
SELAMAT MEMBACA
Adit yang panik langsung membawa Rania ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.
Setelah luka-luka di obati, Rania pun menjalani pemeriksaan dalam dan juga rongsen untuk mengetahui ada luka dalam atau tidak.
Awalnya ia harus menjalani rawat inap karena ada pergeseran tulang dibagian mata kakinya dan itu harus di gif, namun Rania menolak.
Untuk mempercepat kesembuhan kakinya Rania pun rencananya akan di bawa ke tukang urut yang dapat mengobat pergeseran tulang.
Jam sebelas malam mereka pulang dari rumah sakit dan langsung menuju tempat pengobatan alternatif untuk mengobati Rania
Beruntung Adit sudah membuat janji jadi begitu tiba Rania pun langsung di tangani.
Nayla terdiam, ia jadi ingat beberapa tahun yang lalu saat ia mengalami kecelakaan dan hampir tidak bisa jalan.
Ia tau Rania pasti akan begitu kesakitan karena mata kakinya pun sudah membesar.
Adit langsung memeluk Nayla yang seakan ikut merasakan sakit.
"Sabar sayang Rania pasti sembuh" ucap Adit menenangkan istrinya.
"Itu pasti sakit sekali Dit, aku jadi ingat dulu" bisik Nayla.
Dengan mengigit sebatang kayu Rania berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Agar tidak menggangu saat pengobatan keluarganya tidak di ijinkan untuk mendampingi, didalam ruangan yang tertutup itu hanya ada Rania dan juga beberapa orang yang akan mengobatinya.
Dengan rasa cemas Nayla terus memeluk Adit, begitu juga dengan Ardina.
"Aaaaawwww sakitttttt mama tolong Rannnn"
Suara tangisan dan minta tolong Rania membuat air mata Nayla dan juga Ardina mengalir deras.
Ingin rasanya Nayla menerobos masuk dan membawa Rania pulang.
Beruntung ia masih dapat berpikir sehat semua demi kebaikan Rania.
Setelah lebih dari satu jam akhirnya pengobatan Rania pun selesai dan di ijinkan pulang namun harus kembali lagi dalam tiga hari mendatang.
Dengan di gendong oleh Papanya dan meletakkannya pelan-pelan akhirnya mereka pun pulang.
Begitu tiba dirumah Adit langsung menggendong Rania yang tertidur sangat pulas.
Malam itu Nayla tidur dikamar Rania, ia memperhatikan wajah anak gadisnya yang tertidur.
"Cepet sembuh ya sayang" ucap Nayla lalu mengecup kepala Rania.
Ke esokan harinya mereka pun tidak sekolah, begitu juga dengan Nayla yang tidak pergi ke toko kuenya dan Adit juga sama .
Kaki Rania untuk sementara tidak bisa dipakai untuk berjalan, ia hanya bisa rebahan saja dan bergerak hanya jika ke kamar mandi saja itu pun harus di gendong dahulu oleh papa Adit dan ditemani oleh Nayla.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi namun Rahmat belum melihat kedua gadis idamannya.
Ia pun mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Rania dan Ardina.
Setelah beberapa kali mencoba namun tidak ada yang angkat akhirnya ia pun mengirim pesan singkat.
Nayla sengaja mematikan ponsel Rania agar putrinya bisa beristirahat.
Rahmat nampak gelisah menunggu balasan dari Rania atau Ardina.
Begitu juga dengan Fahri, memang tadi ia kesiangan dan tidak sempat menjemput kedua gadis itu, namun saat ia sampai dan tidak melihat keduanya ia pun mencoba menghubungi Rania namun ponselnya tidak aktif.
Ia pun berencana akan kerumah Rania pulang sekolah nanti.
Sementara itu dirumahnya Rania sedang menangis menahan sakit dari kakinya yang berdenyut nyeri karena tidak sengaja tadi terbentur pinggiran tempat tidurnya.
Nayla berusaha menenangkan Rania sedangkan Radit mengipas-kipasin kaki Rania yang sedang terbalut perban itu.
Ardina langsung berlari menuju pintu saat mendengar suara bel berbunyi.
"Lah kok kalian kesini sih?" tanya Ardina sambil membuka pintu pagar.
