TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 418


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Melihat Fahri yang bersimbah darah begitu tiba dirumah sakit ia langsung dibawa ke ruang IGD dan segera mendapatkan pertolongan.


Karena begitu banyak darah yang keluar ia pun mengalami koma.


Sementara itu Rania yang sudah sadar langsung dibawa kerumah sakit yang sama dengan Fahri.


Karena obat bius yang diberikan oleh Rahmat terlalu tinggi Rania pun masih belum sadar sepenuhnya terkadang ia masih suka ngelantur jika berbicara.


Adit yang terus berusaha mencari keberadaan Rahmat namun setelah kejadian itu Rahmat bagaikan ditelan bumi ia menghilang entah kemana.


Ardina yang kebagian menjaga Rania dirumah sakit nampak memandang iba kepada Rania, ia tidak menyangka sebesar itu rasa suka Rahmat kepada saudaranya hingga Pria yang dikira menyukainya ternyata hanya menjadikannya sebagai alat agar bisa dekat dengan saudaranya itu.


Kondisi Rania yang mulai pulih membuat Ardina dapat meninggalkan Rania sebentar.


Ia pun meninggalkan Rania saat saudaranya itu sudah tertidur pulas.


Dengan perlahan ia membuka pintu dan keluar dari kamar perawatan Rania.


Niat awalnya hanya ingin berjalan-jalan mencari makanan namun entah kenapa ia malah mengikuti lorong jalan yang begitu sepi, seperti ada yang menuntunnya menuju suatu ruangan hingga akhirnya ia berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan "Kamar Mayat" ia langsung ingin berlari namun seperti ada yang menariknya untuk masuk.


Ia berusaha untuk melawan namun tidak bisa tangannya pun memutar knop pintu dan perlahan pintu itu terbuka, bulu kuduk Rania langsung meremang saat matanya melihat ada beberapa blankar yang diatasnya ada tubuh yang terbujur kaku dan tertutup kain putih.


Ingin rasanya Ardina balik badan dan berlari menjauh dari tempat itu namun kakinya tidak dapat ia gerakkan perlahan kain salah satu mayat itu perlahan terbuka.


"Aaaaa tolonggggg" teriak Ardina kencang sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


Ardina yang memang penakut langsung menagis sambil berteriak meminta tolong.


Tubuhnya bergetar ketakutan, tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundaknya membuat tubuhnya semakin bergetar ketakutan "tolong jangan ganggu gw,gw kan gak punya salah sama loe" ucap Ardina masih dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.


"Ar, ini Aa" ucap seseorang yang suaranya seperti Radit.


"Ar....Ardina"panggilnya lagi


"Loe siapa?" tanya Ardina masih belum mau membuka matanya.


"Ishh ini Aa,ayo coba turunin tangannya terus liat ini Aa" ucap Radit berusaha meyakinkan Ardina


Perlahan Ardina pun menurunkan tangannya namun ia masih enggan untuk membuka matanya.


"Mana bisa liat kalo matanya masih merem begitu"ucap Radit


"Coba buka matanya dulu" ucap Radit lagi


Dengan ragu Ardina pun membuka matanya sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia yakin jika saat ini yang berdiri dihadapannya adalah benar Radit, lalu ia pun menarik tangan Ardina dan mengajaknya pergi menjauh dari ruangan itu.


Ardina pun menceritakan jika awalnya ia hanya ingin ke kantin untuk mencari makanan tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba saja seperti ada yang menariknya menuju tempat itu.


"Lain kali kalo jalan jangan ngelamun Ar" ucap Radit mengingatkan Adiknya.


"Iya aa,Ar mau cari jajanan dulu ya aa,nitip Rania dulu sebentar ya"


Raditpun hanya mengangguk lalu ia pun segera menuju ruang perawatan Rania.


Cklekkkk


Radit membuka pintu perlahan karena menurut Ardina jika Rania sedang tidur.


Saat pintu sudah terbuka ia melihat Rania sedang duduk diatas kasur sambil memainkan rambut nya.


