
HAPPY READING
Setelah mendapatkan sharelok dari Ardina dan kebetulan Adit tahu dimana letak Villa yang dimaksud meraka pun menuju Villa itu.
Nayla terus saja berdoa demi keselamatan putrinya.
Sementara itu Rania yang sedang berada didalam yang berbeda nampak begitu kesulitan untuk mencari jalan keluar.
Yang ia lihat hanya serba hitam dan gelap.
"Mama ....tolong Ran..."teriak Rania tanpa bisa didengar oleh siapa pun.
Sementara itu di dalam bus yang melaju kencang Ardina begitu panik saat ia tidak bisa bangunkan saudaranya itu.
Beberapa orang berusaha membantu namun Rania tetap saja tidak mau membuka matanya.
Karena panik mereka pun berinisiatif membawa Rania ke rumah sakit atau klinik terdekat untuk pertolongan pertama.
Beruntung Ardina tidak sendirian ada Rahmat dan juga Fahri yang selalu menemaninya.
"Kita berdoa saja semoga Rania tidak apa-apa"
Dengan dipimpin oleh Rahmat merasa pun yang berada didalam bis berdoa untuk keselamatan Rania.
Bukan tanpa sebab mereka takut, karena sekujur tubuh Rania dingin bagaikan es namun ia masih bernafas.
Bis itu pun berhenti bdi sebuah rumah sakit dan setelah Rania mendapatkan pertolongan mereka pun meninggalkan Ardina disana dan kembali ke Villa.
Bukan karena tidak setia kawan mereka meninggalkan Ardina disana namun karena Ardina tidak mau merepotkan teman-temannya yang seharusnya bersenang-senang selain itu juga mama dan papanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit itu.
Air mata Nayla terus saja mengalir saat melihat kondisi Rania yang kini berada di rumah sakit.
Walaupun ia sedikit tenang karena Rania sudah ada yang menangani namun tetap saja ia takut jika terjadi sesuatu pada Rania.
Sementara itu dirumah sakit Fahri membelikan beberapa makanan ringan untuk Ardina dan Mamat yang terlihat begitu lelah.
"Kalian istirahat saja dulu biar aku yang jaga Rania" ucap Fahri.
"Gak Ri, kamu aja yang istirahat aku gak bisa tenang kalau belum mastiin Rania baik-baik saja"
"Gimana aku harus jelasin sama mama" ucap Ardina yang langsung menangis.
Akhirnya Aditpun tiba dirumah sakit tempat Rania berada.
Setelah menelfon Ardina untuk menanyakan ruangan tempat Rania dirawat Aditpun berjalan mencari keberadaan anaknya itu.
Begitu melihat Ardina yang sedang memejamkan matanya Adit nampak tidak tega untuk membangunkannya.
__ADS_1
Rahmat yang terbangun karena mendengar suara langkah kaki langsung membuka matanya.
Awalnya ia hendak membangunkan Ardina namun Adit melarangnya dengan bahasa isyarat.
Nayla yang tidak tega melihat putrinyanya langsung berurai air mata.
Radit pun terdiam ingin manangis namun air matanya tidak bisa keluar ia hanya membeku melihat adiknya yang biasanya selalu tidak bisa diam kini justru diam bahkan tidak bergerak.
"Ran...bangun dek, aa lebih suka lihat kamu yang selalu banyak tingkah dibandingkan melihat kamu seperti ini" batin Radit sedih.
Ardina yang mendengar suara sedikit gaduh langsung membuka matanya perlahan.
Beberapa kali ia mengucek matanya meyakinkan ia tidak salah lihat.
"Mah....ini mamah kan?" tanya Ardina
"Papah....,aa Radit" ucapnya seakan tidak percaya jika keluarganya sudah tiba.
Nayla langsung memeluk putrinya.
"Jangan takut sayang ada mama dan semuanya" Nayla memeluk Ardina yang menangis tersedu.
"Ini salah Ar mah yang gak bisa jagain Ran, andai saja Ar lebih peka sedikit pasti gak akan seperti ini" ucap Ardina menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan bilang seperti itu sayang, ini bukan salah siapa-siapa"
"Dari pada nangis lebih baik kita berdoa bersama buat keselamatan Rania" ucap Adit sambil memeluk Nayla dan Ardina.
