TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 409


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Adit yang baru saja pulang begitu marah saat melihat kondisi Rania yang tidak baik-baik saja.


Ia pun bersama Radit datang menyambangi kediaman Rahmat dengan diantar oleh Ardina.


Namun sayang begitu ia tiba disana ternyata Rahmat tidak ada dirumah, menurut art nya tadi ia sempat pulang namun pergi lagi dan belum kembali.


Mereka pun sepakat untuk menunggu didalam mobil dekat kediaman Rahmat.


Sementara itu di rumah Rania dirawat oleh Nayla.


Tiba-tiba saja hal yang menimpa Rania mengingatkan dirinya pada kenangan pahit beberapa waktu lalu saat ia di culik oleh Anto.


"Kenapa sih nasib kamu hampir sama dengan mama Ran, hampir semua yang kamu alami mama juga dulu alami" batin Nayla sambil menatap wajah putri nya yang sedang tertidur lelap dengan banyak luka lebam diwajahnya dan beberapa member di pergelangan tangan dan juga kakinya.


Nayla baru menyadari jika hari sudah larut malam namun suami dan juga anaknya belum juga pulang.


Ia pun mengambil ponselnya dan menghilangkan Adit.


Ternyata mereka masih dikediaman Rahmat menunggu pria itu kembali.


Karena lelah akhirnya Naylapun tidur bersama Rania.


Berkali-kali ia mengecup dahi putrinya sebelum akhirnya ia pun ikut terlelap.


Karena merasa sudah terlalu lama menunggu akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali.


Aditpun tidak tega melihat Ardina yang tertidur di jok tengah.


Mereka pun kembali dengan tangan hampa.


Beruntung juga kemarin Adit sudah membuat laporan ke kepolisian agar Rahmat dapat segera tertangkap.


Begitu ia tiba ia terkejut saat mendapati pintu rumahnya tidak terkunci.


Ia pun la langsung menuju kamar Rania dan melihat Nayla yang masih tertidur sambil memeluk Rania.


Sementara itu Rahmat yang tau jika keluarga Rania sedang mencarinya bersembunyi dengan cara menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari kediaman Rania.


Ia juga menjual dan mengganti mobilnya.


Rania yang merasa takut untuk keluar rumah terpaksa mengambil cuti kuliah selama satu tahun.


Ia pun tidak mau ditinggal sendirian dirumah.


Ia memilih untuk mengikuti papanya kemana pun pria itu pergi.


Aa Iwan yang ikut turun tangan membimbing Rania agar tidak lagi trauma akhirnya berhasil sedikit demi sedikit Rania pun mulai berani pergi sendiri.


Karena bosan Rania mengajak Ardina untuk nonton di bioskop.


Ardina yang tidak suka nonton di bioskop terpaksa mengikuti kemauan Rania karena ia tau pasti Rania bosan dirumah terus.


Kebetulan nanti malam adalah malam minggu, Karin yang diberitahu jika mereka akan pergi nonton langsung datang ke rumah Radit, seandainya Radit tidak mau ikut pun pun tidak masalah ia akan pergi bersama calon kedua adik iparnya.


Mereka bertiga terlihat begitu akrab, hal itulah yang membuat Radit tidak menolak Karin yang ingin dekat dengan keluarganya walaupun mereka masih belum resmi jadian.


Karena paksaan dari ketiganya akhirnya Raditpun ikut pergi bersama mereka.


Mereka pun tiba di bioskop, setelah membeli cemilan dan juga tiket mereka pun segera masuk kedalam gedung bioskop.


"Lah kok filmnya horor sih" protes Rania saat film mulai diputar.


"Kan loe suka film horor" jawab Karin


"Ye ilah kak Karin giman sih, yang asli aja udah sering Ran liat ngapain juga liat yang palsu"


Karina hanya tertawa mendengar perkataan Rania.


Sesekali Rania terkejut dan memegang tangan Ardina kencang bukan karena takut saat sosok hantu di film itu muncul namun karena sound nya yang begitu kencang.


"Bisa jantungan gw kalo kaya gini terus" ucap Rania yang tiba-tiba saja ingin ke toilet.


"Kak Karin,anterin yuk ke toilet" pinta Rania


"Dih gangguin orang pacaran aja, sama Ar tuh "


"Gak mau,Ran maunya sama kaka ipar aja, ayo dong kak buruan nanti Ran keburu pipis disini" ucap Rania sambil seperti menahan sesuatu.