"Kamu udah bangun Ran?" tanya Radit


Rania hanya menatap Radit dengan tatapan yang sulit diartikan.


Radit pun merasa sedikit aneh dengan sikap Rania.


"Ran, makan dulu yuk" ucap Radit sambil mengambilkan piring yang berisi makanan


"Itu bukan makanan ku" ucap Rania dengan suara serak


Radit langsung menyadari jika itu bukan Rania.


"Loe siapa?berani banget masuk kedalam badan adik gw"ucap Radit


"Bocah ingusan berani nanya gw kaya begitu" ucap sosok yang ada dalam tubuh Rania.


Kebetulan sekali aa Iwan dan juga Adit baru saja tiba di rumah sakit.


Begitu aa Iwan turun ia langsung bisa merasakan ada yang tidak beres dengan Rania.


Ia pun berjalan sedikit lebih cepat agar dapat segera tiba dikamar perawatan Rania.


"Assalamualaikum" ucap Aa Iwan dengan suara sedikit kencang.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh, Alhamdulillah ada mamang "ucap Radit sambil tersenyum bahagia.


"Rasain loe, mending sekarang loe keluar dari badan adik gw sebelum mamang gw bertindak" ucap Radit


"Ada apa Dit?"tanya Aa Iwan pura-pura tidak tau jika saat ini Rania sedang kerasukan.


"Ini loh aa, ada yang masuk kedalam badan Ran"ucap Radit


Aa Iwan hanya tersenyum "mau keluar sendiri atau gimana?" tanya Aa lagi pada sosok yang ada didalam tubuh Rania.


Sosok itu pun tertawa "loe itu cuma anak kemarin sore,berani banget ngusir gw" ucap sosok itu lagi.


Aa Iwan hanya tersenyum mendengar ucapan yang dilontarkan oleh sosok itu.


Mungkin yang dilihat oleh Radit aa Iwan hanya sedang duduk biasa namun yang sebenarnya ialah saat ini Aa Iwan sedang bertarung dengan sosok itu dan mengusirnya dari tubuh Rania.


Keringat membasahi wajah aa Iwan sambil sesekali ia terbatuk-batuk.


Hampir setengah jam akhirnya sosok itu pun mau meninggalkan tubuh Rania.


"Aduhh kok badan Ran sakit semua sihkaya abis digebukin" ucap Rania sambil memegang tengkuknya yang terasa begitu pegal.


Tidak lama kemudian Ardina dan papanya pun masuk.


Adit nampak bingung saat melihat suasana begitu kaku.


"Ini ada apa ya?kok pada diem aja" ucap Adit


"Gak ada apa-apa, itu si Ran mungkin laper,bawa makanan gak"tanya Aa Iwan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Oh kebetulan tadi Ar belu kue putu, enak ni masih anget" ucap Ardina sambil memperlihatkan kantong plastik yang ia bawa.


Mereka pun memakan bersama kue yang Ardina bawa.


"Oh iya Papa ada kabar baik, tadi Papa ke ruangan Fahri Alhamdulillah dia udah sadar, dia juga nanyain kamu Ran" ucap Adit


"Cieeee ada yang kangen tuh,baru sadar yang ditanyain ayank nya" ucap Aa Iwan menggoda Rania.


"Dih mamang, apaan sih" jawab Rania sambil tersipu malu.


"Cieee ada yang malu"


"Itu yang namanya cinta sejati Ran,rela ngorbanin diri sendiri untuk nyelametin ayanknya " ucap Aa Iwan


"Kaya abis ini kamu mendingan nikah aja Ran,kan orangtuanya sama keluarga kamu juga udah setuju, gak usah lama-lama,yang mamang lihat orang itu masih penasaran sama kamu" ucap Aa Iwan dan berhasil membuat Rania terperangah.


"Ran masih kecil mamang, yang ada juga aa Radit dulu yang nikah terus Ardina baru Ran" jawab Rania beralasan.