"Lah kok gak masuk,kenapa?" tanya Rahmat sambil turun dari mobil Fahri.
"Cieee lagi akur" ucap Ardina mengejek keduanya
"Ish bukannya jawab malah cieee-cieee" ucap Fahri sambil menutup pintu mobilnya.
"Gak usah berisik, masuk dulu" ucap Ardina.
Setelah mereka duduk Ardina pun menyiapkan dua gelas sirup dingin untuk keduanya.
Ardina pun menceritakan apa yang membuat nya dan Rania tidak masuk sekolah.
"Aduhhh mahh, sakittt"
Terdengar suara Rania yang sedang menangis.
"Itu lagi diapain kok teriak-teriak begitu?" tanya Fahri.
"Itu lagi di olesin parutan jahe" jawab Ardina
"Boleh liat gak?" tanya Fahri yang penasaran.
Ardina pun mengajak keduanya kedalam kamar Rania.
"Ran ..ada tamu nih" ucap Ardina dari depan pintu.
__ADS_1
Rania pun langsung melihat kearah pintu.
" Tumben kalian barengan" ucap Rania.
Bukannya menjawab tapi Fahri malah duduk disebelah Rania.
" Berhubung ada temen kamu, mama turun dulu ya, Fahri , Rahmat tante titip Ran dulu ya" ucap Nayla lalu pergi meninggalkan kamar Rania.
Fahri yang penasaran langsung mengintrogasi Rania, sedangkan Rahmat hanya jadi pendengar dan ia sedikit kesal saat melihat Fahri begitu dekat dengan Rania.
Niat jahatnya pun kembali timbul saat melihat ada beberapa helai rambut Rania yang rontok.
Rahmat pun langsung mengambil dan memasukkannya kedalam kantong.
Sosok hantu kecil yang selalu mendampingi Rania pun beraksi.
Ia menukar rambut Rania dengan bulu jagung yang kebetulan ada didapur.
Karena Rahmat berniat tidak baik sosok itu pun beberapa kali menjahili Rahmat.
Rania yang tau hanya tertawa saat melihat Rahmat yang tiba-tiba saja jatuh, lalu air minumnya yang harusnya manis jadi asin,
"lumayan buat hiburan" pikir Rania.
Sore pun tiba kedua pria itu pun pamit pulang.
Malam itu setelah sholat Isya Rahmat dan temannya kembali menemui paranormal yang kemarin ia datangi.
Ia membawa syarat yang diminta oleh paranormal tersebut.
Sementara itu dirumah Nyala nampak aa Iwan sedang berkunjung.
Sebenarnya bukan tanpa alasan ia datang kerumah Nayla, ia mendapat firasat buruk tentang keluarga Nayla namun aa Iwan tidak tahu siapa untuk memastikannya ia pun mampir kerumah Nayla dan benar saja ia mendapat kabar jika Rania terluka karena ulah sosok tidak kasat mata.
"Mamang kok tumben kesini, tau aja sih kalo Ran lagi sakit" ucap Rania saat melihat Aa Iwan.
"Ran mau uji nyali ya lewat jalan yang lagi heboh itu" Aa Iwan menggoda Rania.
"Gak begitu Mang, Ran itu kaya ada yang narik buat jalan kesitu, padahal Ran itu mau puter balik tau" ucap Rania menjelaskan.
Aa Iwan yang mengetahui ada sesuatu yang aneh langsung berusaha melawan seseorang yang mengirim sesuatu untuk Rania.
Radit yang baru saja ingin masuk kamar Rania langsung diminta aa untuk segera memanggil Adit.
Tidak lama kemudian Adit yang Kebetulan sedang ada dirumah langsung menghampiri Aa Iwan di kamar Rania.
Mereka berbicara sedikit jauh dari Rania.
Sementara itu dikediaman paranormal yang mengirim pelet untuk Rania nampak muntah darah karena kirimannya berhasil dikembalikan oleh Aa Iwan yang kebetulan ada disana.
"Anak ini sudah ditaklukkan, selain ia ada yang jaga ia juga punya orang yang cukup kuat dan saya tidak bisa melawannya" ucap sang dukun sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Begitu tiba dirumahnya ia langsung masuk kedalam kamar.
