
🌹🌹🌹 Selamat Membaca🌹🌹🌹
Nampak beberapa suster sedang berusaha menangani Papa Nay yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Sementara itu Nayla terus menangis dalam dekapan Adit sambil berdoa untuk kesembuhan papanya.
Tiba-tiba hati Nayla merasa takut kehilangan Papanya, perasaannya jadi tidak enak.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Adit sambil menatap wajah Nayla yang nampak khawatir.
"Gak apa-apa , perasaan aku kurang enak Dit"
"Kita berdoa saja sayang, semoga Allah memberikan yang terbaik buat Papa" Adit mengelus lembut bahu Nayla berusaha memberi sedikit ketenangan.
Tak lama kemudian dokter pun masuk dan langsung mengecek kondisi Papa Nayla.
"Perasaan aku kok gak enak ya Dit" Nayla mengakat sedikit kepalanya menatap wajah Adit.
"Kita berdoa aja sayang" Adit menghapus air mata di pipi Nayla dengan tangannya.
Nayla menatap serius kearah beberapa suster dan seorang dokter yang sedang berusaha menolong Papanya.
Mata Nayla membulat sempurna saat seorang perawat menarik selimut dan menutup seluruh tubuh Papanya.
"Tidak....suster....jangan"
Nayla langsung berlari kearah tempat tidur dan mendorong beberapa suster yang berada disana.
"Suster apa-apa'an sih, papa saya masih hidup main tutup aja" teriak Nayla marah sambil menyibak selimut yang menutupi papanya.
"Papa...Papa bangun pah, jangan begini Pah.."
"Jangan tinggalin Nayla"
"Aku mohon Papa bangunn" Nayla berteriak sambil menangis dan mendekap tubuh papanya yang sudah terbujur Kaku.
Sementara Adit berbicara denga dokter, dua orang suster berusaha menenangkan Nayla yang terus menangis sambil memanggil-manggil Papanya.
Jafar yang baru saja tiba langsung melepas semua yang ia bawa hingga berantakan dilantai.
Begitu pun dengan Ibu tiri Nayla yang langsung terduduk lemas saat Adit memberitahu jika Papa Nayla baru saja tiada.
"*Pa...bangun pah, ini Nay ada disini, Papa jangan pergi "
"Nay nanti sama siapa Pa...hu.....hu*...." Nayla terus menangis di samping jasad Papanya
Ingatannya kembali pada saat Papanya masih ada, selama hidupnya belum pernah sekalipun Papanya memukul namun jika Ia berbuat salah Papa hanya menasehatinya.
Jika Nayla nakal dan dihukum oleh Mamanya maka sang Papalah yang selalu membelanya.
Untuk sesaat Adit meminta waktu beberapa menit pada suster untuk membiarkan Nayla berada disisi Papanya.
Adit hanya mengawasi disamping Nayla yang sedang menangis sambil berusaha menenangkan Istrinya itu.
"Sayang kamu gak kasian sama Papa, kasian Papa kalau kamu kaya gini Nay"
Nayla tak menjawab semua perkataan Adit tiba-tiba ia merasa pandangannya gelap hingga akhirnya Ia pun tak sadarkan diri dengan posisi duduk dan kepalanya berada di tempat tidur dan tangan nya memegang tangan sang Papa yang sudah tiada.
Adit yang merasa heran kenapa tiba-tiba Nayla terdiam mendadak baru menyadari ternyata Nayla pingsan.
Ia pun langsung membopong tubuh Nayla dan membaringkan Nayla di bangku panjang yang ada di ruangan itu.
Dua orang susterpun segera membawa tempat tidur yang berisi jasad Papa Nayla ke kamar Mayat.
__ADS_1
Jafar mengemas semua barang mereka yang ada diruangan itu lalu memasukan nya kedalam tas.
Sementara Adit berusaha membuat Nayla siuman dengan menaruh minyak kayu putih di hidung Nayla sambil menepuk pelan pipi istrinya itu.
"Pah...Papa"
huk...huk...
"Papah jangan pergi Pah"
"Pah... jangan tinggalin Nay sendirian Papa"
Nayla menangis dengan mata yang terpejam sambil terus memanggil Papanya.
Sementara itu Adit langsung memberi kabar Pada Tia adik Nayla tentang kepergian Papanya.
Setelah mengurus semua biaya administrasi akhirnya merekapun kembali ke rumah Papa Nayla di kampung.
Sementara di kampung Papa Nay semua warga saling membantu menyiapkan semua keperluan pemakaman.
Ibu tiri Nayla dan Jafar naik di mobil pribadi mereka sedangkan Nayla bersama Adit di mobil Ambulans.
Nayla terus mendekap jasad Papanya.
Matanya pun mulai bengkak karena menangis, sebetulnya Adit tak tega melihat Nayla yang seperti hilang semangat.