Setelah Nayla Ardina sedikit tenang ia pun mendekati Rania yang terpejam.
"Sayang kamu kenapa?" Adit pun mencium kening Rania yang terasa begitu dingin.
Ia pun langsung teringat Aa Iwan, dengan segera ia pun keluar dari kamar dan mencari tempat yang sedikit sepi untuk menelpon Aa Iwan.
Beruntung Aa pun langsung merespon.
Aditpun langsung menceritakan keadaan Rania.
Berhubung Aa Iwan sedang berada di kampung halamannya ia pun meminta Adit untuk melakukan beberapa hal dan ia juga akan mencoba menerawang apa yang terjadi dengan Rania sebenarnya.
Setelah menutup panggilan telpon nya ia pun kembali menghampiri Nayla.
"Gimana yank, apa kata Aa Iwan" tanya Nayla tidak sabaran.
"Sebentar yank, Aa mau coba lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rania" ucap Adit sambil mengelus kepala Nayla.
"Pah..maafin Ar, kalau saja Ar malam itu lebih peka, Rania pasti gak kaya begini" ucap Ardina dengan wajah menunduk seakan begitu menyesal karena ia sudah sedikit ceroboh.
__ADS_1
"Jangan nyalahin diri sendiri sayang, ini bukan salah siapa-siapa, tapi ini salah papa, coba saja papa ikutin apa kata mama kamu pasti gak akan seperti ini" ucap Adit yang tiba-tiba saja ikut merasa bersalah kerena sudah mengijinkan mereka.
"Sudah lah Semua sekarang kita berdoa aja yuk" ajak Nayla pada semuanya.
Mereka pun sholat berjamaah di ruang itu.
Aa Iwan pun mengirimkan pesan kepada Adit agar membuat pengajian dadakan di Villa yang mereka tempati.
Dengan segera mereka pun menuju Villa yang mereka tempati.
Nayla tidak ikut karena menjaga Rania.
Setelah tiba di Villa Aditpun meminta ijin kepada penjaga Villa untuk mengadakan pengajian dan penjaga Villa pun mengijinkannya.
Dengan orang yang seadanya dan hanya teman-teman Rania saja yang hadir namun acara pengajian berjalan dengan lancar.
Sementara itu di alam sana Rania melihat ada setitik cahaya dan ia pun berjala mendekati cahaya itu.
Namun setelah lelah ia berjalan ia tidak juga sampai pada cahaya itu.
Karena merasa lelah ia pun berhenti sejenak untuk beristirahat.
"Teruslah berjalan Rania, jangan berhenti"
tiba-tiba saja Rania mendengar suara seseorang pria yang menyuruh untuk terus berjalan menuju cahaya itu.
Dengan tertatih-tatih ia pun terus berjalan hingga cahaya itu terlihat besar dan sinarnya begitu menyilaukan.
Sementara itu setelah acara pengajian di gelar saat Adit hendak pamit kembali kerumah sakit sang penjaga Villa menarik tangannya.
"Penghuni disini menyukai putri anda tuan, ia hanya bermaksud mengajaknya bermain sembentar" ucap pria tua itu.
" terimakasih pak buat infonya, tapi dunia mereka berbeda biarpun dia menyukai putri ku tapi dunia mereka berbeda ssebeni disana bisa beberapa hari di sini" ucap Adit.
"Tolong Pak bantu saya, kasihan dia dan juga mamanya" Pinta Adit pada penjaga Villa.
Radit yang kebetulan tanpa sengaja melihat pedang yang sama dengan yang Rania lihat langsung merasa aneh.
"Insyaallah saya akan bantu tuan, dimana sekarang putri anda dirawat" tanya pria itu.
Adit pun mengajak pria itu kerumah sakit untuk melihat kondisi Rania.
Setelah melihat kondisi Rania pria itu pun berkata jika saat ini sudah ada yang menolongnya hanya tinggal menunggu Rania mampu atau tidak melewati beberapa rintangan yang akan menghalanginya.
Hati Nayla begitu sedih mendengar penuturan penjaga Villa itu.
Untuk menghilangkan rasa sedihnya Nayla pun langsung mengambil wudhu lalu membuka sebuah aplikasi Alquran yang ada di ponselnya.
__ADS_1
Ia berharap setelah ia membaca Alquran hatinya sedikit lebih tenang.