergi Karina kini kembali, penolakan Radit waktu itu berhasil membuatnya down.
Dahulu Radit menolaknya dengan alasan belum saatnya ia menikah pacar.
Sekarang setelah beberapa tahun berlalu Karin kembali untuk memperjuangkan cintanya kepada Radit.
Hari Minggu saat semua orang sedang berkumpul dirumah, bel rumah Nayla berbunyi.
Kebetulan Nayala sedang berada di teras samping, ia pun langsung menuju gerbang dan betapa terkejutnya Nayla saat melihat seorang gadis cantik sedang berdiri di depan pintu pagar rumahnya.
"Assalamualaikum tante"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh, cari siapa ya?" tanya Nayla ramah.
"Raditnya ada Tan?"
"Oh cari Radit, ayo masuk dulu" ucap Nayla sambil membuka pintu pagar dan mempersilahkan gadis cantik itu untuk duduk.
Ia pun langsung pamit untuk memanggil Radit di kamarnya.
"Dit, ada tamu tuh cewe cantik" ucap Nayla dari depan pintu kamar Radit yang tertutup.
"Siapa mah?" tanya Radit sambil membuka pintu.
"Mama lupa nanya namanya, turun sana temui dulu" titah Nayla yang langsung meninggalkan kamar Radit dan menuju dapur untuk membuatkan minum.
Radit diam sesaat begitu tiba di ruang tamu dan melihat siapa yang datang.
"Astaga loe lupa sama gw Dit" tanya Karin
Adit nampak terdiam sesaat.
"Karin, loe Karin kan?" tanya Radit masih tidak percaya.
"Iya ni gw, Alhamdulillah loe masih inget" ucap Karin sambil tersenyum.
Nayla yang datang membawa minuman sama terkejutnya dengan Radit.
"Gimana kabarnya kamu Karin, kemana aja kok baru liat lagi tante" ucap Nayla
"Waktu itu aku kan patah hati tan habis ditolak sama Radit, jadi aku hibernasi ternyata aku gak bisa lupain Radit sampe sekarang, he...he" ucap Karin apa adanya.
Radit hanya tersenyum mendengar penuturan Karin.
"Tante, kalau sekarang Radit udah boleh pacaran kan?" tanya Karin dengan polosnya hingga membuat Nayla tertawa.
"Ya boleh lah, tapi bukan pacar ya tapi cari calon istri" ucap Nayla menanggapi pertanyaan Karin
"Mama apaan sih" Radit terlihat malu.
"Tuh Dit, mama Nay udah ijinin, kamu mau kan nerima aku buat jadi calon istri kamu"
Wkwkkwk
Nayla tertawa kencang mendengar Karin yang meminta Radit agar mau menjadi pacarnya.
"Wah..kamu tuh kaya papa dulu Dit, banyak di kejar-kejar cewe cantik" ucap Adit yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan pintu tanpa terdengar suara motornya.
Mendengar suara berisik dari ruang tamu, Rania yang tadinya hendak ke dapur membuat es susu begitu penasaran dengan siapa yang datang, ia pun bermaksud mengintip, namun setelah melihat siapa yang datang ia langsung bersorak.
"Kak Karin, wah asik ada kak Karin, kemana aja kak kok baru keliatan" Rania langsung memeluk Karin.
Radit dan Nayla hanya melihat saja kelakuan kedua gadis itu yang hampir sama.
Lupa dengan niat awalnya yang ingin bertemu dengan Radit,Karin malah asik bercanda dan ngobrol dengan Nanya dan Rania.
Sementara itu Radit dan Papanya hanya memperhatikan ketiga wanita beda usia itu sambil duduk dan menikmati cemilan yang awalnya untuk Karin.
"Kalau mereka gabung cocok banget Radit, mama kamu, adik kamu, sama calon pacar kamu, bisa kompromi kalo lagi oon bareng kita yang pusing Dit" ucap Adit sambil tersenyum.
"Dih papa kok ngatain mama oon sih" protes Radit.
__ADS_1
"Maksudnya bukan oon itu Radit,mama kamu tuh kalo lagi liat hantu ya dulu tuh lucu, dia takut tapi didekatin apa coba itu namanya kalo bukan oon" ucap Adit sambil tertawa.
Radit pun langsung tersenyum mendengar cerita Adit tentang mamanya.
Karin yang sudah mendapatkan restu dari mama Nay dan juga Rania begitu bersemangat untuk menaklukkan hati Radit.
Memang selama ini Radit belum pernah dekat dengan wanita kecuali Karin.
Mungkin tanpa ia sadari ia menyukai gadis itu,namun ia terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya atau ia belum yakin bisa membahagiakan gadis yang akan menjadi kekasihnya nanti.
Setiap kali Rania latihan karate Karina selalu menemani gadis itu, begitu pun saat Karina sedang perawatan di salon Ardina, Rania setia menemani.