Baru saja ia merebahkan tubuhnya tiba-tiba saja ia mencium bau anyir yang begitu menyengat hingga membuat perutnya mual.
Setelah bau amis itu hilang, tiba-tiba saja kipas anginnya nyala sendiri.
"Astaga apa lagi sih ini" ucap Rahmat kesal sambil mematikan kipas anginnya.
Ia pun kembali merebahkan tubuhnya, namun saat ia merebahkan tubuhnya ia merasa seperti ada seseorang dibelakangnya, ia pun langsung duduk kembali dan melihat ke arah kasur nya dan ternyata tidak ada apa-apa.
"Tadi itu apa sih, kayanya gw nibanin orang" batin Rahmat.
Malam itu Rahmat tidak dapat tidur dengan nyenyak karena begitu banyak yang mengganggunya.
Adit ingat dengan apa yang dikatakan oleh Aa Iwan tadi malam, jika ada seseorang yang ingin membuat keluarganya celaka.
Adit yang tidak ingin berprasangka buruk akhirnya meminta aa untuk membuat pagar ghoib lagi.
Beberapa hari kemudian Rania pun belum bisa masuk sekolah karena belum bisa berjalan, Ardina yang hanya sendirian akhirnya harus mau diantar oleh Radit dan saat pulang ia akan bersama Rahmat.
Awalnya ia memang menyukai Rahmat, namun semakin hari ia semakin yakin jika Rahmat menyukai Rania, akhirnya Ardina pun perlahan sedikit menjaga jarak dengan Rahmat.
Ia tidak ingin jika harus berebut cowo dengan Rania walaupun ia tau Rania tidak menyukai Rahmat.
"Mat, mulai besok gw kesalon sendiri aja naik ojol, gw gak enak kalo harus nyusahin loe terus" ucap Ardina.
"Gw gak ngerasa direpotin kok,gw ikhlas nganterin loe" tolak Rahmat.
"Tapi kan gw yang ngerasa gak enak aja Mat" ucap Ardina lagi.
"Pokoknya gw akan tetap anterin loe Ar" ucap Rahmat.
Ardina pun tidak dapat menolak lagi karena sudah berbagai alasan agar Rahmat berhenti mengantarnya selalu bisa di tepis oleh Rahmat.
Luka di lutut dan sikut Rania pun sudah kering, begitu juga dengan mata kakinya sudah mulai kempes, Rania pun mulai belajar berdiri.
"Aaawww"
Rania meringis kesakitan saat telapak kakinya menyentuh lantai.
"Pelan-pelan Ran, jangan terlalu dipaksain" ucap Nayla saat membantu Rania berdiri.
"Mah, sakit banget" keluh Rania
"Sabar sayang, harus pelan-pelan, mama juga dulu pernah kaya gini, malah mama lebih parah dari kamu nak" ucap Nayla yang tiba-tiba saja ingat dengan masa lalunya.
Rania yang penasaran dengan kisah mamanya langsung meminta Nayla untuk bercerita.
__ADS_1
Awalnya Nayla menolak namun karena Rania memaksa akhirnya ia pun menceritakan walaupun tidak semuanya.
Entah karena mengantuk atau memang seperti sedang di dongengkan Rania pun tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi ada seseorang yang memberi tahunya untuk berhati-hati.
Dua Minggu sudah Rania ijin tidak masuk sekolah dan hari ini ia mulai masuk sekolah walaupun jalannya masih belum bisa seperti biasa.
Dengan dipapah oleh Ardina mereka pun berjalan pelan-pelan hingga akhirnya bisa sampai dikelas dan tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.
Tadinya Adit meminta Rania untuk menggunakan kursi roda namun Rania menolak.
"Cape juga ya ternyata kalau jalan kaya siput" ucap Rania
"Gak apa-apa Ran, yang penting kan bisa sampai juga biar pelan" ucap Ardina
"He..he iya sih,cuma gimana ya gak enak aja"
"Sabar, sebentar lagi juga loe sembuh kok" ucap Ardina.
Karena kondisi Rania yang belum sembuh Ardinapun untuk sementara tidak pergi kesalon, ia menemani Rania dirumah.
