
Selamat Membaca
Ryan yang memang tau jika Adit membuntutinya memilih melewati jalan tol agar Adit tidak merasa ngikutinya lagi karena Adit hanya naik motor.
Nayla yang tidak menyadari asik saja. memainkan ponselnya sambil mulutnya tidak berhenti mengunyah aneka macam kue yang Ryan bawa.
"Nay...tuh perut melar ya, masa gak kenyang sih dari tadi makan mulu" tanya Damra.
Nayla hanya tersenyum mendengar pertanyaan Damra.
"Kita mau kemana sih Yan?" tanya Damra yang mulai merasa bosan karena macet.
"Kita ke pasar burung Ra ada burung yang mau gw cari" jawab Ryan sambil masih fokus melihat jalan.
"Main tebak-tebakan yuk" ajak Nayla pada Ryan dan Damra.
"Hadiahnya apa?" tanya Damra
"Aku traktir makan siang" jawab Nayla
"Itu sih urusan Ryan" sahut Damra.
"Ya udah kamu mau apa hadiahnya kalo kamu bisa jawab?" tanya Nayla
"Jalan-jalan aja ke mall, gimana?" tanya Damra menunggu jawaban dari Nayla.
"Ok" jawab Nayla langsung setuju
"Apa pertanyaan nya" tantang Damra
"Burung apa yang mualaf" tanya Nayla dengan santainya.
"Hello mana ada nama burung mualaf"
"Ada Ra"
"Coba Yan apa jawabannya?" tanya Nayla pada Ryan yang hanya diam saja dan terkadang senyum.
"Setahu gw gak ada tuh nama burung Mualaf" ucap Damra bersikukuh.
"Ada Ra, mau tau gak jawabannya" jawab Nayla
"Apa coba?" tanya Damra
"Burung gereja kalo hinggap di masjid namanya ganti Ra jadi burung Mualaf" jawab Nayla dengan santainya.
Damra mengerutkan keningnya bingung.
"Mana ada begitu" protes Damra.
"Ada Ra, orang Kristen aja masuk Islam namanya mualaf" jawab Nayla tak mau kalah juga.
"Itu kan orang Nay, kita lagi bahas burung" jawab Damra.
"Sama aja Ra" jawab Nayla masih dengan mode tak bersalahnya.
"Tau ah Nay, susah emang ngomong ama orang lagi sakit hati mah" akhirnya Damrapun mengalah.
Ryan hanya menggeleng kepalanya mendengar perdebatan antara Nayla dan Damra.
Setibanya di pasar burung Ryan langsung menggandeng tangan Nayla karena situasi sangat ramai.
__ADS_1
"Yan gw gak di pegangin, tar kalo gw ilang gimana" protes Damra yang merasa tak diperhatikannya oleh Ryan.
Ryan pun langsung menggandeng tangan Damra dengan tangan satunya lagi.
Suasana pasar burung yang lumayan ramai membuat Damra dan Nayla sedikit kesulitan untuk mengikuti langkah Ryan yang memang sudah biasa.
Ryan berhenti disalah satu lapak pedagang. Ia memperhatikan seekor burung Murai ekor panjang.
Ia pun bertanya-tanya pada pedagang sedangkan Nayla dan Damra asik melihat-lihat sekitarnya.
Mata Nayla tertuju pada salah satu burung Lovebird berwarna biru dengan kepala hitam.
"Kenapa loe Nay?" tanya Damra saat melihat Nayla senyum-senyum sendiri.
"Ra liat deh ni burung lucu banget ya" ucap Nayla.
"Gak, biasa aja" jawab Damra.
"Lah kan burung ini badannya biru tapi kepalanya kok item ya?" tanya Nayla yang membuat Damra sedikit mendengus kesal.
"Udah dari sananya begini Nay" jawab Damra.
"Ohh aku kira item itu gara-gara dia kalo terbang siang-siang kan panas tuh, jadi deh item" ucap Nayla dengan polosnya hingga membuat Damra gemas.
"Mana ada begitu Nayla, semua burung juga kalo terbang siang" jawab Damra yang lalu menjauh dari Nayla agar kepalanya tidak bertambah pusing oleh pertanyaan yang nyeleneh dari Nayla.
"Lovebird artinya burung cinta"
"Emmm ni burung berarti tukang pacaran ya?" tanya Nayla yang mendekati Damra
"Bodo Nay loe mau ngomong apa, lah kalo gini gw yang stress" Damra bersembunyi di balik badan kekar Ryan.
"Loe kenapa Ra?" Ryan napak bingung melihat Damra yang terus menjauh dari Nayla.