Dengan sedikit rasa malas Karina pun mengantar Rania ke toilet.


Begitu tiba di toilet Rania pun segera masuk kesalah satu ruangan.


Saat didalam Rania seperti mendengar suara Karin berbicara dengan seseorang.


Begitu selesai ia pun langsung keluar dan melihat Karin sedang berkaca.


"Kak tadi ngobrol Ama siapa?"tanya Rania


"Gak kok, dari tadi aja Kaka sendirian" jawab Karina


"Lah kayanya tadi Ran denger suara Kaka lagi ngomong" ucap Rania lagi.


"Tuh kuping terlalu tajem Ran, sampe bisa denger yang gak-gak" ucap Karina sambil tertawa.


"Udah yuk balik ke dalem, lama-lama ikutan horor disini" ucap Karina sambil tertawa.


Namun saat mereka hendak keluar tiba-tiba saja ada sesuatu yang terbang diatas mereka.


Rania pun langsung melihat keatas dan ternyata sesosok kunti yang sedang melayang dan hinggap diatas salah satu ruangan kamar mandi.


"Lah itu apaan Ran?"tanya Karina sambil memperhatikan sosok putih yang melintasi mereka.


"Ayo buruan kak Karin kita keluar"ajak Rania dengan terburu-buru namun saat hendak memutar knop pintu, pintu seperti terkunci.


Rania pun kembali melihat sosok putih yang dengan santainya duduk diatas sambil memainkan rambutnya yang panjang dan hitam.


"Buruan Ran buka pintunya"


"Ih ini susah kak" jawab Rania

__ADS_1


"Ih segitu aja gak bisa,sini biar Kaka aja yang buka pintunya" ucap Karina.


Namun saat ia hendak membuka pintu hal yang sama ia alami, pintu itu tidak bisa dibuka.


Sesaat Kemudian mereka mendengar wanita itu tertawa.


"Hai kamu kok kamu ada disini sih, kan harusnya kamu lagi main film disana" ucap Karin


Rania pun terheran-heran mendengar ucapan calon Kaka ipar nya itu.


"Woi kak Karin,itu hantu beneran ih" ucap Rania sambil menepuk tangan Karina.


"Masa sih Ran?" lah kok gw jadi bisa liat hantu sih?"ucap Karina yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Jadi itu hantu beneran? Kok se...rem ya...Ran" ucap Karina terbata-bata bersamaan dengan sosok itu menatap kearah mereka berdua.


"Wuahhhh gw takut Ran, buruan buka pintunya" ucap Karina sambil berusaha membuka pintu.


Namun sial tiba-tiba saj pintu itu tidak bisa terbuka seakan terkunci.


"Tolong ....."teriak Karina


Radit yang merasa tidak enak meminta Ardina untuk menyusul keduanya ke kamar mandi.


Ardina pun segera menuju toilet yang ada dibagian belakang bioskop.


Begitu tiba di toilet ia mendengar suara Karina yang meminta tolong, dengan segera ia pun membuka pintu dan begitu pintu terbuka ia melihat Karina dan Rania yang seperti ketakutan.


"Ran, kak Karina kalian kenapa?" tanya Ardina.


"Alhamdulillah akhirnya ni pintu kebuka juga, ayo buruan kita pergi nanti ke kunci lagi pintunya" Karina langsung menarik tangan kedua calon adik iparnya kembali masuk kedalam bioskop.


Mereka pun kembali duduk ditempat semula.


Radit merasa sedikit aneh, Karina yang biasa cerewet kini diam saja, saat ia ajak bicara pun ia hanya menjawab seadanya saja.


Beruntung suasana dalam bioskop remang-remang hingga Radit tidak dapat melihat wajah keduanya yang sedikit berantakan.


Begitu film selesai diputar dan lampu pun mulai dinyalakan baru lah Radit melihat dengan jelas wajah Karin yang sedikit pucat


"Loe sakit Kar, kok pucet sih" tanya Radit


Karina hanya diam saja sambil berjalan keluar.


Radit merasa ada yang aneh dengan Karina akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


"Aa, kak Karina itu ketempelan ya" bisik Rania


dari jok belakang.


Hemmm


Merasa dibicarakan Karina pun menatap Rania dengan tatapan seakan tidak suka.


