
Akhirnya masalah Yani pun selesai. Nayla menarik nafas lega.
"Ahhh akhirnya kelar juga,it's time go home"sorak Nayla kegirangan
belum selesai ia berkemas terdengar suara dering ponselnya,dengan cepat ia menyambar hp nya yang berada diatas meja setelah melihat ada pesan dari Adit seketika itu juga senyumnya melebar.
Hari itu Nayla bertemu dengan Adit dahulu sebelum pulang,mereka menghabiskan makan siang bersama setelah itu Adit mengantar Nayla sampai pintu tol,setelah mobil yang Nayla naiki berangkat barulah Adit melajukan sepeda motornya menuju rumah Agus teman satu kerjaannya.
Sementara itu Nayla sudah tiba dirumahnya langsung disambut dengan berbagai pertannyaan oleh mamanya.
Tanpa terasa haripun berganti malam,Nayla masih berguling-guling diatas kasurnya sambil membalas chat dari Adit,kadang ia tersenyum layaknya anak AGB sedang jatuh cinta padahal hubungan ia dan Adit sudah berlangsung lama.
Hari minggu mama Nayla memaksanya ikut kerumah teman papanya lagi tapi kali ini untuk menjenguk teman papanya yang sedang sakit.
"Ma...Nay males ah,mama aja sama papa yang pergi,kalau gak sama Tia aja ya"tolak Nayla
"gak bisa,pokoknya kamu harus ikut"perintah mama
akhirnya dengan perasaan malas Nayla bersiap untuk ikut.
Setelah dua jam akhirnya mereka sampai dirumah om Lubis teman papanya .
Beruntung saat Nayla tiba Frendy atau biasa dipanggil Rendy sedang tidak dirumah.
"kenapa Nay?kecewa ya Rendynya gak ada"ledek tante Rita
"gak tante,cuma binggung aja emang anak tante ada berapa kok sepi banget rumahnya" ucapku menjelaskan,tante Rita hanya tersenyum
"tante cuma punya anak satu Nay,makanya tente pengen buru-buru punya menantu biar ada yang nemenin" ucap tante Rita lagi sambil mengedipkan sebelah matanya kearahku
"ya udah tante suruh aja Rendy buru-buru nikah sama pacarnya"
"Rendy tuh gak punya pacar Nay"
__ADS_1
mama yang hanya menjadi pendengar hanya senyum-senyum saja mendengar tante Rita terus menggodaku.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu pagar dibuka dan suara mobil berhenti.
"Nah tuh Rendy udah pulang,langsung aja yuk kita tanya kapan dia siap buat melamar kamu Nay" ucap tante Rita yang langsung membuat aku bingung bercampur malu.
Sementara itu papa dan Om Lubis sedang asik berbicara didalam kamar Om Lubis,mereka berhenti sejenak saat aku serta mama masuk kedalam kamar untuk melihat kondisi Om Lubis yang sedang sakit.
"Astagfirullah al aziem"ucapku tanpa sadar ketika aku masuk langsung disambut dengan penampakan sosok mahluk hitam yang sedang menduduki kaki Om Lubis.
Mahluk itu melihat tajam kearahku seakan dia tau kalau aku dapat melihatnya atau memang dia tau kalau aku dapat melihatnya.
Aku memegang tangan mama dan tanpa sadar meremasnya kuat
"Nayla...tangan mama sakit Nak"bisik mama
"Nayla gak mau disini ma,Nay takut"balasku sambil berbisik ditelinga mama
"ada apa Nay?"tanya mama yang melihat wajahku yang ketakutan
Mama hanya menganggukan kepala nampak sedang berpikir
"Nay..kita ngobrol diluar aja yuk"ajak Rendy sambil menarik tanganku menuju teras disamping
"ada apa Ren?"tanyaku saat kami sudah duduk dibangku
"kamu bisa liat hantu ya"
aku pun hanya menganggukan kepala
"tadi kamu liat apa dikamar papa?"tanyanya lagi
"loh kok kamu tahu sih Ren?"ucapku balik bertanya
__ADS_1
Rendy hanya tersenyum "aku juga kadang-kadang bisa liat Nay"
aku hanya termenung seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Frendy katakan
"haiii jangan melongo tar masuk laler baru tau loh Nay" ucap Rendy sambil salah satu tangannya mengusap wajahku
"isshhh kamu mah Ren" jawabku malu
Terdengar suara Rendy tertawa
"aku juga tau soal yang waktu itu ada hantu yang nimpuk kamu"
"kamu tau tapi kok gak bantuin aku sih" aku memasang wajah cemberut
"jangan pasang mode gitu Nay,aku jadi gemes liatnya" Rendy tersenyum
kami pun asik ngobrol ternyata Rendy asik juga diajak ngobrol jika sudah kenal.
"aaaaaa"tiba-tiba terdengar suara Om Lubis berteriak, kamipun segera berlari menuju kamar dan alangkah terkejutnya aku saat melihat Om Lubis sedang kejang-kejang dengan mata melotot melihat keatas sedangkan mahluk yang tadi menduduki om Lubis kini sedang manatapku sambil melotot dan tertawa.
"apa Om Lubis sakit gara-gara dikerjain orang ya"pikirku
tanpa sadar aku memegang tangan Rendy kencang karena takut
sosok itu menatap tajam kearahku seakan-akan marah. Entahlah apa apa yang membuatnya marah sedangkan Om Lubis kini menggeram seperti kemasukan
"Ren, gimana cara ngobatin Om?"tanyaku bingung
"bentar Nay,mama lagi menelfon orang yang biasa ngobatin Papa"
Tak lama kemudian orang yang dimaksud Rendy datang dan langsung mengobati Om Lubis
aku kasian melihat Om Lubis yang merintih kesakitan namun aku tak dapat membantu apa-apa
__ADS_1
Aku hanya bisa berdoa semoga Om Lubis cepat sembuh.
Hampir dua jam orang itu mengobati Om Lubis,kini Om Lubis tertidur karena lelah,kamipun pamit pulang