TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
BAB 389


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Entah kenapa beberapa hari ini sikap Fahri sedikit berbeda pada Rania.


Ia yang awalnya sedikit acuh pada gadis itu kini sedikit perhatian dan lembut.


Namun Rania selalu menanggapinya biasa saja.


"Ran..nanti makan bareng yuk di kantin, gw yang bayarin deh"


"Gw bawa bekel Made ini mama Nay" tolak Rania sambil menunjukan bekalnya.


Ardina hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.


Sementara itu Rahmat yang duduk disudut ruangan menatap tidak suka pada Fahri.


"Kenapa ya kok gw kesel liat dia sok caper sama Rania" batin Rahmat sambil menatap Keduanya.


Saat bel istirahat berbunyi Rahmat langsung menarik tangan Rania dan Ardina keluar kelas dan mengikutinya.


"Woiiii Mamat lepasin kaga tangan gw, sakit tau" Rania berusaha melepaskan cekalan tangan Rahmat di pergelangan tangannya.


"Dih Mamat loe kenapa sih, sakit tau" Addinapun ikut kesal dengan ulah Rahmat yang main tarik saja hingga pergelangan tangannya sedikit perih.


Begitu tiba di kantin barulah Rahmat melepaskan cekalannya lalu meminta kedua gadis itu untuk duduk sementara ia memesan makanan untuk mereka bertiga.


"Dia kenapa sih?" tanya Rania pada Ardina


Ardina pun yang memang tidak tahu hanya menganggukan bahunya tanda ia pun tidak tahu.


Fahri yang tadinya berniat mengajak mereka makan bersama langsung mengurungkan niatnya saat tiba-tiba saja Rahmat menarik keduanya keluar kelas.


Akhirnya ia pun ke kantin sendirian, namun saat ia melihat ketiganya sedang makan dan ada salah satu bangku yang masih kosong dan bisa ia tempati.


Setelah memesan makanan ia pun duduk bergabung disana.


'Kosong kan, gw ikut disini aja ya ya" ucap Fahri meminta ijin.


Ardina pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedangkan Rania hanya diam saja ia begitu asik dengan makanan yang ada dihadapanmya.


Fahri yang memang kebetulan duduk pas didepan Rania sempat memperhatikan gadis itu sesat.


"Manis juga tapi sayang sedikit bar-bar" batin Fahri lalu ia pun memakan pesanannya sambil sesekali melihat kearah Rania.

__ADS_1


"Ish ni cewe cuek banget sih, beda banget sama saudaranya" batin Fahri sambil memperhatikan Rania lalu Ardina.


Rahmat yang dari tadi ternyata memperlihatkan Fahri nampak tidak suka saat Fahri menatap Rania.


"Astaga ada apa sama gw, kenapa gw jadi kesel ya liat si Fahri liatin Rania terus" batin Rahmat.


Sementara itu yang jadi pusat perhatian kedua cowok didepannya cuek saja tidak mau ambil pusing.


Setelah makanan didepannya habis ia pun mengajak Ardina segera keluar.


"Asli ni cewe bikin gw penasaran banget" batin Fahri saat lagi-lagi secara tidak sengaja ia kembali melihat sosok anak kecil itu mengikuti Rania.


Karena terlalu kenyang Rania pun merasa begitu mengantuk, hampir saja ia tertidur saat pelajaran matematika yang gurunya terkenal galak.


Ia pun langsung membuka matanya lebar-lebar saat sosok anak kecil itu duduk diatas meja nya dengan wajah yang sangat seram dan hampir saja membuat nya berteriak, beruntung Ardina langsung membekap mulut Rania walaupun akhirnya ia jadi tersendak ludahnya sendiri dan terbatuk-batuk.


Sang guru yang mendengar Rania terbatuk-batuk menghampirinya.


"Kamu lagi batuk Ran?" tanya sang guru


"Iya Bu, tapi udah mau sembuh kok" jawab Rania sedikit berbohong.