"Radit itu cowok Ran gak masalah dia dilangkahin,kalo Ardian juga gak akan keberatan kalau dilangkahin juga" ucap aanIwan lagi.


"Gak lah,Ran juga belum siap mang kalo nikah sekarang" tolak Rania.


"Dih emangnya siapa yang nyuruh sekarang,mamang kan bilang secepatnya Ran" ucap Aa Iwan sambil tertawa begitu juga dengan yang lainnya.


Wajah Rania langsung bersemu merah karena malu.

__ADS_1


Karena kondisi Rania sudah membaik akhirnya ia pun sudah boleh pulang.


Begitu pun dengan kondisi Fahri yang sudah lebih baik,hanya lukanya saja yang masih basah.


Setelah beberapa hari dirumah Nayla pun meminta Rania untuk gantian menjaga Fahri dirumah sakit.


Dengan diantar oleh Ardina mereka pun segera menuju rumah sakit, Rania segera menuju ruang perawatan Fahri, sedang kan Ardina langsung menuju salon.


Saat Rania membuka pintu Fahri masih tertidur,ia pun masuk perlahan karena tidak ingin membangunkan Fahri.


Baru saja ia duduk dikursi Fahripun membuka matanya.


"Kamu udah dateng Sayang?" tanya Fahri


"Kalo liat udah disini artinya udah dateng lah"jawab Rania ketus.


"Masih galak aja sih Ran,orang mah yang lembut dong kalo pacarnya lagi sakit" protes Fahri.


"Iya maaf"


"Sayang,mau dong disuapin makanya" pinta Fahri


*Dih manja banget sih"


"Perut aku masih sakit sayang"ucap Fahri beralasan.


"Iya maaf lagi" jawab Rania


"Kamu gak ikhlas banget sih sayang"


Rania pun langsung tersenyum mendengar ucapan Fahri.


"Oh iya Ran kemarin papa Adit bilang aku disuruh cepet-cepet nikahin kamu, katanya biar kamu gak bakal lagi" ucap Fahri


"Kamu jawab apa?"tanya Rania


"Aku sih mau banget disuruh buru-buru nikahin kamu sih"jawab Fahri sambil tersenyum lebar.


"Dih, loe aja belum kerja,tar gw mau loe kasih makan apa Ri?"ucap Rania


"Makan nasi lah, emang loe mau makan apa" jawab Fahri yang langsung membuat Rania kesal.


"Gw belum mau nikah"jawab Rania


"Ran ngebantah perintah orang tua itu dosa loh, apalagi perintahnya itu enak disuruh nikah" ucap Fahri lagi.


"Enak apaan,gw aja gak bisa masak" jawab Rania mencoba mencari alasan.


"Gak usah masak Ran,warteg banyak"jawab Fahri sambil tersenyum.


"Loe aja gak kerja mau punya uang dari mana buat beli" ucap Rania mengejek


"Kamu aja yang gak Ran,aku ini bos muda,kerja itu cukup dari rumah aja"jawab Fahri santai.


"Gak usah ngehayal jadi bos,kalo jatuh sakit loh" ucap Rania masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fahri.


"Kalau aku gak menghayal jadi ya kita nikah kalau aku udah keluar dari rumah sakit ini" tantang Fahri


"Iya "jawab Rania yang belum tau jika Fahri kini sudah menjadi CEO muda diperusahaan milik ayahnya.


Fahri pun tersenyum penuh kemenangan.


"Bener ya awas loh kalo ingkar janji" ucap Fahri lagi


"Iya,mana pernah sih aku ingkar janji"ucap Rania lagi.


"Ish jadi pengen buru-buru sembuh dan keluar dari rumah sakit"


"Gak usah mikir yang aneh-aneh mending tidur sana biar cepet sehat" ucap Rania sambil cemberut.


"Baik nyonya Fahri" jawab Fahri sambil tersenyum.


"Dih kepedean banget sih loe"


Fahri yang niat awalnya hanya berpura-pura akhirnya malah tertidur benaran.


