TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 423


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Karena takut bertemu dengan hantu lagi Raniapun selalu mengikuti Fahri kemanapun ia pergi.


Ada perasaan senang saat Rania tak mau jauh darinya walaupun semua dilakukan Rania karena terpaksa.


"Ni tuan putri gw udah bakarin sosis buat loe pedes lagi"Fahri menyodorkan 5 buah sosis ukuran jumbo untuk Rania


Tanpa malu Rania pun mengambilnya lalu memakannya, Fahri yang melihat Rania yang makan seperti anak kecil karena belepotan ingin sekali membersihkan mulut Rania namun ia tahan ia tak ingin gadis itu marah.


"ciee...yang cinta mati ya,cewenya makan aja diliatin sampe segitunya"celetuk salah satu teman Fahri


Rania yang masa bodo dengan ejekan teman-teman Fahri terus saja melahap makanan yang ada didepannya.


Fahri menyodorkan segelas bandrek susu hangat untuk Rania,karena memang udara yang lumayan dingin Rania pun dengan senang hati menerimanya.


"makasih ya"ucap Rania sambil tersenyum kearah Fahri


"coba tiap hari loe bersikap manis kaya gini ama gw Ran,gw pasti seneng"ucap Fahri


"ogah tiap hari mah,gw mah kalo ada maunya aja baru manis ama loe"jawab Rania ngasal


"gak apa-apa mau loe gimana juga gw tetep sayang kok ama loe" ucap Fahri


uhukkk...ukhu.k...Nayla langsung tersendak mendengat ucapan Fahri


Fahri menepuk-nepuk pundak Rania lalu memberinya segelas air putih "maka nya kalo makan pelan-pelan napa sih"


"ehh gw keselek bukan gara-gara yang laen ya tapi gara-gara denger omongan loe barusan"


"emang ada yang salah ama omongan gw?"tanya Fahri tak mau kalah


"ihh bodo ah...loe mah nyebelin,kan gw udah bilang jangan manggil sayang,malu tau"ucap Rania


"kan gw juga bilang ama loe Ran mau loe terima apa tolak gw bakal tetep sayang ama loe,apa gw salah"sahut Fahri tak mau kalah


"terserah loe dah,gw mau kekamar aja" Rania pun berdiri,baru satu langkah ia berjalan


"yakin loe mau sedirian dikamar,tar ada yang semalem gimana,kalo gak ketemu lagi ama kembaran gw yang gak keliatan emangnya berani"ejek Fahri


Rania pun memutar balik badannya dan kembali duduk disamping Fahri


"kok gak jadi"ejek Fahri yang merasa puas


"gak usah berisik sih loe,lagian loe nakut-nakutin gw"Rania pun merajuk ia hanya diam saja saat fahri terus menggodanya.


"Ri,gw mau pipis,anterin dong"rengek Rania


"dihh udah gede juga takut amat sih"


"ihh ayo anterin,udah kebelet nih"Rania pun meringis menahan H I P nya(Hasrat Ingin Pipis)


"cium dulu gw baru gw anterin" ucap Fahri sambil menunjuk pipinya


Rania pun melepas sebelah sendalnya "ciumnya pake ini ya"


Fahri terkekeh geli melihat Rania yang sudah serba salah,akhirnya ia pun mengantarkan Rania kekamar mandi yang ada di dekat ruang tamu


Rania pun langsung masuk dan mengunci pintunya dari dalam.


Setelah selesai ia pun berdiri di depan cermin yang lumayan besar yang menenpel didinding kamar mandi.


Ia membersihkan area sekitar mulutnya yang belepotan bumbu dan merapikan rambutnya


Saat ia menatap pantulan dirinya dicermin ia merasa ada yang aneh namun apa ia tidak tau.


Sejenak Rania berpikir ada yang aneh dengan ciplakan dirinya dikaca,ia menyisir kembali rambutnya dengan tangan dan barulah ia menyadari


"ihh kan gw beresin rambutnya pake tangan ini ya,kok dikaca begitu sih" batin Rania sambil terus matanya menatap kaca


dek....dek....dek...


jantungnya berdegup kencang saat tanpa sengaja ia melihat dicermin bayangan dirinya sedang tersenyum padahal ia merasa tidak tersenyum.


