
SELAMAT MEMBACA
Beberapa tahun berlalu, kehidupan Nayla dan Ryan sangat bahagia.
Toko kue Naylapun lumayan ramai, awalnya ia sendiri yang mengelola toko kuenya, namun karena Ryan tak ingin Nayla terlalu cape ia pun meminta Nayla untuk mencari pegawai untuk membantunya.
Raditpun sudah mulai ikut sekolah Bimba karena keinginan Radit sendiri, Ia selalu menangis jika melihat anak-anak sekolah,akhirnya Naylapun menuruti keinginan Radit dengan memasukannya di Bimba.
Awalnya Nayla merasa keberatan jika harus di tinggal terus oleh Ryan.
Namun Nayla ingat dengan sumpah dan janjinya untuk rela berbagi suami dengan Negara.
Ryan yang akhir-akhir ini sering dinas luar bahkan terkadang seminggu ia tidak pulang .
Sedangkan usaha Adit dan Dina untuk memiliki momonganpun membuahkan hasil.
Saat ini Dina sedang mengandung masuk bulan ke 7.
Adit sangat bahagia akhirnya apa yang ia harapkanpun terkabulkan.
Ia sangat memanjakan Dina,apa pun yang Dina inginkan selalu dituruti.
Suatu hari Dina merasakan perutnya begitu sakit, ada rasa khawatir dalam diri Dina.
Ia takut jika keguguran dan Adit akan kembali menjauh darinya.
Ia berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit hingga akhirnya ia pun tertidur.
Adit yang baru saja pulang kerja hanya tersenyum melihat Dina yang tertidur,ia mengira jika Dina kelelahan hingga ia pun tak mau mengganggunya.
Sementara itu Nayla duduk termenung .
Ia memikirkan tentang mimpinya yang selalu saja sama hampir tiap malam.
"Apa maksud dari mimpi itu ya" batin Nayla sambil memainkan tutup gelas yang sedang ia pegang.
Ia pun menceritakan tentang mimpinya pada Damra namun, tanggapan Damra sama seperti Ryan itu cuma "mimpi jangan diambil pusing".
Karena merasa suntuk Naylapun mengajak Radit jalan-jalan.
Mereka jalan-jalan di Danau Duta tempat dulu ia dan Adit sering menghabiskan sore bersama.
Nayla membiarkan Ryan bermain, putranya itu begitu aktif tidak bisa diam.
Namun ada hal yang lucu menurut Nayla.
Sifat Radit yang selalu malu jika bertemu atau disapa dengan wanita cantik menurut Nayla itu menurun dari Adit.
Namun Raditpun terkadang bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat.
Awalnya Nayla terkejut saat mereka berdua pulang dari sebuah pesta ulang tahun teman sekolahnya.
Radit seperti sedang bermain dengan seseorang hingga Naylapun bertanya.
Diluar perkiraan Radit menjawab sedang bermain bersama teman baru.
Naylapun segera menelpon Aa dan menceritakan semuanya.
__ADS_1
Sore itu setelah dipanggil oleh atasannya Ryan nampak sedang berpikir.
Ia diberi waktu dua minggu untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pindah tugas.
"Dan..kayanya tuh muka kusut amat" sapa salah seorang anak buah Ryan yang sekaligus teman dekatnya saat mereka dikantin.
"Saya tuh lagi pusing, gimana cara bilang sama Nayla soal pindah tugas" Ryan pun menceritakan semua keluh kesahnya pada anak buahnya.
Setelah menenangkan diri Ryanpun pulang kerumahnya.
Sementara itu Dina merasakan perutnya lebih sering sakit,namun ia tidak berani untuk bicara pada Adit.
Hari ini Adit pamit pergi melihat tempat fitnesnya sekalian untuk melihat Radit putranya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dina, ia pun langsung kesebuah rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
Ada rasa khawatir dalam hati Dina saat dokter menyuruhnya untuk usg dan cek darah.
"Hallo anak Papa, makin ganteng sih kamu udah kaya papa aja" Adit mencium pipi Radit berkali-kali karena gemas, tak disangka oleh Adit, putranya yang tidak suka diganggu langsung menggigit tangan Adit hingga ia meringis kesakitan
Aaaaww
"Anak papa galak banget sih" Adit menoel pipi Radit lalu melepasnya dan membiarkannya bermain.
