TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 374


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Saat mereka tiba dirumah makan yang dituju,


mereka pun langsung menuju tempat yang telah di siapkan oleh Adit.


Suasana semakin ramai dengan kehadiran teman-teman Radit.


"Dit, adik loe asik juga ya, gw kira mereka jutex ternyata gak" ujar Raka sambil memandang Rania.


"Jangan macem-macem, itu ade gw" bisik Radit.


"Ish gak apa-apa lah Dit kalo loe jadi Kaka ipar gw" ucap Raka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Radit.


Aldi dan Pian tertawa mendengar percakapan mereka.


Mereka pun makan dengan sangat lahap, apalagi teman-teman Radit yang memang belum makan dari siang.


Rania yang tiba-tiba ingin ke toilet langsung pamit pada mamanya.


Setelah melakukan hajatnya Raniapun keluar dari salah satu kamar kecil dan mencuci mukanya di wastafel.


Saat ia mengangkat wajahnya dan menghadap cermin ia melihat sosok wanita sedang berdiri di sudut ruangan.


"Astaghfirullah" berkali-kali Rania mengucek-ngucek matanya ia berharap jika saat ini ia salah lihat.


Namun apa yang ia lihat memang benar, sosok wanita itu masih berdiri di sana dengan wajah menunduk dan rambut panjang yang berantakan dan baju putih yang kotor.


'Gw gak takut"


"Gw gak takut" batin Rania sambil berpura-pura tidak melihat sosok itu dan berusaha keluar dari dalam kamar mandi.


Entah karena takut ia merasa begitu sulit untuk membuka pintu.


Ia pun mengambil ponselnya dari dalam saku namun entah kenapa tidak ada sinyal.


Ia pun terus berusaha membuka pintu namun sama seperti tadi terasa begitu susah untuk memutar knop pintu yang seakan terkunci.


Sosok itu kini mengangkat wajahnya hingga terlihat dengan jelas wajah pucatnya dengan mata yang melotot seperti hendak keluar dari kelopak nya.


"Ih ...kok kamu jelek banget sih, mama Rania takut , tolongggggg" ucap Rania dalam hati.


Mulutnya terasa begitu sulit untuk berteriak meminta tolong.


Kini keringat dingin telah membasahi wajah dan tubuh Rania.


Mungkin jika bisa ingin rasanya ia pingsan saja hingga tidak harus melihat sosok itu.


Sementara itu di saung Nayla yang mulai sadar jika Rania telah lama di toilet langsung menyusul putri nya itu.


Perasaannya tidak enak seperti terjadi sesuatu.

__ADS_1


Nayla pun masuk kedalam toilet, ia merasa begitu berbeda terasa panas, satu demi satu Nayla membuka pintu kamar mandi, namun ia tidak menemukan Rania.


Hingga saat matanya tertuju ke sudut ruangan ia melihat Rania sedang terduduk dengan lutut yang ditekuk dan wajahnya menunduk ketakutan.


Ia pun menghampiri Rania.


"Sayang...kamu kenapa" tanya Nayla memegang bahu Rania.


Tidak ada jawaban dari mulut Rania, hanya tangannya saja yang menunjuk ke salah satu sudut.


Naylapun mengikuti arah tangan Rania dan saat itu juga ia melihat sosok wanita itu sedang menatapnya.


Naylapun berusaha tidak takut, bukan kali ini saja ia melihat sosok seperti itu.


Ia pun meminta Rania berdiri dan mengajaknya untuk keluar dari sana.


Rania yang terlihat lemas di papah menuju saung oleh Nayla.


Adit yang sudah selesai makan langsung membantu Nayla membopong putrinya dan membawanya ke saung.


"Kenapa Rania mah?" tanya Ardina saat melihat saudarinya yang hampir saja pingsan dengan waktu yang pucat.


Aditpun langsung memberikan segelas air putih yang telah ia bacakan doa.


Setelah kondisi Rania sudah lebih baik mereka pun segera pulang.


Sepanjang perjalanan Rania hanya diam, walau pun ini bukan yang pertama kalinya ia melihat sosok tak kasat mata tapi kenapa ia masih begitu shok jika melihat hantu seperti tadi.