"ah...cuma halusinasi gw "pikir Rania mencoba tidak takut


ia pun cepat-cepat mengalap wajahnya dengan handuk kecil yang tersusun disebuah box diatas washtafel


Namun lagi-lagi ia merasa heran saat bayangan dirinya dicermin itu mengedipkan mata dan tersenyum


aaahhhhhhh


teriak Rania sekencang mungkin,ia pun langsung membuang handuk kecil yang ia pakai tadi sembarangan dan saat hendak membuka pintu ternyata Fahri juga mendorongnya dari luar saat mendengar teriakkan dari dalam alhasil pintu itupun membentur kepala Rania


Mungkin karena panik mendengar teriakan Rania, Fahri pun mendorong pintu kamar mandi itu dengan sekuat tenaga hingga Rania pun sedikit terpental dan jatuh namun naas kepala Rania juga terkena pintu hingga tumbuhlah sedikit benjolan di jidatnya dan langsung membiru.


"Aduhhh kepala gw banyak bintang-bintangnya"


"Maaf Ran,gw gak sengaja,lagian ngapain sih loe teriak kenceng banget"ucap Fahri seakan menyesal


"buruan bawa gw keluar dari sini Ri"pinta Rania


Fahri pun membantu Rania untuk berdiri dan ia melihat benjol didahi Rania "sakit ya?" tangan Fahri sudah menjulur ingin menyentuh benjolan itu namun Rania langsung menepisnya


"jangan dipegang,sakit tau"


"iya maaf,sini gw kompres pake es biar cepet kempes"


Fahri langsung menyuruh Mamang untuk mencarikannya es batu


Rania yang duduk disofa sedang di introgasi oleh Fahri


"kenapa rumah loe lebih serem dari rumah kosong yang kemaren sih Ri"celetuk Rania sambil mengelus-elus jidatnya


"elo nya aja yang penakut makanya mereka suka ngerjain loe"


"lah ini mah udah dari sananya,gw paksain berani juga cuma sebentar beraninya abis itu takut lagi"


Fahri hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.


Malam itu mereka tidak tidur dikamar melainkan menggelar karpet berbulu lalu mereka tidur bersama-sama.


Rania yang penakut memilih tidur ditengah-tengah dengan harapan tidak ada lagi kejadian aneh yang menimpa dirinya.


Malam itu Rania tidur dengan sangat nyeyaknya entah apa karena terlalu lelah atau memang malam itu hantu-hantu yang ada disana sudah lelah juga mengganggu Rania


Pagi harinya Rania bangun duluan,ia melihat kekiri dan kanan semuanya masih terlelap Rania pun enggan untuk bangun ia pun menjahili Fahri dengan mencubit hidung Fahri lalu ia mengambil lipstik yang selalu berada didalam tasnya namun tak pernah ia pakai,ia pun mulai melukis di wajah Fahri


Setelah selesai ia pun tertawa sendiri melihat hasik karyanya yang membuat wajah Fahri seperti kucing.


Hi....Faa


Rania menahan tawanya tak lupa juga ia memfotonya untuk diperlihatkan pada Fahri suatu saat nanti.


"dasar kebo masa gak kerasa sih " batin Rania


"ini kaya kucing apa kaya macan ya"guman Rania sambil senyum sendiri melihat wajah Fahri


"kabur ahhh,tar dia ngamuk lagi pas bangun" monolog Rania lalu ia pun segera bangun dan menuju dapur untuk membuat minuman hangat.

__ADS_1


Setelah selesai membuat kopi susu ia pun masuk kedalam kamar dan memainkan ponselnya.


Saat sesang asik main game ada WA masuk dari Ardina yang menanyakan kapan ia akan kembali


Beberapa menit kemudian " Raniaa" suara Fahri yang terdengar begitu nyaring Rania pun bersembunyi dibalik selimut tebalnya sambil menahan Tawanya.


