
SELAMAT MEMBACA
Setelah kejadian itu Rania dan Ardina menjadi lebih penurut.
Mereka pun menjadi lebih rajin dirumah, saling berbagi tugas membersihkan rumah.
Jika Rania yang menyapu maka Ardina yang mengepel lantai.
Radit hanya tersenyum melihat kedua adiknya yang kini telah sedikit berubah.
"Kaya gini baru adik Aa yang cantik" puji Radit saat melihat Rania yang sedang menyapu.
"Jangan cuma muji aja dong, kasih hadiah juga aa"
"Kalian mau minta apa?" tanya Radit
"Boleh yang mahal gak?"tanya Ardina yang memang sedang ingin makan Pizza
"Mahalnya semana dulu, kalau aa masih mampu ya aa beliin" ujar Radit.
"Mau pizza yang ukuran paling besar aa" jawab Ardina.
"Sebentar aa liat dulu" Radit pun mengecek uang tabungan cas nya.
"Nanti sore aja ya belinya biar bisa makan barenganan sama Mama sama Papa juga" ucap Radit.
Ok..
Ardina pun tersenyum.
Hari libur mereka gunakan untuk berkumpul dan saling bercanda.
Radit tiba-tiba saja ingin mengajak kedua adiknya untuk ketempat fitness milik Papa mereka.
Setelah berganti pakaian mereka pun segera pergi menuju tempat fitnes Adit.
Adit begitu kaget saat melihat ketiga anaknya datang .
"tumben banget sih pada kesini" tanya Adit saat melihat Rania dan Ardina.
Keduanya pun kamgy masuk dan menjajal semua alat kebugaran yang ada disana.
Sementara Radit hanya melihat kelakuan kedua adiknya yang mencoba semua alat yang ada disana.
Setelah puas mereka pun merengek minta jajan.
Adit hanya tersenyum melihat Rania dan Ardina yang tidak jauh beda dengan Nayla.
Suka jajan receh, kadang jahil, keras kepala juga.
Tiba-tiba saja Adit ingat saat mereka masih pacaran dulu.
Ia sering merasa cemburu dengan penjual es kelapa yang ada diseberang salon Damra.
"Pah..boleh gak kesalon tante Damra, mau keramas dan perawatan" pinta Ardina
"Boleh" jawab Adit
"Papa yang bayar ya"ucap keduanya sambil berlari ke salon Damra.
"Assalamualaikum tante Ra, kita mau perawatan dong" teriak Rania.
Kebetulan suasana salon sedang sepi hingga mereka berdua bebas.
__ADS_1
Setelah beberapa saat tidak ada jawaban mereka pun kembali berteriak memanggil Damra.
tuk.... tuk
terdengar suara sendal yang beradu dengan lantai yang turun dari lantai dua
Rania pun melihat kearah tangga dan melihat Damra yang baru turun.
"Tante Ra, kita mau dong keramas terus crimbat" ucap Ardina saat Damra mendekati.
Damra hanya tersenyum lalu meminta Rania dulu untuk di keramas lalu crimebat sementara itu Ardina duduk di sofa sambil membaca majalah.
Setelah selesai kini gantian Ardina yang duduk disofa sambil menunggu Rania.
Karena merasa begitu mengantuk Ardina pun tertidur disofa.
Dari pantulan kaca Rania melihat wajah Damra yang sedikit pucat.
"Tante Ra lagi sakit ya, kok pucat banget sih tanya Rania
Damra tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Ya udah deh kalau tante lagi sakit mendingan tante istirahat aja" ucap Rania lagi.
Namun lagi -lagi Damra tidak menjawab ia hanya tersenyum.
Setelah selesai mereka pun pamit.
"Papah liat rambut kita dong wangiiii" ucap Rania sambil mencium rambutnya.
"Iya deh yang udah cantik" ucap Adit sambil tertawa.
Sementara itu Radit yang sedang asik menikmati satu mangkuk mie ayam nampak begitu fokus dengan gawainya.
"Aa makan mie ayam gak bagi-bagi" Rania langsung mengambil mangkuk mie ayam Radit lalu memakannya.
"Ish kalian itu sukanya gangguin aa nya aja sih" ucap Adit saat melihat mangkuk nya sudah kosong.