"Rania gak apa-apa aa cuma lemes aja" ucap Rania dengan suara pelan.


"Ya udah kamu makan roti mau gak, kayanya aa masih punya satu potong" Radit menyodorkan satu potong roti pada Rania.


Raniapun memakan roti yang diberikan Radit.


Setelah mengantarkan teman-teman Radit kerumah masing-masing, mereka pun langsung kembali kerumah.


Begitu tiba dirumah Raniapun segera membersihkan diri lalu istirahat.


Radit yang merasa khawatir dengan adiknya ikut tidur di dalam kamar Rania bersama Ardina sambil sesekali melihat ke arah Rania yang sudah tidur pulas.


Keesokan pagi Rania merasakan badannya tidak nyaman.


"Mah ....mamah" panggil Rania pelan.


Ardina yang kebetulan sedang menyiapkan buku langsung menghampiri Rania.


"Kamu kenapa Ran, sekolah gak?" tanya Ardina yang langsung duduk disamping Rania.


"Badan aku sakit semua Ar,tolong panggil Mama dong" pinta Rania.


Ardina pun langsung keluar dari kamar dan segera memanggil mamahnya yang sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi.

__ADS_1


"Mah... dipanggil Rania tuh, katanya badannya pada sakit" ujar Ardina sambil memakan satu buah tempe goreng.


Naylapun langsung bergegas menuju kamar Rania dan melihat kondisi putrinya.


"Mah..Rania gak sekolah ya hari ini, badan Rania sakit semua" ucap Rania sambil berusaha bangun dan duduk di kasurnya.


Nyalapun langsung menghampiri putrinya lalu menempelkan tangannya didahi Rania.


"Astaghfirullah kamu demam Ran, ya sudah hari ini kamu dirumah aja ya"


"Sebentar mama ambilin sarapan sama obat" ucap Nayla yang langsung keluar dan mengambil obat penurun demam dan sarapan untuk Rania


Adit yang baru saja keluar kamar langsung menghampiri Nayla yang sedang membawa nasi menuju kamar Rania.


"Buat siapa itu mah?" tanya Adit sambil mengikuti Nayla dari belakang.


"Rania demam Pah, hari ini dia gak usah sekolah dulu tadi mana sudah bilang sama Ardina untuk minta ijin" ucap Nayla menjelaskan.


Aditpun ikut masuk kedalam kamar Rania dan menghampiri putrinya yang sedang berbaring.


Setelah memastikan Rania minum obatnya, Nayla dan Aditpun keluar dari kamar dan membiarkan Rania untuk istirahat.


Hari ini Nayla tidak pergi ke toko kuenya, ia menemani Rania di kamar nya.


Sementara itu di sekolah Ardina nampak sendirian.


Rahmat yang melihat Ardina sendirian langsung menghampiri gadis itu


"Tumben banget loe sendirian Ar, saudara loe yang galak itu mana" Ardina sedikit terkejut saat tiba-tiba saja Rahmat sudah mensejajarinya.


"lagi sakit" jawab Ardina singkat.


"Ya udah hari ini biar gw aja yang nemenin loe ya" ucap Rahmat sambil tersenyum.


"Gak perlu, gw sendiri juga gak masalah" jawab Ardina


"Terserah loe deh, pokoknya hari ini gw yang bakal ada di sebelah loe" ucap Rahmat.


Ardina hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Rahmat.


Ardina merasa begitu sepi tanpa Rania, biasa mereka bercanda kini ia sendirian.


Dengan langkah lunglai ia berjalan ke parkiran .


Saat ia sudah naik diatas motornya tiba-tiba saja Rahmat muncul.


"Sini buat gw aja yang bawa motornya"


"Gak usah gw bisa sendiri" tolak Ardina


"kayanya loe lagi gak baik-baik saja, daripada ada apa-apa nanti mending gw aja yang bawa motornya" paksa Rahmat.

__ADS_1


Karena merasa apa yang di ucapkan Rahmat benar, akhirnya Ardina pun mengijinkannya untuk mengantarnya pulang.


__ADS_2