
SELAMAT MEMBACA
Setelah pertemuannya Rania, Pian merasa ia mulai menyukai gadis itu.
Tidak jarang ia sering menitip salam melalui Radit.
"Gw gak akan ijinin adek gw pacaran sama loe titik no debat" Aldi yang tidak mau menyerah untuk mendekati Rania terus saja berusaha meminta ijin dari Radit.
"Lama-lama gw jengah juga Pian loe ikutin terus, tar orang lain kira gw gak normal lagi" Radit merasa kesal karena Pian terus saja mengekorinya.
Sore itu kedua gadis ABG sedang asik duduk di teras depan sambil menikmati seblak yang mereka buat sendiri.
"Ih kurang pedes ini Ran" ucap Ardina yang memang begitu suka dengan rasa pedas
"Kalo buat gw udah cukup Ar, kalo lebih pedes lagi yang ada tar gw gak makan" Rania menyuap satu sendok seblak lalu langsung minum karena kepedasan.
"Ran ...dapet salam loe dari Pian" Radit duduk disebelah Rania lalu ikut mencoba seblak yang mereka buat.
Hu aaa
"Ih kalian itu makan seblak apa makan cabe sih, pedes banget" keluh Radit yang kepedasan.
wkwkwk
kedua gadis itu tertawa melihat wajah Radit yang tiba-tiba saja mandi keringat.
"Astaghfirullah punya adek dua gini amat sih" Raditpun segera menghabiskan satu gelas hangat agar rasa pedasnya sedikit berkurang.
"Aa tolong bantuin bilang sama mama dong besok malem temen kita ada yang ulang tahun dan kita berdua diundang" Rania meminta pertolongan Radit untuk berbicara meminta ijin kepada Mamanya.
"Iya nanti Aa bantuin bilang" jawab Radit sambil berdiri berniat masuk kedalam kamarnya.
Malam itu Radit menemani kedua adiknya untuk minta ijin pergi ke pesta ulang tahun teman mereka.
Dengan susah payah akhirnya Naylapun mengijinkan mereka untuk ke pesta ulang tahun.
"Terimakasih aa ganteng" Rania tersenyum bahagia karena ini pertama kalinya ia diperbolehkan menghadiri acara ulang tahun.
Ke esokan harinya mereka sibuk mencari kado untuk Loen yang berulang tahun.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari mereka pun langsung pulang dan beristirahat sebentar.
Selepas magrib kedua gadis itu pun pamit pergi ke acara ulang tahun teman mereka dengan diantar oleh Adit.
Saat tiba di cape tempat acara berlangsung keduanya pun langsung masuk setelah pamit kepada Papa mereka.
Acara berlangsung lumayan meriah,sambil menikmati makanan yang dihidangkan mereka pun sesekali nampak mengerakan badan mengikuti irama musik yang sedang diputar.
Dari kejauhan Rahmat terus saja memperhatikan kedua gadis itu.
Entah kenapa ia menaruh rasa suka pada keduanya.
Ia pun mendekati mereka.
"Hallo kembar tapi tak sama" ucapnya
__ADS_1
Kedua gadis itu pun secara bersamaan melihat kearah nya sekilas namun sesat kemudian mereka kembali asik dengan makanan didepan mereka.
Rahmat yang kesal karena diacuhkan dengan sengaja menarik Ardina agar mendekat kearahnya.
"Aaawww sakit tau Mat" pekik Ardina terkejut karena Rahmat menarik tangannya.
"Lagian gw dicuekin" ujar Rahmat kesal.
"Emang loe siapa sih maunya diperhatiin" Rania yang terlanjur kesal melihat Rahmat menarik Ardina ikut terlihat emosi.
"Eh cewe bar-bar, Ardina itu cewe gw" ujar Rahmat.
"Loe oon apa gimana sih Ardina itu saudara gw"Rania yang tidak mau kalah dengan Rahmat terus saja melawan setiap apa yang Rahmat ucapkan.
"LIat aja loe nanti gw bikin loe yang ngejar-ngejar gw" batin Rahmat sambil menatap Rania .
"Apa loe lihat-lihat, gak suka so jauh dari gw sama saudara gw" usir Rania .
Ardina berusaha melerai keduanya.
"Telpon Papa gih, bilang kita minta jemput sekarang" ucap Rania yang masih tersulut emosinya.