Rania pun meminum air putih yang ia bawa setelah mendapatkan ijin dari guru matematika nya.


"Ya sudah sekarang bereskan buku dan peralatan kalian, besok kita ulangan ya" ucap sang guru lalu keluar kelas dan tidak lama kemudian bel tanda pulang pun berbunyi.


Memang beberapa hari ini mereka berdua jika pulang selalu naik taksi online karena motor mereka sedang rusak.


Rania yang berpikir lumayan irit ongkos mau saja saat ditawari Fahri untuk pulang bersamanya.


Namun tidak dengan Ardina yang merasa tidak enak jika harus merepotkan orang lain.


Akhirnya mereka pun pulang bersama dengan Fahri lagi dan entah untuk yang keberapa kali mereka pulang bersama.


Lagi-lagi Fahri melihat sosok anak kecil itu lagi, ia pun sedikit penasaran dengan anak kecil itu.


Keesokan harinya saat ulangan matematika Rania nampak begitu serius mengerjakan tugasnya namun Ardina sedikit heran kenapa Rania bisa pintar mendadak.


Ia berhasil keluar pertama saat ulang matematika.


"Tumben banget sih loe keluar duluan, biasa juga hampir terakhir?" tanya Ardina saat mereka sama-sama duduk di bangku depan kelas mereka.


"Gw juga gak tau Ar, tangan gw lancar banget ngerjainnya, kaya bukan gw sih itu" ucap Rania blak-blakan.

__ADS_1


"Maksudnya?" Rania masih belum faham dengan ucapan Rania.


"Ya kaya bukan gw yang ngerjain soal itu" ucap Rania


"Kok bisa" Ardina masih belum mengerti


"Gak tau gw juga" jawab Rania lagi.


"Iya itu bukan loe yang ngerjain tapi anak kecil yang terus ikutin loe yang megangin tangan loe" ucap Fahri tiba-tiba saja ikut menyambung pembicaraan mereka.


"anak kecil siapa?" tanya Ardina masih bingung


"Gw juga gak tau" jawab Rania .


"Bodo lah ngapain ambil pusing yang penting dia gak nyelakain gw" jawab Rania pasrah.


Hari itu juga mereka pulang bersama Fahri bahkan Rahmat pun ikut.


Karena sudah beberapa hari selalu diantar oleh Fahri maka har ini mereka pun mengajak Fahri untuk singgah sebentar dirumah mereka.


Mama Nayla yang kebetulan sudah pulang dari salon menyambut Fahri dengan ramah.


Mereka pun berbincang-bincang diteras depan.


Saat hari sudah sore Fahri pun pamit pulang, begitu juga dengan Rahmat.


"sebenarnya mereka itu siapa kalian" tanya Nayla yang sedikit curiga.


"Cuma teman Mah" jawab Ardina.


"Tapi kayanya mereka suka sama kalian"


"Ya biarin aja mah, itukan hak mereka, yang penting kan kita gak ya Ar" jawab Rania


"Iya sih, kalian harus ingat ya kalian belum boleh pacaran dulu, nanti jika kalian sudah berumur 17 tahun baru boleh pacaran" ucap Nayla menginginkan kedua putrinya.


"Siap Bu bos" jawab kedua hampir bersamaan lalu masuk kedalam rumah sambil tertawa.


Nayla hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anak gadisnya.


Malampun tiba saat mereka duduk santai di ruang tengah tiba-tiba saja Rania ingat dengan perkataan Fahri soal anak kecil yang sering dilihat Fahri mengikutinya.


Nayla sedikit bingung dengan pertanyaan Rania, soalnya ia belum pernah lagi melihat sosok anak kecil itu sepulang dari kampung kemarin.

__ADS_1


"Mah kok malah ngelamun sih" tanya Rania sambil memegang tangan mamanya.


"Mama juga bingung mau jawab apa sayang, mama juga tidak tau itu siapa, atau itu Kaka kalian" jawab Nayla masih ragu saat menyebut kata Kaka kalian.


__ADS_2