TERBUKANYA MATA BATIN

TERBUKANYA MATA BATIN
Bab 362


__ADS_3

Happy Reading


Radit yang mempunyai kelebihan seperti Nayla memang tampak biasa saja, hanya orang-orang tertentu saja yang tau jika ia bisa melihat yang orang lain tidak bisa liat.


Wajahnya yang lumayan tampan membuat banyak teman wanitanya yang menaruh hati padanya.


Hampir setiap hari ia mendapatkan bingkisan baik itu berupa coklat atau cup cake yang di hias sedemikian rupa agar nampak menarik.


Semua pemberian fansnya selalu ia kumpulkan dan diberikan kepadanya dua adiknya.


Seperti sore ini Rania dan Ardina nampak asik menikmati coklat dan kue pemberian Radit.


"Enakk juga ya punya abanng ganteng banyak rezeki kita he..he" ucap Rania sambil memakan kue sedikit demi sedikit.


Sedangkan Ardina asik memakan coklat pemberian sang Kaka yang dari tadi hanya memandang kedua adik perempuannya.


"Aa kan Aa juga suka coklat kenapa gak mau dimakan coklatnya, enak tau ini" celoteh Ardina.


"Buat loe aja, Aa maunya Coklat kalo yang kasih mama bukan yang lain"


"Alah coklat itu sama aja rasa ya Aa, mau mama yang kasih apa tuh ciwi-ciwi fansnya Aa" sahut Ardina.


"Ish tinggal makan aja berisik, loe kan suka yang gratisan itu gw kasih no komen harusnya" ucap Radit kesal.


"Cieee yang selalu di kejar-kejar ciwi"


"Hmm sama di kejar-kejar hantu juga" timpal Rania.


Keduanya langsung tertawa puas ketika melihat sang Kaka kesal dan berteriak memanggil mamanya.


"Ngadu...." ejek Rania dan Ardina bersamaan


"Mamaa...ini anak dua kenapa nyebelin banget sih Mah"teriak Radit semakin kesal.


Nayla yang kebetulan sedang membuat teh hangat langsung menghampiri anak-anaknya untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh kedua putrinya yang memang terkadang jahil.


"Rania, Dina kalian jangan terlalu jahil sama Abangnya" tegur Nayla


"Besok-besok Abang jadi ciwi aja mah, masa cowo takut sama ciwi cantik" ejek Ardina lagi.


"Iya Mah, tapi anehnya ya si Aa kalo sama anu itu gak takut ya" timpal Rania


"Anu itu apa Ran, kalo ngomong itu yang jelas" ucap Nayla meminta penjelasan pada putrinya.


"Itu loh Mah..."


"Apa sih Ran ita-itu aja dari tadi"

__ADS_1


"Ih mama masa gak ngerti sih" decak Rania kesal.


Ardina dan Radit hanya diam sambil memperhatikan perdebatan antara Ardina dan mamanya.


"Ih malah bikin mama pusing aja Ran"


"Udah kalian berdua jangan gangguin Aa nya terus ya, mama tinggal dulu mau bikin minum buat Papa " Nayla pun kembali ke dapur.


Malam pun tiba, seperti biasa setelah makan malam Radit langsung masuk ke kamarnya dan mengerjakan tugas-tugasnya.


Saat sedang membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi Ia merasa heran saat tanpa sengaja ada sebuah foto terjatuh.


Ia pun langsung mengambil dan melihat sekilas foto itu.


"kaya pernah liat orang ini, tapi dimana ya " Radit berusaha mengingat wajah yang ada dalam foto itu.


"Aihh kenapa juga gw harus mikirin tuh foto" gumam Radit setelah tidak berhasil mengingat wajah yang ada di foto itu.


"mending gw tidur"


Raditpun merebahkan diri ya diatas kasur singel badnya, dan tak lama kemudian ia pun terlelap.


Siang itu di kelasnya Rania dan Ardina nampak sedang memaki-maki seorang pria.