"Nay...Radit itu kaya kamu juga ya suka banget gigit" ucap Adit sambil bersandar pada tembok dan memperhatikan Radit bermain.
Nayla berpura-pura tidak mendengar ucapan Adit.
Ia memalingkan wajahnya melihat ke arah lain.
Adit hanya tersenyum melihat ekpresi wajah Nayla yang terlihat begitu menggemaskan.
"untung aja aku masih kuat iman Nay" batin Adit sambil menatap ke arah Nayla.
"Radit ayo kita pulang Nak, sebentar lagi ayah pulang" teriak Nayla lalu tak lama kemudian Raditpun menghampirinya lalu meminta di gendong.
"Aku balik dulu, ayo Radit salam Papa Adit" titah Nayla pada sang putra.
Tanpa ada bantahan Raditpun langsung menurut.
Setelah Nayla pergi Aditpun langsung pulang kerumahnya.
Saat tiba dirumah ia melihat Dina sedang duduk termenung entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Kamu kenapa sayang kok ngelamun gitu" sapa Adit yang langsung membuat Dina tersadar.
"Ehh...maaf, kamu dah lama pulangnya?" tanya Dina berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Emmm"
"Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Adit penasaran lalu menatap dalam wajah istrinya itu.
"Gak kok"
"Aku cuma lagi mikirin nama anak kita" ucap Dina berbohong.
"Jangan terlalu dipikirin sayang, ayo istirahat dah malem kan" Adit menuntun Dina menuju kamar.
__ADS_1
Dina berpura-pura tidur, sedangkan Adit sudah terlelap masuk ke alam mimpi.
"Ya Allah aku ikhlas mengalah demi anak ku"
"Aku tau semua yang terjadi saat ini dan kedepannya adalah takdir dari mu, aku ikhlas ya Allah" batin Dina dengan air mata yang mengalir begitu saja.
Hampir sepanjang malam Dina menangis hingga ia pun tertidur.
Paginya Adit begitu terkejut melihat wajah Dina yang sembab dan sedikit bengkak.
"Kamu kenapa sayang? apa perut kamu sakit?kenapa gak bangunin aku sayang?" tanya Adit beruntun.
"Gak apa-apa Mas, cuma kontraksi aja semalam" jawab Dina lagi-lagi berbohong.
"Besok-besok kalau kamu sakit kaya gitu bangunin aku sayang" ucap Adit sedikit kesal.
"Iya Maaf" jawab Dina yang langsung menuju dapur.
Belum juga Dina keluar pintu kamar Adit sudah mencegahnya.
"Hari ini kamu tiduran aja sayang, jangan ngapa-ngapain ya" ucap Adit yang langsung menarik tangan Dina kembali menuju tempat tidur.
Sementara itu dikediaman Nayla, Ryan selalu menatap Nayla, ia ragu ingin bicara tentang kepergiannya.
Ooeeekkkk
Tiba-tiba perut Nayla terasa begitu mual ia pun segera berlalu menuju kamar mandi.
Ryan yang yang terkejut langsung menyusul Nayla ke kamar mandi.
"Kamu kenapa sayang?"
"Masuk angin, apa kamu gak makan?" tanya Ryan sambil memijat tengkuk Nayla.
"Gak tau Mas, perut aku mual banget, pusing juga" jawab Nayla sambil bersandar ditembok.
Dengan sigap Ryan langsung menggendong Nayla menuju kamar mereka.
"Sekarang kamu istirahat ya, biat Radit sama Empok aja" ucap Ryan yang sudah rapi dengan pakaian dinasnya.
"Iya" jawab Nayla lemas.
"Nay kayanya bulan ini kamu belum datang tamu bulanan kan" tanya Ryan yang memang hafal siklus mentruasi Nayla.
Nayla hanya mengangguk.
"Ya udah nanti sore kita periksa ya, sekarang aku mau kerja dulu" wajah Ryan tiba-tiba ceria.
Ia berharap jika saat ini Nayla sedang mengandung anaknya.
Hallo semua aku up lagi ni.
Jangan lupa ya tetap kasih dukungan buat author ya.
Salam Manis
Amellajj/Author
__ADS_1