Melihat Fahri yang tertidur Rania pun berniat turun sebentar untuk membeli jajanan.


Dengan perlahan ia pun keluar, dan menitipkan Fahri pada suster yang bertugas.


Iapun segera turun dan sedikit keluar dari area rumah sakit untuk mampir ke sebuah minimarket.


Dan setelah membeli beberapa cemilan dan juga minuman kemasan ia pun segera kembali menuju ruang perawatan Fahri.


Saat Rania membuka pintu alangkah terkejutnya Rania saat melihat ada seorang wanita yang duduk disebelah Fahri sambil menggenggam tangan pria itu.


"Assalamualaikum" ucap Rania


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh,loe pasti yang namanya Rania" ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.


"Rania" ucap Rania memperkenalkan dirinya.


"Gw Cantika,gw pacarnya Fahri di Kalimantan,gw langsung kesini pas dapat kabar dia sakit" ucap Cantika.


Rania yang terkejut berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.


"Oh iya Fahri banyak cerita soal loe, terimakasih ya udah mau jadi temen Fahri dan juga udah jagain dia selama sakit" ucap wanita yang bernama Cantika itu.


"Oh iya sama-sama, berhubung udah ada kamu jadi aku pamit pulang ya" ucap Rania meminta ijin untuk kembali kerumahnya.


Cantika pun hanya tersenyum sambil mengangguk.


Rania pun segera pulang kerumahnya.


Begitu tiba di rumah ia langsung masuk kedalam kamar.


"Dasar buaya, untung aja gw belum jadi sama dia"ucap Rania kesal.


Sakit rasanya hati Rania saat tau jika Fahri ternyata sudah punya kekasih yang tinggal di Kalimantan


Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja didepan keluarganya.


Nayla yang heran melihat Rania tidak pergi kerumah sakit untuk menjaga Fahri awalnya tidak ingin bertanya tapi karena penasaran akhirnya ia bertanya juga.


"Sayang mama perhatikan beberapa hari ini kamu gak kerumah sakit buat jagain Fahri, emangnya dia udah pulang ya?" tanya Nayla


"Belum mah"jawab Rania sambil memakan sepotong roti.


"Lah terus siapa yang jagain dia dirumah sakit?"


"Ada mah, pacarnya dari Kalimantan udah datang kok"jawab Rania


"Setau mama dia gak punya pacar selain kamu sayang" ucap Nayla


"Ada mah, namanya Cantika"


"Kamu yakin kalau itu pacarnya?" tanya Nayla seakan belum yakin jika wanita yang disebutkan oleh Rania adalah benar-benar kekasih Fahri.


"Udah lah mah biarin aja,lagian juga Ran sama dia gak ada hub apa-apa kok" ucap Rania


Nayla tau jika saat ini Rania berpura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal malam itu secara tidak sengaja ia melihat Rania sedang menangis.


Ia tau bagaimana perasaan Rania saat ini, karena ia pun dulu pernah merasakan hal yang sama.


Karena penasaran dengan cerita Rania ia pun memutuskan untuk datang kerumah sakit dan bertanya langsung kepada Fahri apa yang di ucapkan oleh Rania benar atau tidak.


Ke esokan harinya Nayla menyempatkan diri untuk mampir sebentar kerumah sakit,dan kebetulan saat ia tiba ia melihat seorang wanita cantik sedang menemani Fahri.


"Assalamualaikum"ucap Nayla sambil tersenyum.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh,eh tante Rania ya kemana ya Tan kok udah berapa hari ini gak kesini" ucap Fahri

__ADS_1


"Oh .Rania lagi masuk angin makanya gak bisa kesini"ucap Nayla sambil tersenyum.


"Oh iya tante, kenalin ini Cantika,sepupu aku dari Kalimantan" ucap Fahri memperkenalkan wanita yang mengaku sebagai kekasihnya.


"Hello tante kenalin Cantika, calon istrinya Fahri" ucap wanita itu dengan PDnya.