"Lah kok aku sih Ra, aku kan cuma bilang tuh burung maen panas-panasan terus kali makanya kepalanya item" jawab Nayla sambil tersenyum.
Ryan hanya menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk membeli burung murai.
"Kenapa gak jadi Ryan, kan katanya kamu mau beli burung?" tanya Nayla sambil menyedot es yang ia pegang.
"Gak apa-apa Nay, kemahalan aja" jawab Ryan sambil mengelus lembut kepala Nayla.
Ehemmm
Damrapun mendehem sekedar mengingatkan Ryan jika Nayla masih berstatus istri Adit.
Ryan pun langsung melihat kearah Damra
"Iya gw tau Ra" ucap Ryan.
Karena hari sudah siang mereka pun segera menuju warung Padang yang ada didekat daerah situ.
Nayla yang masih merasa kenyang tak memesan makanan ia hanya meminta secangkir kopi susu pakai es batu.
"Kenapa Nay kok kamu gak mau makan" tanya Ryan
"Ya masih kenyang lah Yan kan dari tadi dia makan mulu" sahut Damra sambil. memakan peyek udang.
"Kayanya tuh peyek enak deh" Naylapun langsung mengambil satu peyek lalu memakannya.
__ADS_1
Merekapun makan dengan sangat lahap terkecuali Nayla yang hanya memakan lauknya saja.
Setelah selesai makan merekapun kembali kesalon.
Begitu tiba di salon Adit langsung menghampiri Nayla yang baru saja turun dari mobil.
"Nayla ikut aku" Adit langsung menarik tangan Nayla agar mengikutinya ke tempat fitnes miliknya.
Tanpa melawan Nayla langsung saja mengikuti Adit.
Sementara Damra dan Ryan memperhatikan dari kejauhan.
"Jangan narik-narik sih Dit sakit" Nayla berusaha melepaskan tangan Adit yang memegangnya kuat.
"Adit sakit tau" sentak Nayla kesal kerena Adit tak juga mau melepaskan genggamannya.
"Nayla kita harus bicara serius" Adit sedikit menekan bahu Nayla agar mau duduk disalah satu dibangku yang ada disana.
"Ya udah ngomong aja tapi jaga jarak aman ya"
"Nay aku suami kamu bukan orang lain" ucap Adit malah duduk disebelah Nayla.
"Kamu bukan suami aku, kita cuma sepupuan doang" balas Nayla sambil menjauh dari Adit.
"Nay...Nayla, maaf aku bilang begitu bukannya aku malu ngakuin kamu istri aku tapi ..." Adit tak melanjutkan kata-katanya, ia menatap kearah Nayla.
"Tapi apa?" sesak Nayla
Setelah menunggu beberapa menit Adit tak menjawab pertanyaan Nayla akhirnya Naylapun kesal.
"Kamu gak bisa jawab kan?"
"Dah lah Dit kita masing-masing aja dari sekarang" ucap Nayla sambil berdiri dan hendak pergi meninggalkan tempat fitnes Adit.
Namun saat Nayla hendak berjalan keluar Adit menarinya hingga ia terjerembab kedalam pelukan Adit.
Aditpun mendekap Nayla erat. Nayla yang kesal memukul-mukul dada Adit.
"Ihh ngapain sih main peluk aja" maki Nayla saat Adit mulai sedikit merenggangkan dekapannya.
"Aku kangen Nay" bisik Adit
"Aku gak" jawab Nayla cepat
"Terserah kamu Nay mau kagen apa gak sama aku, tapi yang jelas aku yang kangen banget sama kamu" Adit berbicara sangat dekat dengan wajah Nayla hingga secara otomatis Nayla pun sedikit menjauhkan wajahnya.
"Kamu tuh gak tau malu banget ya, lepasin gak Dit" paksa Nayla
"Nay biarin kaya gini dulu sebentar, aku mau mencium aroma tubuh kamu Nay" bisik Adit.
"Aroma tubuh aku tuh bau matahari tau, apa enaknya bau matahari" dengus Nayla kesal.
"Bodo amat Nay mau bau matahari apa gak" jawab Adit.
Nayla yang sudah sangat kesal akhirnya menginjak kaki Adit sangat kencang jingga mau tak mau Adit melepaskan dekapannya lalu memegang kakinya yang berdenyut akibat di injak oleh Nayla.
"Sukurrrr" ucap Nayla sambil berlari menuju salon Damra.
**Sampai sini dulu ya up nya lanjut besok lagi.
Jangan lupa beri Author dukungan dengan cara Like, Vote dan komen ya
__ADS_1
Salam Manis
Amelajj/Authorr**