
🌻🌻🌻Selamat Membaca🌻🌻🌻
Setibanya di rumah sakit Adit langsung membawa Nayla ke UGD dan menyerahkan pengantar dari klinik.
Adit terduduk lemas di bangku tunggu, ia menyesal karena secara tidak langsung ia lah yang membuat Nayla keguguran dan harus kehilangan calon buah hati yang hanya baru beberapa minggu mengisi rahim Nayla dan yang selama ini ia harapkan.
Adit yang kesal pada dirinya sendiri memukul pelan bangku tunggu kosong di sampingnya.
"*Nay..maafin aku Nay.."
"Aku gak sengaja membuatnya tiada"
"Aku nyesel Nay..maafinn aku*"
tanpa Adit sadari air mata nya mengalir begitu saja.
Menyesal sudah pasti, namun yang ia pikirkan saat ini bagaimana ia harus berbicara pada Nayla.
Sementara itu di dalam ruangan Nayla nampak terkulai lemas setelah menjalani kuret selama 2 jam.
"Aku betulan hamill?"
"Maafin ibu Nak yang gak bisa jaga kamu"
"Kamu jahat Dit...jahat"
"Aku benci....."
Tatapan mata Nayla nampak kosong menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
"Mama kenapa semua harus Nay alami"
"*Kenapa setelah mama tiada Nay harus ngerasain semua ini Ma..."
"Kenapa mama gak bawa aja Nay sama Mama biar Nay hak ngerasa disakitin terus .hu...hu*"
Dalam diamnya ia menangis, hatinya terasa sakit saat ia mulai menyayangi Adit dan menerima nya dengan tulus lagi-lagi orang itu membuatnya kecewa.
Nayla memejamkan matanya saat blankarnya keluar dari ruangan dan menuju ruang perawatan.
Ia memaligkan wajahnya tak mau menatap wajah Adit yang ikut berjalan disebelahnya.
Saat diruang perawatanpun ia memejamkan matanya sambil menghadap ke arah yang berlawanan dengan Adit.
Adit yang merasa Nayla tidak menyukainya nampak begitu menyesal.
"Sayang...maafin aku" Ucap Adit lirih sambil mencoba menggenggam tangan Nayla.
Dengan sekuat tenaga Nayla berusaha menepis tangan Adit.
" Jangan sentuh Aku Dit" ucap Nayla pelan namun terasa menusuk di hati Adit.
"Jangan kaya gitu Nay..."
"Aku minta maaf sayang.."
Adit bersimpuh di samping ranjang Nayla sambil memohon.
"Aku emang dari dulu gak pernah di hati kamu Dit, hanya dia yang ada di hati kamu, bukan aku" ucap Nayla sambil menangis.
__ADS_1
"Nay...jangan bilang begitu sayang, cuma kamu di hati aku" bantah Adit dengan air mata yang ikut berderai.
"Kalau memang cuma aku kanapa aku selalu kalah setiap kali nama Ina disebut" tiba-tiba saja dada Nayla terasa sesak.
Ingatannya kembali berputar pada kata-kata Adit yang menyuruhnya untuk kembali ke kota "B" sendirian.
Nayla sudah membualatkan tekadnya setelah ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit ia akan langsung pulang ke rumahnya di kota "B".
Ia ingin melupakan semua kenangan pahit selama berada di kota Adit.
"Sayang aku bener-benar minta maaf, apa selama ini apa yang aku lakukan masih kurang buat jadi bukti rasa sayang aku sama kamu Nay" ucap Adit yang mulai kesal dengan Nayla yang terus tak mau menatapnya.
Nayla tak menjawab, air matanya semakin menderas hingga bantal yang ia pakai pun basah.
Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit, Nayla mencoba menahan rasa sakit di perutnya.
Ia tak mau mengadu pada Adit, hingga Adit pun menyadari perubahan pada wajah Nayla yang kembali pucat dengan keringat yang mengucur.
" Sayang..kamu kenapa?" Adit mulai panik saat Nayla hanya diam saja tak menjawab.
"Nay..pliss jangan bikin aku takut Nay" Adit berusaha merubah posisi tidur Nayla.
"Nay...aku mohon jangan siksa aku kaya gini Nay.." Adit tak perduli jika ia dibilang cengeng yang jelas saat ini ia merasa begitu takut.
Saat ia sendang panik ponselnya berbunyi, ia pun sedikit menjauh untuk menerima panggilan telpon yang ternyata dari Ayah Ina.
Walaupun Adit menjauh namun Nayla masih bisa mendengar percakapan Adit.
Hatinya benar-benar merasa sakit saat ia melihat wajah Adit yang nampak bingung.