"Loe tuh jadi cowo jangan maruk, sekarang loe pilih deh gw apa tuh selingkuhan loe" maki Ardina pada seorang cowo teman sekelasnya yang ternyata adalah kekasih Ardina.


"Beneran sumpah gw gak selingkuh Ar, kita kemarin cuma jalan bareng aja" sangkal cowo yang ternyata bernama Rahmat.


"Gw gak mau denger penjelasan loe, kita putus" ucap Ardina tegas lalu meninggalkan bangku Rahmat yang masih tertegun seakan tidak percaya jika ia baru saja diputuskan oleh Ardina.


Ardina yang merasa kesal akhirnya keluar dari kelasnya dan berjalan ke arah kantin untuk meluapkan kekesalannya.


Ia terus berjalan hingga akhirnya ia menyadari jika jalan yang ia lalui bukan menuju kantin namun menuju gudang belang sekolah yang jarang di lalui orang.


"Astaghfirullah Al Azim gw kenapa.ada di sini sih, kan gw tadi mau ke kantin makan baso yang Pedes" ia menepuk jidatnya dan segera membalikkan tubuhnya.


Saat ia hendak melangkah tiba-tiba saja kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.


"Ini kenapa ya" batin Ardina


Arrrrrrrrrrr


Arrrrdiiiinaaaa


ia mendengar ada suara wanita memanggil namanya.


Ia pun mengedarkan pandangannya mencari orang yang memanggil namanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat ia menelisik tiap sudut ruang ia tak melihat ada seorang pun di sekeliling nya.


"Astaga kenapa gw jadi merinding sih"


Ingin rasanya ia berlari menjauh dari tempat itu namun kakinya seakan menempel dan tidak bisa di gerakkan.


Ardina pun merogoh saku roknya mencari ponselnya, namun sial ternyata ia ponselnya tertinggal di dalam tas.


Ia pun ingin berteriak meminta pertolongan namun lagi-lagi mulutnya terasa kaku.


Tiba-tiba saja bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya meremang ia pun semakin merasa ketakutan, udara disekitarnya pun terasa begitu dingin.


"Mama tolong Dina"


"Aa tolongin Dina aa"


Ardina hanya bisa berucap dalam hati sementara keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya.


Sementara itu Rania yang kebingungan mencari keberadaan Rania akhirnya meminta pertolongan Radit yang memang sekolahnya tidak jauh dari tempat nya berdiri.


Setelah menelpon Radit mereka pun mencari keberadaan Ardina.


Satu jam sudah mereka mengitari area sekolah namun tidak dapat menemukan keberadaan Ardina.


"Aa istirahat dulu ya, gw laper ni tadi belum sempet makan" rengek Rania


"Ya udah ayo ke kantin dulu" ajak Radit lalu menggandeng tangan Rania.


Tidak semua tau jika Radit dan Rania adalah bersaudara.


Nampak beberapa dari mereka yang berbisik-bisik.


Sementara itu di lorong belakang sekolah Ardina nampak sudah begitu pucat karena ketakutan.


Beberapa kali ia melihat sekelebatan bayangan hitam melintas didepannya.


Dalam hati ia terus saja berdoa meminta pertolongan kepada Allah dan berharap saudara nya bisa menemukannya sebelum hari mulai gelap.


Beruntung tadi Radit sudah meminta ijin kepada wali kelas Rania untuk mencari keberadaan Ardina hingga mereka pun bisa dengan leluasa mencari Ardina.


Saat sedang merasa begitu kalut karena Ardina belum juga bisa di temukan tiba-tiba saja Radit seperti mendapatkan petunjuk.


Ia melihat ada banyak bangku-bangku yang sudah tidak layak pakai tertumpuk dalam suatu ruangan dan ia melihat ada seorang gadis yang sedang menunduk sambil menangis.


Setelah mendapatkan petunjuk ia nampak berpikir, ia pun ingat pernah berjalan di sebuah lorong yang begitu sepi di sekitar belakang sekolah.


Tanpa membuang waktu lagi aiboun segera menarik tangan Rania menuju ruang belakang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2