Braakkk


terdengar suara pintu kamar dibuka dengan kasar


"gak usah ngumpet Ran,gw cium loe ya udah berani ama gw ceritanya"ujar Fahri sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Rania


"sorry Ri,tadi gw cuma iseng abis loe udah kaya kebo aja masa gak berasa gw bangunin"


"Ri kita pulangnya jangan siang-siang ya,gw takut bokap gw pulang"ucap Rania berbohong


"iya"jawab Fahri singkat


Ia pun langsung menyambar handuk yang dan masuk kedalam kamar mandi.


Jam 4 sore Merekapun sampai dirumah Rania


"udah pulang sono"usir Rania pada Fahri


"dih songong amat,gw mau ngasolah sebentar loe kata gw gak pegel"Fahri pun turun dari motornya dan langsung membuka pagar rumah Rania


"ihh gak sopan amat loe,yang punya rumah aja masih diluar" ucap Rania kesal


"gw gak lama cuma mau numpang ngaso doang Ran"ucap Fahri


"kok rumah loe gak dikunci sih Ran"tanya Fahri bingung soalnya ia dengan mudahnya masuk kerumah Rania


"ada si empok yang beres-beres tar jam 5 an dia baru pulang,lagi juga ada Ar"jelas Rania


"pokkk..."teriak Rania yang yakin kalo ARTnya ada didalam dan benar saja si empok yang dimaksud Rania keluar dari dapur


"ehh udah pulang Rantadi empok lagi bersihin kamar mandi yang didapur"


"iya gak apa-apa,pok bikinin sirup dong,ada kan?"pinta Rania


"ada Ran tar ya mpok bikinin dulu"


Tak lama kemudian Empok pun keluar dengan membawa minuman yang dipinta Rania


"udah buruan minum tuh abis itu pulang gih gw mau tidur"usir Rania lagi


"ihh loe mah bener-bener ya Ran" ujar Fahri yang langsung meneguk habis minumannya.


Setelah Fahri pulang Rania pun langsung naik kekamarnya.


Baru saja ia mau terlelap tiba-tiba pintu kamarnya diketuk


tok...tok...


"Ran...Rania loe udah pulang"teriak Ardina dari depan pintu kamar nya.


"iya Ar"sahut Rania


Sebenarnya ia malas untuk menemui Ardina namun kalau tidak ditemui ia takut Ardina akan marah akhirnya dengan langkah gontai dan mata yang sudah sangat mengantuk ia menghampiri Ardina yang sedang menunggunya di dalam kamarnya.


"hai..."sapa Rania sambil bersandar dipintu


"pulang jam berapa Lo"tanya Ardina dengan pandangan yang tertuju pada Jidat Rania yang masih benjol


"belom lama"jawab Rania lalu duduk dibangku ditempat tidur Ardina


"kepentok pintu"


"kok bisa sih,emang lagi ngapain sampe kepentok pintu segala"tanya Ardina lagi


"mau lari abis liat hantu"jawab Rania polos


Ardina pun menjulurkan tangannya ingin menyentuh dahi Rania yang benjol


"ihh jangan dipegang masih sakit" Rania menepis tangan Ardina


"udah dikasih obat belum?"


"gak dikasih apa-apa,tar juga kempes sendiri"jawab Rania


"ya udah kalo gitu,kamu udah makan belom?"


Rania pun menggelengkan kepalanya


"ya udah ayo beli makan"ajak Ardina yang langsung berdiri dan berjalan keluar kamar diikuti oleh Rania


"Ar ...aku ngantuk gak mau makan ah.."ucap Rania sambil bersandar dipagar


"ya udah kita makan dulu abis itu baru lo tidur"sahut Ardina


"ihh tar bantat ngantuknya"


Rania tetap tak ingin keluar membeli makanan namun Ardina terus memaksanya akhirnya Rania pun mengalah dengan malas ia duduk dibelakang Ardina


Ardina tahu jika Rania sedang dalam mood yang tidak baik ia akan senang jika diajak makan bakso.


Ardina membawa Rania ke sebuah kedai bakso yang menyediakan berbagai bakso dengan rasa berbeda-beda dan benar saja Rania langsung sumringah begitu melihat ada bakso keju,mercon,otak-otak,udang,baksu urat dan "ejek Ardina sambil menahan tawanya


Raania seakan tuli ia mengabaikan Ardina yang dari tadi menertawakannya


Ia sengaja tidak memakai kuah hanya meminta piring kecil untuk tempat sambal.


