
SELAMAT MEMBACA
Tiba di sekolah Rania dan Radit langsung berpisah karena mereka beda gedung.
Rania yang biasanya berdua dengan Ardina kini hanya sendirian.
Ia merasa ada yang kurang, jam terasa begitu lama berputar setiap kali ia lihat hanya bergerak tidak jauh dari lima menit.
Rahmat yang dari tadi memperhatikan Rania nampak begitu merasa bersalah.
Ia sadar karena ulahnya kini Ardina tidak masuk sekolah.
Rahmat mencoba untuk berbicara dengan Rania, namun Rania yang kesal dengan Rahmat merasa malas untuk menanggapi pria tersebut.
Berkali-kali Rahmat menusuk-nusuk punggung Rania dengan pulpen dengan harapan gadis itu mau di ajak berbicara dengannya.
Rania yang kesal akhirnya menengok ke arah Rahmat dengan tatapan tajam karena kesal.
Rahmat pun langsung memberi kode jika ia ingin berbicara namun Rania langsung kembali menghadap depan kembali mengacuhkan Rahmat.
"Sial ni cewe susah banget sih di ajak ngobrol nya, beda banget sama saudaranya" batin Rahmat kesal.
Begitu bel pulang berbunyi Rania langsung menuju parkiran untuk mengambil motor yang ia tinggal kemarin.
Namun saat ia hendak melajukan motornya, tiba-tiba saja motor Rahmat sudah menghadang motornya.
"Ishh mau apa sih nih cowok" maki Rania kesal.
"RAN gw mau ngomong sama loe" teriak Rahmat
"Gw buru-buru, minggir gak loe, apa gw tabrak aja sekalian" ancam Rania yang langsung memainkan gas motornya.
__ADS_1
" Tabrak aja gw gak takut" tantang Rahmat.
Rania pun memajukan motornya perlahan, namun Rahmat tidak juga mau minggir, ia tetap menghadang jalan Rania hingga akhirnya gadis itupun turun dari motornya dengan raut wajah penuh kekesalan.
"Mau loe apa sih?" ucap Rania sambil memukul motor Rahmat.
"Gw cuma mau jelasin sesuatu sama loe Ran" jawab Rahmat santai.
"Gw gak ada urusan sama loe,urusan loe sama Ardina" Rania semakin kesal saat Rahmat terus saja memaksanya.
"Gw teriak Nih, minggir gak loe bentak Rania semakin kesal.
"Loe kok galak banget sih beda banget sama Ardina" ucap Rahmat namun ia tetap tidak mau bergeser sedikitpun dari tempat nya semula.
Karena kegigihan Rahmat akhirnya dengan sangat terpaksa Rania pun mengikuti kemauan Rahmat.
Saat ini mereka sedang makan di warung bakso langganan Rania dan Ardina.
Bukan tanpa alasan ia memesan semuanya ia sengaja membuat Rahmat ilfil dan segera mengajaknya pulang.
"Buset gak salah loe Ran,emang loe sanggup abisin itu semua" Rahmat menatap Rania dengan tatapan sedikit heran.
"Kenapa emang gw makannya banyak,loe gak ada duit ya buat bayar" ucap Rania sambil tersenyum mengejek.
Rahmat hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.
"Kalo loe mau sekalian sama warungnya gw sanggup beliin"
"Idih sok kaya loe" cibir Rania yang menang tidak begitu kenal dengan Rahmat.
"Gak usah sombong di depan gw" lanjutnya lalu ia pun mulai memakan semuanya satu persatu.
__ADS_1
Rahmat hanya tertegun melihat Rania yang makan dengan sangat lahapnya.
"Loe berapa hari gak makan Ran?" tanya Rahmat
"Jangan kepo" Rania pun melanjutkan makannya tanpa memperhatikan Rahmat yang dari tadi memandang terus saja memperhatikannya.
"Gw nambah ya, masih laper" tanpa menunggu persetujuan Rahmat ia pun langsung memesan satu mangkuk mie ayam lagi.
Rania sebenarnya merasa heran ia sudah menghabiskan beberapa mangkuk namun ia tetap saja merasa lapar.
"Loe gak jadi ngomong ya,ya sudah kalo gitu gw pulang duluan ya, terimakasih buat traktirannya" Rania pun langsung berdiri dan hendak melangkah keluar.
Tiba-tiba saja ia melihat seseorang sedang berdiri tidak jauh dari motornya.
"Misi mbak motor saya mau keluar" ucap Rania pada perempuan yang bersandar di motornya dan membelakanginya.
"Mbak maaf saya mau keluar" ucap Rania lagi.
Sementara itu Rahmat nampak heran melihat Rania yang sedang berbicara sendiri"
"Cewe aneh" bisik Rahmat saat ia melintas di sebelah Rania
"Loe yang aneh" jawab Rania kesal.
"Sekarang gw tanya loe lagi ngomong sama siapa?" tanya Rahmat
"In.....i loh..."Rania pun memutar matanya mencari keberadaan wanita yang tadi ia ajak bicara.
"Loh tadi dia disini"
"Halu lu, dah lah gw pulang duluan ya,salam ya buat Ardina" pamit Rahmat lalu ia pun melanjutkan motornya meninggalkan Rania yang sedikit kebingungan.
__ADS_1