"Papah...
"Papah..jangan tinggalin Nay"
Hanya kata-kata itu saja yang mengalir dari mulut Nayla.
Mereka pun sampai dirumah Nay.
Jenazah pun di keluarkan dari dalam ambulans dengan dibantu beberapa Orang tetangga.
Saat Nayla hendak turun dari mobil badannya terasa lemas bagai tak bertenaga hingga akhirnya Nayla kembali tak sadarkan diri.
Beruntung Adit dengan sigap menangkap tubuh Nayla yang hampir saja terjatuh.
Adit pun langsung membawa tubuh Nayla kedalam kamarnya.
"Sayangg kamu yang kuat ya, aku janji akan selalu menjaga dan melindungi kamu Nay"
cup
Adit mengecup kening Nayla yang masih tak sadarkan diri.
Sementara itu diruang depan nampak sudah penuh dengan para tetangga yang bertakziah.
Akhirnya Naylapun membuka matanya perlahan sayup-sayup ia mendengar suara orang yang membaca Al-Quran secara bergantian.
Pah..papa...
Nayla kembali menangis memanggil Papanya.
"Sayang kamu yang iklas, kasian Papa Nay" bisik Adit sambil mendekap tubuh Nayla.
Nayla bersikukuh ingin ikut ke pemakaman, namun karena adat di kampung itu wanita tidak boleh ikut akhirnya Naylapun mengalah.
Dari balik kaca ia memandang kranda yang berisi jasad Papanya dengan air mata yang berlinang.
Adit, Jafar serta beberapa kerabat dari Papa Nayla sudah bersiap mengusung kranda dan membawanya ke pemakaman.
__ADS_1
Saat Iring-iringin mulai berjalan menuju pemakaman Nayla langsung berlari mengejar rombongan yang membawa kranda Papanya.
Papah.....
Pah...
Jangan bawa Papa aku....
Tolonggg berhentii
"jangann bawa Papa aku, aku mohonnn"
teriak Nayla sambil berlari sekencang yang ia bisa.
Sementara itu adik Jafar serta beberapa orang ikut berlari menyusul Nayla.
Karena kondisi fisik Nayla yang sedang lemah akhirnya Naylapun terjatuh ke aspal dan tak sadarkan diri.
Adik Jafar dan beberapa orang yang mengejarnya tadi terkejut saat melihat Nayla tergeletak di jalan raya.
Dengan meminta bantuan beberapa orang mereka menggotong tubuh Nayla kembali kerumahnya.
Proses pemakamanpun berjalan lancar hingga tak butuh waktu lama mereka segera kembali.
Alangkah terkejutnya Adit saat mendapat laporan jika Nayla tadi mengejarnya dan pingsan ditengah jalan.
Setelah membersihkan tubuhnya dengan bergegas ia pun masuk kedalam kamar dan melihat Nayla yang masih terpejam.
"Sayang ..."
"Nay...bangun sayang" Adit menepuk-nepuk pipi Nayla berharap agar Nayla segera membuka mata.
Satu jam pun berlalu namun Nayla belum juga siuman.
Adit mulai merasa khawatir ia pun berusaha membangunkan Nayla dengan berbagai cara namun semua nya nihil Nayla tak juga mau membuka matanya.
Mata Adit sedikit membelalak saat melihat luka yang cukup lebar dibagian lulut Nayla.
Ia pun mengambil kapas dan Alkohol dan membersihkan luka Nayla dengan sangat hati-hati.
"Coba kamu lagi sadar sayang, udah abis aku kamu pukulin gara-gara bersihin luka ini" Adit menarik sedikit bibirnya kala kenangan saat ia mengobati luka Nayla yang jatuh melintas di ingatannya.
"Kamu gak sendirian sayang, ada aku yang akan selalu menjaga kamu" ucap Adit sambil mengelus pipi Nayla dan menciumnya sekilas.
"Maafin aku atas semua khilaf aku yang kemarin sayang"
Adit menatap wajah Nayla yang terlihat semakin tirus, tiba-tiba ia merasa sangat bersalah dengan semua kejadian yang menimpa Nayla beberapa bulan terakhir ini.
"Maafin aku sayang"
Aditpun ikut merebahkan diri disamping Nayla dan memejamkan mata sejenak untuk beristirahat.
Udah dulu ya up nya buat hari ini.
Maaf kalau sekarang upnya jadi dua hari sekali itu karena aku lagi mempersiapkan novel selanjut
Buat para author lain yang mampir disini aku mohon maaf kalau sedikit telat mampir di karya kalian tapi aku pasti mampir kok.
Maaf ya kalau banyak typo bertebaran juga.
Jangan lupa like dan komennya biar aku bisa mampir di karya kalian
salam Maniss
__ADS_1
amellajj//author