"Jika Adit benar-benar pergi menemui ayah Ina maka aku akan mengalah pergi" batin Nayla.
"Nay..." Adit menghampiri Nayla yang kini sedang menatapnya.
"Nay...aku..."
"Pergi aja, aku gak apa-apa"ucap Nayla pelan sambil memegangi perutnya.
"Gak usah pikirin aku Dit, aku bisa sendiri" ucap Nayla mulai menguatkan diri agar tak terlihat lemah di mata Adit.
"Tapi Nay...aku gak bisa ninggalin kamu sendiri, aku minta Lilis buat nemenin kamu ya" ucap Adit.
Nayla hanya diam tak menanggapi ucapan Adit.
Adit nampak sibuk dengan ponselnya.Satu jam setengah kemudian Lilis pun datang.
Tanpa menunggu lama Adit langsung pergi meninggalkan Nayla yang menatapnya sedih.
"Ternyata aku betul-betul kalah dari dia Dit, padahal orangnya udah gak ada tapi kamu tetap memilih dia daripada aku" Nayla menghapus kasar air matanya.
"Teh...maafin si aa, teteh jangan sedih gitu Lilis sayang sana teh Nay" Lilis ikut menangis sambil memeluk Nayla.
Setelah puas menangis Naylapun meminta pada Lilis agar mau mengantarnta ke terninal begitu ia di perbolehkan pulang.
Awalnya Lilis menolak namun setelah Nayla menceritakan semuanya akhirnya Lilispun bersedia mengantarkannya keterminal.
Sorepun tiba saat dokter kandungan visit alangkah terkejutnya Nayla saat melihat sang dokter.
dokter itu hanya tersenyum manis saat melihat Nayla yang masih sedikit shok.
__ADS_1
"Selamat sore Nyonya Nayla,apa yang dirasa sekarang" sapa dokter itu yang ternyata Doni.
"Gak ada yang dirasa, apa saya udah boleh pulang dok?" tanya Nayla canggung
"Sebaiknya jangan sekarang Nay"
"Upss saya lupa, apa boleh saya panggil kamu Nayla aja gak pake embel-embel Nyonya" tanya menggoda Nayla.
"Terserah anda saja dok gimana enaknya" jawab Nayla.
"Kamu gak berubah ya Nay masih aja judes" goda Doni
"Doni aku kan sekarang pasien kamu, masih aja ganjen" maki Nayla
"Abis kamu dari dulu bikin penasaran, sekalinya ketemu lagi kamu dah punya suami" Doni semakin menggoda Nayla.
"Kamu udah selesaikan meriksanya, udah sana keluar" usir Nayla kesal
Lilis dan suster yang mendampingi Doni hanya menatap heran pada Nayla.
"Baru kali ini teh saya liat pasien ngusir dokternya" bisik sang suster pada Lilis
"Maaf ya sus kaka ipar aku mah emang begitu judes" bisik Lilis.
Merekapun berdua tersenyum melihat Nayla yang kesal hingga melempar dokter Doni dengan bantal.
"Kalo kamu kaya gini aku gak akan ijinin kamu pulang loh, bahkan aku bakal bikin kamu biar lama disini" ancam Doni bercanda.
"Emang kamu mau bayarin biayanya, mahal tau disini" jawab Nayla makin kesal.
"Sebulan juga aku bayarin Nay asal kamu mau tetep jadi pasien aku" Doni makin jadi menggoda Nayla.
"dokter ayo kita visit ke pasien yang lain" ucap sang suster.
"Sebentar ya sus, saya masih kangen sama mantan saya yang ini" balas Doni sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nayla.
dokter Doni mendekat pada Nayla "Kamu mau apa Don" Nayla langsung sedikit menjau saat Doni mendekatkan mulutnya pada teling Nayla
"Aku juga tadi udah liat...itu loh Nay"bisik Doni ditelinga Nayla.
Nayla yang kesal mendapat kesempatan ia pun langsung menggigit lengan Doni yang berada didekatnya.
Aaawww...
Doni meringis menahan sakit di lengannya.
Nayla pun tersenyum puas sambil berkata "sukurinn"
Akhirnya Doni pun keluar sambil memegangi lengannya yang digigit Nayla.
**Hallo semua udah dulu ya buat hari ini kita lanjut besok lagi.
Maaf ya masih banyak typo bertebaran.
Maaf kemarin gak bisa up MT aku error.
Jangan lupa Like dan Votenya dan komen biar aku bisa mampir juga di novel kk author yabg lain.
Salaam Maniss
__ADS_1
Amellajj//authorr**