Karena Rania ingin makan ayam tepung, Ardina pun terpaksa meninggalkan Rania sendirian dirumahnya.
Saat sedang menunggu Ardina datang, Rania yang tiba-tiba saja ingin minum air dingin berusaha berjalan kedapur sendiri.
Satu demi satu tangga ia turunin perlahan namun saat hanya tinggal 5 buah tangga terakhir kakinya tiba-tiba saja gemetar dan ia pun terpeleset jatuh hingga lantai bawah.
"Awawww aduh sakit, mama...."
Rania menangis kesakitan karena ia terjatuh dan ia kembali merasakan kakinya yang cidera begitu sakit.
"Mama Nay tolong Ran, sakit banget "ucap Rania disela-sela tangisannya.
Ardina yang baru saja tiba langsung berlari saat ia mendengar suara Rania menangis.
Betapa terkejutnya Ardina saat melihat Rania yang terduduk dibawah tangga sambil menangis.
"Astaghfirullah Ran, kamu kenapa, kok bisa ada dibawah sih" ucap Ardina sambil membantu Rania untuk berdiri.
"Sakit Ar" rintih Rania saat Ardina membantunya untuk berdiri.
Ardina pun langsung menelpon papa Adit dan memberitahu jika Rania jatuh dari tangga.
Adit yang kebetulan saat itu sedang bersama Nayla langsung tancap gas menuju rumahnya.
Nayla merasa heran saat Adit sedikit ngebut saat mendapat telpon dari Ardina.
"Adit aada apa, kok ngebut sih" tanya Nayla
Adit tidak menjawab ia fokus pada jalan didepannya agar cepat sampai dirumah.
Begitu tiba dirumah Adit dan Nayla sangat terkejut saat melihat Rania yang masih duduk dibawah tangga sambil memegang kakinya yang terasa begitu sakit.
Aditpun langsung menggendong Rania dan meletakkannya di sofa terdekat.
"Mana yang sakit nak" tanya Adit sambil menyentuh kaki Rania yang cidera.
"Awww papa jangan dipegang sakit" Rania berteriak kesakitan.
Adit pun kembali membawa Rania ke tempat pengobatan alternatif yang waktu itu ia datangi.
Lagi-lagi Rania harus merasakan sakit yang luar biasa saat kakinya kembali di urut.
Tidak tega rasanya Nayla mendengar suara tangisan dan juga teriakan Rania namun mau bagaimana lagi ini demi kebaikan Rania sendiri.
Karena tidak ingin Rania jatuh lagi dari tangga maka untuk sementara Rania tidur di ruang tamu.
Setelah mendengar jika Rania jatuh dari tangga Fahri pun langsung menuju rumah Rania.
Kebetulan saat ini Papanya sedang ada dirumahnya.
Memang ini pertama kalinya Fahri bisa pergi bersama sang Papanya.
Berkat Rania juga saat ini Papanya sudah mau menemuinya setiap satu bulan sekali.
Begitu tiba dirumah Rania mereka disambut dengan sangat hangat.
Nayla yang kebetulan saat itu masak banyak mengajak Fahri dan papanya untuk makan malam bersama.
Karena Rania belum bisa berjalan lagi ia pun hanya makan didalam kamar.
Biasanya Nayla atau Ardina yang menyuapinya berhubung ada Fahri maka untuk kali ini Fahri yang menyuapi Rania.
Tanpa mereka berdua sadari, beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.
"Semoga saja mereka jodoh ya" ucap Papanya Fahri sambil tersenyum.
Aamiin
Jawab Adit dan Nayla hampir bersamaan.
Baru kali ini ia melihat putranya begitu perhatian pada seorang wanita.
"Pantesan aja di sangat betah berlama-lama disini, selain penghuninya yang ramah ia juga tidak punya teman kalau dirumah" tutur papanya Fahri tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi muram.
Saat jam sudah menunjukan pukul 10 malam mereka pun pamit pulang.
Pagi harinya Rania yang sudah bangun sejak tadi merengek minta masuk sekolah dengan alasan ia sudah tertinggal banyak pelajaran dan tidak baik kelas.
__ADS_1
Karena Rania memaksa akhirnya Adit pun mengijinkannya dengan syarat harus mau pakai kursi roda.