"mau lagi Pah" pinta Rania
"Ya sudah sana pesan aja nanti biar papa yang bayar"
"Kita maunya satu mangkuk makan bertiga Pah" ucap Rania.
"Dih mana kenyang Ran, mending pesen satu-satu aja sana" ucap Adit.
Kedua gadis itu hanya tersenyum.
Mereka pun memesan tiga mangkuk mie ayam,satu untuk Radit, satu untuk Papa Adit dan satu mangkuk lagi untuk Rania dan Ardina.
Radit dan Papahnya hanya tertegun melihat tingkah kedua gadis itu.
Dirumahpun sama mereka maunya makan satu piring berdua.
Sorepun tiba saat mereka hendak pulang tiba-tiba saja ponsel Adit berbunyi.
Entah siapa yang menelpon namun yang pasti Adit memandang kedua anak gadisnya.
"Papa kenapa tuh?" tanya Rania sambil menyikut lengan Ardina.
Ardina hanya mengangkat kedua bahunya bertanda tidak tahu.
Wajah Adit terlihat begitu serius saat berbicara ditelpon.
__ADS_1
"Gak usah kepo, itu urusan bapak-bapak" ucap Radit pada kedua adiknya.
Setelah menutup telponnya Aditpun menghampiri kedua putrinya.
"Sayang tadi waktu kalian keramas di salon siapa yang ngelayanin" tanya Adit.
"Tante Damra" jawab kedua serempak.
Aditpun diam sesaat.
"Tapi Pah tadi tante Damra mukanya pucet banget kaya orang lagi sakit, kalo kita nanya aja cuma senyum gak jawab" merocos Rania.
"Sebentar ya papa mau telp mamah dulu" Aditpun sedikit menjauh.
Rania dan Ardina saling berpandangan entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.
Radit tiba-tiba saja seperti melihat sesuatu
"Aku liat mobil tante Damra kecelakaan, tapi gak tau kondisi tante Ra gimana" gumam Radit pelan.
"Jangan asal ngomong Aa tadi aja yang ngelayanin kita tante Damra kok" ucap Rania tidak mau kalah.
Adit yang sedang nelpon Nayla memberi kabar duka jika Damra meninggal karena kecelakaan.
Ya ternyata yang menelpon Adit tadi adalah pihak rumah sakit yang memberikan kabar duka .
No telp Adit di dapat dari riwayat ponsel Damra .
Sementara itu Nayla begitu lemas saat tadi Adit memberitahunya jika Damra telah tiada.
Beberapa orang karyawan toko kue Nayla yang melihat Nayla hampir pingsan langsung memapahnya untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Ra ...semoga kamu tenang dalam sama" batin Nayla dengan air mata yang tiba-tiba saja jatuh dengan sendirinya.
Masih jelas terbay dalam ingatannya betapa Damra selalu membela dan melindunginya.
Setelah menelpon Adit dan memintanya untuk datang ke toko kuenya Nayla pun beristirahat dikamar yang terdapat di toko kuenya.
Tidak lama kemudian Adit dan ketiga anaknya pun tiba.
Rania dan Ardina langsung memeluk Nayla saat melihat Mamanya terkulai lemas diatas kasur dengan wajah yang pucat.
Aditpun langsung berusaha menenangkan Nayla.
"Mamah sakit ya, sini Rania pijitin"
"Ardina juga mau kok mijitin mama"
Keduanya langsung memijit kaki Nayla yang satu sebelah kiri dan yang satu lagi sebelah kanan.
Adit tersenyum melihat keduanya sangat menyayangi mamanya.
Walaupun Ardina tidak lahir dari rahim Nayla tapi ia diperlakukan sama bahkan terlihat seperti anak kembar dengan Rania.
"Pah...aku masih gak percaya jika sekarang Damra sudah tidak ada" ucap Nayla lirih.
"Kamu yang ikhlas sayang, kita doakan saja semoga dia tenang di alam sana" Adit mengelus kepala Nayla lembut mencoba memberikan ketenangan untuk Nayla.
Rania dan Ardina kembali saling pandang.
"Maksudnya papa tente Damra udah meninggal ya" celetuk Rania.
Adit hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mana mungkin Lah tadi aja kita keramas sama crimbat yang ngelayanin tante Damra kok" celetuk Ardina.
Adit hanya menarik nafas dalam dia tidak tau bagaimana menjelaskannya kepada kedua putrinya.