Ardina pun langsung menghubungi Papanya.
Setelah berpamitan dengan Leon mereka pun segera keluar dari Cafe yang disewa oleh Loen dan menunggu di depan jalan.
Mereka pun langsung naik saat mobil Papanya tiba.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.
"Ini emang dingin apa karena gw pake baju gak ada tangannya ya". tanya Rania pada Ardina.
Gw juga dingin banget Ran" jawab Ardina.
"Pah Tolong matiin AC nya dong dingin banget ini" punya Ardina.
Laki-laki yang duduk dibalik kemudi pun langsung mematikan ACnya tanpa berbicara sepatah katapun.
Rania merasa sedikit heran kenapa Papanya tidak seperti biasa.
"Pah ...Papa sehat kan?" tanya Rania ragu-ragu.
Pria didepan itu hanya mengangguk tanpa menjawab.
Ardina dan Rania pun saling berpandangan dalam pikiran mereka sama yaitu ada yang aneh dengan Papanya.
"Mending loe duduk depan Ar, siapa tau Papa kesepian" Rania meminta Ardina untuk menemani Papa Adit duduk didepan.
"Ah loe aja Ran, gw mau tidur ngantuk" tolak Ardina.
"Mungkin Papa ngantuk butuh temen Ar"lanjut Rania.
"Ya udah makanya kamu aja yang nemenin"
Mereka berdua sama-sama tidak ada yang mau duduk didepan, hingga tiba-tiba mobil berhenti mendadak.
__ADS_1
"Aaawwww jidat gw makin jenong ini,Pah hati-hati dong sakit tau" ucap Rania sambil mengelus dahinya yang terbentur jok depan.
Rania heran saat melihat wajah Ardina yang tiba-tiba saja pucat sambil berusaha membuka pintu mobil.
"Ar loe kenapa?" tanya Rania
"Turun Ran..ayo turun" ajak Ardina sambi terus berusaha membuka pintu mobil.
Rania masih belum sadar jika Pria yang dikiranya Papa Adit ternyata mahluk halus yang menyerupai Papanya itu.
"It...Itu ...Itu Rannnn, ayoo turun...." ucap Ardina terbata-bata sambil terusss berusaha membuka pintu.
Rania yang heran karena Ardina trus saja menunjuk ke arah depan akhirnya ia pun langsung mengikuti arah tangan Ardina.
Dalam Samar-samar ia melihat sekilas wajah pria didepannya bukanlah wajah sang Papa.
"Om siapa...Ok mau nyulik kita ya" ucap Rania
Ardina pun langsung membelalakan matanya mendengar Rania memanggil sosok didepannya dengan sebutan Om.
"Ran ..itu....anu ..hann..." terasa sulit untuk Ardina untuk mengatakan jika yang ada didepannya saat ini adalah hantu.
"Apa sih ..han...Han aja, ngomong yang jelas kenapa Ar" ujar Rania kesal.
"Ishhhh ..itu .anu...Ran..." Ardina terus saja berusaha ingin membuka pintu namun entak kenapa terasa begitu susah.
Karena penasaran dengan ucapan Ardina, Raniapun mengambil ponselnya lalu menyala baterai yang ada di ponselnya.
Saat itu juga
"Aaaaaaaa hantuuuuuu" teriaknya kencang saat cahaya ponselnya menyinari wajah sosok didepannya.
Pria dengan wajah yang begitu rusak dan ada banyak bekas luka terdapat diwajahnya yang hampir tidak berbentuk.
Dengan sekuat tenaga Rania menendang pintu mobil begitu juga dengan Ardina.
Bruuakkkk
akhirnya pintu disamping Rania berhasil ia tendang hingga copot.
Dengan tergesa-gesa mereka pun segera keluar dan berlari sejauh mungkin dari mobil itu
Saat nafasnya terasa hampir habis Rania dan Ardina pun berhenti sejenak untuk menghirup oksigen yang hampir habis.
Mereka baru menyadari jika saat ini mereka tersesat dan entah berada dimana.
Rania dan Ardina pun semakin bingung saat mereka tidak melihat ad satupun rumah disekitarnya.
"Kita ada dimana Ar?" tanya Rania
"Gw juga gak tau Ran"
"Ya udah ayo kita ikutin jalan ini aja" ucap Rania.
Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan dengan erat.
__ADS_1