"Apa liat-liat" ucap Rania yang tau jika itu bukan lah Karina.


Raditpun menambah kecepatan mobil nya ajar segera sampai dan meminta papanya untuk mengobati Karina.


Begitu tiba Radit langsung menuntun Karina masuk.


Kebetulan Adit ada dirumah, ia pun sudah tau tentang kondisi Karina karena Radit sudah memberitahunya tadi.


"Memangnya tadi kalian ngapain aja kok Karina bisa sampe begitu?"tanya Nayla


"Rania tuh mah yang tau kejadiannya"


"Tadi tuh mah waktu kita ke toilet ada itu...terus kita ke kunci di kamar mandi"Rania pun menceritakan apa yang ia dan Karina alami tadi.


Setelah hampir setengah jam akhirnya Karina pun dapat diobati, karena kondisi masih lemah akhirnya malam itu Karina di ijinkan untuk menginap dirumahnya Radit dan ia tidur bersama Ardina.


Saat pagi tiba seperti biasanya mereka joging pagi ditaman yang berada tidak jauh dari rumah mereka.


Tanpa mereka sadari mereka melewati rumah yang dikontrak oleh Rahmat.


Kebetulan pagi itu Rahmat sedang berada didepan rumahnya.


Ia pun langsung tersenyum saat melihat Rania lewat.


Rahmat pun langsung masuk kedalam dan mengganti pakaiannya dengan pakaian untuk olahraga tentu saja ia memakai topi dan juga masker agar tidak dikenali oleh kedua gadis itu.


Sementara itu ditaman mereka berlari mengikuti jalur joging trek yang sudah ada di taman itu.


Setelah merasa lelah mereka pun beristirahat sambil memesan makanan.


Dari kejauhan Rahmat terus saja memperhatikan mereka bertiga.


"Rania, gw kangen loe" ucap Rahmat sambil meminum teh dalam kemasan yang baru saja ia beli.


Saat melihat Rania yang ditinggal sendirian Rahmat pun langsung mendekati Rania, tentu saja ia langsung memasang kembali masker dan juga topinya.


"Boleh duduk disini gak mbak" ucapnya basa basi.


"Duduk aja" jawab Rania


"Kok sendirian sih mbak" tanya pria itu lagi


"Gak sendirian kok, saudara gw lagi jajan, tuh disana" ucap Rania sambil menunjuk kearah Adina dan Karina yang sedang membeli sosis bakar.


"Oh..yang itu, boleh kenalan gak?"


Rania pun langsung menoleh ke arah pria disampingnya.


"Boleh gak tau namanya mbak?" tanya pria itu lagi.


Rania yang memang tidak terlalu suka dengan pria yang sok akrab jamnya diam tidak menjawab pertanyaan pria itu.


"Astaga mbak, jangan takut, gw cuma mau kenalan aja kok" ucap pria itu lagi


"Nama gw Arga, loe siapa?" tanya nya lagi sambil mengulurkan tangannya.


"Gw Nisa"jawab Rania berbohong.

__ADS_1


"Hai Nisa, boleh minta no hp loe gak" tanya nya lagi.


"Maaf gw gak bisa kasih kalo no hp" jawab Rania tegas.


"Oh begitu, maaf ya kalau loe jadi gak nyaman" ucapnya lagi


hmmmm


Rania pun kembali melihat ke arah Ardina yang masih antri.


Entah kenapa Rania merasa tidak nyaman dengan pria disampingnya.


Ardina yang memang sejak tadi melihat kearah Rania yang sedang berbicara dengan seseorang pria merasa ada yang aneh dengan saudaranya.


Ia pun langsung menghampiri Rania.


"Mana Ar,belum jadi ya" tanya Rania saat melihat Ardina tidak membawa apa-apa.


"Gw pegel Ran, biar kak Karina aja yang antri, sekali-kali ngerjain calon Kaka ipar" ucap Ardina sambil tersenyum.


"Ini siapa Ran,temen loe?"tanya Ardina


"Bulak tadi masnya ngajakin kenalan" jawan Rania


Pria itu pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya kearah Ardina.


"Haii..gw Arga, nama loe siapa?" tanyanya basa basi.


"Gw Ar"jawab Ardina singkat.


"Sorry ya kalo gw ganggu, gw kesana dulu ya" ucap Rahmat lalu meninggalkan mereka berdua.