Ia makan dengan sangat lahapnya hingga Ardina pun sudah merasa kenyang dengan hanya melihat Rania makan.


"ya ampun Ran emang kamu gak dikasih makan apa disana"ucap Ardina sambil mengelap sisa sambal dipinggir bibir Rania dengan tissue.


"kok kamu gak makan Ar"tanya Rania yang melihat bakso milik ardina masih utuh


"kamu mau?ni buat kamu aja" Ardina menyodorkan mangkok baksonya.


"Aku udah kenyang Ar diperut ini tinggal sisa tempat dikit buat jus alpuket doang"ucap Rania sambil mengelus perutnya yang sudah kenyang.


Rasa kantuknya pun sudah hilang.


Akhirnya Ardina pun memakan baksonya sementara itu Rania sibuk dengan jus alpukatnya yang diberi banyak susu coklat.


Saat jus Rania sudah habis kebiasaannya pun selalu membuat lubang pada es batu dengan sedotan.


Setelah selesai makan mereka pun tidak langsung pulang melainkan mampir disebuah danau buatan yang ada diperumahan tempat mereka tinggal.


Merekapun berbincang-bincang sambil bercanda dipinggiran danau sambil memakan sosis bakar pedas kalau Rania bilangnya Sofel (bukan lotion anti nyamuk loh)


"kamu makan banyak tapi kok gak gede-gede ya Ran"ucap Ardina sambil membetulkan rambut Rania yang tertiup angin


"gak apa-apa baguskan makan banyak tapi gak gendut"jawab Rania


"bukan gitu Ran,nanti kalo udah nikah trus kamu kurus disangka orang suami kamu gak ngasih makan lagi"ucap Ardina sambil tertawa


Tiba-tiba Rania langsung terdiam begitu mendengar kata "nikah" ia masih belum mendapatkan ide untuk mengundur waktu pernikahannya dengan Fahri.

__ADS_1


Hari itu Rania sedikit kesal dengan Fahri,ia selalu memaksa Rania untuk makanlah,untuk istirahatlah,gak boleh ini lah dan banyak lainnya,padahal Rania hanya ingin menyendiri tanpa diganggu siapapun.


Untuk menghilangkan rasa kesalnya ia pun berniat ke mini market dekat rumahnya.


Fahri yang baru saja tiba dan melihat Rania mengambil kunci motor segera menyusul Rania.


"Kamu mau kemana Yang?"


"kesitu"jawab Rania gak jelas


"ayo aku anterin" Fahri pun langsung duduk didepan dan menyuruh Rania untuk mundur.


Rania hanya memajukan bibirnya tanda kesal


Dimini Market Rania membeli berbagai macam chiki dan tak ketinggalan kripik singkong


"Ran..kok chiki semua jajannya?" tanya Fahri sambil melihat keranjang belanjaan Rania


"kenapa gak boleh ya?"tanya Rania


"boleh kok,ya udah ayo bayar" Fahri pun segera membayar belanjaan Rania


"lumayan gratis " batin Rania


Bukan hanya sekedar jajan chiki ia pun meminta jajanan yang lainnya seperti Sopel.


Sopel itu sosis bakar pele dibilang pele karena ukurannya yang jumbo ditambah sambalnya yang super pedas bisalah buat ngilangin kesal.


Fahri pun tak mau banyak ngasih komen lagi,ia tak mau mood Rania yang sudah lebih baik kembali down lagi


"kamu yakin perut kamu muat nampung semuanya yang?" tanya Fahri saat menunggu kebab pesanan Rania jadi.


"yakin" jawab Rania dengan sangat PD nya.


Setibanya dirumah Rania segera membuka Sopelnya dengan tidak sabaran 2 buah sosis ukuran jumbo telah berpindah tempat kedalam perut Rania.


Masih ada sisa 3 buah lagi Rania pun meminta Fahri untuk menghabiskannya.


Awalnya Fahri tidak menolak , namun karena tidak tahan dengan rasa pedasnya ia hanya mampu menghabiskan satu buah saja


Rania pun cemberut karena Fahri tak sann menghabiskan sosis bakarnya.


