
Selamat Membaca
Rania menatap rumah itu,ia begitu enggan untuk masuk saat Fahri memaksanya untuk masuk.
"Kok kamu bilangnya rumah hantu sih yank,ini kan akan jadi rumah kita nanti kalo sudah nikah" ucap Radit yang memang tau jika rumah itu sedikit seram.
"Kamu tau kan ada kejadian apa saat aku disini waktu itu"
"Iya,aku tau,tapi kamu harus terbiasa soalnya kita akan tinggal disini nanti yank" ucap Fahri sambil tersenyum.
"Terserah kamu ajalah"ucap Rania kesal,ia pun langsung duduk di kursi.
Sementara itu Fahri menjelajahi rumah nya dan menulis apa saja yang kurang dan harus ia beli.
Sementara Fahri berkeliling Rania merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu dan tidak lama kemudian ia pun terlelap.
Dalam tidurnya ia melihat ada sebuah cahaya merah yang memancar dari lantai ruang tamu nya.
Karena ia penasaran ia pun mendekat,namun saat ia beberapa langkah dari cahaya itu ia merasa badannya begitu panas, semakin ia mendekat semakin panas juga ia rasakan hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menjauh dan kembali duduk di kursi.
Raniaaaa
Rania yang sedang duduk mendengar ada suara yang begitu lembut memanggil namanya.
Ia pun mencoba mencari siapa yang memanggil namanya.
Rania pun menaiki tangga dan menuju lantai dua.
Lagi-lagi suara itu memanggil namanya.
"Loe siapa sih, coba liatin wujud loe,gw gak takut"ucap Rania sambil mengedarkan matanya mencari sosok yang terus saja mengganggu nya.
Entah dari mana datangnya tiba-tiba saja sosok bocil yang biasa mengikutinya hadir disebelahnya dan menarik-narik baju Rania seperti memberi kode.
"Kapan loe munculnya cil, mentang-mentang hantu main nongol aja, untung gw gak punya riwayat jantung"maki Rania yang hanya ditanggapi dengan senyum lebar dari hantu bocil itu.
Rania berniat menghampiri Fahri yang berdiri di balkon,namun baru saja beberapa langkah bocil itu langsung menariknya seakan tidak mengijinkannya untuk menghampiri Fahri.
"Loe ngapa sih cil,gw cuma mau liat gimana pemandangan dari sana doang kok" ucap Rania saat lagi-lagi si hanyi bocil menarik bajunya seakan melarang nya untuk kesana.
__ADS_1
Bukan Rania namanya jika ia menuruti kemauan si hantu bocil.
Ia pun mendekat dan menghampiri Fahri yang berdiri disisi balkon.
"Wahhhh bagus juga pemandangan dari sini"ucap Rania sambil menatap jajaran bunga dibawahnya.
"RI,kok loe gak bilang-bilang sih kali siaini pemandangannya lumayan"ucap Rania sambil merentangkan tangannya menghirup udara malam yang lumayan sejuk.
Tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya seperti terjun bebas dan benar saja saat ia melihat keatas Fahri tersenyum bukan menolongnya.
Aaaaaaa
Bruakkkk
"Aduhhhh" teriak Rania kencang saat ia merasa tubuhnya jatuh.
Ia pun membuka mata dan ia baru tersadar jika ia jatuh dari sofa tempat ia tadi merebahkan tubuhnya.
"Alhamdulillah cuma mimpi,bukan jatuh beneran dari lantai dua" ucap Rania sambil bangun.
Fahri yang mendengar teriakan Rania langsung menghampiri tunangannya itu.
"Stoppp" teriak Rania saat Fahri hampir mendekatinya.
"Ada apa sih yank,tadi aku denger suara kamu berteriak?"tanya Fahri
"Loe itu Fahri apa hantu yang tadi jorokon gw?"
Pertanyaan Rania semakin membuat Fahri bingung.
"Maksudnya apa sih yank,aku beneran gak ngerti" ucap Fahri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rania menatap Fahri tajam,ia pun mendekati Fahri dan saat sudah dekat ia mencubit lengan kekasihnya sedikit kencang.
Aduhhhh
Fahri meringis menahan rasa pedih ditangannya yang tadi dicubit oleh Rania.
"Sakit tau yank,kamu kenapa sih?"tanya nya.
__ADS_1
"Aku kira kamu hantu, soalnya tadi aku liat kamu biar pun itu mimpi tapi kaya nyata" tutur Rania menjelaskan.
"Pulang aja yuk,makin lama aku makin gak enak perasaan"ajak Rania sambil menarik tangan Fahri menuju pintu keluar.
Begitu tiba diluar Rania pun berdiri di samping mobil Fahri sambil menunggu kekasihnya itu mengunci pintu.
Tanpa sengaja Rania melihat kearah balkon, ia pun memicingkan matanya saat melihat sosok pria yang menyerupai Fahri berdiri disana sambil tersenyum.
Ia pun sedikit ragu apakah Fahri yang bersamanya saat ini adalah Fahri yang asli atau bukan.
"Kok malah ngelamun sih yank,kamu kenapa sih?"tanya Fahri yang bingung melihat Rania yang seperti orang kebingungan.
"Kalo ini kamu yang asli terus yang diatas sana siapa dong?" tanya Rania sambil menatap keatas.
Fahri pun melihat keatas, mengikuti arah tangan Rania.
"Gak ada siapa-siapa diatas" ucap Fahri
"Tadi ada tau, mukanya aja mirip kamu RI" ucap Rania begitu yakin
"Udah lah yank, mungkin akibat dari tadi pagi kamu badmood jadi penglihatan kamu makin tajam atau bisa jadi kamu tuh sebenernya kangen sama aku tapi malu mau bilang"ucap Fahri sambil menggoda Rania
"Dih mana ada aku kangen,kalo sebel iya"protes Rania tidak terima
"Itu buktinya,yang kamu bayanginya aku terus"
"Males ah sama kamu, ayo pulang lah aku udah cape banget"ucap Rania kesal sambil masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan Rania hanya diam saja badannya terasa begitu nyeri padahal hari ini ia tidak mengerjakan pekerjaan yang berat.
Rania juga menolak saat Fahri mengajaknya untuk makan pecel ayam ditempat biasa mereka makan.
Keinginan Rania saat ini adalah ingin segera sampai dirumahnya lalu tidur.
Fahri yang merasa aneh dengan tingkah Rania hari ini hanya memandang gadis itu yang kini terlelap di kursi sebelah nya.
Begitu tiba Fahri pelan-pelan membangunkan Rania.
Gadis itu pun membuka matanya saat merasa ada yang menyentuh pundaknya.
__ADS_1
"Udah sampe ya,gw masuk dulu ya RI masih ngantuk banget"e Rania sambil turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah nya tanpa melihat kebelakang.
Fahri pun langsung menjalankan mobilnya saat melihat Rania sudah masuk kedalam rumah.