
Selamat Membaca
Setelah kejadian di Mall Dina berkali-kali berusaha menemui Nayla, namun Nayla berkali-kali juga tak ingin menemui Dina.
Sore itu Nayla duduk ditepi Danau Duta sambil memandang air danau yang terlihat hijau.
Ada banyak kenangan yang disana saat bersama Adit.
Disanalah ia membeli kelinci Obet yang kini menjadi temannya.
Nayla menatap sosis bakar yang dulu biasa ia beli dengan Adit.
"Aku gak nyangka akhirnya semua akan segera berakhir Adit" ucap Nayla sambil memakan sosis yang dulu ia suka namun kini terasa hambar.
Tanpa terasa air mata Nayla mengalir.
Dari kejauhan ada dua pasang mata yang sedang mengamatinya.
Ya.. mereka adalah Damra dan Ryan yang sedang mengawasi Nayla dari kejauhan.
Mereka tau dan sadar jika saat ini Nayla butuh waktu buat sendiri. Karena mereka khawatir dengan Nayla maka mereka hanya mengikuti dari jauh saja.
"Nay...andai kamu mau, aku rela jadi tempat buat kamu bersandar, aku rela jadi pelampiasan kamu jika kamu marah, aku juga akan selalu ada buat kamu Nay" ucap Ryan pelan.
Damra yang mendengar semua ucapan Ryan hanya tersenyum seperti mengejek.
"Usaha makanya pak polisi kalo mau mah, gercep loh biar gak kehilangan" ucap Damra sambil menepuk baru Ryan dan berdiri.
Begitu hati mulai gelap Nayla langsung pulang kerumahnya.
Ryan dan Damrapun kembali ketempat masing-masing saat tau Nayla sudah berada ditempat yang aman.
Sementara itu Adit nampak mengurung dirinya menyesali kebodohannya lagi.
Namun saat ini tak ada orang tuanya ataupun Lilis yang bisa ia jadikan tempat bercerita.
Berkali-kali ia menghubungi Nayla namun tak diangkat, begitu banyak chat yang ia kirim namun tak ada satupun yang dibaca oleh Nayla.
Flassback On.
Adit yang sedang membesuk ibu Dina memandang wajah wanita tua itu.
"Kenapa ibu bisa sampai sakit begini" tanya Adit yang memang sudah kenal dekat.
"Ibu pusing Dit mikirin Dina yang sampai saat ini belum menikah juga"
"Kalau ibu mati siapa yang akan jagain dia" ucap ibu Dina sambil terbatuk-batuk .
"Adit ibu mohon, kan kamu sangat mencintai Dina, mau ya kamu nikah sama Dina, biar ibu tenang jika harus mengadap Allah sekarang.
"Ibu tau kamu sangat sayang sama Dina.."
uhukk...
uhukk...
Nafas ibu Dina nampak tersengal-sengal,
"Ibu...ibu kenapa" tanya Adit panik.
Aditpun berteriak memanggil Dina, lalu merekapun membawa ibu Dina kerumah sakit.
Saat dalam perjalanan " Ibu Dina sempat berpesan agar Adit segera menikah dengan Dina"
Adit yang tidak bisa berpikir panjang hanya terdiam dan hingga akhirnya ibu Dina pun pergi untuk selama-lamanya.
Flassback Off
Baru sekarang Adit merasa begitu menyesali keputusan yang telah ia buat.
"Nay ...aku gak mau cerai dengan kamu Nay"
"Maafin aku Nayla" ucap Adit dengan raut wajah yang sedih.
Sementara itu di dalam kamar Nayla memang wajah Adit yang terpampang di layar ponselnya.
"Kamu jahat Adit.."
"Kamu tega..."
ucap Nayla sambil terisak.
"Besok kita akan benar-benar berpisah Adit, semoga kamu bahagia sama orang yang kamu pilih" ucap Nayla sambil menatap wajah Adit.
Malam itu hujan turun dengan sangat deras dengan petir yang terus menerus menggelegar.
Nayla yang memang takut mendengar suara petir akhirnya tertidur dalam posisi miring dengan kaki yang ia tekuk mirip seperti anak bayi dengan bantal menutupi telinganya.