Fahri yang melihat perubahan diwajah Rania akhirnya terpaksa menghabiskannya walaupun dengan resiko sakit perut nantinya.


Saat mereka sedang asik bercanda handpon Rania berbunyi


Ternyata ardina yang mengiriminya chat


"Ran gw gak pulang malem ini,gw nginep dirumah temen, tolong bilang sama mamah ya" isi pesan Ardina.


Entah lah beberapa hari ini Rania merasa sikap Ardina berubah tidak seperti biasanya


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi,namun Rania merasa malas untuk menerima panggilan telepon dari saudaranya itu.


"kok gak diangkat yang"tanya Fahri


"gak kenal,ngapain diangkat"jawab Rania berbohong


"itu kan Ardina"


"iya,gw lagi kesel Ama dia "jawab Rania


"Jangan begitu yang,biar gimana juga itu saudara kamu yang"


"stop RI, mending kamu pulang aja gih,aku mau sendirian"usir Rania kesal dengan air mata yang sudah kembali menggenang disudut matanya.


Fahri yang melihat Rania hendak kembali menangis langsung mendekap Rania


"Maaf sayang,aku gak ada maksud buat kamu sedih lagi,ya udah kita gak usah bahas soal Ardina lagi ya"tutur Fahri lembut


.


Keesokan harinya Jam 8 pagi Fahri sudah dirumah Rania


"ihhh ngapain sih kamu pagi-pagi udah gangguin aku"gerutu Rania kesal


"Mandi gih,kita jalan yuk"ucap Fahri


"Gak ahh males,aku mau dirumah aja"tolak Rania


"Ya ampun beib,waktu itu Papa kamu telp aku minta tolong mesin mobil dipanasin,nah dari pada cuma dipanasin doang mending kita keluar,ayo lah beib...ya"ucap Fahri memohon


"aku males Ri"


"Kan aku yang nyupir yang,kamu merem aja" bujuk Fahri


Akhirnya dengan rasa males Rannia pun mengikuti keinginan Fahri


Sepanjang perjalanan Rania memejamkan matanya namun tidak tidur,hanya sesekali saja ia membuka matanya.


"Ini dimana Ri?"tanya Rania yang bingung


"Aku juga gak tau yang"


Rania mengerutkan keningnya "Dih gimana sih,lah kamu nyetir tapi gak tau mau kemana"


Fahri yang hanya pura-pura tidak tahu hanya tersenyum melihat Rania yang cemberut.


"Ri...aku mau es tebu"ujar Rania saat melihat tukang es tebu dipinggir jalan.


"itu udah lewat beib,tar kalo ada lagi ya"


Rania hanya diam tak menjawab perkataan Fahri


Tak lama kemudian Fahri pun menepikan mobilnya, Rania yang sedari tadi memejamkan matanya perlahan membuka matanya dan ia melihat Fahri yang sedang membeli es tebu untuknya


Rania pun tersenyum saat menerima segelas es tebu tanpa menunggu lama ia pun langsung menyedot habis satu gelas es.


"ya ampun beib,kamu tuh aus apa doyan"canda Fahri


"ihh berisik deh"jawab Rania


Fahri yang sedari kemarin begitu gemas dengan rania yang sebentar-sebentar ngambek akhirnya sudah tak tahan lagi ia pun mencubit pipi Rania hingga gadis itu meringis kesakitan


"sakit tau..."ucap Rania sambil mengelus pipinya yang terasa perih


"Maaf deh yang"


cup...


"Fahri....." teriak Rania karena Fahri langsung mencium pipinya yang tadi dicubit.


"Apa..?masih sakit"tanya Fahri seakan menggoda Rania


"Ihhh apa'an sih maen nyosor aja kaya soang" ucap Rania sambil menutup kedua pipinya dengan tangan.


"Gak apa-apa kalo yang disosor kamu mah,kan udah setengah sah,udah di lamar "balas Fahri sambil tersenyum


Fahri menggenggam tangan Rania erat,ia tahu apa yang ada dalam pikiran gadis itu .

__ADS_1


__ADS_2