"Radit coba kamu lihat, mereka bertiga udah cocok,jadi saran papa udah buruan jadiin saja sama Karin" ucap Adit menasehati putranya.
"Radit belum yakin Pah, takutnya mereka tidak bahagia" ucap Radit
'kan kamu juga belum coba nak, masa iya papanya dulu waktu seumuran kamu pacar nya banyak giliran anaknya malah belum pernah" ejek Adit pada sang putra.
"Berarti mama keren ya bisa bikin papa insaf" ucap Radit balik mengejek papanya.
Mereka berdua pun tertawa, menjelang malam mereka pun pulang bersama begitu juga dengan Karin.
Ia sengaja menitipkan mobilnya di ruang Radit agar ia bisa bebas mendekati Radit.
Udara siang terasa begitu panas menyengat, Rania yang biasanya pulang dari kampus naik angkutan umum kini ia memesan taksi online
Sambil menunggu pesanannya datang Rania membeli minuman diwarung kecil yang ada disamping halte.
Saat ia hendak berjalan kembali menuju halte tiba-tiba saja ia menabrak seseorang hingga ia pun terjatuh.
Aduhhhh
"Hati-hati dong kalo jalan"ucap Rania kesal.
"Ada juga loe, kalo jalan tuh liat-liat,masa orang segede gini gak liat, itu mata apa pajangan" ucap orang yang Rania tabrak dan dari suaranya sudah dapat dipastikan ia seorang pria.
Bukannya membantu Rania berdiri pria itu malah pergi begitu saja.
Rania yang kesal memaki pria itu dengan berbagai sumpah serapahnya.
Begitu tiba dirumah Rania langsung masuk kedalam kamarnya.
Ia merasakan telapak tangannya begitu perih dan ternyata ada sedikit luka akibat ia terjatuh tadi.
Entah kenapa ia seperti merasa kenal dengan pria yang ia tabrak tadi namun ia belum bisa memastikan apakah itu memang pria dari masa lalu atau bukan.
Setelah selesai bergantian pakaian ia pun langsung merebahkan diri diatas kasur kecilnya.
Sementara itu di salonnya Ardina yang sudah begitu lancar memotong rambut nampak begitu familiar dengan sosok pria yang sedang ia potong rambutnya.
Ingin rasanya ia bertanya namun ia tidak berani takut perkiraannya salah.
Setelah pria itu pergi Ardina duduk sementara di sofa untuk beristirahat.
"Gw penasaran banget sama tuh cowo, bener gak sih itu Rahmat" batin Ardina.
Dirumah Ardina masih lebih sering termenung ia masih ingat dengan sosok pria tadi.
Sebenarnya ia masih berharap jika suatu saat nanti bisa bertemu kembali dengan Rahmat, karena sejujurnya sampai saat ini rasa cinta itu masih ada walaupun pria itu pernah menyakitinya.
Begitu juga dengan Rania, ia pun sama masih terngiang jelas ditelinganya suara pria itu.
"Kenapa juga gw harus mikirin tuh cowo sih" batin Rania kesal.
Ia pun mencoba untuk melupakan kejadian tadi dengan bermain game dikamarnya.
Namun tetap saja ia tidak bisa lupa yang ada malah ia tidak bisa konsentrasi bermain game hingga akhirnya ia pun mematikan kembali PS nya dan memilih untuk tiduran sambil mendengarkan musik.
Keesokan harinya saat di kampus Rania kembali bertemu dengan pria itu namun kini pria itu yang entah sengaja atau tidak menyenggol kasar bahunya.
"Woiii loe punya masalah apa sih ama gw, kemarin loe nabrak gw sekarang juga" teriak Rania kesal
Pria yang tadinya sudah sedikit jauh kini membalikan badannya dan menghampiri Rania.
"Iya, gw ada sedkit masalah sama loe" bisik pria itu lagi lalu ia kembali berjalan menjauh dari Rania.
Rania tertegun sesaat, masalah apa maksud dari pria tadi.
"Untung aja gw udah jago karate, kalo sampe tuh cowo macem-macem gw patahin sekalian tangannya" ucap Rania kesal.
Begitu tiba dirumah Rania pun menceritakan kejadian yang tidak mengenakkan tadi pada Ardina.
Ardina pun diam sesaat lalu ia ingat kembali pada sosok pria yang kemarin ia potong rambutnya.
"Masa sih itu Rahmat?" tanya Rania
"Kayanya sih, tapi gw juga gak yakin Ran" ucap Ardina.
Rania nampak sedang menerka-nerka apa mungkin pria yang tadi siang itu Rahmat.
Jika di dengar dari suaranya memang seperti sama namun jika ia ingat wajahnya sedikit berbeda.
__ADS_1
Karena tidak mau ambil pusing Rania pun berusaha untuk tidak perduli dan ia kembali menyetel musik sambil memejamkan matanya.