"Bohong tante,jangan didengerin hubungan aku sama dia cuma sepupu gak lebih" ucap Fahri menyangkal apa yang diucapkan oleh wanita itu.


"Seandainya dia benar tunangan kamu juga gak apa-apa Ri"ucap Nayla sambil tersenyum.


"Bukan tante, yang aku cinta cuma Rania gak ada yang lain" ucap Fahri menolak denganqqqtegas apa yang diucapkan oleh Cantika.


"Ri kita itu udah dijodohin kamu jangan lupa" ucap Cantika.


"Yang jodohin siapa? Ibu tiri gw kan,loe nikah aja sana sama anaknya bukan sama gw" ucap Fahri dengan nada sedikit tinggi karena marah


Ia pun langsung memegangi luka ya yang terasa nyeri.


"Udah kok jadi bertengkar sih,kalian selesaikan masalah kalian secara baik-baik, tante pamit dulu ya" ucap Nayla lalu meninggalkan ruang perawatan Fahri.


Entah kenapa Nayla melihat sesuatu yang aneh dengan gadis itu.


Ia pun tidak mau berburuk sangka akhirnya ia pun langsung menuju toko kue miliknya.


Ia sedikit heran dengan toko kue miliknya yang beberapa hari ini terasa sepi tidak seperti biasanya.


"Bu sepertinya pelanggan kita pada pindah deh ke toko kue yang baru buka Minggu lalu" ucap salah satu karyawan toko kue Nayla.


"Gak apa-apa,mungkin disana rasanya lebih enak dan juga harganya lebih murah" ucap Nayla lagi.


"Bukan begitu Bu, soalnya udah beberapa hari ini saat saya mau buka toko didepan pintu pasti ada tanah merah sama kembang" ucap Karyawannya lagi.


"Maksudnya tanah apa ya?"tanya Nayla masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh karyawannya.


"Itu loh Bu,siapa tau ada yang gak suka dengan ibu lalu dia pake guna-guna biar toko ibu gak laku" ucap karyawan itu menjelaskan.


"Masa iya sih" ucap Nyala masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh karyawannya.


Ia pun menutup toko kuenya lebih cepat karena memang begitu sepi pembeli.


Saat ia melewati bagian samping tokonya ia merasa hawa panas seperti sedang menginjak sesuatu.


Setelah merapihkan tokonya ia pun langsung pulang dan begitu tiba dirumah ia pun langsung menghampiri Rania dikamarnya.


"Sayang boleh mama masuk?" ucap Nayla dari depan pintu kamar putrinya.


Rania yang sedang asik membaca komik disebuah apk langsung melihat kearah mamanya.


"Kok tumben mama udah pulang,ini masih siang loh" ucap Rania


"Iya sayang,abis tokonya lagi sepi jadi mending mama tutup lebih cepat aja" ucap Nayla sambil duduk disamping Rania.


"Oh kok tumben sih sepi,kan biasanya toko mama selalu ramai"


Nayla menarik nafas panjang lalu menceritakan apa yang tadi karyawannya ceritakan.


Sejenak Rania terdiam, lalu tiba-tiba saja ia melihat ada orang yang sengaja menyebarkan tanah kuburan didepan toko kue mamanya.


Rania pun menceritakan apa yang ia lihat pada Mamanya.


Naylapun diam sesaat seperti sedang berpikir.


Sesaat kemudian ia pun menghubungi Aa Iwan dan menceritakan semua yang ia alami hari ini kepada Aa.


Aa pun langsung memberitahu Nayla apa yang aa Iwan lihat dan halnitu sama dengan apa yang Rania ceritakan kepadanya.


Dengan dibantu oleh Aa Iwan Naylapun melakukan apa yang Aa Iwan suruh.


Keesokan harinya dengan dibantu oleh Aa Iwan mereka pun kebersihan toko kue Nayla.


Setelah ritual membersihkan toko kue Nayla aa pun menceritakan jika orang itu sengaja membuat toko kue Nayla tidak terlihat seolah ada yang menutupinya sehingga orang-orang tidak tau jika disana ada toko kue.