__ADS_1
Dalam mimpi nya ia melihat Mamanya menangis seakan ikut merasakan merasakan kepedihan yang saat ini sedang ia rasakan.
Nayla menghampiri Mamanya saat sang bunda menepuk pahanya dan memintanya untuk menidurkan kepalanya disana.
"Mama .."
"Ini Mama kan.."
"Aku gak mimpi kan Mama" ucap Nayla dengan air mata yang mengalir deras.
Nayla pun merebahkan kepalanya di pangkuan sang bunda.
"Mama Besok Nay akan cerai dari Adit"
"Apa yang Nay takutin akhirnya terjadi Mama"
"Mama pasti kangen juga kan sama Nay, Mama pasti kasian kan sama Nay, tapi tenang Mama Nay udah siap kok" ucap Nayla sambil menatap wajah sang bunda yang terlihat sangat pucat.
Nayla pun bercerita panjang lebar pada Mamanya.
Terasa hangat saat sentuhan lembut tangan Mamanya mengelus kepalanya.
"Mama .."
"Mama kan sayang sama Nay, apa boleh Nayla ikut Mama aja" ucap Nayla yang masih menangis lalu menatap wajah Mamanya.
Tangan Nayla mengangkat keatas ingin sekali menyentuh wajah Sang Bunda.
Namun ia tersentak kaget karena ia tak dapat menyentuh Mamanya.
Lalu perlahan wujud Mamanya Memudar dan menghilang.
"Mama...mama jangan tinggalin Nayla Mama"
"Mah.....Nay ikut...."
teriak Nayla histeris.
Empok yang kebetulan sedang mengambil air didapur terkejut saat mendengar suara Nayla menangis.
Ia pun langsung mengurungkan niatnya untuk minum dan segera berlari menuju kamar Nayla.
Beruntung pintu kamar tak dikunci hingga Empok dapat masuk dengan mudah.
Ia langsung membangunkan Nayla yang terlihat.
Nayla langsung memeluk erat Empok lalu kembali menangis.
"Sabar Nay..."
"Yang kuat ya Neng, Empok mah yakin Neng bakal kuat" ucap Empok yang ikut menangis.
Akhirnya Empok pun melakukan seperti yang Nayla alami didalam mimpi.
Ia merebahkan kepalanya di pangkuan Empok dan tak lama kemudian ia kembali tertidur pulas dalam pangkuan Empok.
Pagi pun tiba, Nayla sudah terlihat rapi, sebelum pergi ke pengadilan Agama ia menyempatkan diri datang ke makam Mamanya.
Ia nampak menangis.
Mang Ujang yang biasa mengurus makam Mama Nayla langsung menghampiri Nayla dan duduk didepannya.
"Kenapa Neng?" tanya Mang Ujang heran
"Gak apa-apa Mang, cuma lagi kangen aja sama Mama" jawab Nayla.
"Kita yang masih hidup cuma bisa kirim doa Neng" ucap Mang Ujang lagi.
"Iya Mang, Nay tau kok " Nayla melihat jam di pergelangan tangannya.
"Mang Nay pulang dulu ya, ada perlu lagi soalnya" ucao Nayla sambil mengeluarkan uang 20ribuan dan memberikanya pada Mang Ujang.
Hari ini Nayla sengaja tidak memberitahu Damra dan Ryan jika putusan sidangnya akan berlangsung.
Ia sengaja ingin pergi sendiri.
Naylapun tiba di PN. Agama kota B tepat sepuluh menit sidang dimulai.
Nayla yang datang dengan menggunakan kemeja putih dan bawahan rok bunga-bunga dengan wajah yang sedikit di poles untuk menutupi wajahnya yang sembab dan juga kacamata hitam agar matanya yang bengkak tak terlihat oleh Adit.
Sidang berjalan tak terlalu lama, begitu Hakim mengetuk Palu maka resmi sudah status Janda disandangnya.
Ingin rasanya ia kembali menangis namun sekuat mungkin ia tahan agar tak terlihat lemah dimata Adit yang kebetulan saat itu datang sendiri juga tanpa didampingi Dina.
Setelah bersalaman dengan Adit Ia pun lagsung menuju parkiran untuk segera pulang.
"Nayla...tunggu" Adit mengejar Nayla yang langsung menghindarinya.