Setelah pria itu pergi Rania merasa ia pernah mengenal pria itu namun ia tidak tau kapan dan dimana.


Setelah antri sekian lama akhirnya Karina pun menghubungi kedua gadis itu sambil membawa beberapa sosis bakar ukuran jumbo.


Mereka pun asik menikmati jajanan receh itu tanpa tau jika bahaya sedang mengintainya.


Mereka kembali saat matahari sudah tinggi, itu pun dijemput oleh Radit.


Saat dirumah Rania coba-coba mengingat siapa pria tadi, kanapa ia merasa begitu mengenal pria itu.


"Loe kenapa, bengong terus tadi tadi?" tanya Ardina sambil ikutan duduk disebelah Rania.


"Leo ngerasa ada yang aneh gak sih sama cowo tadi,kok gw ngerasa kenal ya tapi gw lupa siapa" ucap Rania.


"Iya sama, gw juga begitu, coba tadi masker nya di lepas mungkin aja kita kenal" ucap Ardina


Mereka pun ngobrol di teras depan sambil menikmati roti blueberry buatin Nayla.


Sore itu Nayla dan Adit pergi menghadiri undangan pernikahan rekan bisnis Adit.


Sedangkan Radit mengantar Karina pulang, hanya ada Ardina dan Rania dirumah itu.


Rahmat yang tau jika suasana rumah Rania sepi langsung melancarkan aksinya.


Setelah memastikan aman tidak ada yang melihat ia pun langsung memanjat pagar rumah Rania yang memang tidak begitu tinggi.


Setelah berada didalam rumah ia pun mulai menyusup masuk kedalam rumah melalui jalan samping rumahnya.


Ia pun mengendap-endap masuk dan langsung menuju kamar Rania.


Kebetulan saat itu Rania sedang berada didalam kamar Ardina, mereka sedang bertukar cerita.


Sosok anak kecil yang memang selalu mengikuti Rania langsung menjatuhkan sesuatu saat melihat ada orang yang tidak dikenal masuk kedalam kamar Rania.


Prankkk...


Rania dan Ardina terkejut saat mendengar suara sesuatu yang jatuh dan pecah.


Mereka pun segera keluar kamar hendak melihat.


Bertepatan dengan Rania yang keluar kamar, pria itu pun keluar dari kamar Rania.


Menyadari jika targetnya tidak ada didalam kamar pria itu pun hendak keluar namun naas saat ia keluar Rania melihatnya.


"Siapa loe?"tanya Rania sambil melayangkan pukulannya keatas wajah pria yang tertutup kupluk


Rania pun berkelahi dengan orang yang ia sangka pencuri itu.


Ardina yang tidak tau harus berbuat apa, langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi mamanya.


Karena Nayla masih berada didalam ruangan dan suara yang sedikit bising ia pun tidak mendengar saat ponselnya berbunyi.


Setelah tidak berhasil menghubungi mamanya ia pun mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya jika saat ini Rania sedang berkelahi dengan pencuri yang masuk kedalam rumah mereka.


Ardina pun melakukan hal sama, ia mengirimkan pesan kepada Radit yang isinya sama.


Sementara itu Rania beberapa kali berhasil memukul maling itu, namun ia juga beberapa kali terkena pukulan dari Rahmat.


Karena tidak ingin lagi melukai Rania ia pun berusaha kabur dan berhasil.


Saat di mobil Nayla baru sampat membuat ponselnya dan ia begitu terkejut saat membaca pesan yang Ardina kirim.


Ia pun meminta Adit untuk segera sampai dirumah.


Begitu pun Adit begitu panik saat Nayla bilang rumah mereka kemasukan maling.


Entah untuk yang keberapa kalinya wajah Rania kembali terluka.


Ssssss


"Pelan-pelan Ar, perih"Rania mendesis menahan rasa perih di sudut bibirnya yang terkena pukulan pencuri tadi.


"Rania, Ardina kalian gak apa-apa sayang" teriak Nayla saat masuk kedalam rumah.


Lantai bawah masih seperti biasa namun saat ia tiba dilantai dua dimana kamar kedua putrinya berada ia tercengang karena begitu berantakan.


Saat mendengar suara kedua putrinya Ia pun langsung masuk kedalam kamar Ardina.


Ia pun langsung memeluk keduanya sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2