Aa Iwan juga sudah mengembalikan kiriman itu kepada yang punya.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Aa beberapa hari kemudian toko kuenya sudah mulai ramai kembali seperti semula.


Sementara itu toko kue yang baru buka yang beberapa hari sempat ramai kini kembali sepi.


Sementara itu Rania mencoba melupakan apa yang dikatakan oleh Fahri yang mengajaknya segera menikah.


"Ish dasar buaya darat,pake ngajak gw nikah padahal dia udah punya pacar baru ditempat lain" ucap Rania sambil menatap foto mereka berdua waktu masih SMA dulu.


Sementara itu Fahri yang sudah diperbolehkan pulang, hendak mampir kerumah Rania untuk menanyakan kenapa ia tidak pernah lagi datang menemaninya dirumah sakit.


"Kita mau keman sih RI,kan seharusnya kita langsung pulang"tanya Cantika saat menyadari jika jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju rumah Fahri.


"Mending loe diem aja, gara-gara loe calon istri gw jadi salah pengertian" ucap Fahri kesal.


"Kenapa jadi dia sih, kan gw calon istri loe RI" ucap Cantika protes.


"Gw gak cinta sama loe,yang jodohin kita itu ibu tiri gw,jadi loe nikah aja sama saudara tiri gw" ucap Fahri lalu turun dari mobil dan langsung memencet bel rumah Rania.


Setelah berkali-kali memencet bel akhirnya Ardina pun langsung keluar.


"Eh ada Fahri,masuk yuk" ucap Ardina


"Ranianya ada gak Ar?"


"Ada, sebentar ya gw panggil,loe duduk dulu ya"ucap Ardina sambil masuk kedalam lalu membuatkan sirup dingin untuk kedua tamunya lalu langsung naik keatas kekamar Rania.


"Ran,ada Fahri sama cewe gw gak tau siapa namanya" ucap Ardina.


"Gw males Ar buat nemuin dia,bilang aja gw tidur" ucap Rania dengan malas.


"Jangan begitu Ran,kalo loe ada masalah mending di omongin secara baik-baik "ucap Ardina.


"Tapi gw males liat dia, apalagi sama tuh cewe" jawab Rania


"Jangan begitu sayang,ayo cepet temuin dia"ucap Nayla yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan pintu kamar Rania.


"Tapi mah..."


Sebelum Rania meneruskan perkataannya Nayla sudah menatapnya.


Akhirnya dengan rasa enggan Rania pun turun dan menemui Fahri dan Cantika yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Lama amat sih Ran" ucap Fahri


"Sort kalo lama,tadi gw lagi tidur" jawab Rania berbohong.


"Oh sorry ya gw ganggu dong"


"Jelas aja ganggu, gw lagi enak-enak tidur dibangunin"jawab Rania ketus.


"Loe kenapa gak jagain gw lagi di R"tanya Fahri.


"Dih ngapain juga gw nungguin loe,kan udah ada pacar loe" jawab Rania apa adanya.


"Mana pacar gw?"tanya Fahri berpura-pura tidak tahu.


"Itu disebelah loe"


"Oh, Cantika itu cuma sepupu gw Sayang,kok loe berpikir pacar gw sih" ucap Fahri


"Lah dia sendiri yang bilang sama gw kalau dia itu calon istri loe" jawab Rania tidak mau kalah.


"Ran cuma loe calon istri gw,yang gw omongin kemarin masih berlaku dan sekarang gw mau loe ikut gw buat buktiin kalau apa yang gw bilang kemarin bukan cuma khayalan gw aja sayang" ucap Fahri.


"Gw males keluar,gw mau tidur lagi" jawab Rania dengan malasnya.


Karena Fahri terus memaksa akhirnya Rania mengikuti apa yang Fahri kehendaki.

__ADS_1


Dengan ditemani oleh Ardina mereka pun mengikuti Fahri menuju suatu tempat.


__ADS_2