__ADS_1
Namun Nayla tak mau berhenti ia terus berlari menuju motornya.
Ia pun langsung pergi meninggalkan Adit yang terus saja memanggil namanya.
Sakit rasanya hati Nayla hal yang selama ini ia takutkan akhirnya ia alami juga.
Sepanjang perjalanan ia menangis walaupun sudah ia tahan namun air matanya terus saja mengalir.
Dari kejauhan Ryan dan Damra nampak mengikuti.
Mereka tau jika Nayla hari ini putusan sidang karena Empok yang merasa khawatir melihat Nayla pergi sendirian akhirnya menelpon Damra.
"Ih itu bahaya tau Yan dia bawa motor sambil nangis gitu" teriak Damra ditelinga Ryan.
"Iya abis mau gimana lagi Ra, udah kita berdoa aja biar gak ada apa-apa sama dia" balas Ryan.
Nayla yang sudah tak dapat lagi membendung air matanya akhirnya menepikan motornya dipinggir jalan. ia pun turun dan berjongkok menutupi wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis sepuasnya.
Tak jarang ada beberapa motor yang berhenti untuk melihatnya.
Karena merasa tak nyaman ia pun kembali melajukan motornya tak tau mau kemana.
Damra dan Ryanpun nampak bingung mengikuti Nayla yang tak tahu mau kemana.
Saat melewati sebuah rumah yang ada bendera kuning Nayla pun berhenti dan memarkirkan motornya.
Ryan dan Damrapun ikut berhenti, mereka nampak bingung.
"Mungkin temennya Ra" ucap Ryan sekan tau apa yang sedang Damra pikirkan.
"Tapi kayanya dia gak pernah cerita kalo punya teman di daerah sini" ucap Damra.
"Ya mungkin dia gak cerita Ama loe" balas Ryan.
"Daripada bingung meding kita masuk" ajak Ryan.
"Gw gak pake kerudung Yan" tolak Damra.
Akhirnya setelah membeli amplop Ryanpun masuk kerumah duka.
Nayla yang memang sedang ingin menangis sepuasnya akhirnya menemukan tempat yang cocok kebutulan ia melihat ada bendera kuning ia pun berhenti dan langsung masuk kedalam.
Didepan Jenazah yang tidak ia kenal, bahkan ia pun tak tau mayat yang ada didepannya ini pria atau wanita, ia menangis sepuasnya hingga tak sedikit yang merasa iba kepadanya.
Seorang perempuan setengah baya menghampirinya dan duduk disisi Nayla.
"Neng...Neng siapanya Aldi?"
"kalo Neng nangis kaya gitu ibu yakin Neng pasti pacarnya yang sering dia ceritakan ke ibu" ucap ibu itu dengan wajah sedih.
Nayla pun langsung berusaha menghentikan tangisannya.
Dengan masih sesenggukan ia menatap ibu diselahnya yang nampak sedih.
"Neng pacarnya kan?" tanya ibu itu
karena tak mau membuat ibu itu kecewe Nayla pun menganggukan kepalanya.
Tiba-tiba saja Ibu itu langsung memeluk erat Nayla.
"Maafin anak ibu ya Neng kalo selama dia sama Neng banyak bikin salah" ucap ibu itu lagi.
Akhirnya Nayla pun hanya bisa pasrah karena ini memang salahnya main masuk kerumah orang sembarangan.
Niatnya yang hanya ingin bisa menangis sepuasnya tanpa ada yang curiga malah membuatnya dikira pacar dari Almarhum hingga tak sedikit yang ikut merasa iba dan akhirnya ia pun terjebak dikeluaga itu hingga acara pemakaman selesai barulah ia di ijinkan pulang.
Sementara itu Ryan dan Damra nampak bingung oleh ulah Nayla.
Hallo semua aku up lagi
maafnya kalau up nya lama dan membuat kalian menunggu.
Jangan lupa kasih dukungannya buat Author ya caranya :
- Like
- Rate
- Kalau boleh Vote juga
- Dan kritsarnya Author tunggu.
Buat semua yang udah komen baik itu kritikan atau saran Author ucapkan terima kasih ya.
Salam Manis
Amellajj/ Author
__ADS_1